101 Avatars

101 Avatars
38. Harga Diri Adrian yang Terluka



Adrian meluapkan amarah sejadi-jadinya begitu sosok yang dianggap sebagai pengganti kakaknya, Faridh, itu melecehkan harga dirinya dengan mengatakan bahwa latihan yang selama ini dilakukannya agar dapat berdiri sejajar dengannya adalah sia-sia belaka.  Adrian merasa bahwa seolah mentornya itu mengatakan bahwa sampai kapan pun, dia takkan pernah menyamainya.


“Bukan begitu, Adrian.  Maksudku, lebih baik jika aku yang berfokus mengalahkan Freeze ketimbang kamu.”


“Apa-apaan itu?!  Kakak mau pamer bahwa Kakak jauh lebih hebat daripada-ku?!”


Kaiser mencoba menjelaskan kesalahpahaman Adrian itu, tetapi itu lantas semakin membuat Adrian naik pitam.


“Bukan begitu.  Baiklah, jika seandainya kamu ingin berlatih, maka berlatihlah di level yang seharusnya.  Apa gunanya melawan simulasi Freeze yang dikendalikan oleh pemain lain?  Dia jelas keluar lewat kapsul kakakmu, itu berarti dia menggunakan Avatar Freeze yang dikendalikan oleh kakakmu itu sebagai data dasarnya.”


Namun, telinga Adrian telah tertutup oleh amarah.  Dia tidak lagi berpikir jernih untuk mendengarkan mentornya itu.


Adrian yang kecewa, lantas hanya tertunduk pasrah sembari mengatakan, “Sudahlah.  Kakak yang dingin tidak mungkin mengerti perasaanku.  Mungkin benar kata Judith bahwa perhatian yang selama ini Kak Kaiser tunjukkan padaku adalah kepalsuan belaka.  Atau jangan-jangan, Kakak yang dingin ini sejatinya juga adalah monster avatar?”


“Adrian, apa yang kamu katakan?”


“Apakah itu salah?  Kakak sendiri yang bilang bahwa para monster avatar memiliki kecenderungan untuk mengincar tubuh yang kuat sehingga kebanyakan dari mereka keluar dari kapsul game seseorang yang bergelar Ranker?”


“Adrian, bukankah sudah kukatakan bahwa pada malam bencana itu, aku tidak sedang mengunakan kapsul game karena sembari berkencan dengan Andina.”


“Lantas kenapa Bomber sendiri bisa mendekati Kak Andina di malam itu?!”


“Adrian.”


“Lepaskan!”


Adrian yang sudah merasa tidak peduli lagi terhadap apa yang dikatakan oleh mentornya itu, serta-merta meninggalkan ruang latihan tersebut.  Kaiser mencoba menahannya, akan tetapi dengan segera ditepis oleh Adrian.


Kaiser pun ditinggalkan di dalam ruangan itu seorang diri, tidak, tepatnya jika kita juga menganggap AI5203 adalah sebagai seseorang, maka lebih tepat mengatakan bahwa mereka ditinggalkan berdua di ruangan tersebut.


“Ah…haaaaaah….Kamu akhirnya mengatakannya.  Sesuatu yang tidak boleh disentuh pada hati seseorang.”  AI5203 pun berkomentar akan sikap Kaiser tersebut.


“Apa maksudmu?  Memangnya kamu sendiri paham isi hati manusia?”  Kaiser pun balik menimpali AI yang sok berlagak seperti manusia itu.


“Kaiser, dengar, manusia tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan microsains untuk hidup di dunia ini.  Kamu seharusnya lebih banyak belajar lagi soal bersosialisasi agar kamu lebih dapat memahami seseorang.”


Dalam hatinya, Kaiser pun mengumpat, “Bagaimana aku bisa paham semua itu karena aku juga makhluk virtual?!”


Tapi perkataan itu hanya ditahannya di hatinya, tidak, mungkin lebih tepat jika kita mengatakan di dalam progam yang berisi data yang terhidden.  Kaiser justru berucap,


“Lantas, mengapa menurutmu Adrian marah?”


“Jawabannya harga diri, Kaiser.  Terkadang, banyak orang yang rela kehilangan nyawanya lantaran harga dirinya diinjak-injak.  Terkadang kamu harus jeli melihat anak didikmu sendiri.  Tidakkah kamu melihat bahwa betapa dia ingin dipuji olehmu, mentornya yang sangat dihargainya?”


Mendengar perkataan AI5203 itu, Kaiser hanya terdiam sesaat sembari mengernyitkan dahinya.  Dia lantas balik menatap AI5203 lewat penampakan mata virtual dari layar komputer besar itu.


“Lantas bagaimana nanti jika dia besar kepala dan menjadi sembrono dalam pertarungan?!  Nyawanya bisa melayang.  Akulah yang membawanya ke dalam pertarungan ini sehingga akulah yang harus senantiasa menjaganya.  Demi kakaknya, Syifa, dan juga demi Nafisah, orang yang mencintainya, dan tentu saja demi dirinya sendiri, Adrian harus selamat dalam pertempuran ini.”


Kaiser pun melangkah lebih mendekat ke layar komputer besar di mana mata virtual AI5203 terlihat.  Kaiser lantas kembali berucap,


“Kita tidak boleh memberinya harapan palsu bahwa dia telah menjadi kuat di saat kamu hanya membiarkannya melawan kroco-kroco tiruan Freeze yang murahan.  Jadi tolong, AI5203, jangan lakukan hal itu lagi pada Adrian.  Jujurlah padanya tentang sampai di mana batas kemampuannya yang sebenarnya.”


