101 Avatars

101 Avatars
23. Dua Musuh dengan Tujuan yang Berbeda



Aku bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari keberadaan keenam Instrumen Tujuh Dosa lainnya.  Akan tetapi, belum jauh aku dari bekas pabrik itu, suatu sosok tiba-tiba mencegatku.  Suatu sosok berwarna putih pucat yang tampak dikelilingi oleh kabut.


Ah, sekarang aku paham mengapa Bobi mengatakan ada tiga monster.  Rupanya, ada satu monster avatar lagi selain Volt dan Metalia yang bersembunyi di dalam kegelapan.  Dialah avatar bernomor 13 yang merupakan pelaku sebenarnya dari kejadian di Gunung Suzana, Avatar Fog.


Bagaimana sekarang?  Jelas aku tidak dapat mengalahkan monster ini satu lawan satu dengan kekuatan tempurku sekarang.  Walaupun tidak sekuat single number yang memiliki kekuatan overpower, avatar bernomor belasan memiliki satu keahlian khusus yang menakutkan.


Jika avatar bernomor 11, Metalia, adalah kekuatan menciptakan senjata dari tanah tanpa batas selama ada tanah, maka avatar bernomor 13 ini, Fog, memiliki kekuatan kabut yang dapat menelan kesadaran tiap makhluk hidup yang menyentuhnya.


Untuk mengalahkannya, dibutuhkan senjata berelemen api.  Dan aku punya panah apiku.  Namun, besarnya perbedaan nomor avatar kami, praktis membuatku bukanlah tandingan untuknya.  Bagaimana ini?  Apakah aku harus lari?  Namun, jika aku membelakanginya, itu akan sangat berbahaya karena kabutnya dapat dengan cepat menggapaiku.  Jika sedikit saja kabut itu menyentuhku, maka dipastikan aku akan segera tamat.


Oleh karena itu, akhirnya kuputuskan untuk bertarung melawannya.  Semuanya akan baik-baik saja selama aku dapat menjaga jarak dari jangkauan kabutnya seraya menyerangnya dari jarak jauh.  Sayangnya, berbeda dengan Avatar Nyaa, monster avatar ini memiliki agilitas yang tinggi.  Bagaimana aku dapat mempertahankan jarak pada jarak yang aman?


Aku pun mengeluarkan Scream of Confussion, yakni kekuatan milik side avatar Sly Dark-ku yang berupa teriakan yang dapat memekakkan telinga.  Kemudian dari atas udara, aku pun menembakkan panah apiku ketika pergerakan Fog telah terkunci oleh seranganku yang pertama itu.


Panah apiku membakar sebagian kabut Fog, tetapi sayangnya itu tidak cukup untuk memberikannya dampak yang berarti.  Dalam sekejap, kabut Fog pulih kembali dan dengan cepat monster avatar itu mengarahkan serangannya padaku.


Sialnya, padahal aku merasa sudah terbang cukup tinggi, namun kabut Fog ternyata tetap dapat menggapai kakiku.  Aku pun ditariknya ke tanah.  Seketika, kabut-kabut itu menggerogoti sekelilingku sehingga aku mulai tidak berdaya.


Akan tetapi, hal yang tidak terduga pun terjadi.  Sebuah ulir-ulir akar hitam tiba-tiba menyerang Fog dari belakang yang menyebabkan konsentrasinya buyar sehingga aku dapat lepas dari kendali serangannya.


Kulihatlah asal dari serangan itu.  Apa ini?  Bukankah itu avatar bernomor seri 9, Avatar Holy?  Mengapa dia menyerang Fog?


“Holy, apa yang kamu lakukan?!  Mengapa kamu menyerangku?!  Apa kamu bermaksud mengkhianati klan kita seperti yang dilakukan kakak tersayangmu Healer?!”  Ujar Fog kepada Holy.


Kulihat Holy kemudian memberikan tatapan yang begitu tajam terhadap Fog setelah mendengar provokasinya itu.  Holy berujar,


“Hah?  Berkhianat?  Dari sudut pandangku, kamulah yang saat ini telah mengkhianati tujuan klan kita?”


Walau dengan wajah monsternya yang terlihat tanpa ekspresi itu, aku tetap dapat melihat perubahan ekspresi pada Fog yang berubah kecut seakan perkataan Holy betul-betul mengenainya.


“Hah, kamu masih berpegang pada tujuan Raging Fire yang tidak jelas itu?!  Sebaiknya kamu juga segera tinggalkan dia seperti kami sebelum kamu menyesal.”


“Slash!  Paaak!  Paaaak!”  Tanpa berbasa-basi membalas perkataan Fog, dengan cepat Holy melancarkan serangan selanjutnya.


“Mulutmu yang kotor itu tidak pantas menyebut-nyebut nama Tuan Raging Fire dengan tidak sopan.”  Ucap Holy seraya memelototi Fog dengan penuh amarah.


