101 Avatars

101 Avatars
98. Serangan Para Dummy 2



“Nona, aku yakin Ayah Nona akan baik-baik saja.”


Melihat Nafisah dengan pandangan yang khawatir dari teras lantai dua padepokannya itu, Bobi mau tidak mau menjadi khawatir akannya.


Lalu dengan senyum lembut, “Ah, iya.  Jika itu Ayah, dia akan baik-baik saja.  Apalagi dia adalah salah satu dari spiritualis yang hampir menghilang dari dunia yang dikenal dengan kehebatannya di masanya.”  Nafisah menanggapi ucapan dari Bobi tersebut.


“Tim 3, recharge!  Tim 2, bersiap dengan panah api kalian di tangan!  Tim 1 tembak!”  Dengan penuh semangat, seorang pria tua bermata hijau yang telah berada di usia hampir senjanya itu memimpin pasukan dalam memberantas para dummy yang tiba-tiba saja muncul mengacaukan Ibukota Jakarta.


“Pemimpin Tim, awas!”  Salah satu dari wakil pasukan seraya berteriak dengan kencang begitu mendapati beberapa dummy yang tidak biasa yang mampu bergerak dengan cepat tiba-tiba saja muncul dari balik bayangan lantas hendak menyergap sang pria tua.


Akan tetapi,


“Slash!  Slash!  Slash!  Slash!”


Sang pria tua menyadari sergapan itu lantas dengan pedang yang dialiri energi spiritualnya yang berwarna hijau, dia menebas para dummy dengan mudah bak membelah jeli.


“Tidak usah fokuskan perhatian kalian ke sini!  Fokus pada pasukan kalian masing-masing!”  Sang pria tua memberikan perintahnya lalu pembasmian para dummy pun berlanjut tanpa ada masalah.


“Hah, mengapa makhluk menjijikkan dari celah dimensi itu bisa sampai lolos kemari?  Jangan bilang kalau Pohon Keabadian juga ada di tempat ini.”  Gumam sang pria tua sambil menghela nafasnya.  Dialah Lokriatul Wijayakusuma, pemimpin keluarga Wijayakusuma saat ini yang tidak lain adalah ayah Nafisah.


***


Sementara itu di tempat lain,


“Slash!  Slash!  Slash!  Slash!”  Dengan terengah-engah, tampak pemuda itu menebas-nebas dummy yang menjijikkan tersebut demi membasminya.


Namun, jumlah mereka sangat banyak.  Walaupun para dummy adalah tergolong monster yang sangat sangat lemah jika dibandingkan dengan para monster avatar yang telah pernah dilawannya selama ini dalam simulasi latihan, jumlah mereka yang sangat banyak begitu menguras tenaga pemuda itu.


Apalagi ini adalah praktik lapangan pertamanya bertarung dalam tubuh nyata setelah sebelumnya gagal ikut bertarung karena Singer Nana dan Violar yang keburu menyerah duluan dengan sendirinya.


“Hai, Kaiser!  Sadarlah!  Jangan lengah di tengah-tengah musuh!  Walaupun mereka tergolong sangat lemah, kita tidak akan pernah tahu kalau ada monster yang sangat kuat bersembunyi di antara mereka.”  Mr. Aili segera memperingatkan pemuda itu begitu dilihatnya Kaiser menampakkan kelengahannya di medan pertempuran.


“Ah, Mr. Aili.  Maafkan aku.  Terima kasih telah memperingatkan aku.  Kamu benar, tidak menutup kemungkinan kalau dummy Probe ikut berbaur di antara kumpulan dummy Domion ini.”


Kaiser Dewantara pun kembali memperbaiki ancang-ancangnya, lantas lanjut menyerang.


“Tebasan adamantite.”  Kaiser serta-merta mengaktifkan jurus tebasan adamantite dari pedang Enigma-nya.


“Slash!  Slash!  Slash!  Slash!”


Namun, tiap tebasan, tidak ada satu pun HP yang didapatkannya dari pada dummy tersebut.  Hanya satu kemungkinan hal tersebut dapat terjadi.  Mereka tidak memiliki kesadaran sebagai makhluk hidup.


Kembali ke catatan tentang Demon Gate Online, yakni game yang sempat diujicobakan pada tahun 2000 dan 2002 namun gagal karena membunuh otak hampir semua testernya, para dummy hanyalah sekumpulan fenomena tanpa kesadaran yang diciptakan oleh Pohon Keabadian.


