Kaiser, tidak, sang faker pun berhasil tepat tertusuk di jantung oleh Mecha. Sesaat, Mecha sempat bersorak riang di dalam hatinya begitu telah menjamin dirinya mampu menghabisi kerikil yang paling menyebalkan bagi tuannya, Xavier. Seringai kemenangan sempat terlihat di wajahnya tersebut.
Akan tetapi dalam waktu singkat, seringai itu seketika berubah menjadi kemuraman begitu Mecha mulai merasakan adanya ketidakberesan. Sang faker sama sekali tidak mengeluarkan darah. Barulah di situ Mecha sadar bahwa sang faker yang ada di hadapannya itu bukanlah manusia.
“Sraaaak!” Mecha segera kembali mencabut tombaknya dari sang faker. Terlihat ekspresi was-was di balik wajah Mecha tersebut.
Sebaliknya, senyum tersungging terlihat di wajah sang faker yang membuat Mecha merasakan sekujur tubuhnya merinding.
Dia pun dengan panik berujar, “Kau, siapa kau sebenarnya?!”
Namun, sang faker tidaklah menjawab pertanyaan tersebut, tetapi justru memberikan tanggapan yang lain.
“Sudah kuduga, kau yang pengecut yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok akan melakukan hal ini jika aku menunjukkan sedikit saja kelengahanku.”
“Hahahahaha.” Sejenak terdiam, sang faker tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Kau dengan mudahnya terpancing. Padahal sangat sulit sebelumnya untuk menghabisimu karena Void dan Time selalu melindungimu. Terima kasih karena telah memberikan dirimu sendiri kepadaku untuk kubunuh. Dengan kematianmu, pasti rencana Mr. X akan sangat berantakan.”
Mecha hanya tetap berdiri mematung di posisinya mendengarkan omong kosong dari sang faker, tanpa menyadari kalau di belakangnya, sang faker telah menyiapkan jebakannya.
Sang faker pun berubah ke wujud aslinya, yakni Avatar Healer. Melihat itu, Mecha tetap berdiri mematung dengan terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok sejatinya pemburu rekan-rekan avatarnya selama ini adalah juga seorang avatar.
“Srak! Srak! Srak! Srak! Srak!”
Lima tusukan ulir-ulir berduri milik Healer dengan cepat diarahkan kepada Mecha. Tubuh Mecha pun seketika penuh lubang, tertembus oleh ulir-ulir dengan menjijikkan. Tanpa tahu apa yang sedang terjadi, Mecha baru tersadar ketika dirinya telah berada dalam keadaan sekarat.
“Kau, apa yang kau lakukan? Kalau kau juga seorang avatar, seharusnya kau juga mengerti penderitaan kami. Kenapa kau justru melakukan hal ini kepada kami?” Tanya Mecha dalam sekaratnya.
Healer pun menjawab, “Sesuatu yang tidak pada tempatnya, harus dikembalikan ke mana mereka seharusnya berasal, bukan?”
Mecha pun hanya dapat menatap kosong ekspresi bengis yang ditunjukkan oleh Healer yang ada di hadapannya itu. Sesaat kemudian, Mecha pun menyusul Freeze, hilang menjadi butiran-butiran data. Dan sekali lagi lewat pistol anehnya, Healer mengumpulkan sisa-sisa butiran data tersebut.
Healer pun kembali berubah wujud ke dalam wujud Kaiser lantas kembali mengaktifkan gelang perubahnya untuk menjadi Avatar Bomber.
“Srek, srek.” Suara gesekan semacam plastik tiba-tiba terdengar oleh telinga Healer yang cukup tajam, walaupun tidak setajam Sly Dark.
Dia pun menoleh ke arah sumber suara. Rupanya, itu adalah Adrian dalam wujud Avatar Arjuna-nya yang terlihat sedang menyeret Dream bersamanya.
“Arjuna?” Tanya Kaiser palsu dengan heran. Dia was-was terhadap sampai di mana Adrian melihat kejadian di ruangan.
“Ah, Kakak? Mengapa Kakak ada di sini?”
Dengan was-was, Kaiser palsu pun menjawab pertanyaan Adrian tersebut, “Aku telah berhasil mengalahkan Freeze di sini. Sekalian, tadi aku juga beruntung mengalahkan Mecha. Urusan kita di sini telah selesai. Itu, apa yang sedang kamu seret?” Kaiser palsu pun balik bertanya sembari menunjuk ke arah Dream yang telah babak belur oleh Adrian.
“Ya sudahlah. Padahal aku bermaksud untuk mengalahkan Freeze seorang diri. Tapi karena telah keduluan Kakak, tidak ada lagi gunanya memikirkan itu sekarang. Ah, ini Dream, avatar sistem. Crusader telah memberitahuku bahwa tidak ada sesuatu tertanam seperti pada avatar petarung yang bisa memicu tolakan gaia sehingga aku bingung apa yang harus kulakukan dengannya karena jika tidak memicu tolakan gaia, tidak ada alasan lagi untuk membasminya.”
“Lantas apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?” Sekali lagi, Kaiser palsu bertanya dengan ekspresi berat kepada Adrian.
