101 Avatars

101 Avatars
29. Masa-Masa Indah Bermain Game dengan Kak Faridh



Malam itu aku bermimpi.  Mimpi mengenai suatu kenangan indahku bersama Kak Faridh dulu semasa hidupnya.  Masa pertama kali aku bermain Hoho game.  Masa-masa sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu di mana kami baru-baru saja mengenal Hoho game dan menikmati game itu sepenuh hati kami sebelum Profesor In Gu menyabotabenya dan menjadikannya suatu bencana yang tak terlupakan.


“Kakak, Kakak, Kak Faridh, yuk main Hoho game yuk!  Ajarin aku dong gimana cara mainnya.  Kakak kan sudah janji hari ini akan mengajarkannya padaku.”  Rajukku kepada Kak Faridh sembari memperlihatkan wajah memelasku yang terlihat polos.


“Duh, adikku yang imut ini.  Apa boleh buat.  Yuk kita main satu ronde.”  Ujar Kak Faridh sembari meninggalkan buku-buku pelajarannya yang saat itu sedang dibacanya dengan serius.


Kak Faridh pun mulai mengaktifkan layar komputernya dan menghubungkannya dengan dua buah kapsul tempat pemain Hoho game menghubungkan kesadarannya ke dalam game virtual tersebut.  Kulihat ada 2 opsi pada game di dalam layar komputer tersebut.


Yang pertama adalah opsi tutorial di mana kedua pemain memainkan game secara privat di mana tanpa menghadirkan host game dari sistem AI, tanpa direkam untuk dipertotonkan ke publik, serta tanpa pula direkap skornya.


Yang kedua adalah opsi official di mana game akan dipandu oleh host game yang diperankan oleh sistem AI di mana akan dipertontonkan ke publik dan juga direkap skornya untuk perangkingan dalam penentuan gelar ranker.


Kulihat, Kak Faridh memilih opsi tutorial.


“Jadi adikku ini ingin memilih avatar yang mana?”  Tanya Kak Faridh padaku.


“Hmmm, avatar yang mana ya?”  Ujarku kebingungan.


Kulihatlah list avatar yang tersedia untukku.  Rupanya sistem mematikan avatar bernomor seri 1 – 29 untukku.  Adapun opsi avatar bernomor seri 30, dapat aku gunakan.  Namun anehnya, justru avatar bernomor seri di bawahnya yakni 31 dan 32, juga turut dimatikan sistem.


Berdasarkan tutorial sistem, wajarnya seseorang akan memiliki tingkat kecocokan avatar yang berurut, maksudnya jika misalnya nomor avatar terkecil yang dapat dia gunakan adalah 30, maka otomatis orang tersebut juga akan mampu menggunakan avatar bernomor seri 31 – 99.


Namun dalam pengaplikasiannya, justru tidak ada pemain yang seperti itu.  Selalu saja ada avatar dengan nomor seri yang lebih besar dari nomor seri terkecil yang dapat dimainkan oleh pemain yang tidak cocok untuk digunakannya.  Bahkan ada kasus seorang pemain cocok untuk menggunakan Avatar Nomor 2 Raging Fire, tetapi malah tidak cocok terhadap Avatar Nomor 99 Moon.


Dalam kasusku, avatar yang bisa kumainkan hanyalah 47 buah dengan nomor terkecil yakni 30.


“Hahahahaha, rupanya adikku yang imut ini kebingungan ya.”  Kak Faridh tertawa kegirangan sembari mengusap-usap rambutku, melihat ekpresiku yang sedang kebingungan memilih avatar.  Kak Faridh betul-betul memanjakanku kala itu padahal usiaku bisa dibilang tidak terlalu kanak-kanak lagi yakni di usia 12 tahun.


“Apa sebaiknya aku pilih avatar nomor 30 saja ya, Kak?  Soalnya itu avatar terbaik yang bisa kupilih.  Tapi kelihatannya tidak keren.  Hmmmm.  Oh iya, Kak Faridh, kok aku bisa memilih avatar nomor 30, tetapi justru tidak bisa memilih yang di opsi 31 dan 32?”  Aku pun bertanya penasaran.


