101 Avatars

101 Avatars
8. Langkah Pertama Menuju Markas Rahasia



“Anu, Kak Kaiser, soal perkataanku barusan, maafkan aku.”


Dengan gugup, aku pun memberanikan diriku untuk meminta maaf kepada Kak Bomber, tidak, maksudku Kak Kaiser, atas sikap kasarku padanya pada pertemuan pertama kami di toko kue itu.


Waktu itu, aku belum mengenal identitas sebenarnya dari pahlawanku itu.  Tidak, itupun salah.  Sejak awal, siapapun orangnya, aku seharusnya tidak boleh langsung memperlakukannya kasar hanya karena persepsi liarku saja.


“Hahahahaha.  Jangan dipikirkan, jangan terlalu dipikirkan, Dik Adrian!”  Mendengar ucapanku itu, Kak Kaiser hanya tertawa, menampakkan seolah itu tidak mengganggunya.


Walaupun Kak Kaiser berkata seperti itu, namun tetap saja bagaimana bisa aku menyingkirkan begitu saja rasa bersalahku itu?


“Tapi…” Ujarku ragu.


“Sudah kubilang, Dik Adrian tidak usah memikirkannya terlalu rumit.  Aku paham jika Dik Adrian melakukan itu karena faktor cemburu.  Dik Adrian suka kan dengan Dik Nafisah?”


Aku hanya terdiam dan tak menjawab perkataan Kak Kaiser tersebut.  Dari kaca spion mobil Kak Kaiser, aku dapat melihat jelas bahwa mukaku telah memerah akibat perkataan itu.  Aku pun menunduk malu.


Kurasakan tepukan sekilas tangan Kak Kaiser menyentuh pundakku.


“Di antaraku dan Dik Nafisah tidak ada hubungan asmara apa-apa.  Tujuan kami bertemu di luar hanya untuk mendiskusikan masalah penelitian yang urgen saja.  Lagipula, aku sudah punya orang yang kusukai.”


Mendengar pernyataan Kak Kaiser tersebut, hatiku pun terasa lega.  Seandainya saja Kak Kaiser bilang dia suka sama Nafisah, entah bagaimana nanti aku akan bersikap.  Sepenting apapun sosok pahlawanku itu di hatiku, tetap saja hatiku tidak akan bisa ikhlas melepaskan sosok dewi pujaanku itu padanya.


“Sungguh enak ya, masa-masa remaja.  Masa-masa penuh romansa.  Kalau aku sendiri, sudah berumur 23 tahun.  Sudah saatnya aku memikirkan hal-hal lain selain percintaan, entah itu karir, tempat tinggal terpisah dari orang tua, biaya pernikahan, tabungan hari tua, hah, terkutuklah jadi dewasa.”


Kak Kaiser pun mengumpat pada masalah hidupnya.  Namun entah mengapa, hal itu justru membuat hatiku terasa senang.  Mungkin itu karena dengan hal tersebut, seolah aku lebih dekat lagi dengan sosok pahlawanku itu.  Sosok pahlawanku yang tidak biasa itu bisa langsung kusaksikan di depan mataku.  Ternyata, pahlawanku juga manusia biasa yang bisa mengumpat dan punya banyak beban pikiran.


Setelah perpisahan kami dengan Nafisah itu, aku memutuskan untuk menumpang mobil Kak Kaiser saja dengan meninggalkan motorku di tempat parkiran fakultas untuk menjemput Kak Syifa di kantornya.  Hal itu tentunya akan membuat Kak Syifa lebih nyaman dengan berkendara di mobil Kak Kaiser ketimbang naik motorku di saat matahari sore masih terlalu terik.


Kami pun tiba di depan kantor Kak Syifa dan kulihat Kak Syifa telah menunggu kami di depan kantornya itu.  Tetapi apa ini?  Mengapa begitu aku turun dari mobil dan Kak Syifa melihat wajahku, Kak Syifa serta-merta memelototiku dengan tajam seolah aku ada berbuat salah padanya?


Dengan was-was, aku dengan Kak Kaiser di belakang mendekati Kak Syifa.  Setelah sampai di dekatnya, Kak Syifa dengan tenaga buldoser-nya itu tiba-tiba menarikku segera menjauh dari kantornya.


Sesampainya di suatu taman dekat kantornya itu, Kak Syifa pun mengeluarkan smartphone-nya lantas menunjukkan akun Bacot-nya padaku.  Isinya rupanya adalah postingan dari Nafisah yang berisi foto kami bertiga, Nafisah serta aku dan Kak Kaiser dalam wujud avatar kami yang baru saja diambil oleh Nafisah kurang dari sejam lalu.


“Jalan-jalan di area perbelanjaan  Fakultas IPTEK, tiba-tiba aku diserang oleh monster.  Untunglah, pahlawanku, Pahlawan Darah Merah bersama rekannya, menyelamatkanku.  Duh senangnya diriku!  Aku bisa menjabat langsung tangan idolaku itu.  Aku sempat speechless waktu sang rekan menyebut namaku.  Kukira dia orang yang kukenal, tapi rupanya hanya kekeliruanku. ^_^”


Begitulah, isi status dari dewi pujaanku itu.


