Aku berjalan sembari menahan kantukku menuju ruang perkuliahan. Tiba-tiba suara nan indah memanggilku dari belakang.
“Adrian.”
Hatiku yang sedari tadi dipenuhi awan gelap perihal kantuk yang tak tertahankan, serta-merta berubah menjadi cerah oleh efek yang ditimbulkan oleh suara nan-indah itu. Dialah Nafisah.
“Apa kamu pulang dengan selamat kemarin? Ada monster yang tiba-tiba saja menyerang di tempat kita berada kemarin kan?”
“Ah, iya. Aku baik-baik saja. Syukurlah kamu juga baik-baik saja, Nafisah.” Jawabku dengan malu-malu kepada Nafisah.
“Apa jangan-jangan, kamu yang meminta Pahlawan Darah Merah kemarin untuk menyelamatkanku?”
“Oh, itu, bukan. Kak Kaiser yang tampaknya melakukannya. Aku pulang cepat hari itu. Aku baru tahu kamu dalam bahaya setelah melihat statusmu di Bacot.” Sekali lagi dengan gugup, aku menjawab pertanyaan dari Nafisah sesuai apa yang kemarin aku sepakati dengan Kak Kaiser agar kebohongan kami tidak ketahuan.
“Oh, begitu rupanya. Syukurlah kalau begitu. Untung saja itu Kak Kaiser yang ada di lokasi kejadian. Kalau itu kamu, pasti kamu sudah nekat membahayakan diri sendiri. Ya sudah ya, aku masuk kuliah dulu.” Ujar Nafisah.
Entah mengapa aku menangkap ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih semringah setelah mengucapkan hal barusan. Ataukah itu hanya perasaanku saja?
Aku pun memasuki ruang perkuliahan. Kulihat Bobi dan Zenri tengah heboh dengan suatu berita di layar smartphone mereka. Aku pun menghampiri mereka untuk turut mengintip karena penasaran.
Rupanya suatu pemberitaan bertajuk Pahlawan Darah Merah yang melakukan pembunuhan dan penculikan warga sipil di mana Pahlawan Darah Merah membunuh beberapa warga sipil sambil memperlihatkan foto di tempat kejadian di mana Autumn Lily baru-baru ini mengamuk dan menewaskan beberapa preman di sana.
Ada pula pemberitaan dari seorang saksi yang tidak lain adalah anak dari Autumn Lily itu yang mengatakan bahwa ibunya menghilang setelah bertemu sang pahlawan.
“Berita tidak jelas apa ini?” Ucapku dengan spontan setelah melihat berita tersebut.
Bobi dan Zenri pun lantas secara bersamaan menatap ke arahku.
“Ya, aku juga tidak percaya dengan berita ini. Mereka pasti hanya berniat mencari sensasi saja.” Ucap Zenri.
“Kamu mungkin ada benarnya. Namun, yang aku tidak suka, kini polisi juga selalu turut menanamkan citra negatif pada pahlawan kota kita itu, bahkan menetapkannya sebagai tersangka pada kejadian malam bencana Hoho game lima tahun silam.” Bobi pun menambahkan.
“Terus, mengapa Pahlawan Darah Merah tidak juga mengklarifikasi tuduhan palsu itu?” Zenri pun bertanya kepada Bobi.
“Siapa yang akan keluar jika jelas-jelas itu suatu intrik? Aku menduga ada permainan yang lebih besar bersembunyi di balik masalah ini.” Lalu Bobi pun menjawab. Sesuai dugaan, insting Bobi memang selalu tajam.
Sungguh mengesalkan! Setelah apa yang diperbuat oleh Kak Kaiser, berjuang melawan monster demi keamanan kota, bahkan tanpa diketahui jasanya oleh siapapun, Kak Kaiser malah dihujat di berbagai media massa dan diperlakukan layaknya penjahat oleh para polisi.
Yah, walaupun secara harfiah, yang dihujat adalah Sang Pahlawan Darah Merah, bukan Kak Kaiser sebagai orang yang berada di balik topeng tersebut. Paling tidak, Kak Kaiser akan aman menjalani kesehariannya. Berkat itu, aku akhirnya memahami pentingnya menjaga rahasia identitas dalam pekerjaan tersebut.
Sehabis kuliah, aku pun bergegas ke lab rahasia. Aku begitu tidak sabar menanti-nantikan kekuatan baru dari Avatar Arjuna-ku yang telah dilengkapi dengan side avatar Sly Dark. Hari ini, aku hanya memiliki satu mata kuliah saja sehingga aku pun dapat pulang sebelum pukul 11.
Akan tetapi, sesampainya di markas, pemandangan yang kulihat di lab justru sangat sepi. Namun, ketika kumenoleh ke atas sofa, rupanya Kak Kaiser tengah terbaring tidur dengan lelap di atasnya.
“Shusssh!”
Tiba-tiba kuterkaget dengan bangunnya Kak Kaiser secara tiba-tiba dari atas sofa dengan mata yang masih terlihat merah itu.
