“Hei, Paman! Tolong jangan bercanda! Bukankah kita baru saja bertemu kemarin?!”
Paman Shou tak dapat menahan amarahnya begitu sang penjual buah justru berkata bahwa ini adalah pertemuan pertama kami dengannya, padahal jelas-jelas, kemarin kami sudah menemuinya.
Aku langsung berlari berusaha menenangkan Paman Shou sebelum dia mengamuk lebih parah lagi.
“Ya, sudah, sudah, Paman Shou. Tidak usah emosi begitu. Mungkin penjualnya cuma lupa. Kan dia punya banyak pelanggan. Mana mungkin dia akan mengingat wajah pelanggannya satu-satu. Kami beli apelnya satu kilo Pak. Maafkan kakakku ini ya, Pak. Kayaknya dia terlalu bersemangat.” Ujarku menenangkan situasi.
Kami bertujuh pun kembali ke penginapan di mana sebelumnya kami bermalam. Namun lagi-lagi di situ kami memperoleh keanehan. Sang pemilik penginapan tiba-tiba mencegat langkah kami. Begitu kami menanyakan ada masalah apa. Rupanya, dia tidak mengizinkan kami masuk karena kami bukan salah satu tamu dari penginapannya padahal jelas-jelas kemarin, kami telah membayar sewa penginapan tersebut.
Paman Dios memutuskan jalan damai dengan kembali membayar biaya sewa penginapan tersebut saja. Jadilah kami kembali menginap di penginapan itu di malam kedua tersebut. Sekitar tengah malam ketika warga desa tengah tertidur, kami sekali lagi memasuki hutan berkabut untuk menyelidiki apa yang terjadi.
Namun sekali lagi, keanehan terjadi. Pola serangan monster persis sama seperti kemarin. Diawali oleh munculnya kelinci bertanduk, lalu goblin, lalu serigala raksasa, tidak lupa pula dengan kemunculan makhluk-makhluk kerempeng berkepala besar dengan kecepatan yang sampai-sampai para pemilik kekuatan supranatural lain selain aku tidak dapat melihatnya, sampai pada kemunculan sang bos monster tikus putih raksasa.
“Bukankah kita sudah mengalahkannya kemarin? Kenapa muncul lagi? Apa mereka memiliki kemampuan re-spawn seperti dalam vrmmorpg ya atau semacamnya?” Tante Sandra berujar keheranan.
Yah, itu wajar saja setelah melihat makhluk yang kami susah payah kalahkan kemarin itu, tiba-tiba muncul lagi di hadapan kami. Namun, malam itu, kami juga sukses tanpa masalah yang berarti dalam mengalahkan sang monster.
Namun kemudian, setelah mengalahkan sang bos monster tikus putih raksasa tersebut, kami sekali lagi tertransfer kembali di alun-alun desa.
Di situlah pada akhirnya kami menyadari bahwa kami telah terjebak pada time loop. Kami terjebak di hari yang sama yang dimulai dari kami berkomunikasi dengan sang penjual buah sampai kami mengalahkan sang bos monster tikus putih raksasa.
Setelah berbenah-benah singkat di penginapan, kami pun lantas berpencar demi mencari petunjuk informasi tentang keanehan yang kami alami tersebut. Tetapi demi keamanan, kami menghindari pergerakan sendiri. Oleh karena itulah kami membagi tim menjadi tiga. Paman Dios, Kak Arskad, dan Kak Kaiser di tim pertama, Paman Arthur dan Tante Sandra di tim kedua, sementara aku dan Paman Shou di tim ketiga.
Kami berkeliling desa, mengamati satu-persatu keanehan yang dapat teramati pada setiap individu warga desa atau spot-spot yang mencurigakan di desa. Tetapi tetap saja, kami sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun. Aku berharap setidaknya ada petunjuk yang akan didapatkan oleh kedua tim lainnya.
Namun naas, alih-alih petunjuk yang didapatkan, Paman Arthur dan Tante Sandra malah mengundang kecurigaan warga sekitar hingga harus berhadapan dengan penjaga keamanan dari penguasa wilayah. Berkat skill komunikasi Paman Dios, Kak Kaiser, dan Kak Arskad yang baik, masalah lebih runyam berhasil dihindari. Paman Arthur dan Tante Sandra bisa terbebas dari tuduhan setelah menuliskan dengan jelas keterangannya.
