“Apa yang kamu katakan, Thorny Boy? Tentu saja lebih baik jika membunuh manusia sembari mendengarkan jerit tangis mereka. Apa gunanya membunuh banyak jika kita tidak dapat menikmati jerit tangis mereka?”
“Tidak, kamu salah, Sticky Girl! Semakin banyak manusia yang dibunuh, justru akan semakin baik. Polusi dunia ini akan semakin berkurang. Apa gunanya mendengarkan jerit tangis dari sampah?”
“Slash…sssst…sssst.”
Ketika sepasang monster psikopat itu tengah asyik berdebat mengenai suatu tema yang sangat menyeramkan tentang mana yang lebih baik, membunuh manusia dengan semakin menderita atau membunuhnya lebih banyak, Sang Ksatria Panah Biru pun datang lantas menerjangkan panah listriknya ke arah mereka.
“Aaaaakh.”
“Aaaaakh.”
Sepasang monster yang terkena anak panah pun meringis kesakitan. Adrian memanfaatkan celah waktu sempit di mana pasangan monster avatar psikopat itu sesaat tidak bisa bangun untuk segera menyelamatkan keenam korban yang tersandera oleh lem lengket Sticky Girl.
Adrian dengan segera mengaktifkan side avatar Crusader-nya.
“Holy light.” Teriak Adrian.
Seketika jurus itu dilepaskan, cahaya menyilaukan menyinari seisi taman. Dalam sekejap, lem lengket milik Sticky Girl musnah tak bersisa sehingga para sandera pun akhirnya bisa terbebas dari jeratannya.
“Cepat, larilah, sebelum para monster bangkit kembali!”
Perintah Adrian cepat kepada para sandera. Para sandera pun sesuai dengan instruksi Adrian, segera menyelamatkan diri mereka dari tempat kejadian.
Melihat hal itu, sudut mulut Adrian yang tertutup helmetnya pun menunjukkan kedutan. Adrian merasakan kesenangan dan kelegaan pasca menyelamatkan para sandera.
Bagaimana tidak, dia membandingkan dirinya yang sekarang dengan dirinya sebulan yang lalu di kala terpaksa harus menyaksikan para sandera Volt dan Metalia meregang nyawa karena ketidakbecusannya. Tetapi kini dia berbeda. Dia telah lebih kuat dan mampu menyelamatkan para sandera. Dia telah sedikit lebih dekat dari tujuannya untuk berdiri sejajar dengan pahlawan idolanya, Pahlawan Darah Merah.
Adapun ketika pada akhirnya Sticky Girl dan Thorny Boy berhasil bangkit kembali, Adrian dalam wujud Avatar Arjuna, telah berdiri di hadapan mereka, bersiap untuk mengalahkan mereka.
“Siapa lagi kau? Tidak hanya Pahlawan Darah Merah, kini muncul lagi seorang pengganggu yang mencegah kesenangan kita.” Ujar Sticky Girl marah.
“Apa boleh buat, Sticky Girl. Dunia memang semakin dipenuhi oleh orang-orang jahat. Kita hanya harus mengalahkan orang-orang jahat itu.” Timpal Thorny Boy.
“Ck, siapa sebenarnya yang jahat di sini.” Umpat Adrian dalam hati yang kesal dengan perkataan Thorny Boy, tetapi ditahan untuk tidak diungkapkannya lantaran tak ada gunanya berdebat dengan monster avatar yang tak memiliki perasaan yang asli.
Terjadilah pertarungan 1 vs 2 antara Adrian terhadap pasangan monster avatar Sticky Girl dan Thorny Boy. Namun, walau jumlah monster lebih banyak, mereka tidak lebih hanyalah avatar bernomor tujuh puluh-an yang hanya berspesialisasi sebagai tipe penghambat dan pembuat jebakan. Adrian telah cukup banyak berpengalaman melawan para monster avatar yang jauh lebih kuat dari mereka.
Alhasil, Adrian sama sekali tidak terintimidasi oleh kekalahan jumlah tersebut. Bahkan sebaliknya, Adrian mutlak unggul dalam pertarungannya.
Sticky Girl dan Thorny Boy pun berlari seirama menuju Adrian sembari memberikan serangan gabungan mereka, lem lengket berduri. Tetapi dengan mudahnya serangan itu ditepis oleh Adrian berkat holy light Crusader.
Namun gerakan kombinasi mereka yang lincah yang membuat Adrian tak mampu sekalipun menggapai mereka dengan Crusader-nya, membuat pertarungan terulur menjadi lebih lama.
Adrian sejenak berpikir. Jika dia mengganti senjatanya dengan panah milik Arjuna, dia akan lebih mudah untuk menyerang kedua monster yang cukup lincah menghindar tersebut. Dia bisa sejenak menahan serangan duri Thorny Boy yang tidak ada apa-apanya itu dengan side avatar Hard-nya, tetapi tidak untuk lem lengket Sticky Girl.
