101 Avatars

101 Avatars
68. Kemunculan Sang Antagonis Utama, Xavier



Di ruangan yang bernuansa gelap itu, Mecha bersujud memberikan hormatnya kepada seseorang bersosok manusia yang sedang duduk di atas suatu singgasana yang berposisi cukup tinggi dari dasar lantai.


“Hormatku pada Tuan Xavier.”  Ucap Mecha seraya membungkukkan kepalanya serendah mungkin dalam posisi sujud.


Sosok tuan yang dipanggilnya Xavier itupun memberi isyarat dengan anggukan tangannya, seketika itu pula Mecha berdiri dari sujudnya.


“Bagaimana dengan perkembangan pembuatan pohon keabadian?”  Tanya sosok bernama Xavier itu kepada Mecha.


“Semuanya berjalan lancar tuanku.  Jika tidak ada hambatan, maka kita bisa menyelesaikannya sebelum tibanya hukuman gaia.”  Jawab Mecha.


“Kerja bagus, Mecha.  Pertahankan kerja kerasmu.”  Sosok bernama Xavier itu pun memberikan pujiannya kepada Mecha.


“Terima kasih atas kebaikan hati Anda, tuanku.  Tentunya ini semua juga tidak terlepas dari jasa-jasa Fog dalam memperoleh serum keabadian.”  Jawab Mecha tampak dengan ekspresi hati yang semringah setelah dipuji oleh tuannya.


“Ngomong-ngomong soal Fog dan Freeze, apa yang saat ini mereka sedang lakukan?”  Tanya sekali lagi sang sosok Xavier.


Namun kali ini, bukan Mecha yang menjawab, melainkan Void yang juga ada di ruangan itu.


“Mereka saat ini sedang mengurus penangkapan Blue Batboy, rekan Pahlawan Darah Merah yang selalu mengganggu rencana kita, tuanku.  Bisa dipastikan bahwa sebentar lagi, takkan lagi ada siapapun yang dapat menghalangi jalan tuanku.”  Ujar Void dengan penuh hormat kepada tuannya, Xavier.


***


Hari ini adalah hari pelaksanaan ujian akhir semesterku yang pertama yang bertepatan pula dengan sehari sebelum hari libur natal.  Karena berbagai urusan dengan para monster avatar, aku tidak punya banyak waktu untuk belajar.  Untunglah, ujian hari ini dibuka dengan mata-mata kuliah yang tidak terlalu sulit.  Pokoknya, hari libur besok, aku hanya akan diam di rumah, atau mungkin di markas kali ya, untuk belajar.


Akan tetapi, aku pun mulai merasakan keanehan sewaktu kumemasuki wilayah kampus.  Pandangan orang-orang rasanya tertuju semua padaku.  Di samping, kudapat merasakan bahwa mereka sedang menggunjing aku dari belakang.  Aku yang penasaran terhadap apa yang sedang mereka omongkan pun mulai menajamkan indera pendengaranku untuk menguping pembicaraan mereka.


“Hei, bukankah dia itu Blue batboy yang sedang dicari polisi?”


“Kudengar dia melakukan kejahatan yang tidak-tidak sampai-sampai dicari-cari polisi.  Dia mengotori properti taman, merusak fasilitas umum, memalak, bahkan yang lebih parah kudengar dia nekat meng-xx seorang pemuda di jalan tanpa malu.”


“Eh sesama pria?  Juga bukankah dia rekan Pahlawan Darah Merah yang menyelamatkan Kota Jakarta lima tahun silam?”


“Pahlawan Darah Merah pun sama bejatnya.  Tidakkah kau lihat tayangan videonya?  Dia membantai dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.”


“Ah, apa-apaan dengan semua cerita tidak masuk akal itu?  Apakah itu berarti identitasku telah ketahuan?  Ini gawat, aku harus segera ke markas.”  Pikirku dalam hati.


Dengan tergesa-gesa, aku pun hendak segera meninggalkan kampus demi kembali ke markas.  Tetapi terlambat, polisi telah mengepung tempat di mana aku berdiri.


Di tengah-tengah kekalutanku itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik aku dan membawaku ke suatu tempat untuk bersembunyi sebelum polisi sempat melihat keberadaanku.  Rupanya, dia, tidak, maksudku mereka adalah Bobi dan Zenri.


“Ada apa ini, Adrian?  Apa benar kamu itu Blue Batboy?”  Tanya Zenri padaku.


“Bukan Blue Batboy, tapi Ksatria Panah Biru.  Ya, itu memang aku.  Jadi, apa sekarang?  Apa kalian juga berniat menyerahkanku kepada polisi?”  Jawabku dengan nada sinis.


