101 Avatars

101 Avatars
10. Serangan Tengah Malam



“Bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan, Kak Kaiser?”


Aku pun memberanikan diri untuk bertanya.  Aku menanyakan perihal gelang pengoneksi tubuh avatar yang pernah diberikan oleh Kak Kaiser kepadaku itu.  Aku sebenarnya sangat penasaran untuk mempelajari mekanisme di balik gelang tersebut tentang bagaimana konsep fisik bisa dipertukarkan dengan konsep virtual tanpa mengalami tolakan gaia.


Dalam Hero of Hope Game alias Hoho game saja, koordinat ruang dan waktu di antara kedua hal itu tak dapat dipertukarkan satu sama lain akibat besarnya tolakan gaia yang bekerja di antara kedua portal yang menghubungkan keduanya.  Namun, gelang ini mampu mengabaikan hal tersebut.


Sayangnya, bukan hal tersebut yang kali ini aku tanyakan.  Ada hal lebih penting untuk saat ini yang perlu aku ketahui, yakni tentang siapa pencipta gelang tersebut serta apakah ada orang lain lagi selain aku dan Kak Kaiser yang memilikinya.


Mengingat teknologi yang secanggih ini belum pernah terpublikasikan ke dunia luar, kemungkinan besar jumlahnya hanya sedikit atau sama sekali tak dapat diproduksi massal.  Lantas jika demikian, sudah pantaskah aku yang biasa-biasa saja ini yang menggunakannya?


Jawaban mengejutkan pun datang dari AI5203.  Teknologi tersebut rupanya diciptakan oleh Prof. Indro Nuryono sebulan sebelum kematiannya.  Entah apa tujuan Prof. Indro dalam menciptakannya atau mungkin Prof. Indro sudah punya firasat bahwa hal seperti ini akan terjadi kelak.  Sayangnya, AI5203 yang ada di depanku saat ini adalah akumulasi memori Prof. Indro 3 bulan sebelum kematiannya.


Itu artinya, AI5203 tidak memiliki memori penciptaan gelang.  Dan sebagai AI, dia tidak memiliki kemampuan seperti manusia untuk mengembangkan dirinya dengan belajar.  Dengan kata lain, tidak ada lagi cara untuk memproduksi ulang gelang berteknologi tinggi tersebut, terlebih semua data penelitian Prof. Indro sudah dia bakar sampai hangus di akhir hayatnya demi mencegahnya dicuri oleh Profesor In Gu.


Sayangnya, Profesor Indro hanya menciptakan dua buah gelang saja.  Dan sekali gelang itu digunakan kemudian berhasil mengenali masternya, gelang tersebut tak akan lagi dapat digunakan oleh orang lain.  Dengan kata lain, tidak ada lagi siapapun selain aku dan Kak Kaiser kini yang mampu untuk menghadapi para avatar yang terlepas ke dunia manusia tersebut.


Sungguh beban yang berat telah diletakkan di pundakku.


Kulihat, Kak Kaiser menatapku dengan penasaran.  Mungkin karena ekspresiku yang tiba-tiba mengerut begitu semakin dalam kumengetahui tentang semua rahasia kelam tersebut.


“Adrian, bagaimana pendapatmu tentang para avatar?”  Rupanya pertanyaan itulah yang membuat Kak Kaiser penasaran padaku.


“Tentu saja aku sangat membenci mereka dan ingin secepatnya menghabisi semua jenis mereka hingga tak bersisa.”  Jawabku dengan yakin kepada Kak Kaiser.


Kulihat, kening Kak Kaiser sedikit menekuk.  Sepertinya, ada bagian dari ucapanku yang tak sesuai harapannya.  Namun, begitu Kak Kaiser hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba alarm markas rahasia berbunyi.


“Gawat, Kaiser!  Ada 4 avatar yang tiba-tiba mengamuk secara bersamaan.  Avatar Nomor 32, Minotaur di area B16, Avatar Nomor 33, Jack Tornado di area D4, Avatar Nomor 67, Autumn Lily di area E5, serta Avatar Nomor 50, Nyaa di area I12.”  Ujar Profesor Melisa dengan panik.


Kulihat dari layar, seekor monster berbentuk manusia banteng sesuai namanya sedang mengamuk di suatu daerah tambang.  Di layar lain terlihat seekor monster mirip elang terbang dengan kecepatan tinggi sambil berputar-putar mengelilingi tempat yang sama.  Saking cepatnya sampai-sampai kaca jendela gedung-gedung di sekitarnya jadi pecah akibat momentum angin yang dihasilkannya.


Aku melewati pandanganku sekilas pada panel ketiga yang tampak belum terjadi apa-apa selain ibu-ibu yang sedang melindungi anaknya dari keroyokan para preman.  Di panel keempat layar komputer tersebut, terlihat monster mirip kucing namun bertentakel, menyerang sekuriti sebuah sekolah TK yang untungnya sedang malam hari sehingga tidak ada satu pun siswa TK di sana saat itu.