“Hmmm.  Belum ada jawaban yang pasti sih soal itu.  Tapi berdasarkan informasi yang Kakak kumpulkan, hal itu karena tingkat kecocokanmu berdasarkan bentuk fisik, sifat, karakter, kebiasaan, dan lain-lain.  Kita ambil contoh Ranker untuk Raging Fire saat ini, yang merupakan avatar terkuat kedua.  Dia justru tidak cocok dengan avatar yang paling lemah yakni Moon.”


“Kok bisa begitu kak?”  Tanyaku sekali lagi penasaran.


“Hal itu karena pembawaan Ranker Raging Fire yang kasar dan suka kekerasan yang sangat bertolak belakang dengan sifat Avatar Moon yang tenang dan menyatu dengan alam sehingga dia pun tidak cocok menggunakan avatar tersebut.  Sudah cukup penjelasannya.  Nah, adikku Adrian ini ingin pilih avatar yang mana?”  Kak Faridh kembali membalikkan pertanyaannya.


“Hmmm.  Sebaiknya jangan avatar 30 ah, kelihatannya norak banget soalnya.  Baiklah, kuputuskan untuk memilih avatar nomor 33 ini saja.”  Jawabku dengan yakin.


“Jack Tornado ya.  Tampaknya adikku ini memang berbakat memilih barang yang bagus.”  Ujar Kak Faridh seraya tersenyum cerah sambil kembali mengelus-elus kepalaku.


Kak Faridh menjelaskan bahwa Avatar Jack Tornado adalah salah satu avatar yang difavoritkan oleh pemain karena merupakan avatar tipe terbang dengan pergerakan yang sangat cepat, tercepat kedua setelah Fast.  Oleh karena itu, avatar ini merupakan tipe lawan yang buruk baik untuk petarung jarak dekat maupun jarak jauh.


“Tapi Adrian, setiap avatar juga punya kelemahannya masing-masing.  Daripada dijelaskan, yuk kita praktik langsung.  Kalau gitu, Kakak akan gunakan Avatar Nomor 67 Autumn Lily.  Bagaimana?  Nomornya dua kali lebih besar dari avatarmu lho sehingga praktis avatarmu jauh lebih kuat darinya.  Bukan begitu?”


Aku hanya mengangguk dengan polos kala itu terhadap pernyataan Kak Faridh tanpa tahu skema tersembunyi Kak Faridh dalam mengerjai adik polosnya.


Setelah itu, aku dan Kak Faridh memasuki kapsul game kami masing-masing lalu menghubungkan kesadaran kami ke dalam game.  Dalam sekejap, aku sudah berada di dunia virtual.


Tidak, ini terasa beda.  Aku samar-samar masih bisa merasakan tubuhku yang tertidur di kapsul.  Namun, ketika aku menggerakkan kedua tanganku, rasanya lain.  Aku jelas terasa diam, tetapi di lain sisi, aku bergerak.


Sensasi tubuh yang begitu aneh kurasakan.  Aku jelas-jelas merasakan kulitku tergantikan oleh bongkahan seperti logam namun lunak.  Bagaimana ya aku menjelaskan sensasinya ketika menyentuh sesuatu?  Yang jelas rasanya sangat berbeda ketika kumenggunakan tubuh asliku.  Sensasi penglihatan dan pendengarannya pun cukup aneh seperti melihat dari dalam layar TV keluar serta mendengar sesuatu dari gemerisik walkie-talkie.


Apakah ini semacam impuls melalui otak dari sumber ransangan lain di luar saraf sensorik dan motorik?  Tidak, kemungkinan ini semacam efek semu ransangan saraf sama seperti kita bermimpi.  Itupun keliru karena ini terasa lebih nyata dari sekadar mimpi.


