101 Avatars

101 Avatars
26. Sang Monster di Toko Kue Bernard



Dalam sekejap, Kota Jakarta yang baru saja mengalami kepanikan massal akibat ulah Volt dan Metalia, telah memperoleh kembali ketenangannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.  Inilah kekuatan umat manusia yang mampu membuat kita bertahan selama jutaan tahun di muka bumi.  Bencana sebesar apapun, kita akan selalu optimis dalam menyongsong masa depan.


Tersisa 111 hari menuju kehancuran umat manusia.  Untuk mencegahnya, masih ada 22 monster avatar yang harus menjadi target pembasmian.  Namun kini, rasa tidak percaya diri kembali menggerogoti hatiku.  Dalam pertarungan terakhir, aku sama sekali tidak memberikan bantuan apapun kepada Kak Kaiser.


Kak Kaiser-lah yang seorang diri mengalahkan Volt dan Metalia, menyelamatkan seorang sandera, serta menghentikan Instrumen Tujuh Dosa sehingga menggagalkan rencana Volt dan Metalia untuk menghancurkan umat manusia.


Sedangkan aku, aku gagal menjalankan tugas sederhana yang diberikan oleh Kak Kaiser padaku.  Aku tak sanggup menyelamatkan keenam sandera lain yang terkurung di keenam Instrumen Tujuh Dosa lainnya.  Andai saja waktu itu aku tidak lengah ketika kurungan listrik yang menutupi seluruh kota telah lenyap, paling tidak seorang sandera lagi bisa kuselamatkan.


Aku sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa saat setelah instrumen tampak telah berhenti bekerja, instrumen aktif kembali lantas mengisap energi kehidupan para sandera hingga tewas.


Pagi itupun, dengan badan yang lemas, aku berangkat ke kampus.  Rupanya berita hoax yang membuat mentalku semakin down telah menungguku di sana.


Bencana yang terjadi di Kota Jakarta 3 hari lalu, rupanya disebabkan oleh Pahlawan Darah Merah


Foto penampakan rekan yang akhir-akhir ini selalu bersama Pahlawan Darah Merah, Blue Batboy, yang sedang terbang di sekitar tempat kejadian


Pihak polisi dalam jumpa pers-nya berkata akan segera menangkap Pahlawan Darah Merah dan Blue Batboy yang banyak meresahkan masyarakat


Kurang lebih begitulah kebanyakan headline berita-berita baik di internet maupun di koran-koran pagi itu.  Seisi kampus, termasuk seluruh teman-temanku di ruang kuliah, heboh membicarakan hal tersebut.


Padahal setelah apa yang kami lakukan demi menyelamatkan umat manusia, justru balasan seperti ini yang kami dapat.  Diperlakukan layaknya kriminal.  Aku muak dengan semua ini.


Dan apa-apaan dengan panggilan Batboy (manusia kelelawar) itu.  Apa mereka sengaja ingin bermain kata untuk memplesetkannya dengan Badboy (manusia buruk)?  Hah, sungguh membuatku sangat muak.


Namun, tiba-tiba Bobi menepuk pundakku seraya berkata,


“Adrian.  Lihatlah mereka.  Tak satu pun dari mereka yang menghujat Pahlawan Darah Merah dan rekannya.  Kita semua tahu bahwa kedua pahlawan selama ini telah berjuang mati-matian demi umat manusia seperti bagaimana Pahlawan Darah Merah lima tahun silam menghentikan invasi monster hanya dalam dua malam satu hari.”


Aku pun lantas melihat sekelilingku.  Benar apa yang dikatakan Bobi, kebanyakan teman-teman seangkatanku memberikan opini bahwa berita itu palsu dan pemerintah berusaha menjalankan skema terselubung di baliknya.  Hal itupun, lantas membuat hatiku lega.  Setidaknya teman-teman seangkatanku, tidaklah berpaling dari kami.


Namun, aku masih bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang memprakarsai berita-berita hoax untuk menyudutkan Kak Kaiser itu?  Apakah benar kata Kak Kaiser dan Profesor Melisa bahwa ada avatar yang telah menyusup ke kepolisian lantas merekayasa semua kejadian dari balik layar?  Jika memang benar, bagaimana cara monster itu melakukannya?


Dipikir bagaimanapun, jika mereka berhasil menyusup, bahkan jika mereka menyamar sebagai pimpinan tertinggi di pihak kepolisian sekalipun, cara mereka bertindak yang terlalu mencolok tentu akan mengundang protes dari pihak bawahan sehingga praktis mereka akan kesulitan mengendalikan pendapat mayoritas.


