Pagi itu yang bertepatan dengan hari tahun baru, Posion Merchant tampak berdandan rapi seolah-olah akan mengunjungi tempat penting. Melihat hal yang tidak biasa itu di mana sang antisosial yang kebanyakan menghabiskan waktunya dengan rebahan di rumah jika ada waktu luang, tiba-tiba berdandan rapi dan akan jalan-jalan keluar rumah, Holy tak data menahan rasa penasarannya untuk bertanya.
“Poison Merchant, kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” Tanya Holy penasaran.
Namun Poison Merchant hanya menjawabnya dengan dingin, “Tidak usah campuri urusanku. Yang lebih penting daripada itu, tolong jaga Tuan Raging Fire selama aku meninggalkan rumah.”
Holy tampak tidak peduli dengan perkataan kasar Poison Merchant tersebut. Baginya, hal itu sudah biasa bagi Poison Merchant untuk berkata kasar padanya. Holy pun akhirnya hanya cuek saja ketika Poison Merchant meninggalkan kediaman mereka itu. Siapa yang sangka bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi Holy untuk melihat wajah Poison Merchant lagi perihal Posion Merchant telah masuk ke dalam jebakan Fog.
Ya, Poison Merchant pergi keluar hendak menemui Fog. Walau setelah apa yang Fog perbuat terhadap Volt dan Metalia, Poison Merchant tetap tak dapat mengabaikan apa yang dikatakan oleh rekan sesama monster avatarnya itu.
Fog mengatakan bahwa lewat serum keabadian yang diperolehnya berkat Volt dan Metalia, Fog menemukan cara untuk menyembuhkan masalah jantung Raging Fire yang tidak stabil.
Poison Merchant tidak pernah peduli dengan apapun. Namun, lain halnya jika itu berkaitan dengan tuannya, Raging Fire. Poison Merchant akan melakukan cara apapun demi yang terbaik untuk Raging Fire.
Awalnya, Poison Merchant dipertemukan oleh Raging Fire lewat Holy setelah Holy tidak mampu menyembuhkan masalah jantung tidak stabil Raging Fire. Holy berharap dengan bantuan Poison Merchant, masalah jantung Raging Fire yang tidak stabil itu dapat terobati.
Akan tetapi sampai sekarang, bahkan setelah 4 tahun lebih mereka bersama, Poison Merchant belum juga dapat menemukan solusinya. Ini tentunya mencoreng harga dirinya sebagai pewaris ingatan dokter penyakit internal terbaik di Indonesia.
Oleh karena itu, walaupun berbahaya, Posion Merchant tetap harus mencoba menemui Fog selama masih ada kemungkinan sekecil apapun itu tuannya dapat sembuh karenanya.
Namun seperti yang sudah dapat diprediksi, Fog hanya bermaksud menjebak Poison Merchant ke tempat tersebut tanpa pernah peduli terhadap keadaan Raging Fire.
Sesampainya Poison Merchant di suatu kafe dalam wujud manusianya bersama dengan Fog dalam samaran Selantri, tanpa basa-basi sesuatu menangkap Poison Merchant dari belakang. Seketika tamu kafe berlarian begitu mereka menyadari keberadaan monster avatar di tempat itu. Namun, semuanya terlambat. Seluruh pintu telah tertutup.
Tidak, para pengunjung kafe yang naas berkunjung di hari itu telah terjebak oleh area field milik Time. Lalu seketika, para pengunjung kafe naas itu dihabisi dengan dilelehkan oleh kabut Fog. Sungguh suatu pemandangan yang sangat tidak berperikemanusiaan. Puluhan nyawa melayang, meleleh bagai lilin yang kehabisan daya hidupnya. Dapat terasa kuat aroma pekat darah kala itu di ruangan tersebut.
“Apa, apa yang kamu lakukan dengan semua ini, Fog?!” Poison Merchant yang masih mempertahankan wujud manusianya itu pun mengumpat marah kepada Fog.
Tidak, Poison Merchant bukannya sengaja tetap mempertahankan wujud manusianya itu, tetapi dia telah terkunci oleh jurus pembeku waktu milik Time.
“Maafkan aku, Poison Merchant. Bagaimana pun, kami butuh kekuatanmu untuk membunuh si pengkhianat Healer. Jadi, sampai jumpa.”
Seketika Fog selesai mengucapkan kalimat tersebut, tubuh manusia Poison Merchant serta merta melunak aneh. Dia seakan meleleh. Sesaat kemudian, dia pun berubah menjadi serbuk-serbuk hijau yang jelas berbeda ketika seekor monster avatar tewas. Serbuk-serbuk hijau itu pun merasuk ke dalam wujud monster Avatar Fog dan menyatu dengan kabutnya.
