101 Avatars

101 Avatars
60. Rahasia Portal Ke Dunia Lain, Kejahatan Profesor In Gu



Malam itu, dari cerita Profesor Melisa, aku pun mengetahui suatu kebenaran yang lebih tersembunyi lagi perihal malam bencana Hoho game.


Profesor In Gu alias Michael adalah anak keturunan China yang diasingkan oleh keluarganya sendiri akibat kecacatan fisik.  Setelah tamat SMA, dia lantas dikirim bersekolah ke Universitas Stanford dan berhasil meraih gelar sarjana dan magisternya di bidang ilmu kimia android di sana.


Dua tahun setelah dia memperoleh gelar magisternya itu, dia pun mendaftar dan berhasil lulus sebagai salah satu staf peneliti oleh salah satu profesor yang cukup terkenal di Indonesia.  Dialah Profesor Gilbran Lasona yang tidak lain adalah kakek Kak Kaiser Dewantara dari pihak ibunya.


Namun, secara tiba-tiba, tiga tahun setelah Michael bergabung dengan tim Profesor Gilbran, dia mendadak menjadi aneh.  Profesor Gilbran yang akhirnya tak tahan dengan perubahan kelakuan Michael tersebut akhirnya memutuskan untuk memecatnya setelah bertahan terhadap segala keanehannya itu selama kurang lebih dua tahun.


Akan tetapi, kejadian tragis itu pun terjadi.  Secara tak diduga-duga, Michael menghabisi nyawa Profesor Gilbran beserta seluruh staf penelitinya yang kala itu ada 13 orang.


Tetapi apa yang lebih membuatku shok adalah bahwa aku tahu betul tim peneliti asuhan Profesor Gilbran tersebut.  Karena di situlah ayahku sebagai ahli fisika virtual dan ibuku sebagai ahli kimia android memperoleh pekerjaan pertamanya sebelum akhirnya keluar dari pekerjaan tersebut lantas bekerjasama membangun lab mereka sendiri.


Yah, walaupun itu tidak bertahan lama.  Kurasa itu juga di kisaran waktu Profesor Gilbran, kakek Kak Kaiser, tewas terbunuh bersama seluruh stafnya, ayah dan ibuku memutuskan untuk bercerai dengan meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil demi mengejar impian mereka masing-masing ke luar negeri.


Aku baru menyadarinya, rupanya takdir yang menghubungkan antara aku dan Kak Kaiser ternyata telah lebih lama dimulai dari yang aku bayangkan.  Tetapi, tentu saja yang paling sedih dalam hal ini adalah Kak Kaiser karena kakeknya telah dibunuh dengan sadis oleh orang itu.


Tetapi tidak ada lagi yang dapat diperbuat untuk membalas dendam karena orang itu juga telah lama meninggal.


Walaupun demikian, orang itu diantarkan ke peristirahatan terakhirnya melalui ritual keluarga secara baik-baik dengan menggunakan identitas Michael yang kejahatannya sama sekali disembunyikan berkat kekuatan kolusi dan nepotisme.


Dia dinyatakan meninggal dengan jasad yang menghilang sebagai salah satu korban malam bencana Hoho game yang dibunuh oleh salah satu monster avatar, yakni Void.


Adapun segala kesalahan mengenai malam bencana Hoho game yang menyita perhatian seluruh dunia, dialihkan kepada identitas Profesor In Gu yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya.


Ingin rasanya aku berteriak pada dunia bahwa mereka adalah orang yang sama, lihat saja pada foto mereka yang mirip, hanya saja yang satu masih muda dengan kulit bersih dengan rambut yang dicukur hampir botak, sedangkan yang satunya sudah lebih tua dengan kulit yang keriput dengan rambut yang sudah panjang dan acak-acakan serta mengenakan kacamata.


Hanya dengan mengedit sedikit CCTV kabur itu lantas menyatakan bahwa itulah Michael yang telah beranjak tua yang telah dibunuh oleh Void, semua orang mempercayai kebohongan publik itu.  Hal ini didukung pula oleh Void yang tidak pernah sekalipun menunjukkan wajah mimikannya ke publik setelah itu.


Kesampingkan soal kesalahan si sialan Profesor In Gu alias Michael, baik Kak Kaiser maupun Profesor Melisa saat ini mencurigai adanya dalang di balik segala perbuatan Profesor In Gu itu.  Hal itu dibuktikan dengan perubahan sikap mendadak Profesor In Gu sewaktu masih bekerja di bawah Profesor Gilbran dengan menggunakan identitas Michael.


