Aku beserta rombongan akhirnya berhasil memasuki gerbang dunia virtual dengan selamat. Tetapi kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Tubuh para kakek dan nenek mendadak mengeluarkan sinar terang. Begitu sinar usai, tahu-tahu penampilan mereka berubah dengan drastis.
Aku, Kak Kaiser, dan Kak Arskad tak dapat menahan keterkejutan kami perihal para kakek dan nenek memperoleh tubuh muda mereka kembali.
“Ini, keriput di tanganku kok menghilang?” Ujar Nenek Sandra keheranan. Atau sebaiknya mulai saat ini kupanggil Tante Sandra kali ya.
“Bukan hanya tanganmu. Seluruh tubuhmu kembali muda.” Ujar Paman Arthur kepada Tante Sandra.
“Kok bisa?”
“Tampaknya, ini semua pengaruh dunia virtual. Tak penting wujud kita bagaimana. Ayo kita segera cari saja akar masalah semua bencananya. Bukankah sekarang justru lebih baik? Dengan tubuh muda ini, kita bisa lebih leluasa dalam bergerak.” Paman Shou pun turut berbicara dengan antusias.
Kami menelusuri lokasi sesuai dengan yang ditunjukkan oleh peta kepada kami. Namun, di tengah perjalanan kami itu, kami menemukan sebuah desa antah-berantah.
“Wah, apa ini?” Ujar Paman Shou keheranan.
“Kalau dilihat dari kostumnya, ini adalah pola yang umum dari suatu game vrmmorpg bertemakan fantasi, suatu kehidupan peradaban desa yang mengambil latar abad pertengahan.” Aku pun menjawab pertanyaan itu.
“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita segera caritahu saja langsung keberadaan makhluk misteriusnya dengan menanyakan kepada warga sekitar.” Ujar Paman Shou seketika.
Dapat terlihat dengan jelas perbedaan kelakuan Paman Shou ketika kembali memperoleh tubuh mudanya itu. Bagaimana ya mengatakannya, terlihat lebih aktif, atau mungkin hiperaktif kali ya.
“Tunggu, mereka pastinya hanyalah NPC. Mana bisa mereka menjawab pertanyaan Paman?” Aku pun hendak mencegah Paman Shou dalam bertindak gegabah.
“Oh ho. Kamu kini memanggilku dengan sebutan Paman ya, anaknya Andika. Begitu lebih baik karena ayah dan ibumu adalah teman selettingku walau aku lima tahun lebih tua dari mereka. Hahahaha. Senang rasanya kembali menjadi muda.”
Paman Shou sama sekali tak menggubris ucapanku dan tampaknya aku telah terlambat perihal Paman Shou keburu sudah bertanya duluan kepada penduduk desa.
“Makhluk aneh? Maksudmu para monster dari hutan berkabut yang sering menyerbu desa? Apa kalian juga seorang petualang?”
Kurang lebih dari penjelasan singkat sang penjual buah, aku bisa menangkap sedikit mengenai tema game-nya. Jadi pada dasarnya, ini adalah game fantasi umum di mana kami harus mengalahkan para monster dari hutan berkabut itu. Tidak menutup kemungkinan bahwa boss monster dari hutan berkabut itulah dalang dari bencana yang menimpa bumi saat ini.
Semuanya belum pasti, tetapi semuanya bisa terjawab ketika kami menemukan boss monster di hutan berkabut yang dimaksud oleh sang penjual buah itu lantas membasminya.
“Paman, bisa jelaskan lebih detail tentang hutan berkabutnya…” Kulihat Kak Kaiser lantas mengambil alih pembicaraan Paman Shou kemudian dengan lihai memanfaatkan skill komunikasinya, menarik info sebanyak-banyaknya dari sang penjual buah.
Dengan komunikasi yang baik, kita dapat mengumpulkan informasi lebih banyak karena orang-orang yang kita ajak bicara akan lebih terbuka dan tidak lagi merasa takut atau terancam jika mereka memberikan informasi yang mereka punya.
Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di penginapan di desa karena kebetulan tersedia untuk memulihkan tenaga kami yang terkuras akibat pertarungan melawan para dummy. Namun, kami menolak makan dan minumnya karena pada dasarnya, tubuh kami ini hanyalah tubuh pengganti yang tidak bisa lapar atau haus.
Jika kami merasakan lapar atau haus, maka walaupun tubuh avatar ini makan, tetap tidak mungkin kami akan merasakan kenyang sebab yang merespon lapar atau haus tidaknya tubuh kami adalah tubuh asli kami di dunia nyata. Jadi seharusnya, tubuh kami di dunia nyata itulah yang perlu makan atau minum.