Sesaat kemudian, keluarlah 2 monster avatar lainnya lagi dari suatu portal hitam pekat. Dialah Void yang hadir bersama Remote.
Dialah Remote, avatar bernomor seri 14 yang berucap dengan nada yang agak angkuh. Akan tetapi, Time hanya terdiam dan tidak memberikan tanggapan apapun.
“Hanya Void-lah yang berkomentar, “Untuk yang selanjutnya, kuserahkan pada kalian berdua, Fog, Remote.”
“Tenang saja. Aku pasti akan melakukan yang terbaik demi membalas dendam Tuan Freeze.”
“Hmmm. Serangan sembunyi-sembunyi adalah keahlianku. Tampaknya kamu mengkhawatirkan hal yang tak perlu, Void.”
Fog dan Remote pun berujar menyanggupi permintaan Void tersebut. Sesaat kemudian, Void bersama Time telah menghilang ke dalam portal, menyisakan Fog dan Remote di tempat tersebut.
***
Mengapa aku bisa melupakan ingatan tersebut? Lebih dari siapapun, akulah yang paling mengenal sosok Kaiser Dewantara sebagai seorang sahabat yang paling lama mengenalnya dibandingkan yang lain.
Suatu hari, berkat penelitian Kakek Kaiser, Profesor Gilbran Lasona, aku yang selama ini terkubur dalam tanah yang dingin, akhirnya untuk yang pertama kalinya melihat dunia luar. Sejak saat itu, aku menempel di tubuh Kakek Gilbran tanpa Beliau menyadarinya.
Namun tibalah suatu hari, Kakek Gilbran membeli hadiah robot buat cucunya yang sedang berulang tahun di usianya yang genap 7 tahun itu. Ya, dialah cucu Kakek Gilbran, sahabat terbaikku, Kaiser Dewantara.
Aku yang pertama kali melihat sosok robot itu, langsung kagum akannya. Aku pun tergoda. Daripada menempel di tubuh Kakek Gilbran, mungkin akan lebih menyenangkan jikalau aku merasuki robot tersebut. Jadilah aku berpindah dari tubuh Kakek Gilbran ke robot tersebut. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk berasimilasi dengan robot itu dan berevolusi menjadi makhluk virtual yang terdiri dari sekumpulan data-data.
Robot itu pun atau tepatnya aku dihadiahkan sang Kakek kepada cucu tersayangnya itu, Kaiser Dewantara. Tampak Kaiser Dewantara sangat menyayangi diriku ini, bahkan sampai memberiku nama. Hero, itulah nama pemberian Kaiser Dewantara padaku.
Aku pun menemani perjalanan Kaiser Dewantara tumbuh hingga menjadi cukup besar. Di kala dia senang, aku turut merayakan kesenangannya. Dan di kala dia sedih, aku pun menyemangatinya. Mampu kurasakan bahwa koneksi kami benar-benar terjalin hingga perasaanku dapat menggapai bocah yang kesepian itu.
Bagaimana tidak aku mengatakan bocah itu kesepian. Walaupun dia tinggal serumah bersama ayah dan ibunya, hampir mereka tak punya kesempatan untuk saling berkumpul bersama. Ayah dan ibunya kerap disibukkan oleh penelitian mereka sampai sempat lupa kalau mereka saat itu punya seorang putra. Bahkan ketika Judith lahir, sikap mereka tetap sama saja.
Namun, walau demikian, di luar dari sibuknya mereka hingga tak sempat meluangkan waktu buat anak-anak mereka, mereka adalah orang tua yang baik yang begitu menyayangi Kaiser dan Judith.
Hanya saja, baik aku maupun Kaiser yang suah dewasa sebelum waktunya itu, dapat turut merasakan bagaimana perihnya hati mereka berdua yang masih terkungkung di bawah kutukan bayangan masa lalu. Mereka masih belum melupakan sosok paman Kaiser dan Judith, adik sepupu dari sang Ayah.
Mereka berdua melakukan penelitian mereka itu dengan sungguh-sungguh sampai-sampai mengorbankan hampir semua waktu mereka, termasuk waktu untuk mereka tidur dan beristirahat. Tidak lain semua itu, demi menemukan cara bagaimana mengembalikan kembali orang yang paling mereka sayangi tersebut yang terjebak di dalam dunia virtual.