Mereka diciptakan sebagai proyek uji coba para iblis dunia lain sebagai pengganti tubuh manusia untuk menjadi wadah mereka.  Para dummy akan memperoleh kesadarannya ketika dirasuki oleh jiwa iblis.


Namun berdasarkan catatan, proyek itu gagal karena tubuh yang diciptakan tersebut tidak dapat menahan jumlah mana yang besar.  Ketika input mana dari jiwa terlalu besar, tubuh tersebut akan meledak.  Catatan menunjukkan bahwa mereka paling lama dapat mempertahankan tubuh tersebut selama 2 tahun saja, itupun karena individu tersebut menahan penggunaan mananya ke tingkat minimal.


Kaiser terlihat bingung tentang apa tujuan sebenarnya dari sang dalang kejadian ini dalam melahirkan para monster dummy ke dunia nyata.


“Srek, srek, srek, srek.”  Para dummy yang terlihat agak berbeda dengan dummy lainnya di mana memiliki gerakan yang cepat seketika keluar dari bayangan lantas hendak menyergap Kaiser dari belakang.


Akan tetapi dengan sigap,


“Bruaaaaak!”


Pemuda itu dalam wujud Avatar Bomber-nya segera mengeluarkan jurus tinju energi lantas para dummy tidak biasa tersebut musnah seketika oleh daya hantam tinju maut tersebut.


“Lemah!  Sungguh lemah!  Benar-benar buang-buang waktu dan tenaga saja dan membuat lelah.  Kalau begini, mending mereka bersatu saja semuanya lantas kubabat habis dengan rudalku.  Ah, aku mana bisa sembarang mengeluarkan rudalku di tengah pemukiman penduduk seperti ini.”  Keluh Kaiser dengan nada suara yang lemas.


***


Di tempat lain, rupanya yang memimpin pembasmian dummy, tidak, dia seorang diri berada di sana, tanpa dukungan drone milik Mr. Aili pula, dialah Millie Dewantara, kakak sepupu dua kali dari Kaiser Dewantara.


“Hahahahaha.  Majulah kalian wahai makhluk-makhluk terkutuk.  Akan kuhabisi kalian semua dengan apiku ini.”


Dengan mata merahnya yang menyala-nyala disertai gelegar tawa yang menyeramkan, Millie membantai para dummy dengan apinya.  Anehnya, Millie dapat mengontrol apinya itu sedemikian rupa sehingga hanya akan membakar para dummy yang dilewatinya, tetapi tidak untuk bangunan-bangunan, pepohonan, fasilitas publik, dan benda-benda lainnya yang berasal dari peradaban umat manusia.


Tampaknya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap daerah tersebut dengan keberadaan Millie Dewantara di sana.


***


Beralih ke tempat selanjutnya, ada pasukan EDEN Cabang Indonesia yang mulanya berasal dari salah satu divisi khusus kepolisian yang menangani soal bencana khusus.  Namun, setelah peristiwa bersejarah tahun 2031 yang dirahasiakan dari publik, para spiritualis tersisa di seluruh dunia yang menentang invasi iblis dari dunia lain tersebut, membentuk organisasi bersama dalam penanganan iblis dari dunia lain yang disebut sebagai EDEN.


Pasukan EDEN Cabang Indonesia kini dipimpin oleh kakak Nafisah, anak tertua dari Loki, Lilia Wijayakusuma.


“Dor, dor, dor, dor, dor, dor.”


“Tembak terus, jangan berikan celah mereka untuk maju!”


Dengan suara yang lantang dan dipenuhi api semangat, Lilia memimpin invasi itu dengan para prajurit mengelilingi area kemunculan para dummy lalu memaksa mereka untuk berkumpul ke satu titik untuk pembasmian.


Sayangnya, tak ada satupun dari anggota mereka yang merupakan spiritualis sehingga mereka hanya dapat menyerang dengan pistol dan amunisi.


***


Namun siapa sangka, yang tercepat dalam pembasmian para dummy rupanya justru kelompok Dream dan Carnaval.


Masing-masing dari mereka membagi dua area yang ditugaskan kepada mereka tersebut lantas Dream dan Carnaval masing-masing mensummon world area mereka ke dunia nyata, di masing-masing belahan sisi, di mana Dream di bagian kiri, sementara Carnaval di bagian kanan.  Dream dengan dunia mimpi tipikal Alice in Wonderland-nya, sementara Carnaval dengan dunia karnaval tipikal sirkusnya.


Dalam dunia itu, para dummy dengan sendirinya terdegradasi dan musnah karena tak mampu memenuhi hukum dunia masing-masing.