Kulihat, diapun segera bangkit dari atas sofa dan memakai setelan sweater tipisnya seperti hendak akan keluar. Lalu kulihatnya pun mengambil kunci mobilnya. Tidak salah lagi, Kak Kaiser berniat keluar. Tetapi dalam keadaan ngantuk begitu? Bukankah ini berbahaya?
Karena pikiran tersebut, aku pun menghentikan langkah Kak Kaiser dan menanyakan perihal keperluannya keluar. Diapun mengatakan perlu untuk menjemput Judith dari sekolahnya segera. Aku menelisik dari atas ke bawah lalu kembali ke atas keadaan Kak Kaiser. Tidak, orang ini sedang dalam keadaan tidak bisa mengemudi.
Lalu aku pun menawarkan diri untuk menggantikannya mengantar Judith sembari menyeret kembali Kak Kaiser ke atas sofa empuknya untuk tidur.
SMP Puncak Bakti, itulah nama sekolah Judith. Apa? Bukankah ini sekolah terelit di Kota Jakarta? Tidak hanya kekayaan, dibutuhkan juga otak yang cemerlang untuk bersekolah di sana. Aku tak menyangka bahwa Judith yang judes itu memiliki otak yang pintar.
Sekitar 20 menit dari markas rahasia, aku pun sampai di sekolah Judith dan kulihat rupanya dia telah menunggu untuk dijemput di depan pintu gerbang. Tetapi apa ini? Aku melihat pemandangan di mana Judith yang judes itu justru tertawa dengan riangnya bersama ketiga teman wanitanya yang lain. Tiada yang akan mengira bahwa dia memiliki sifat yang judes di rumah dengan keramahan yang ditunjukkannya sekarang itu.
Aku pun melangkah menghampirinya. Dan dia menatapku…dengan tersenyum ramah?
“Ah, Kak Adrian? Mengapa Kakak yang ada di sini? Ke mana Kak Kaiser?” Tanya Judith padaku dengan senyum ramahnya.
“Ah, Kak Kaiser lagi sakit, jadi aku yang menggantikannya menjemputmu hari ini.” Lalu aku pun menjawab pertanyaaannya itu.
“Oh, gitu ya. Apa boleh buat. Teman-teman, aku pulang dulu ya.” Sekali lagi kulihat Judith tersenyum ramah di hadapan teman-temannya sembari pamitan untuk pulang.
Aku pun sampai mengira bahwa kejadian kejudesan Judith tadi malam hanyalah khayalanku belaka. Akan tetapi di tengah perjalanan, gadis itu pun tiba-tiba berucap,
“Hei, aku mengerti jika sampah itu sakit jadi tidak bisa menjemputku. Tetapi mengapa aku harus dijemput pakai motor jelek seperti ini di tengah teriknya matahari. Bagaimana kalau kulitku sampai terbakar?” Ujar Judith dengan nada suara yang kembali seperti biasa.
Awalnya, aku ingin membiarkannya begitu saja. Toh, ini urusan keluarga mereka sehingga tak tepat bagiku untuk turut campur. Namun, sepertinya kesabaranku pun ada batasnya. Mana bisa dia memanggil kakaknya sendiri dengan sebutan sampah. Aku tidak bisa lagi membiarkannya seperti itu.
Aku pun menepikan motorku untuk menasihati Judith baik-baik.
“Apa ini? Mengapa kamu berhenti di tengah jalan?” Tanya Judith padaku.
“Dik Judith, mungkin bukan urusanku mengatakan ini. Tapi bukankah sikapmu ke kakakmu, Kak Kaiser terlalu berlebihan? Dia adalah kakakmu jadi seharusnya kamu harus sedikit lebih bisa menghormatinya.” Aku pun menasihati Judith.
“Kulihat Judith pun memelototiku dengan intens. Sesaat kemudian, gadis itu pun berucap,
“Bagaimana bisa aku memaafkan seorang berhati dingin sepertinya?!”
“Apa?” Aku pun terkaget dengan apa yang dikatakan Judith itu. Berhati dingin? Kak Kaiser yang selalu ramah itu?
Lalu, Judith pun melanjutkan,
“Dia tega meninggalkan Kak Andina tewas terbujur kaku di jalanan. Aku tahu kalau itu semua demi mengatasi para monster yang mengamuk di malam bencana itu. Tapi tidak hanya itu, bahkan di pemakaman Kak Andina saja, dia sama sekali tidak menangis. Sampah berhati dingin itu bahkan baik-baik saja menggunakan avatar terkutuk yang telah merenggut nyawa Kak Andina sebagai avatarnya.”
Tanpa sadar, air mata menetes membasahi pipi Judith. Namun, gadis itu tampak tegar dan menghapus air matanya sendiri. Dia lantas sekali lagi memelototiku.
“Hei, menurutmu, pantaskah sampah berhati dingin itu termaafkan oleh Kak Andina?”