101 Avatars

101 Avatars
42. Kebenaran Tragedi Keluarga Profesor Melisa



Tak kusangka bahwa Avatar Arjuna dalam wujud bocah SMA ini adalah seseorang yang begitu baik dan polos.  Dia juga rupanya menjaga tubuh manusia yang telah dimimiknya itu dengan baik sampai sekarang, yah walau lebih tepatnya, dia menyerahkannya kepada Kak Kaiser untuk dirawat.


Kalau dipikir-pikir, aku begitu banyak berinteraksi dengan monster avatar yang lebih dari sekadar manusiawi, tidak hanya Arjuna, tetapi juga Sena, Autumn Lily, Riri, Rina, dan kalau dipikir-pikir, sebelum kematian Riri, Rara juga adalah sosok yang ramah dan bersahaja, terlepas dia adalah monster avatar.


Lantas, apa sebenarnya monster avatar itu?  Mereka ada yang baik, ada pula yang jahat seperti Fog, Raging Fire, Poison Merchant, dan Holy.  Ada juga dari mereka yang jadi jahat padahal memimik manusia yang benar-benar berhati baik seperti Freeze yang telah memimik dan membunuh kakakku Faridh.  Bukankah mereka tidaklah berbeda dari manusia yang memiliki beragam karakter?


Apa karena mereka memperoleh sifat dan kepribadian itu setelah memimik manusia atau karena mereka setelah keluar dari game adalah sosok yang beringas sampai mereka mendapatkan sifat manusia dari inang yang mereka mimik sehingga dikatakan bahwa perasaan mereka palsu?


Lantas, bagaimana sebenarnya perasaan yang asli itu?  Kita mengatakan bahwa perasaan para avatar itu palsu karena tersusun dari kumpulan-kumpulan data virtual yang berbeda dari konsep hati manusia.  Lantas, jika kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, bagaimana jika ada makhluk di luar sana yang memiliki konsep lebih tinggi dari manusia lantas memandang konsep hati manusia itu tak ubahnya ketika kita melihat konsep data virtual para makhluk avatar?


Lantas jika seperti itu, bisakah perasaan kita dikategorikan sebagai sesuatu yang palsu?  Apa sebenarnya yang membatasi antara yang asli dan yang palsu?  Siapakah sebenarnya yang berwenang dalam menentukan antara yang asli dan palsu?


Seketika lamunanku dibuyarkan oleh perkataan Arjuna selanjutnya.


“Oh iya, kalau dipikir-pikir, di fasilitas itu, aku juga melihat seorang anak kecil terbaring di dalam kapsul hibernasi di samping kapsul hibernasi Tio.  Siapa anak itu ya?”  Tanya Arjuna sembari melihat ke awang-awang.


“Dia Zio, anak keduaku.”  Profesor Melisa-lah yang menjawab pertanyaan tersebut.


“Oh iya, aku sempat dengar dari Nafisah bahwa Bomber telah berbuat sekejam itu pada keluarga Anda.  Apa Anda tidak merasa marah padanya?”  Tanyaku penasaran kepada Profesor Melisa, melihat dia selama ini baik-baik saja berinteraksi dengan Avatar Bomber milik Kak Kaiser setelah terjadinya kejadian tragis tersebut.


“Bukan Bomber pelakunya!”  Seketika Profesor Melisa berteriak, menolak mentah-mentah asumsi yang kuajukan.  Tampak ekspresi wajahnya begitu menunjukkan kerutan yang menandakan begitu batinnya terganggu oleh ucapanku barusan.


“Aku pasti telah menginjak ranjau yang tak seharusnya kuungkit.”  Pikirku dalam hati.


Namun, setelah tampak ekspresi Profesor Melisa sedikit lebih tenang, dia mulai angkat bicara kembali.


“Memang benar bahwa Bomber-lah yang telah membunuh Andina ketika dia belum mendapatkan kesadarannya.  Jika demikian, mana mungkin aku dapat menyalahkannya.  Aku seorang microsaintis.  Aku selalu berpikiran logis.”


Profesor Melisa menghela nafas sejenak sebelum dia melanjutkan perkataannya.


“Sama halnya dengan pengadilan yang melepaskan orang gila dari jeratan hukum, begitu pula berlaku pada Bomber.  Kita tak dapat menyalahkannya ketika dia sendiri tak pernah berniat hal itu terjadi dan melihatnya kini begitu amat menyesali perbuatannya.  Tetapi tidak dengan dia!”


Aku pun mengantisipasi dengan indera pendengaran yang terpasang baik-baik terhadap perkataan Profesor Melisa yang selanjutnya.  Tentang siapa gerangan identitas pelaku sebenarnya jika bukan Bomber dan atas dasar apa suami Profesor Melisa dibunuh dan anak mereka sampai dibuat koma.