Selain itu, ada seseorang di luar keluarganya yang telah mensponsorinya selama ini yang membuatnya bisa bebas dari jeratan hukum walaupun telah melakukan pembunuhan berantai sadis itu.


Dia lantas mengubah identitasnya sebagai In Gu yang berkewarganegaraan Korea Selatan, kemudian belajar ilmu arsitektur 4 dimensi dan berhasil memperoleh gelar profesor di bidang ilmu itu.  Tahun 2050, dia menciptakan Hoho game bersama dengan Profesor Indro Nuryono dan berhasil memperoleh kegemilangan berkat game virtual reality pertama di dunia itu.


Tetapi mengapa dia sampai dengan bodohnya membuang kesuksesan yang akhirnya didapat itu dengan mengacaukan game ciptaannya sendiri?  Jika malam bencana Hoho game tidak pernah terjadi, dia pasti telah menjadi orang yang kaya raya, jika mengabaikan dosa-dosa yang telah diperbuatnya kepada Profesor Gilbran dan mantan rekan-rekan penelitinya terdahulu.


Profesor Melisa pun melanjutkan ucapannya, “Kami berupaya menyelidiki siapa sebenarnya orang atau mungkin lembaga yang telah mensponsori kesuksesan Profesor In Gu alias Michael tersebut.  Namun, kami sama sekali tidak dapat mentracking identitasnya.  Tapi ada fakta menarik lain yang dapat kami ungkap.”


Profesor Melisa tiba-tiba terdiam seakan bersiap menginformasikan sesuatu yang lebih mencengangkan.  Namun, Kak Kaiser-lah yang lebih dulu mengungkapkannya.


“Siapa pun sponsor itu, ternyata berdasarkan jejak rekam eksplorasinya di internet yang dengan susah payah kami dapatkan, dia tidak lain adalah Mr. X, pemilik ranker untuk avatar bernomor seri 4, Avatar Time.  Kami selama ini terus-terusan mencoba mencari tahu siapa orangnya, ataukah bahkan mencari tahu kemungkinan dia telah dibunuh dan digantikan oleh monster avatar, tetapi kami sampai detik ini belum menemukan petunjuk satu pun.”


Ujar Kak Kaiser yang tampak menunjukkan intonasi dan mimik kekecewaan di akhir kalimatnya.


“Oh iya, satu lagi, Mr. Aili, coba tunjukkan rekaman itu.”


Kulihatlah rekaman CCTV itu.  Di dalamnya, terlihat Profesor In Gu yang sedang memasukkan virus ke main server Hoho Game di Jakarta.  Kudengarlah, dia tertawa sembari berucap, “Hahahahaha.  Akhirnya, akhirnya dengan ini, aku pun dapat terbebas dari dunia rusak ini dan menjadi orang ketiga yang dapat menuju ke dunia virtual, dunia ideal di mana tidak ada lagi penyimpangan.”


Sesaat kemudian, sebuah portal benar-benar berhasil terbuka, lalu monster avatar bernama Void keluar dari portal itu lantas memimik Profesor In Gu lalu membunuhnya dan membuang jasadnya ke dunia virtual sebelum portal yang menghubungkan ke dua dunia tertutup.  Jadilah Profesor In Gu memenuhi ambisinya itu untuk menuju ke dunia virtual.  Sayangnya, hanya tubuhnya yang bisa karena nyawanya telah lekang dari tubuhnya itu.


Dari rekaman CCTV itu, aku pun mengetahui bahwa memang tidak mungkin jikalau semua ini direncanakan oleh Profesor In Gu.  Profesor In Gu pun dijebak oleh seseorang atau sesuatu.  Sedari awal, Profesor In Gu tidak melakukannya untuk melepaskan para monster avatar, melainkan untuk menuju ke dunia virtual itu sendiri.


Lantas, siapa yang menjebak Profesor In Gu melakukannya?  Apakah sponsor yang sedari tadi dibicarakan oleh Kak Kaiser dan Profesor Melisa ataukah ada orang lain?  Kemudian, virus apa sebenarnya yang dimasukkan Profesor In Gu itu?  Siapa pencipta virusnya?  Bagaimana virus itu bisa menyebabkan pembukaan portal ke dunia virtual?