“Area D4 dan E5 adalah area padat penduduk, jadi daerah di sana harus segera diprioritaskan.  Kaiser, kamu segera ke area D4 untuk menghadapi Jack Tornado.  Ingat, hati-hati dengan penggunaan serangan bom-mu agar jangan sampai merusak gedung dan melukai warga sipil.  Adapun untuk Adrian, kamu ke area E5 untuk menghadapi Autumn Lily.  Kamu baru-baru ini melakukannya dengan baik terhadap Sly Dark, jadi kurasa ini bukan masalah.”


Ujar sekali lagi Profesor Melisa.


“Tunggu, Prof!  Biar Adrian menghadapi Avatar Nyaa di Area I12.  Ketiga area yang lain berdekatan sehingga serahkan saja semua padaku.”


Kak Kaiser tampak berupaya mengubah rencana awal Profesor Melisa.


Namun, tampak Profesor Melisa masih sedikit khawatir dengan keputusan tersebut.


“Tidak, Adrian pun sudah berkembang.  Saya rasa dia akan sanggup menghadapi Avatar Nyaa.  Nyaa adalah jenis avatar yang walaupun tenaganya besar, tetapi pergerakannya lambat.  Jadi saya pikir, selama Adrian menyerangnya dengan panah dari jauh, semuanya akan baik-baik saja.”


Akan tetapi, Kak Kaiser pun berargumen dengan logis sehingga Profesor Melisa pun teryakinkan.


“Adrian, kamu tahu kan kapan dan di mana bagian titik terlemah dari Avatar Nyaa?”  Kak Kaiser pun balik bertanya padaku.


“Tahu, Kak, soalnya aku sudah berkali-kali melihat kakak pertamaku menghadapi avatar sepertinya di Hoho Game.  Bagian celah antara tentakelnya ketika tentakel itu berkontraksi untuk menyerang kan?”


Jawabku terhadap pertanyaan Kak Kaiser.  Kak Kaiser tampak tersenyum puas akan jawabanku tersebut.


Pada akhirnya, aku pun tidak jadi pergi untuk menghadapi Avatar Autumn Lily, melainkan avatar bernomor seri 50 itu, Avatar Nyaa.


***


“Justru avatar seperti Autumn Lily itu yang lebih berbahaya bagi Adrian.  Mana mungkin aku membiarkannya menghadapinya?”  Gumam Kaiser dalam hati seraya terus berlari.


Kaiser dengan sigap menuju area D4 untuk menghadapi Avatar Jack Tornado.  Suatu avatar dengan karakteristik terbang cepat dengan serangan utama berupa laser beam dari mulutnya.  Lawan yang tepat bagi Avatar Bomber yang memiliki serangan rudal.


Namun yang jadi masalah, gerakan Jack Tornado terlalu cepat untuk dikunci oleh rudal.  Akan tetapi, Avatar Bomber telah dilengkapi mekanisme gerak cepat dari Avatar Fast sehingga mampu mengimbangi pergerakan tersebut.  Sayangnya, Avatar Bomber tak bisa terbang sehingga serangan gerak cepatnya tetap tak mampu menjangkau Jack Tornado yang berada di langit.


Namun, Avatar Bomber tidak menyerah.  Dia memanjati gedung kemudian melompat antara satu gedung ke gedung yang lainnya dengan memanfaatkan mekanisme dorongan senjata avatar utamanya, Bomber, yang juga dipercepat oleh mekanisme side avatarnya, Fast.


Begitu Jack Tornado dalam jangkauannya, Avatar Bomber pun segera melompatinya dan berhasil naik ke atas punggungnya.  Serangan laser beam dari Jack Tornado memang sangat berbahaya, tetapi cerita itu hanya jika posisi musuhnya lebih rendah darinya.


Satu kelemahan utama dari Avatar Jack Tornado, pertahanan bagian atas sayapnya alias belakang punggungnya sangatlah rapuh.  Dalam Hoho game, selama kita berhasil menjangkau daerah punggung tersebut, maka kemenangan terhadap Avatar Jack Tornado sudah dapat dipastikan.


Tanpa berpanjang lebar, “Selamat tinggal, Jack Tornado!”  Avatar Bomber pun meluncurkan kedua rudalnya yang tepat mendarat ke belakang punggung Jack Tornado.  Sebelum rudal itu jatuh ke tempat di mana dia juga berada saat itu, Avatar Bomber segera melompat dari atas punggung Jack Tornado tersebut.


Bersamaan dengan Avatar Bomber melompat, “Baaaaam!”  Jack Tornado pun meledak dengan megah.


Dengan demikian, Avatar Bomber pun berhasil mengalahkan avatar bernomor seri 33 itu, Jack Tornado.


Setelah mengalahkan Jack Tornado, Avatar Bomber kembali mengintip panel komputer yang terhubung melalui sistem di helmetnya.  Belum ada tanda-tanda penyerangan dari Autumn Lily sehingga Avatar Bomber pun justru bergerak ke area B16 untuk menghadapi Avatar Minotaur terlebih dahulu.