Tetapi mutlak serangan Crusader tidaklah efektif untuk menghadapi lawan yang lincah yang hanya menyerang dari jarak jauh.
Di saat itulah seakan mampu mendengar suara hati Adrian, Crusader mencoba membantu pemuda tersebut via telepati.
“Adrian, kamu bisa mendengar suaraku?”
“Eh, Crusader?” Ujar Adrian kaget karena baru pertama kalinya dia memperoleh telepati dari avatarnya.
“Kamu bicara padaku lewat pikiranku?”
“Lupakan itu dulu, Adrian. Aku punya usul untuk mengalahkan Sticky Girl dan Thorny Boy. Dengarkan, gunakan panah Arjuna sembari aktifkan efek-ku ke seluruh armor-mu.”
“Bagaimana caranya? Bukankah kamu itu pedang, bukan armor seperti Hard?”
“Pada dasarnya, Hard itu juga bukan armor. Armor yang kamu kenakan itu adalah tubuh Arjuna. Sama seperti ketika kamu mengaktifkan Hard. Bayangkan diriku menyelimuti seluruh armormu.”
“Begitukah? Baik, akan kucoba.”
Dengan demikian, Adrian pun mengikuti saran Crusader. Dia segera mengganti pedang Crusader dengan panah Arjuna. Lalu, dia pun memvisualisasikan lewat pikirannya bagaimana jika pedang bercahaya itu menyelubungi segenap armornya. Dan Adrian pun berhasil.
Dia berhasil membentuk sebuah armor bercahaya dengan dasar Crusader menyelubungi dirinya. Kemudian Adrian pun mulai mengancang-ancang pengaktifan serangan panah api-nya. Terlihat dua buah panah api mulai diisinya dengan energi untuk bersiap ditembakkannya.
Sembari Adrian mempersiapkan serangannya itu, Sticky Girl dan Thorny Boy tak henti-hentinya menyerangnya. Namun, serangan itu terlalu remeh bagi armor suci Crusader milik Adrian sehingga Adrian hanya mengabaikannya saja. Tidak, itu salah. Adrian bahkan terlalu fokus saat ini untuk menyadari adanya serangan dari serangga-serangga lemah tersebut.
Lalu semenit kemudian setelah energinya terisi penuh, Adrian pun menembakkan kedua anak panah tersebut, masing-masing ke Sticky Girl dan Thorny Boy. Baik Sticky Girl maupun Thorny Boy tampak terlalu ceroboh sehingga sesaat terlihat mereka tak mampu lagi menghindari serangan panah api itu dan hancur akan akibatnya.
Sayangnya, sebelum kedua anak panah berhasil mengenai mereka berdua, muncul pengganggu di dalam pertempuran tersebut. Ada monster-monster avatar lain yang tiba-tiba muncul menyelamatkan Sticky Girl dan Thorny Boy.
Mereka dilindungi oleh barier semacam gelombang-gelombang kasat mata semi transparan yang di luarnya dipenuhi oleh lilitan kawat.
Belum sempat Adrian melihat dengan seksama wujud para monster yang menyelamatkan Sticky Girl dan Thorny Boy, tiba-tiba satu lagi sosok monster avatar muncul di belakang Adrian hendak menyerangnya. Adrian sempat menghindar, namun telat beberapa milisekon sehingga Adrian pun berhasil terluka oleh serangan itu.
Rupanya yang menyerang Adrian adalah monster avatar bernomor seri 46, Avatar Chainsaw. Serangan Chainsaw adalah serangan fisik bertipe non-kegelapan, yang sangat berbeda dari serangan tipe kegelapan milik Sticky Girl dan Thorny Boy, di mana armor cahaya Crusader tidak efektif menangkal serangan itu. Alhasil, Adrian pun berhasil terluka cukup parah oleh serangan Chainsaw.
Kemudian, dari atas pohon-pohon taman, empat sosok monster lagi turun dan ikut menghampiri Adrian. Mereka adalah monster avatar bernomor seri 43, Violar, 55, Singer Nana, serta sebagai biang kerusuhan, 77 dan 78, Thorny Boy dan Sticky Girl.
“Hahahahaha. Kamu tadi membuli kami di saat kamu di atas angin, wahai penjahat. Kini, kami telah lengkap berlima. Sekarang giliran kami yang akan menghukummu.” Ujar Sticky Girl dengan bangga.
Namun, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan yang tidak asing lagi di telinga Adrian.
“Jadi apa yang bisa 5 kroco-kroco pengganggu seperti kalian lakukan dengan berkumpul bersama?! Seberapa pun banyaknya kalian, kalian tetaplah tidak lebih dari sampah. Atau kalian pikir bisa mengalahkanku dengan kalian berkumpul bersama?”
Dialah mentor Adrian, Kaiser Dewantara, yang berujar penuh kebengisan di hadapan para monster avatar, tampak begitu memandang rendah eksistensi mereka.