“Sluuuush.”
Selendang 6 juntai bertebaran dalam jarak dekat, mencegah para golem dan dummy mendekat.
“Prak. Prak. Prak. Prak.”
Sementara tentakel-tentakel berwarna ungu bersewileran menusuk para golem dan dummy hingga hancur, menyatu kembali dengan tanah.
“Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor.”
Di tengah-tengah itu, terdengar bising suara pistol ikut bergemuruh, mengeluarkan bulatan-bulatan cahaya hitam yang akan meniadakan apapun yang berada pada jarak radius tiga meter darinya.
“Duh, monster-monster ini tidak ada habisnya. Tiap kali dikalahkan, hanya akan segera muncul yang baru.” Gerutu Airi sembari tetap mempertahankan serangan juntaian selendang dan tentakel ungunya.
“Tampaknya mereka baru bisa lenyap jika tubuh utamanya dikalahkan.” Ujar Andika menanggapi gerutu Airi tersebut.
“Yah, kalau begitu, kita hanya dapat mempercayai anak kita dan Kaiser untuk menyelesaikannya.”
“Yah, kamu benar.”
Pertarungan pun berlanjut.
“Awas, Airi, di belakangmu!” Teriak Andika seraya dengan cepat berlari ke belakang Airi.
“Dor. Dor.”
Begitu Airi menoleh ke belakang, dua buah golem masing-masing telah bolong di bagian tengah perutnya.
Airi pun kembali menatap ke depan dengan mempercayakan belakangnya sepenuhnya kepada suaminya itu.
“Swuuuuush. Gubrak. Grak.”
Selendang Airi bersewileran menjerat para dummy yang dapat dijangkaunya, lantas mempererat jeratan itu sehingga para dummy pun terlumat hingga hancur.
“Trak. Trak. Trak. Trak.”
Tentakel Airi menyertai juntaian selendang, mengarah lurus menusuk para golem yang hendak menyerang di depan.
“Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor.”
Sementara itu di belakang, Andika dengan mudah menjatuhkan para golem dan dummy dengan kekuatan peniadaannya. Andika mengutamakan untuk menjatuhkan para golem dan ikut menembak para dummy jika ada kesempatan.
“Puaaak. Pak. Pak.”
Hal itu karena para dummy sebenarnya dapat dengan mudah dikalahkan dengan tinju Andika yang berlapiskan aura peniadaannya itu, sementara dibutuhkan effort yang lebih jika mengalahkan golem dengan cara tersebut.
Tampak tidak ada masalah yang berarti pada duo Andika-Airi tersebut. Mereka betul-betul adalah pasangan yang kompak.
***
“Sluuuurt, surt, surt.”
“Flaaaaash.”
Tembakan laser kehampaan nan gelap turut ditembakkan pula oleh Void kepada Adrian yang sedang sibuk menghindari getah asam dari Sticky Girl tersebut.
Andika yang awalnya hendak melompat ke belakang, segera membatalkan manuvernya dengan sigap, lantas melompat ke arah sebaliknya.
Kondisi ini lumayan buruk bagi Adrian. Di samping dia harus menghindari getah lengket nan asam dari Sticky Girl, sesekali dia juga harus waspada pada tembakan sniper laser hitam milik Void yang muncul tiap jeda lima menit berdasarkan perhitungannya.
“Hahahahaha. Padahal kamu tadi segitu sombongnya dapat mengalahkan kami bertiga sendirian sehingga membiarkan rekanmu yang satu masuk ke dalam seorang diri. Tapi apa ini? Sedari tadi kamu hanya terus menghindari serangan kami tanpa perlawanan sedikit pun.” Void pun mencoba untuk memprovokasi Adrian.
“Mengapa kami harus mengalahkan kalian dengan berdua di kala aku sendiri sudah cukup untuk membasmi kalian bertiga. Kau sendiri, sadar dirilah. Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Healer dan Freeze.” Adrian lantas balas memprovokasi Void.
Void menggertakkan gigi-giginya. Adrian berhasil menyerang bagian paling sensitif dari Void tersebut. Memang benar bahwa selama ini sebagai monster avatar bernomor 10 yang tepat di bawah single number, Void sangat dan sangatlah iri kepada para single number avatar, terutama terhadap dua nama yang disebutkan oleh Adrian.