Kak Syifa lantas melayangkan tinjuannya kepadaku berkali-kali.


“Ouch!  Ouch!  Ouch!  Sakit, Kak Syifa.”  Ujarku seraya menamengi diriku dari tenaga buldoser Kak Syifa yang walaupun tinjuannya terkesan lemah, tetapi lebih sakit dari apa yang terlihat.


Dengan kesal, Kak Syifa melampiaskan kekhawatirannya itu dengan terus meninju-ninju badanku.


“Ah, kalau begini terus, aku harus operasi tulang retak kayaknya.”  Pikirku dalam hati.


Tiba-tiba kulihat Kak Syifa menghentikan tinjuannya seraya terkesiap.


“Kamu?  Sejak kapan kamu berada di situ?  Jangan-jangan kamu mendengar percakapan kami?”  Ujar Kak Syifa.


Namun tampaknya, Kak Syifa tidak berujar padaku, melainkan dengan orang yang berdiri di belakangku.  Aku pun menoleh ke belakang.  Kulihat Kak Kaiser tersenyum kepada Kak Syifa setelah ditanyakan hal tersebut olehnya.


Sebelum Kak Syifa sempat berucap lagi, aku pun memperkenalkan Kak Kaiser kepadanya sebagai pemilik Avatar Bomber.


“Jadi ini muka aslimu ya.  Orang yang telah menjebak Adrian ke dalam situasi berbahaya ini.”


Akan tetapi, Kak Syifa justru semakin kasar memperlakukan Kak Kaiser begitu dia mengetahui identitas Kak Kaiser yang sebenarnya.  Untungnya, Kak Kaiser hanya menanggapi ketidaksopanan Kak Syifa itu dengan senyum ramah.


Pukul 4.50, kami pun berangkat ke tempat yang dijanjikan dengan menumpang mobil milik Kak Kaiser.  Sangat telat dari waktu yang direncanakan sebelumnya perihal kemunculan tiba-tiba Avatar Sly Dark itu.


Kulihat Kak Kaiser mengemudi seperti biasa ke tempat tujuan.  Sampai kami berada di pertigaan jalan kedua di Jalan Jeruk yang membentang dari arah selatan ke utara tersebut, Kak Kaiser membelokkan mobilnya dengan tajam ke arah sebelah kanan yang justru mengarah ke semak-semak, bukannya di antara dua jalan beraspal yang ada di depan.


Tidak berapa lama kemudian, sampailah kami pada suatu bukit bergua.


Kak Kaiser pun menyuruh kami masuk lalu kami mengikutinya walau harus menunggu Kak Syifa dulu menyelesaikan ceramah panjangnya selama hampir setengah jam.


Setelah kami masuk ke dalam, tampak ruangan yang begitu gelap seperti yang diharapkan dari sebuah gua.  Kulihat Kak Kaiser lantas menyentuh sesuatu yang mirip batu sungai besar yang terletak di tengah ruangan gua tersebut.  Tiba-tiba bebatuan di tanah terbuka dan menampakkan ruangan bercahaya.


“Ayo, silakan masuk.”  Ujar Kak Kaiser kepada kami seraya lebih dulu melangkah ke dalam ruangan bawah tanah tersebut.  Aku dan Kak Syifa pun menyusulnya di belakang.


Oh iya, hari ini kita akan bertemu dengan Prof. Indro Nuryono dan Prof. Melisa.  Jika mendengar nama Melisa, bukankah itu sama dengan nama professor dari Jurusan Kimia Android yang saat ini sedang bekerjasama dengan Kak Kaiser?  Kalau Kak Kaiser ada di sini, jangan bilang kalau Prof. Melisa yang dimaksud itu sama dengan Prof. Melisa dari Jurusan Kimia Android tersebut?


Yah, walaupun aku juga belum pernah sih melihat wajah Prof. Melisa dari Jurusan Kimia Android itu.


Sampailah kami ke ujung anak tangga itu yang rupanya cukup dalam ke bawah.  Begitu kami memasuki ruangan yang tertutup pintu logam otomatis itu, terlihat seorang wanita berusia sekitar 40-an menyambut kami.


“Oh, iya, perkenalkan, Prof, ini Adrian, dan ini Syifa.”  Ujar Kak Kaiser seraya memperkenalkan kami satu-satu pada profesor wanita paruh baya di hadapan kami yang kemungkinan adalah Profesor Melisa.


“Oh iya, dan Beliau yang berdiri di depan kalian ini, tidak lain adalah Profesor Melisa, profesor dari Jurusan Kimia Android Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Global Indonesia.”  Lanjut Kak Kaiser balik memperkenalkan sosok wanita di hadapan kami itu.


Dan ternyata dugaanku tepat.