Tiga jam kami memulihkan stamina hingga malam pun tiba. Kami pun segera berkemas-kemas untuk menuju ke hutan berkabut. Tubuh kami dilengkapi dengan mode penglihatan malam sehingga suasana malam ditambah kabut yang tebal, tidak akan menghalangi pandangan kami.
Namun berbeda dengan di area yang luas sebelumnya, sekeliling kami begitu dipenuhi dengan banyak pohon. Hal itu menyebabkan kami harus membentuk formasi yang lebih rapat, ditambah aku dan Paman Arthur sebagai seorang sniper, menjadi kesulitan untuk menembaki musuh karena pandangan kami terhalang oleh pohon di hutan.
“Sak, sak, sak, sak.” Langkah cepat tiba-tiba terdengar di telingaku dengan cara yang tidak biasa.
Mungkin takkan terlihat walaupun oleh orang berkekuatan supranatural sekalipun karena saking cepatnya geraknya. Tetapi aku yang memiliki penglihatan yang sudah berevolusi semenjak aku menyatu dengan Avatar Arjuna, melihatnya dengan jelas.
Sosok monster dengan kaki, badan, serta lengan yang ramping, tetapi jelas-jelas terlihat kebengisannya yang amat sangat melalui tatapan matanya yang bulat dan besar menonjol. Salah satu yang terdepan, lantas mengayunkan senjata sabitnya kepada Tante Sandra.
Tidak, ini gawat, Tante Sandra tidak bisa melihatnya.
“Tante Sandra! Menunduk!” Teriakku cepat.
Tante Sandra pun dengan sigap menunduk lantas aku segera menembaki monster jelek tersebut dengan senapanku.
Tidak ada waktu lagi. Sekitar delapan lagi makhluk jelek seperti itu menyerbu formasi kami, sedangkan tak cukup waktu bagiku untuk mengatur senjata senapanku untuk menembaki mereka semua. Kubuanglah senapanku itu ke tanah lantas aku mengambil dagger di pinggangku yang telah kusiapkan sebelumnya yang sewaktu-waktu bisa saja kubutuhkan ketika ada kendala teknis pada senjata senapanku.
Tidak kusangka, hal itu akan benar-benar berguna sekarang.
“Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash!” Dengan sigap dan tangkas, aku menebas kedelapan monster aneh tersebut.
Pertarungan selanjutnya berlanjut seperti biasa di mana kami menghadapi monster yang masih dapat kami tangani dengan baik melalui formasi kami.
Ketika para monster sudah tidak intens lagi menyerang kami yang mungkin karena jumlah mereka juga sudah mulai berkurang, “Trang, trang, trang.” Tanah mulai bergetar.
Akhirnya, sang boss monster yang telah kami nanti-nantikan datang juga. Bentuknya seperti tikus berwarna putih dengan tampilan yang seram. Salah satu gigi depannya keluar tak tersembunyi di dalam mulutnya, serta matanya yang merah memelototi kami dengan penuh amarah.
Tentu saja ini bukan masalah bagi para veteran. Tante Sandra segera berlari menghampirinya, menusuk-nusuknya dengan tombak gungnir-nya hingga monster tersebut terluka cukup parah. Kemudian sebagai serangan terakhir, seperti biasa, sambaran petir yang indah.
Serangan itu langsung dilanjutkan oleh tembakan delapan senapan Paman Arthur yang dipanggilnya sebagai Ramboo the series. Monster pun tumbang seketika, tercabik-cabik oleh angin kencang yang keluar dari senapan Paman Arthur.
Setelah monster itu tumbang, kami semua tiba-tiba saja bercahaya terang. Apakah ini berarti kita telah mengalahkan monster yang menyebabkan kekacauan dimensi ini?
Namun, kami harus menelan pahit kekecewaan karena apa yang menunggu kami setelah flip cahaya pasca mengalahkan sang monster tikus raksasa adalah pemandangan alun-alun kota yang sama tempat kami pertama kali tiba.
Paman Shou serta-merta berlari ke arah penjual buah yang sebelumnya lantas bertanya,
“Paman, mengapa kami justru kembali kemari setelah berhasil mengalahkan boss monster di hutan berkabut?!”
“Apa? Kalian berhasil mengalahkan boss monster di hutan berkabut? Tenang dulu, anak muda. Tarik nafas lalu ceritakan persoalanmu dengan jelas. Jangan ngegas gitu karena ini adalah pertemuan pertama kita di sini.”
Mendengar kata ‘pertemuan pertama’ keluar dari mulut sang penjual buah, kami pun serentak terkejut tak percaya.