Di samping itu, bentuk tubuh Avatar Jack Tornado ini agak sedikit berbeda dari tubuh manusia.  Aku bisa merasakan sensasi memiliki mulut yang berupa paruh burung dengan lidah yang tipis dan sempit.  Selain itu, adanya sepasang sayap di belakang membuatku merasa memiliki titik keseimbangan yang berbeda dari biasanya.


Sayangnya, sayap-sayap ini bukanlah sesuatu yang bisa digerakkan, melainkan sesuatu yang lebih tepat jika dikatakan menempel.  Juga keberadaan 4 pasang jet di masing-masing bawah sayapnya, memberikan rasa sensasi panas yang aneh yang uniknya tidak membuatku merasakan sensasi terbakar.


Untunglah, avatar ini masih memiliki tangan yang dapat kugerakkan sehingga sensasinya tidak begitu aneh karena bentuk burung biasanya adalah tangannya yang digantikan sayap.  Namun, tetap saja terasa aneh bagiku untuk membuka-mangatup bagian telapak tangan yang begitu terasa sendi-sendi yang tidak fleksibelnya.


Aku bisa menyaksikan Kak Faridh berdiri di depanku tepat di area musuh dalam wujud Avatar Autumn Lily-nya.  Kemudian kumelirik ke samping kiri.  Di situ nampak hitungan waktu yang masih dalam posisi diam di angka 60.  Suasana di sekitar terlihat gelap samar-samar, walaupun ada semacam orang-orangan virtual yang berkepala, namun tak berwajah tampak duduk memenuhi semacam stadion yang sedang menonton kami dengan sorakan samar-samar.


Beberapa saat kemudian, angka 60 itu mulai menghitung mundur dan ketika mencapai angka 0, sekat yang memisahkan sudut areaku terhadap Kak Faridh terbuka lalu kami pun memulai pertarungan.


Aku dengan sigap menggunakan jurus tumbukan beruntunku yang tanpa konsumsi MP kepada Autumn Lily.  Tetapi apa ini?  Mengapa seiring berjalannya waktu, kecepatanku melambat?  Dan apa pula ini?  HP-ku turun bahkan tanpa diriku terkena serangan?


“Adrian, sebelum bertarung, adalah hal yang mutlak untuk mengetahui kemampuan lawanmu.  Seharusnya tadi kamu menggunakan jurus laser beam-mu ketimbang tumbukan beruntun.  Jika demikian, kamu mungkin masih punya peluang untuk menang.  Tidakkah kamu tahu kalau tubuh Autumn Lily itu beracun hingga tak boleh sembarangan disentuh?”


Ah, aku melupakan hal itu dan malah dengan konyolnya menubruk tubuh beracun itu berkali-kali.  Pantas tubuhku melemah karena aku sudah di bawah pengaruh racun.  Kulihat Kak Faridh kemudian melayangkan jurus tembakan daun-nya, lalu akupun kalah dalam sekejap.


Aku kalah, namun itu menyenangkan karena aku dan kakakku yang tersayang, Kak Faridh, akhirnya bisa bermain game bersama pada game yang digemarinya itu.


Aku puas, namun rasanya itu masih kurang.  Itu karena aku belum sempat melihat kehebatannya memainkan Avatar Freeze andalannya itu.


Aku pun merajuk sekali lagi kepada kakakku itu, “Kak Faridh, kok tidak gunain Avatar Freeze untuk melawanku sih?”


Kak Faridh lantas menjawab, “Itu karena kamu masih pemula, adikku sayang.  Suatu saat ketika kamu sudah lumayan jago, Kakak akan menjadi lawan kamu dengan Avatar Freeze andalan Kakak.  Tapi ingat ya, di saat itu, Kakak akan bertarung dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengalah sedikit pun padamu.”


Begitulah jawaban yang diberikan oleh Kak Faridh kepadaku kala itu.  Namun pada akhirnya, janji tersebut sama sekali tidak pernah ditepatinya hingga akhir hayatnya.