Pertarungan pun terjadi di antara mereka berdua.


Berselang beberapa waktu, begitu ada kesempatan ketika Fog tampak tidak berdaya, Holy tiba-tiba melirik ke arahku seraya berkata,


“Mengapa…Mengapa kamu membantuku?”  Dengan curiga, aku pun mengonfirmasi tujuan Holy tersebut.


Akan tetapi, dia berujar, “Kuharap kamu tidak salah sangka, hai makhluk hina!  Mana pernah aku sudi membantu makhluk hina perusak alam seperti kalian?!  Aku hanya melakukan semua ini demi tujuan klan-ku.”


Aku tidak paham apa yang dimaksudkan oleh monster avatar itu.  Tetapi yang pasti, aku harus segera pergi dari sini dan menjalankan misi yang diamanahkan oleh Kak Kaiser padaku lalu segera kembali untuk membantunya.


Sekuat apapun Kak Kaiser, Avatar Bomber yang digunakannya jelas ada batasnya.  Dia takkan sanggup bertahan menghadapi Avatar Volt dan Metalia secara bersamaan sendirian.  Jika dibiarkan terus, Kak Kaiser bisa saja…Tidak, aku harus tetap optimis bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Namun, bahkan belum sempat aku meninggalkan tempat pertarungan antara Fog dan Holy tersebut, peristiwa itu pun terjadi.  Tiba-tiba, dari dalam bangunan pabrik, terpancar cahaya hijau yang menyilaukan.  Sesaat kemudian, sangkar listrik yang mengelilingi seluruh Kota Jakarta menghilang.  Hanya satu penjelasannya, Kak Kaiser mampu mengalahkan Volt dan Metalia seorang diri sehingga kekuatan milik Volt tersebut pun ternonaktifkan.


Aku hanya dapat terkesima menyaksikan aurora hijau nan indah itu.  Sungguh pahlawanku adalah orang yang sangat luar biasa.


***


Kita kembali ke waktu beberapa saat setelah Adrian meninggalkan lokasi pabrik.


“Hah, tidakkah kamu terlalu meremehkan kami, wahai Pahlawan Darah Merah?  Kamu pikir akan sanggup mengalahkan kami berdua sendirian?”  Dengan tawa sinisnya, sosok berwarna merah pucat yang tidak lain adalah Avatar Metalia memberikan provokasinya kepada Kaiser dalam wujud Avatar Bomber-nya.


Akan tetapi, Kaiser sama sekali tidak menanggapi perkataan itu dan langsung memulai serangannya.  Dua buah misil diluncurkannya kepada Metalia.  Namun dengan sigap, Metalia membentuk perisai dari tanah untuk menangkisnya.


Metalia kemudian melompat lalu melayangkan sekitar belasan senjata sejenis pisau lempar yang terbuat dari tanah kepada Kaiser.  Dengan senjata pedang dari side avatar Enigma-nya, Kaiser menangkis setiap serangan itu dengan indah.


Begitu melihat ada celah kelengahan dari Kaiser, Volt pun turut memberikan support serangan listriknya membantu Metalia menyerang Kaiser.  Sayangnya, gerakan Volt saat ini sedang terkunci karena dia juga sementara harus fokus pada proses penjalanan Instrumen Tujuh Dosa sehingga hanya serangan Metalia-lah yang saat ini memberikan ancaman berarti bagi Kaiser.


Namun, serangan Metalia sebenarnya cukuplah monoton yang menjadi penyebab dia hanya berada di urutan avatar bernomor sebelas.  Apa yang menakutkan dari Metalia hanyalah penciptaan senjatanya yang tanpa batas.  Di luar daripada itu, selama lawan mampu mengimbangi serangan senjata tanpa batas itu, Metalia tidaklah ada apa-apanya.


“Trang!  Slash!  Trang!  Slash!”


Tiap kali Metalia melemparkan senjatanya, tiap kali itu pula Kaiser menangkisnya dengan indah.


Kaiser, tidak, Avatar Healer dalam wujud Kaiser itu pun tersenyum sinis seraya mengatakan, “Hoh, hanya segitukah kemampuan avatar bernomor sebelas?  Sungguh mengecewakan!”


“Dasar sialan!”  Dalam amarahnya terhadap provokasi Kaiser itu, Metalia meningkatkan intensitas serangannya.


Gerakan Metalia pun menjadi mudah terbaca setelah terprovokasi dalam amarah.  Melihat itu, Kaiser lantas tersenyum licik dari balik helmetnya.


Metalia jelas-jelas telah berada di dalam genggaman permainan Kaiser.  Melihat hal itu, Volt tak dapat lagi mengonsentrasikan pikirannya untuk proses penjalanan alat tersebut.