101 Avatars

101 Avatars
71. Air Mata Nafisah



Kala itu aku tiba-tiba tersadar tanpa tahu siapa aku.  Di suatu tempat antah-berantah, aku mengamuk tanpa tahu tujuan mengapa aku mengamuk.  Hanya satu yang diinginkan oleh instingku saat itu, yakni jatidiri.


Secara kebetulan di hadapanku saat itu, berdiri sesosok pemuda manusia yang begitu terlihat bersinar di mataku.  Hanya satu yang terpikirkan olehku saat itu.  Ah, aku ingin menjadi seperti pemuda manusia ini.  Aku pun lantas memimik wajahnya dengan kemampuan yang telah tertanam di instingku itu.  Dalam sekejap, aku berubah sepertinya.


Akan tetapi, rasa iri yang dahsyat, tiba-tiba menyerang akal sehatku.  Aku tidak ingin ada orang lain selain diriku yang memiliki identitas ini.  Aku pun serta-merta membunuh pemuda manusia itu.


Sesaat kemudian, aku akhirnya kembali mengingat jati diriku yang sebenarnya.  Aku adalah salah satu dari program avatar petarung dalam salah satu permainan yang disebut Hero of Hope game.  Dan pemuda yang telah aku bunuh ini, tidak lain adalah orang yang paling aku akui sebagai pemain terhebat yang pernah mengendalikan aku sebagai avatarnya dalam permainan tersebut.


Dari bawah balik kapsul, kudengarkan suara-suara kresekan yang dibarengi suara rintihan tertahan.  Aku pun menatap ke arah tersebut.  Kulihatlah kaki seorang manusia yang jika dilihat dari ukurannya, lebih kecil dari ukuran pemuda manusia yang aku bunuh itu.  Ah, mungkin dia adalah keluarga atau kenalan dari pemuda manusia yang telah aku bunuh tersebut yang ketakutan setelah melihat aku membunuh keluarga atau kenalannya itu.


Namun, aku saat itu yang masih linglung karena baru saja mewarisi ingatan manusia, tidak peduli terhadapnya.  Toh, aku dapat membunuh manusia yang lemah itu kapan saja yang aku inginkan.  Yang terpenting yang sekarang terbersit di pikiranku adalah bagaimana mempelajari manusia dan perasaan mereka yang unik tersebut.


Jika dipikir-pikir kembali, mungkin saja anak yang saat itu kubiarkan hidup adalah Adrian yang kini telah menjadi sosok tangguh yang berpotensi menghalangi jalan Tuan Xavier.


***


Adrian berusaha dengan secepat mungkin kemampuannya untuk sampai di lokasi di mana Nafisah disandera.  Setelah berusaha terbang secepat yang ia bisa selama 20 menit, akhirnya sampailah dia di tempat tujuan.


Dengan kekuatan side avatar Sly Dark, dia mengarahkan gelombang bunyi yang hanya tertuju pada Nafisah dan Bobi.


Adrian pun berujar kepada mereka berdua melalui hantaran medium udara, “Nafisah, Bobi, tutup telinga kalian rapat-rapat!”


Sesaat setelah Nafisah dan Bobi mengeksekusi perintah Adrian itu, Adrian pun mengeluarkan jurus Scream of Confussion-nya.  Freeze pun membeku untuk sesaat karena pekaknya indera pendengarannya.  Adrian lantas memanfaatkan kesempatan itu untuk terbang secepat-cepatnya dengan pedang Crusader di tangannya, memanfaatkan momentum kecepatannya untuk memaksimalkan impak serangan pedang Crusader.


“Slash.”  Freeze tertebas oleh pedang Crusader.


Akan tetapi, tebasan itu sama sekali tak mampu memberikan luka yang berarti pada monster avatar dengan spek yang terbaik itu.  Dua detik kemudian, Freeze pun terlepas oleh pengaruh Scream of Confussion.  Serta-merta dia hendak menyerang Adrian.


Akan tetapi, Adrian kali ini mengaktifkan holy light Crusader sehingga Freeze kembali membeku untuk sesaat lantaran hilangnya kemampuan melihatnya untuk sesaat.  Adrian kembali mengayunkan pedang Crusader-nya kepada Freeze, tetapi kali ini, Freeze memanfaatkan instingnya dan berhasil mematahkan pedang Crusader dengan es tebal di cakarnya.


Pedang Crusader pun lenyap menjadi butiran-butiran debu data dan kembali menyatu ke tubuh Adrian.  Akan tetapi, Adrian tidak mau melewatkan kesempatan empuk itu ketika serangan dadakannya membuat pertahanan monster avatar yang hebat dalam defensif itu terbuka lebar.  Dia segera mensummon senjata Arjuna dalam mode tombaknya kemudian dia menebas-nebas Freeze dengan tombak itu.


Namun, justru tombaknya duluan yang rusak parah tanpa memberikan luka yang berarti pada Freeze.