AI5203 pun terdiam sesaat sebelum akhirnya berucap, “Aku baru menyadari bahwa kamu ternyata orang sangat overprotektif ya, Kaiser.”


***


Bagiku, Kak Kaiser sudah kuanggap sebagai pengganti kakakku Faridh.  Dia adalah sosok mentor teladanku.  Dia memiliki jiwa keadilan yang begitu kuat layaknya kakakku Faridh, yang bahkan rela meninggalkan bakatnya demi mengejar cita-citanya melindungi negara dengan memasuki Lembaga Perpajakan Negara.


Jika kalian tidak tahu, Lembaga Perpajakan Negara adalah pintu masuk rahasia demi mengakses agen intelegensi negara.  Ya, kakakku bercita-cita menjadi agen intel negara demi memberantas kejahatan di negara ini.  Sayangnya, takdir berkata lain dan dia harus meninggal di kala belum menggapai impiannya tersebut.


Di situlah ketika aku bertemu dengan sosok Pahlawan Darah Merah yang menyelamatkan orang-orang dari ancaman monster avatar yang mengerikan.  Aku pun sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai jelmaan kakakku Faridh.  Namun rupanya aku salah, pembawaan Kak Kaiser sama sekali berbeda dengan kakakku Faridh.


Bahkan bisa dibilang, sikap mereka sangat bertolak belakang.  Kak Kaiser sama sekali tak pernah mempercayai rekannya dan mencoba untuk menanggungnya seorang diri.  Jika itu Kak Faridh, kurasa dia akan melatihku dengan spartan sampai-sampai akan tega membuang aku langsung ke kerumunan para monster.


Entah mengapa aku merasa, jarak kami semakin terus dan terus menjauh.  Ataukah sedari awal, aku hanyalah pion baginya yang dijaganya dengan baik-baik.


***


Keesokan harinya, Kaiser yang luka anehnya akhirnya sembuh pasca bertarung dengan Saber, kemudian kembali berangkat ke kampus.  Tanpa diketahuinya, rupanya telah ada sosok yang mengintai di sekitar kampusnya sejak tiga hari yang lalu demi bertemu dirinya.  Dialah Rina.


Kaiser yang berjalan kemudian mampu merasakan hawa khas avatar sebagai sesama monster avatar datang dari arah belakangnya.  Suatu bentuk telepati yang baru bisa akan saling dirasakan jika kedua belah pihak saling menyetujui untuk terkoneksi.  Tentu saja Kaiser tidak menangkap sinyal itu lantaran dia sedang dalam penyamaran.  Dia tetap ingin merahasiakan identitasnya itu kepada siapapun avatar yang sedang berdiri di belakangnya itu.


Dia pun hanya berpura-pura terus berjalan menuju ke tempat kosong.  Di tempat kosong itulah, Rina akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Kaiser.


Mata mereka akhirnya saling bertatapan.  Kaiser-lah yang memulai percakapan.


“Maaf, Anda siapa?”


Mendengar hal itu, Rina pun menunjukkan kerutan di ekspresinya sebagai pertanda dia menyadari suatu kebohongan.  Dia lantas berkata,


“Maaf, saya telah tahu bahwa Anda adalah Pahlawan Darah Merah.”


Mata Kaiser seketika menajam.  Namun, dia tetap terdiam untuk menunggu lanjutan apa yang akan diucapkan oleh Rina.


“Kamu tahu kan, bahwa aku Crusader, seorang ksatria cahaya.  Ilusi Dream sang host takkan berpengaruh padaku.  Oleh karena itu, aku melihatmu sendiri kabur dari tempat pertarungan itu lantas berubah wujud kembali menjadi sosokmu yang sekarang.”


Rina tampak ragu melanjutkan ucapannya, namun akhirnya dikatakannya.


“Aku melihat sendiri kamu berubah wujud ke bentuk manusia itu.  Tetapi ada yang aneh karena luka yang disebabkan Kak Rara padamu sama sekali tidak mengeluarkan darah.  Lantas kamu apa?  Kamu jelas-jelas bukan manusia, namun kamu juga bukan bagian dari kami karena dengan wujud manusia, kami mampu memimik secara sempurna bentuk manusia termasuk morfologi dan fisiologi mereka.”


Kaiser yang lama terdiam akhirnya berkomentar.


“Lantas, apa yang kamu inginkan dengan mengatakan semua itu?”


Matanya yang tajam dan bengis melihat sosok Rina tersebut.  Tetapi Rina tetap menatap lurus ke arah mata Kaiser seolah tak terintimidasi oleh tatapan tajam nan bengis itu.


“Aku tidak bermaksud untuk mengungkapkan rahasiamu.  Lagian aku juga tidak tertarik.  Namun, aku sudah tahu tentang bahaya tolakan gaia jika jenis kami tidak segera dimusnahkan.  Jika demikian, maka semua senyum yang telah membuat hidupku berarti selama lima tahun ini akan lenyap bersama kami.  Aku tidak menginginkan hal itu.  Jadi aku justru berharap bahwa kamu bersedia memusnahkanku sebelum tibanya batas waktu resistensi gaia.”


Rina tertunduk kemudian terdiam sesaat.  Dia memegang dadanya erat-erat sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Tetapi sebelum itu, aku berharap kamu bersedia membantuku untuk membunuh Thief dengan kedua tanganku sendiri.  Lantaran aku tak ingin punya penyesalan sebelum aku mati.  Aku harus membalaskan dendam atas kematian kakak dan adikku atas rekayasa Thief.”  Ujar Rina dengan sungguh-sungguh sembari menatap Kaiser dengan wajah penuh tekad.


“Baiklah, aku setuju.  Tampaknya hal itu menarik.”  Jawab Kaiser dengan ekspresi yang mencekam.