“Sialan itu, Void, dia yang merencanakan semua ini!”


“Jadi, suami dan anak kedua Anda jadi korban bukan atas kecelakaan di malam bencana Hoho game?”


“Jelas itu juga terjadi di malam bencana, namun semuanya direncanakan oleh Avatar Void itu.  Si sialan Void itu jelas-jelas telah memperoleh kesadarannya malam itu.  Dia yang kemudian membawa 4 monster avatar yang masih belum memperoleh kesadarannya untuk menyerang keluargaku.  Dia pasti berniat memimikku beserta suami dan anak-anakku melalui monster-monster itu demi menggunakan identitasku mendekati lab rahasia warisan Prof Indro ini.”


Profesor Melisa yang terlihat telah dalam keadaan frustasi, lantas menyeret sebuah kursi plastik sembari mendekat ke arah kami, kemudian duduk di atasnya yang telah ditaruhnya bersebelahan dengan meja di mana keempat avatarku terduduk di sana dalam ukuran mininya.


“Untunglah Kaiser segera datang mengalahkan para monster avatar yang dibawa Void tersebut lalu menyelamatkanku beserta anak keduaku Zio dari peristiwa mencekam itu.  Tetapi sayangnya hiks… hiks…”


Terlihat Profesor Melisa mulai terisak.  Dia tampak sangat terpukul mengenang kembali trauma yang ingin dilupakannya itu.


“Sayangnya, hiks… hiks… Suamiku Daeng Sabaruddin telah meregang nyawa.  Tidak hanya itu saja, Zio yang telah dimimik oleh satu di antara 4 monster avatar yang dibawa oleh Void itu kini terbaring koma bahkan setelah 5 tahun berlalu.  Tidak sampai di situ saja, di malam itu pula, aku harus mendengar kabar bahwa anakku yang lain telah tewas di tangan monster avatar lain melalui mulut calon menantuku sendiri.”


Ujar Profesor Melisa dalam deraian air mata.


Kebaikan dan kejahatan setiap makhluk hidup tidak ditentukan oleh tentang bagaimana dan darimana mereka dilahirkan, termasuk juga dalam wujud apa dia dilahirkan.  Termasuk para monster avatar.  Kita tak dapat menyalahkan mereka karena telah terlahir di dunia ini.


Akan tetapi, sebagai seseorang yang telah kehilangan keluarganya karena kemunculan makhluk seperti mereka, kita tak dapat menyalahkannya ketika orang itu membenci dan mengutuk kelahiran mereka.  Tidak, itu hanya perihal alasanku saja yang juga ingin membenarkan rasa benciku pada para makhluk avatar.


Karena jika tidak, maka ke mana lagi kusalurkan rasa frustasi kehilangan sosok kakakku yang berharga itu?  Aku sempat goyah sejenak karena kebaikan hati Arjuna.  Tetapi sosok monster avatar seperti Void kembali menamparku untuk bangun dari mimpi idealisme yang konyol itu.  Bagaimanapun, para monster avatar adalah musuh yang harus dikalahkan jika ingin muka bumi ini memperoleh keselamatannya dari bencana tolakan gaia.


Para monster avatar harus dienyahkan, entah mereka jahat atau baik… itupun tidak.  Aku sadar bahwa aku berhati lemah.  Entah apa yang akan terjadi jika sekali lagi aku bertemu dengan monster avatar yang baik hati semisal Arjuna dan Sena.  Tapi pada saat itu kuyakin bahwa Kak Kaiser akan membimbingku.  Perihal Kak Kaiser telah berjanji padaku untuk menutupi kelemahan hatiku tersebut.


Pemikiran-pemikiran tentang kemungkinan yang takkan pernah terjadi itu, sebaiknya tidak usah aku pikirkan lagi.  Ada Kak Kaiser yang selalu bersamaku.


Lalu aku pun melihat papan investigasi yang berisikan investigasi mengenai identitas para monster avatar dalam wujud manusianya.  Kulihatlah avatar bernomor 10 itu, Void, di list.  Dia rupanya termasuk salah satu monster avatar yang identitasnya telah diketahui.  Itu pastinya akan memudahkan kami untuk segera menemukan dan membasminya.


Michael, itulah nama manusia yang dimimik oleh Avatar Void itu.


“Void yang menggunakan identitas Michael itu pasti akan segera kutemukan lalu membasminya.”  Ujarku penuh tekad kepada Profesor Melisa.


“Itu, Adrian, kami belum bilang ya, kalau Michael itu…”


“Bagaimana semuanya?  Tampaknya semua sudah berkumpul.  Oh, Syifa, akhirnya kamu datang juga.  Karena kita sudah lengkap, maka mari kita mulai saja rapatnya.”


Tampak Profesor Melisa masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi rapat itu terlanjur telah dibuka duluan oleh Kak Kaiser.