Tetapi itu telah cukup.  Waktu yang disediakan Adrian melalui serangan dadakannya itu telah memberikan waktu yang cukup bagi drone milik Mr. Aili untuk menyelamatkan Bobi dan Nafisah.  Namun demikian, di luar dugaan, insting bertarung Freeze dapat merasakan pengganggu di pertempuran mereka itu lantas serta-merta melepaskan es pengunci ke arah sanderanya, yakni Nafisah.


Alhasil, Bobi berhasil diselamatkan, tetapi Nafisah masih tertinggal di tangan Freeze.


“Ck.”  Adrian mendecakkan lidahnya karena tidak puas terhadap rencananya yang gagal.


Sekarang, dengan perhatian Freeze telah tertuju padanya.  Tidak ada lagi peluang baginya untuk menandingi baik dari segi kekuatan maupun kemampuan bertarung monster avatar dengan spek tertinggi itu.


“Apa-apaan ini?  Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak membawa siapapun dalam pertarungan kita?”  Ujar Freeze kepada Adrian dengan tatapan bengisnya.


“Apa yang kamu ucapkan?  Aku tidak membawa siapapun.  Drone-drone itu hanyalah bagian dari kekuatanku.”  Jawab Adrian sembari tak dapat menahan kepanikannya melihat Nafisah berada di genggaman Freeze.


“Alasan konyol.  Baiklah.”


Seketika Freeze berujar demikian, es di sekeliling Nafisah dibentuk sedemikian rupa yang tampak berduri yang terlihat siap kapan saja melukai tubuhnya yang jelita itu.


“Apa yang kamu lakukan?!”  Teriak Adrian marah atas perlakuan Freeze yang kejam pada Nafisah.


“Hmmm.  Sebaiknya kamu pikirkan lagi baik-baik, Bocah.  Sekali lagi ada yang mengganggu pertarungan kita, maka aku tidak akan segan-segan menghilangkan nyawa wanita itu.”  Freeze pun mengancam Adrian.


Melihat hal itu, para drone milik Mr. Aili pun memilih mundur dari pertarungan antara Adrian melawan Freeze tersebut.


Dari balik helmetnya, Adrian berkeringat dingin.  Dia tidak percaya diri bisa mengalahkan monster avatar dengan spek terbaik itu setelah kekalahannya yang memalukan melawan Fog yang hanyalah monster avatar dengan series bernomor belasan.  Tetapi tidak ada pilihan lain baginya selain menerima tantangan itu.  Jika dia tidak menerimanya, maka nyawa Nafisah-lah yang akan jadi taruhannya.


Dengan bermodalkan semangat, Adrian pun menerjang sang monster avatar dengan tombak laba-laba-nya yang telah porak-poranda.  Akan tetapi, baru 4 kali Adrian menggunakannya untuk menebas tubuh sang monster yang keras, tombak itu hancur dengan sendirinya karena tak dapat menahan kerasnya kulit Freeze.  Alhasil, senjata itu pun berubah menjadi butiran-butiran data dan ikut menyatu ke tubuh Adrian.


Kini yang tersisa hanya tubuh serta semangat Adrian saja yang tanpa senjata.  Dia pun mengaktifkan armor side avatar Hard-nya dan dengan putus asa memukul-mukul tubuh sang monster dengan tinjunya.


“Lepaskan Nafisah, monster sialan!”  Teriak Adrian dengan putus asa.


Melihat pemandangan itu, Nafisah tidak dapat menahan air matanya mengalir keluar.


“Adrian.”  Lirih Nafisah berujar.


Freeze pun menatap Adrian dalam wujud Avatar Arjuna itu dengan tatapan penuh kebencian.  Monster itupun mensummon tombak trisula es-nya dan bersiap menikam Adrian.  Akan tetapi, di kala dia tengah bersiap menikam tubuh bocah lemah itu,


“Kakak, Kak Faridh, aku paling sayang sama Kakak.  Kak Faridh yang terbaik.”


“Duh, adikku Adrian yang imut ini.  Sini Kakak gendong.”


Tiba-tiba saja, ingatan milik Faridh ketika Adrian masih berumur 5 tahun terngiang di kepala Freeze ketika menatap Ksatria Panah Biru yang ada di depannya itu yang dia ketahui betul adalah Adrian.  Freeze seketika berhenti lantas membuang tongkat trisula es-nya tersebut.  Dia tidak bisa menyerang Adrian dalam wujud Avatar Arjuna itu.


“Dasar ingatan sialan!  Sampai kapan kau akan mempermainkanku, Faridh?!”  Ujar Freeze marah.


Akan tetapi, hal yang tak terduga pun terjadi.  Freeze yang tertelan oleh kekesalan lantaran ingatan Faridh tersebut, kehilangan sesaat kontrol kekuatannya dan tanpa sadar, es-nya mengamuk lantas mendorong Nafisah jatuh dari lantai atas atap gedung.


Apa yang lebih parah adalah bahwa es yang mengamuk itu juga turut mengunci pergerakan Adrian dan merusak puluhan drone milik Mr. Aili di tempat kejadian.