“Tidak kok, Adrian.  Aku justru fans berat kalian berdua.  Mungkin kamu tidak tahu ini karena waktu itu kamu mungkin belum bergabung bersama Pahlawan Darah Merah.  Tetapi waktu itu, kami sempat diculik oleh monster avatar yang kalau tidak salah, bernama Tsurugi dan Moon sewaktu kami masih SMP.  Di situlah, aku menyaksikan sosok hebat Pahlawan Darah Merah sewaktu menyelamatkan kami.”


Oh, rupanya waktu itu Bobi dan Zenri juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Tio yang kalau tidak salah, murid sekolah mereka itu, mulai dari jenjang SD, SMP, sampai SMA, mirip dengan tempat di mana Judith bersekolah.


Aku ingat benar Arjuna pernah menceritakan kisah ini padaku.  Kalau tidak salah, itu adalah dua minggu setelah malam bencana Hoho game yang berarti virus yang mencegah monster avatar kembali ke wujud asalnya telah dilepaskan.  Tetapi masih ada beberapa monster avatar yang kebal setelah itu walaupun efisiensi kekuatannya telah menurun.  Salah satu di antara ketiga kasus yang ada adalah kasus Tsurugi-Moon.


Padahal suasana hatiku saat itu sedang baik-baiknya berkat pujian Zenri, sampai Bobi mengucapkan kalimat itu.


“Tapi Adrian, apa benar kamu sudah meng-xx seorang pemuda di taman?”


“Mana mungkin aku melakukan itu!”  Jawabku kesal.


Polisi pun mulai menyusuri lokasi kampus untuk mencari keberadaanku.  Kami bertiga lantas dengan sigap mengendap-endap untuk menghindari pengawasan polisi.


Namun, belum cukup sejam sejak polisi mulai melakukan penyusurannya, sekelompok mahasiswa yang justru hampir semua anggotanya adalah wanita datang menghadang kawanan polisi tersebut sambil berunjuk rasa.


“Ini adalah lingkungan kampus yang seharusnya steril dari politik dan pemerintah.  Tidak sepantasnya personil kepolisian memasuki wilayah kami.  Keluar!  Segera keluar dari tempat ini!”


Para mahasiswa pun berunjuk rasa yang menghalangi penyusuran para polisi itu.  Tetapi apa yang membuatku lebih kaget, rupanya pemimpin para demonstran itu adalah sosok yang begitu kukenal dengan baik.  Dialah sosok wanita idealku.  Pujaan hatiku.  Dialah Nafisah.


Tanpa sempat memberikan waktu buatku terkesima menyaksikan sosok lain pujaan hatiku itu, aku tiba-tiba ditarik oleh tangan lain lagi.  Rupanya, dia adalah Profesor Melisa.


“Terima kasih, Bobi, Zenri, telah mengamankan Adrian sampai sejauh ini.  Selanjutnya, serahkan padaku.”


Begitulah yang diucapkan oleh profesor itu sebelum dia tiba-tiba menarikku, membuangku ke dalam mobilnya, lantas melaju dengan kencang nak pembalap dengan mobil anehnya itu.


***


Di tempat itu, dengan berani Nafisah berdiri menghalangi para polisi yang berniat menangkap Adrian yang tidak lain merupakan Ksatria Panah Biru, rekan Pahlawan Darah Merah, idola mereka.


“Selama ini, Pahlawan Darah Merah dan ksatria Panah Biru telah berjuang demi umat manusia, menjaga kedamaian dan ketentraman Kota Jakarta dari para monster berbahaya.  Tetapi apa yang justru dilakukan para polisi?  Tidak hanya tidak berbuat apa-apa terhadap bahaya monster avatar yang bersembunyi di sudut gelap ibukota, mereka justru menuding pahlawan kita sebagai penjahat.  Ini tidak bisa dibiarkan.”


Dengan gagah berani, Nafisah berteriak di depan kerumunan, menghalau kawanan polisi itu.


Sesaat kemudian, tiba-tiba salah seorang petugas polisi datang menghampiri pemimpin tim polisi tersebut.  Dia membisikkan ke telinga pimpinan timnya,


“Maaf Pak, tersangka sudah kabur dan saat ini sedang dikejar oleh unit lain.”


Setelah mendengarkan laporan itu, para kawanan polisi yang sempat menerobos masuk kawasan universitas yang sebenarnya terlarang berdasarkan suatu aturan tidak tertulis tersebut, menarik mundur diri mereka.