Malam pun tiba. Kami memutuskan untuk coba melakukan pergerakan lain malam itu dengan tidak mencoba menyerang monster di hutan berkabut. Karena kalau dipikir-pikir, kami semua akan tertransfer kembali ke waktu awal setelah membunuh sang bos monster. Jadi kami pun berpikir bahwa selama kami tidak membunuh bos monsternya, maka kami tidak akan kembali ke titik awal lagi.
Tetapi semuanya adalah pikiran yang menyesatkan. Malam itu, karena kami tidak menyerang hutan berkabut, para monster di hutan berkabut itu sendiri yang justru menyerang, menyerbu ke dalam desa.
Kepanikan melanda di mana-mana. Rumah-rumah penduduk terbakar akibat nafas api serigala raksasa. Para warga dibunuh setelah dinodai oleh para goblin-goblin menjijikkan. Desa dalam sekejap dilanda kehancuran.
Sang bos monster tikus putih raksasa pun muncul lalu kami mau tidak mau tidak punya pilihan selain harus mengalahkannya demi keselamatan desa dan para warganya. Sesuai dugaan, kami sekali lagi kembali ke titik awal alun-alun desa. Waktu pun kembali berputar menjadi pagi hari seperti pertama kali kami tiba ke mari.
Kami bertujuh berembuk tentang apa yang harus kami lakukan dalam situasi yang terkunci ini. Di situlah Kak Kaiser muncul dengan idenya.
“Bagaimana kalau kita tangkap saja bos monsternya alih-alih membunuhnya?” Usul Kak Kaiser pada kami semua.
“Lantas bagaimana cara kita menangkapnya? Badannya terlalu besar untuk kita sekap.” Pernyataan sangsi sebagai reaksi yang wajar yang mungkin hampir dirasakan oleh kami yang lain diutarakan oleh Paman Shou.
Kak Kaiser terdiam. Mungkin, diapun tak punya ide. Namun di situlah, Paman Dios masuk menambahkan,
“Kekuatanku bisa digunakan. Aku akan merasuki tubuh bos monster itu sehingga dia akan kehilangan kendali tubuhnya. Yang harus kalian lakukan, sisa menjaga tubuhku selama aku merasuki tubuh sang bos monster.”
Semua tampak setuju dengan ide itu. lalu kami pun segera menyusun rencana untuk mengeksekusinya. Malam itu, kami sekali lagi keluar dari penginapan menuju hutan berkabut demi bertemu sang monster tikus putih raksasa.
Kami kembali memasuki hutan dan mengeliminasi satu-persatu monster-monster kroco yang mencoba menghalangi jalan kami. Mungkin karena sudah terbiasa, tidak butuh waktu terlalu lama seperti yang sudah-sudah bagi kami untuk menarik perhatian sang bos monster untuk keluar dari persembunyiannya.
Begitu sang bos monster tiba, serangan kombinasi Tante Sandra dan Paman Shou dengan cepat melumpuhkan sang bos monster. Begitu gerakan sang bos monster telah lumpuh, Paman Dios pun mulai mengaktifkan kekuatannya.
Tubuh sang bos monster tikus putih raksasa seketika mematung lalu melambai kepada kami. Kami begitu kaget ketika sang bos monster mulai berbicara kepada kami.
“Infiltrasinya sukses.” Ah, rupanya itu adalah Paman Dios.
Untuk sesaat kami pun bernafas lega. Kami pikir kali ini akan ada titik terang pada penyelesaian misi ini dan kami akan segera menemukan petunjuk tentang keberadaan sumber pembawa bencana yang melanda bumi saat ini dengan Kota Jakarta sebagai pusatnya.
Namun, bersamaan dengan terbitnya fajar, dunia di sekitar kami tiba-tiba bersinar terang lalu kami sekali lagi tertransfer ke titik awal mula alun-alun desa.
“Apa sebenarnya maksud semua ini?!” Aku yang tidak tahan lagi menahan kesalku, akhirnya melampiaskannya dengan berteriak kesal.
Dan kini adalah kelima kalinya kami kembali ke titik awal pada time loop yang tidak berkesudahan ini.
“Ada apa, Mas Petualang? Pagi-pagi sudah kesal sendiri. Mau beli buah?” Ujar sang penjual buah kepadaku. Entah mengapa, aku mulai kesal melihat wajahnya yang terus-terusan muncul di titik awal-mula ini.