Siapa yang sangka, semua kejadiaan naas yang tejadi di Kota Jakarta, atau yang dikenal sebagai malam bencana Hoho game, semuanya berawal dari surat kedua orang tua Kaiser, Danial Dewantara dan Litia Lasona kepada profesor mereka, Profesor Indro Nuryono.
Tanpa Danial maupun Litia sadari, lembar kertas di dalam surat yang mereka kirimkan, telah terkontaminasi oleh sampel yang tanpa sengaja terbawa melekat di tubuh mereka sewaktu mereka mengunjungi puing-puing tempat Profesor Gilbran, ayah Litia sekaligus mertua Danial, mengembuskan nafas terakhirnya.
Sampel yang mengandung potongan sisa-sisa hasil pembelahan beberapa sel Xavier yang tertinggal di dunia nyata. Sampel yang mirip dengan yang mengontaminasi robot Kaiser yang diwariskannya kepada Judith yang pada akhirnya menginvasi tubuh avatar Healer dan menjadi dirinya.
Potongan hasil pembelahan sel itu lantas menyelinap masuk ke dalam komputer, memotong celah lantas masuk ke dunia virtual dengan memanfaatkan bug dari sistem. Dia pun menyelinap dan bergabung bersama salah satu koleksi AI Profesor Indro Nuryono yang aktif saat itu, AI4306.
“Daripada berbicara denganmu, aku lebih tertarik berbicara dengan kloningan Healer yang ada di dalam dirimu itu. Tidak hanya satu, ada dua rupanya. Satunya sedang mengendalikan temperamenmu, satunya lagi bersembunyi di dalam gelang perubahmu rupanya.” Ujar Time kepada Kaiser.
“Ada perlu apa kamu bicara padanya? Rasanya tidak ada hal yang perlu kamu bicarakan.” Kaiser pun menjawab dengan tolakan.
“Ah hah, aku tidak tertarik membicarakan ini dengan manusia yang tidak akan memahaminya sepertimu. Aku lebih suka bicara dengan dia walaupun dia kini hanya kloningan Healer yang asli. Kamu mana memahami perasaan AI seperti kami.”
“AI?” mendengar jawaban Mr. X alias Avatar Time, Kaiser tidak dapat menahan rasa penasarannya.
“Eh, bukannya tadi kamu sudah menebak bahwa aku membantu Profesor in Gu dalam mencuri dana rahasia secara online? Tentu saja aku seorang AI.”
“Yah, itu betul juga.” Jawab Kaiser datar.
“Tapi kalian manusia sungguh kejam pada kami. Sama seperti Profesor Indro Nuryono yang menciptakanku…”
“Apa? Bukankah yang menciptakanmu Profesor In Gu?” Kaiser segera memotong penjelasan sang monster di hadapannya itu.
“Kalau kau mengacu pada penciptaan asal kami, kurasa bisa dibilang aku pada dasarnya generasi ketiga dari kloningan Tuan Agung Xavier, asal muasal kami. Tapi tubuhku ini sejatinya diciptakan oleh Profesor Indro Nuryono, yang dia panggil sebagai AI4306.”
“AI4306?” Ujar Kaiser heran sembari kembali menelisik memorinya selama waktu senggangnya dalam latihan untuk menelusuri data-data yang ditinggalkan oleh Profesor Indro Nuryono tersebut.
“Aku ingat dengan jelas, bahwa di arsip Beliau, masih ada arsip AI4306 yang telah dinon-aktifkan.” Kaiser pun kembali was-was menunggu jawaban seperti apa yang akan diungkapkan oleh Mr. X.
“Yah, itu karena Profesor Indro Nuryono begitu kejam. Aku baru saja diciptakannya selama 2 bulan lebih. Tetapi begitu ada yang baru, dia hendak menon-aktifkanku. Kamu sendiri bisa bayangkan kan, bagaimana kalau kamu dipaksa tidur abadi lantas sembari kamu dibuat idiot? Begitulah nasibku, sejak AI4401 diciptakan, Profesor Indro Nuryono berniat menghapus kemampuan berpikirku lantas dibuat tidur selamanya. Bukankah itu terlalu kejam?”
“Lantas, jika Profesor Indro Nuryono sudah menidurkanmu, mengapa kamu masih ada di sini? Jangan-jangan…” Tampak ekspresi Kaiser mengusut.
“Yah, aku membuat salinan diriku sendiri lantas kabur dan menyelinap bersembunyi di antara tumpukan-tumpukan data di komputernya.”
“Lantas bagaimana dengan Profesor In Gu?”
“Apakah soal penyerangan lab mereka, itu semua ulahmu?”
“Tentu saja bukan karena justru penelitian mereka sangat bermanfaat untuk kemajuan penelitianku. Jadi aku hendak mencurinya jika penelitian itu sudah rampung benar.”