“Untuk sementara, aku akan menawannya sembari meminta saran dari yang lain tentang harus diapakan monster ini.” Adrian pun menjawab dengan santai.
Tetapi Dream pun tiba-tiba sadar dan mengatakan suatu perkataan yang di luar dugaan,
Seketika itu, ekspresi Adrian berubah pekat.
“Sruuuush.”
Healer pun serta merta kembali ke wujud aslinya lantas mencoba menyerang Adrian,
“Plaaaak!”
Tetapi dengan gesit, Adrian mampu menangkis serangan tersebut.
Di saat itulah Carnaval ikut datang dan berniat membantu Healer menghadapi Adrian.
Healer dengan sigap mengacungkan tangannya sebagai isyarat bahwa Carnaval tidak perlu melakukan suatu tindakan yang tak berarti dengan ikut membantunya bertarung.
“Kamu tidak usah ikut campur masalah ini. Kamu bawa saja Dream pergi dari tempat ini.”
“Tapi, Tuan…”
Healer malah hanya menyuruh Carnaval untuk membawa pulang Dream saja.
Dalam waktu sekejap, Carnaval bersama Dream pun meninggalkan tempat tersebut menyisakan Healer dan Adrian di dalam ruangan.
Terjadilah pertarungan sengit di antara keduanya. Healer menyerang dengan ulir-ulirnya, tetapi setiap ulir-ulir dijulurkan, setiap itu pula Adrian segera menebasnya dengan Crusader-nya. Tidak, terlihat jelas bahwa Healer menurunkan pace-nya yang biasa untuk menyesuaikan kekuatan dengan Adrian.
“Adrian, kau tergolong terlalu tenang untuk seseorang berhati lemah yang baru saja mengetahui identitas mentornya yang rupanya adalah musuh.” Ujar Healer kepada Adrian dengan tingkat waspada yang maksimal.
Terlihat, Adrian terdiam saja mendengar komentar tersebut. Namun, ternyata di balik helmetnya, dia sedang gemetar sembari mengeletup-letupkan giginya.
Melihat Adrian yang diam, Healer pun melanjutkan ucapannya, “Tampaknya, ini bukan pertama kalinya kamu mengetahui identitasku yang sebenarnya. Sejak kapan kau mengetahuinya, Adrian?”
“Sejak aku pertama kali melihat Kakak bertarung melawan Mecha. Sebagai orang yang selalu berdiri di samping Kakak, mana mungkin aku tidak mengenali gaya bertarung Kakak. Namun, waktu itu aku masih ragu karena aku hanya melihatnya sekilas. Tetapi aku menjadi yakin begitu kita bertarung lagi setelah itu ditambah dengan ucapan Crusader.” Akhirnya, Adrian pun membuka mulutnya.
“Lantas, mengapa kamu selama ini diam saja?! Mengapa kamu tidak sama sekali tidak mengungkapkan identitasku?! Jangan bilang kalau kamu benar-benar menganggap serius aku berpihak pada kalian. Sampai di mana kebodohanmu sebenarnya sampai bisa tertipu oleh trik murahan monster avatar, Adrian?!” Healer pun berteriak marah pada kenaifan Adrian.
“Itu karena aku masih ingin percaya pada Kakak. Walaupun Kakak selalu dan selalu mengatakan bahwa perasaan para avatar itu hanyalah palsu belaka, tentu Kakaklah yang paling mengetahui bahwa itu tidak benar, bukan?! Karena yang berdiri di hadapanku saat ini bukanlah Kaiser Dewantara, tetapi Kaiser jelmaan Healer! Namun demikian, lebih dari siapapun, Kakak tetaplah orang yang paling kupercayai!”
“Buaaaak!” Namun Healer justru menanggapi ucapan tulus Adrian itu dengan tinjauan maut tepat di ulu hati Adrian. Untunglah, Adrian berada dalam tubuh avatarnya sehingga mampu bertahan terhadap tinju mematikan tersebut.
“Dasar bodoh! Sudah kukatakan jangan pernah percaya pada omongan para monster avatar. Kamu yang berhati lemah, akan menjadi santapan mereka saja untuk memanfaatkanmu dengan akting mereka yang sempurna.”
“Tetapi apa benar Kakak juga demikian?! Apa sebenarnya aku di mata Kakak?! Apakah Kakak benar-benar hanya menganggapku sebagai alat?! Tidak demikian kan? Sama seperti aku menganggap Kakak sebagai mentorku yang berharga, Kakak juga menganggapku sama berharganya kan?” Dengan putus asa, Adrian mengucapkan kalimat itu.
“Sayangnya bagi kami, kamu hanyalah alat, Adrian.” Tetapi di luar dugaan Adrian, Healer malah memberikan jawaban yang dingin.
Namun, di luar dugaan Healer pula yang menganggap Adrian akan menciut oleh hati lemahnya itu setelah digertak demikian, Adrian justru berujar,
“Persetan dengan semua itu. Kakak, beritahukan aku saja apa tujuan Kakak sebenarnya melakukan semua ini.”
Kedua mata mereka pun saling bertatapan dengan sinis.