Seberapa pun pihak atasan memberikan instruksinya untuk mencap Pahlawan Darah Merah sebagai kriminal, pasti akan ada perlawanan dari pihak bawahan sesedikit pun itu.  Tapi berbeda dari yang diharapkan, suasana kepolisian terlalu kalem seolah mereka semua sepakat akan berita hoax tersebut.  Bagaimana semua itu bisa terjadi?  Itu semua tidak mungkin kecuali jika monster avatar itu memiliki kemampuan mengendalikan pikiran.


***


Tepat di saat Adrian tengah disibukkan oleh berbagai pikiran mengenai berita hoax tersebut di kampusnya, ketiga orang petinggi di pihak kepolisian yang baru saja dipindahkan ke Kota Jakarta itu hendak menemui kepala polisi pusat yang menjadi dalang dari semua kemunculan berita-berita hoax mengenai Pahlawan Darah Merah tersebut.


Mereka ingin mempertanyakan alasan di balik sikap Pak Kepala mereka itu sampai memperlakukan seseorang yang merupakan seorang pahlawan menjadi seorang kriminal.  Dan anehnya bagi mereka sebagai orang yang baru dipindahtugaskan ke tempat itu, tidak ada satu pun baik dari anak buah mereka, maupun yang jabatannya lebih tinggi dari mereka, yang mempermasalahkan hal tersebut.


Akan tetapi, di saat mereka memasuki ruangan Sang Kepala dan menanyakan hal tersebut, tiba-tiba saja mata pria tua itu berubah menjadi putih pucat menyeramkan.  Jarum-jarum tipis yang terbuat dari es entah bagaimana muncul di belakang kepala mereka.


Sayangnya, karena mereka terlalu fokus pada perubahan penampilan Pak Kepala mereka itu yang mendadak menjadi aneh dan menyeramkan, mereka sama sekali tak menyadari ketika jarum-jarum es itu menusuk dan meresap masuk melalui belakang kepala mereka.


Sesaat kemudian, mereka akhirnya pun ikut menjadi boneka manusia Sang Kepala sama seperti anggota-anggota kepolisian lainnya di tempat itu yang menuruti segala perintahnya tanpa melawan.


Insting Adrian tepat, monster avatar yang menyusup ke kepolisian itu memiliki kekuatan mengendalikan pikiran.  Suatu kemampuan yang sebelumnya tidak ada ketika Hoho game diluncurkan.  Satu fakta yang mengejutkan, kekuatan monster avatar rupanya dapat berevolusi setelah mereka muncul ke dunia nyata.


Dari balik bayang-bayang Sang Kepala yang tidak lain adalah pria tua yang pernah berbincang dengan Fog itu, Freeze dalam wujud Faridh, kakak Adrian, muncul sambil tersenyum penuh kelicikan.


***


Pagi itu, ketika belum ada banyak orang di area kampusnya, Zenri sedang jogging di sana sebagai salah satu kegiatan rutinnya tiap pagi.  Zenri yang lelah kemudian beristirahat di salah satu sudut taman tak jauh dari area fakultasnya itu, tepat di belakang Toko Kue Bernard.


Tanpa diduga-duga gempa yang cukup kencang, namun tak terlalu parah hingga bisa menimbulkan tsunami atau longsor, membuat Zenri terkaget sehingga serta-merta dia berdiri dari tidurnya dengan panik lantas segera mencari tanah lapang untuk mengungsi.


Di situlah dia menyaksikan seorang anak yang hampir saja terkena pecahan kaca jendela serta kayu-kayu yang tajam yang terjatuh dari lantai empat bangunan di mana Toko Kue Bernard tersebut berada di lantai satunya, diselamatkan oleh salah seorang pegawai wanita dari toko tersebut.


Akan tetapi, dalam penyelamatannya kepada anak itu, Zenri dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan bahwa pegawai wanita itu berubah menjadi sosok monster yang dia kenal dengan baik melalui forum situs Pahlawan Darah Merah.  Kumpulan monster yang lima tahun silam membuat malapetaka besar di Kota Jakarta.  Merekalah para monster avatar.


Namun, tidak hanya itu saja.  Zenri pun mengenal dengan baik sosok pegawai wanita yang berubah menjadi sosok monster tersebut.  Karena pegawai wanita itulah yang sering Zenri, Bobi, dan juga Adrian temui tiap kali berbelanja di toko kue favorit mereka itu.  Salah satu dari tiga bersaudara yang bekerja di Toko Kue Bernard yang dijuluki sebagai the three flower sisters karena kecantikan wajah mereka.  Dialah Riri.


Tiada yang menyaksikan kejadian tersebut di tempat itu selain Zenri perihal sang anak yang diselamatkan oleh sang monster tengah jatuh pingsan.  Tanpa bersuara dengan penuh kepanikan dan keringat yang mengucur, Zenri pun memilih untuk segera berlari meninggalkan tempat tersebut dengan tergopoh-gopoh tanpa peduli lagi terhadap gempa yang sedang terjadi.