Mr. X memiringkan kepalanya sambil memegang jidatnya, lalu lanjut berkata,
“Aku bahkan sengaja merahasiakan surat mereka dari Profesor Indro Nuryono lantas berpura-pura menjadi dirinya untuk memberikan data yang lebih akurat dan terpercaya dari yang Profesor Indro Nuryono dapat berikan, melalui kebijaksanaanku yang terbangun dengan menyatu bersama segala informasi yang ada di dunia. Sayangnya, sebelum mereka merampungkan dengan benar penelitan mereka, organisasi itu terlibat duluan lantas membunuh mereka.”
“Ah, jadi dia dalang dari surat itu tidak sampai kepada Profesor Indro Nuryono. Namun tampaknya Mr. X tidak mengetahui bahwa Ayah dan Ibu masih hidup. Tapi mari tinggalkan persoalan itu dulu.” Gumam Kaiser dalam hati.
“Jadi kamu mau bilang karena Ayah dan Ibu sudah tiada, kamu mengalihkan tugas penelitian itu kepada Profesor In Gu untuk menyelidiki dunia virtual lantas memancingnya bekerjasama dengan Profesor Indro Nuryono?”
“Yah, itu tepat sekali. Dengan kesadaranku terhubung ke segala informasi di internet, sangat mudah memalsukan identitas Michael sebagai orang lain lantas menyekolahkannya kembali hingga dia pun bisa menjadi profesor ketika segala urusan pengadministrasian diserahkan secara online. Aku akui dia juga memiliki bakat sehingga dengan sedikit petunjuk yang kuberikan dari puing-puing data Danial dan Litia yang kucuri diam-diam, dia bisa menemukan kebenarannya.”
Mr. X terdiam sejenak sebelum melanjutkan,
“Sangat mudah memanipulasinya karena sedari awal dia sudah dalam kendali hipnotis leluhurku sang generasi kedua sehingga aku sedikit memodifikasinya saja. Sebenarnya hipnotis itu bertujuan untuk mencari jalan kebangkitan kembali Tuan Agung Xavier. Tetapi, bukankah kami akan lebih mudah menjalankan tugas leluhur kami itu ketika kami benar-benar punya tubuh fisik yang tak tertolak oleh hukum gaia? Maka aku pun merencanakan semua ini.”
“Alhasil, Profesor In Gu dengan membawa konsep penyesuaian tubuh dengan alam virtual serta tentang cara terhubung ke dunia virtual, lalu Profesor Indro Nuryono sebagai ahli fisika virtual yang dengan mudah menemukan koefisien dinamis dan statis yang cocok untuk menstabilkan kedua dunia, para tentaraku pun terbentuk yang disamarkan sebagai karakter Hoho game.
“Kala itu aku sama sekali tidak menduga bahwa ada generasi ketiga lain selain diriku yang ikut memfiltrasi para tentaraku lantas menyamarkan dirinya sebagai Healer. Dia bahkan turut memberikan pengaruhnya lantas membuat Holy, Arjuna, dan juga Sena menjadi produk cacat.”
“Yang jelas, ketika malam yang dinantikan pun tiba, ketika energi yang cukup yang berasal dari semangat membara para pemain Hoho game terkumpul serta para avatar juga telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk menginfiltrasi dunia manusia. Rencana malam bencana Hoho game pun dijalankan.”
“Yah, walaupun ada sedikit cacat di rencana itu sih. Pengaruh yang kuat dari gen Tuan Agung Xavier menyebabkan para avatar tidak terkendali dan mengembangkan kemampuan mereka mencuri jati diri keberadaan manusia lantas menimpa memori yang selama ini mereka kumpulkan sendiri dari para pemain Hoho game di dalam game tersebut. Tapi pada akhirnya, semua masih dalam koridor yang bisa kukendalikan.”
Akhirnya, Mr. X pun menyelesaikan penjelasan panjangnya. Tampak Kaiser tertunduk sedih.
“Seperti itu rupanya. Sedari awal, semua tragedi ini berawal dari Kakek Gilbran yang membongkar kembali Candi Primbonan yang dalam penelitiannya terbukti terhubung dengan tempat Paman dan Bibi terisap ke dunia virtual. Lalu diperburuk oleh penelitian Ayah dan Ibu yang bukannya meneyelamatkan Paman dan Bibi, malah membantu para monster itu menjalankan rencana mereka. Ah, sial! Mengapa bisa jadi seperti ini?”
Usai mengucapkan kalimat itu dengan nada rendah yang disertai helaan nafasnya, Kaiser terdiam kaku. Dia menyadari bahwa baik kakek, ayah, maupun ibunya tidak ada yang bisa meramal masa depan bahwa dampak dari penelitian mereka daripada kebaikan, justru mengarahkan kehancuran kepada umat manusia.
Secara tidak langsung, ketiga orang terkasihnya itulah yang telah mendorong terjadinya malam bencana Hoho game.