Freeze yang beruntung dengan diciptakan melalui spek yang terbaik, serta Healer yang memiliki bakat yang begitu unik sehingga membuatnya dijuluki dari avatar terlemah menjadi avatar terkuat hanya dalam waktu singkat sejak Kaiser menggunakannya.
Void iri terhadap keduanya karena dirinya yang tak mampu menggapai prestasi apa-apa. Perasaan iri yang diterimanya begitu memimik tubuh manusia begitu kuat sampai-sampai membuatnya akan menjadi gila, ingin merebut apa yang dimiliki oleh Freeze dan Healer.
Bahkan, bakat yang diperolehnya dari inangnya yang berupa kemampuan pemahaman teknologi, dengan mudah dipecundangi oleh Mecha hanya dengan memanfaatkan bakat aslinya saja sebagai monster avatar bertipe teknologi. Void benar-benar tidak punya apa-apa untuk dibanggakan selain sebagai anjing setia bagi tuannya, Xavier.
Itupun, kedudukan itu tampaknya juga akan segera direbut oleh Time yang belakangan ini terlihat sangat dekat dengan tuannya yang sampai-sampai terlihat bahwa posisinya akan segera tergantikan begitu dia melakukan sedikit saja kesalahan pada tugasnya. Void tak lagi dapat menahan perasaan amarah akibat rasa irinya yang terpendam mulai melahap jiwanya.
“Kamu, manusia lemah kurang ajar! Matilah kau!” Void yang biasanya tenang justru secara tiba-tiba dikendalikan oleh amarahnya lantas bergerak maju menerjang Adrian tanpa perencanaan serangan yang matang.
Hal ini pun dimanfaatkan oleh Adrian untuk memberikan serangan fatal pada Void yang selama ini tak dapat dijangkaunya. Adrian menghindari dengan indah serangan Void, lantas,
“Slash. Slash.”
Dua tebasan pun diberikan oleh Adrian pada monster yang dipenuhi kemarahan akibat menolak kuat rasa iri di dalam dirinya yang begitu menunjukkan kelemahan hati dan perasaan inferiornya itu.
Adrian sangat kenal dengan emosi itu karena hal itu tidak jauh beda dari dirinya yang sempat merasakan terpuruk ketika melihat perkembangan siginifikan Kaiser dalam waktu singkat yang dengan jahatnya dia baru merasa lega justru setelah melihat pemuda itu terluka yang menunjukkan dia juga manusia biasa yang mempunyai kekurangan.
Adrian sadar bahwa dirinya tak sepantasnya merasakan hal seperti itu. Dirinya sadar telah melakukan hal yang jahat dan bersumpah mengutuk dirinya yang seperti itu. Namun, Adrian dengan cepat mampu mengontrol perasaan inferiornya itu agar tak melukai orang di sekelilingnya, terutama yang menjadi objek inferiornya.
Oleh karena itu, Adrian yang lebih tahu tentang jenis perasaan itu, mampu menjadi pengamat yang baik tentang apa yang menjadi objek inferior dari seseorang, atau dalam hal ini lebih tepat jika kita mengatakan sesosok. Adrian telah lama mengamati Void yang dia lihat mirip dengan dirinya itu. Dan objek inferior dari sosok tersebut tidak lain adalah Healer dan Freeze.
Adrian pun mampu dengan cerdik memanfaatkan kelemahan musuh tersebut untuk mengguncang jiwanya dan pada akhirnya sanggup mengalahkannya. Bagi Adrian, harga diri dengan mengalahkan musuh secara jujur dan lurus tidaklah penting saat ini ketika segala apa yang penting baginya sedang dipertaruhkan keselamatannya.
Akan tetapi, begitu Adrian hendak memberikan serangan ketiga sekaligus serangan final dengan kekuatan maksimalnya, Sturdy datang di tengah-tengah dan menghalanginya dengan mengubah jalur momentum serangan pedang Crusadernya.
“Hei, sadarlah! Kamu sedang dimanipulasi oleh provokasi manusia itu.” Ujar Sturdy untuk menenangkan Void yang marah.
Adrian yang hendak menyerang sekali lagi begitu melihat dua sasaran empuk tersebut masih terdiam di sana, seketika memilih mundur ketika melihat Sticky Girl dari jauh tengah bersiap mengeluarkan jurusnya.
“Sluuurp, srup, srup.”
Untunglah, Adrian dapat bertindak dengan cepat sehingga mampu terhindar dari serangan getah asam nan lengket dari makhluk menjijikkan tersebut.