Kenapa dia melakukannya di Jakarta padahal ada satu main server di negaranya sendiri yakni di Korea Selatan?  Di samping, ada pula tiga main server lainnya yang masing-masing terletak di China, Jepang, dan Thailand.


Tampaknya semua pertanyaan itu hanya dapat terjawab ketika kami berhasil menemukan Mr. X yang artinya kami harus segera menemukan keberadaan Avatar Time yang memiliki hubungan dekat terhadap Mr.X melalui hubungan avatar-ranker yang menurut Kak Kaiser, dia adalah satu di antara dua avatar di samping Remote yang belum pernah menampakkan wujudnya ke permukaan.


“Lantas, adakah kemungkinan keterlibatan keluarga Michael sebagai Mr. X?  Karena jika memperhatikan penjelasan barusan, semuanya hanya mungkin jika diatur oleh keluarga Michael sendiri.”  Tanyaku lagi kepada forum.


Akan tetapi, Kak Kaiser tiba-tiba memberikanku jawaban yang sangat mencengangkan untuk yang ke sekian kalinya, “Itu tidak mungkin karena semua anggota keluarganya telah meninggal dalam musibah kebakaran tragis akibat korsleting listrik di rumah besar mereka secara bersamaan, tidak hanya di rumah utama, tetapi juga rumah milik seluruh keluarga cabangnya.”


“Itu tidak mungkin.”  Komentarku seketika karena tak percaya.


“Ya, itu tidak mungkin kecuali jika ada yang mendalanginya.  Namun, sama sekali tidak ditemukan kejanggalan oleh pihak polisi di sana setelah menyelidiki kecelakaan tersebut.  Oleh karena itu, kami menduga ini adalah pelaku yang sama yang sangat berbahaya.”


“Mr. X?”  Tanyaku balik terhadap komentar Kak Kaiser tersebut.  Lalu kulihat, Kak Kaiser pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


Kemudian, satu hal tiba-tiba menggangguku sekali lagi di luar pembahasan tentang Mr. X itu.


“Tadi Profesor In Gu bilang orang ketiga yang akan pergi ke dunia virtual.  Apa itu berarti telah ada dua orang lain sebelumnya yang telah pergi ke dunia virtual, Kak Kaiser?”  Aku pun akhirnya dengan penasaran bertanya kepada Kak Kaiser.


Kulihat, Kak Kaiser semula agak ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya dijawab pula.


“Itu, bahkan sudah terjadi 6 tahun sebelum aku dilahirkan.  Jadi, aku tidak tahu kejadian detailnya.  Aku juga pertama kali mendengarnya ketika Ayah mengigau dalam tidurnya.  Lalu setelah kudesak Kakek untuk mengatakannya, ah, maksudku bukan Kakek Gilbran, tetapi Kakek, ayah dari Ayah, Kakek Arkias sebelum beliau wafat.  Mereka berdua rupanya adik sepupu ayahku dan istrinya.”


Kak Kaiser lantas bergumam sejenak, sebelum lanjut berucap,


“Hmmm.  Aku sendiri kurang jelas akan cerita itu karena tampaknya hal itu sangat dirahasiakan, apalagi waktu aku mendengar ceritanya, usiaku baru menjelang 4 tahun.  Kini Kakek Arkias, Nenek Dwinda, serta Ayah telah tiada.  Tiada lagi yang dapat menceritakan kejadian itu.  Maaf ya, Adrian.  Aku tak dapat menjawab detail pertanyaanmu.”


***


Begitulah Kaiser, tidak, Avatar Healer yang menyamar sebagai Kaiser menjawab pertanyaan Adrian itu dengan berpura-pura tidak tahu detailnya.  Padahal sejatinya dia tahu semuanya berhubung baik ayah, ibu, adik, serta anak bungsu orang yang dimaksud, masihlah hidup dan tetap berhubungan dengan faker itu sampai sekarang yang masih menjadi saksi hidup bagaimana kecelakaan tragis itu membuat orang tersebut beserta istrinya terdampar ke dunia lain.


“Maafkan aku, Adrian.  Kamu belum bisa tahu dulu informasi itu karena akan menghalangiku menggapai tujuanku.”  Gumam sang faker dalam hatinya.


Dengan polosnya, Adrian pun menjawab, “Baik Kak, tidak mengapa kok.  Aku bukannya perlu untuk mengetahuinya.”


Dengan demikian, pembicaraan tentang pasangan suami-istri yang terdampar ke dunia virtual itupun berakhir sampai di situ.