Di markas rahasia laboratorium Prof. Indro itu, Syifa dan Profesor Melisa menyaksikan dengan harap-harap cemas pertarungan Adrian dan Kaiser.
“Kenapa? Kenapa itu mesti adikku Adrian?” Lirih Syifa.
“Hmmm.” Profesor Melisa pun menghebuskan nafasnya.
“Kalau misalnya jawabannya adalah takdir, dapatkah kamu menerimanya?” Profesor Melisa pun balik bertanya kepada Syifa.
“Sama sekali tidak terima.” Dengan jutek, Syifa segera menjawabnya.
Profesor Melisa terdiam sejenak sebelum dia lantas merespon jawaban Syifa tersebut.
“Bisa dibilang suatu keberuntungan yang sangat kebetulan kami dapat menemukan Adrian. Kamu tahu, selama 5 tahun kami tidak pernah menemukan kandidat yang cocok untuk Avatar Arjuna. Subjek yang paling mendekati kecocokan hanya berkisar 65 persen saja. Namun Adrian memiliki tingkat kecocokan sampai berkisar 99,98 persen.”
“Itu, darimana kamu memperoleh datanya?” Syifa pun bertanya dengan curiga.
“Soal itu, kami menggunakan data uji fisik sewaktu penerimaan mahasiswa di Universitas Global Indonesia.” Profesor Melisa pun menjawab pertanyaan itu dengan ragu-ragu sembari memalingkan wajahnya dari Syifa.
“Bukankah itu tindak kejahatan, menggunakan data pribadi seseorang secara ilegal?” Syifa pun melotot ke arah Profesor Melisa dengan ketidakpuasan.
“Yah, apapun itu. Adrian telah bekerja keras sejauh ini. Demi melindungi orang-orang yang dicintainya, dia berani berjuang. Kamu sebagai kakaknya tidak bisa selamanya berdiri di depannya untuk melindunginya. Ada kalanya kita perlu melepaskan orang yang kita sayangi ke dunia luar demi kebaikan mereka. Kita sebagai keluarganya, hanya bisa mendoakan mereka di saat-saat seperti ini.”
“Yah, Anda mungkin ada benarnya.” Syifa pun menjawab dengan penuh ketulusan.
Tanpa diketahui Syifa, Profesor Melisa mengembuskan nafas lega dalam hati karena Syifa tidak lagi mengungkit soal data pemeriksaan fisik mahasiswa baru yang dia salahgunakan secara ilegal tersebut.
***
Aku pun berlari sekuat tenaga menuju area I12 di mana Avatar Nyaa sedang berbuat kekacauan. Sesuai arahan Kak Kaiser sebelumnya, aku seharusnya mengambil posisi di atas bangunan tinggi di dekat situ lantas menyerang Avatar Nyaa begitu dia melakukan serangan dengan tentakelnya. Akan tetapi, hal yang tak terduga pun terjadi.
Tiba-tiba, rombongan nenek-nenek yang tampaknya baru saja menghadiri acara kumpul-kumpul bersama dan tidak melihat tayangan berita, lewat tanpa menyadari keberadaan Avatar Nyaa di tempat tersebut.
Melihat rombongan nenek-nenek itu, Avatar Nyaa pun segera melayangkan serangan tentakelnya kepada mereka. Sayangnya, sudut serangan tersebut tidak cocok bagi posisiku saat ini untuk melihat celah titik lemahnya di sela-sela tentakelnya itu. Kalau dibiarkan seperti ini, maka para nenek bisa saja tewas.
Aku pun refleks mengubah panahku menjadi mode tombak untuk menyerang dalam jarak dekat, dan,
“Slash! Slash! Slash!”
Aku pun menebas tentakel-tentakel itu demi mencegahnya menyentuh rombongan para nenek.
“Cepat pergi dari sini, Nenek! Monster ini berbahaya!” Ucapku dengan teriakan.
Aku masih dapat menangkap ekspresi histeris dari para nenek ketika aku menoleh ke belakang. Sayangnya, karena umur mereka, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk meninggalkan tempat kejadian. Aku pun butuh lebih banyak waktu untuk mengulur-ulur serangan Avatar Nyaa itu.
Tiap serangannya terasa begitu berat sehingga aku terasa akan terhempas dalam sekejap begitu terkena serangan tersebut. Untunglah pergerakannya lambat sehingga jika aku mampu menyesuaikan jarak sejauh 2 meter darinya, maka serangan tentakel itu tak akan dapat menyentuhku.
Namun, ini tetap pertarungan yang sulit. Sisi tajam tombakku tidak cukup tajam, bahkan untuk memotong tentakel-tentakelnya yang sangat alot itu. Aku pun menjauhkan jarakku untuk bersiap menyerang dengan panahku yang impak serangannya jauh lebih besar daripada serangan jarak dekatku.
Akan tetapi, monster itu tampak telah waspada kepadaku sehingga sangat sulit bagiku untuk menyerangnya di titik lemahnya tersebut. Namun, jika dibiarkan lebih lama, maka area di sekitar monster itu akan semakin memiliki dampak kerusakan yang lebih besar. Aku harus segera mengalahkannya.
Aku pun memulai perhitungan-perhitungan rumus fisikaku yang yang kuperoleh di mata pelajaran fisika klasik. Dengan memperhatikan arah angin, tekanan udara, serta tidak lupa oleh hambatan gaya gravitasi dan faktor tarik-menarik dengan gedung-gedung tinggi di sekitar, maka cara yang paling ideal untuk mengalahkannya yang sedang waspada terhadapku, tidak lain dengan seperti itu.
Aku pun memanah suatu tanah kosong dengan sudut 45 derajat di mana serangan panahku itu memberikanku momentum untuk terangkat ke atas dengan faktor pengali sebesar sin 45 derajat. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi yang memperlambat kecepatan hempasanku, aku pun mempersiapkan seranganku yang sesungguhnya.
Sesuai dugaan, impak seranganku yang memberikan suara yang mengintimidasi itu, akan memberikan monster tersebut rasa bahaya yang akan memaksanya untuk menyerang. Ketika monster itu menyerang, titik lemah di antara sela-sela tentakelnya pun terbuka.
Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lantas menyerangnya dengan ketiga anak panahku di titik yang paling fatalnya. Jika itu dianalogikan dengan wujud manusia, maka tepat di mana posisi jantung, paru-paru, serta lambungnya berada.
Ketiga anak panah pun melesat yang berhasil melewati sisi-sisi tentakelnya dengan cemerlang menuju ketiga titik vital tersebut, dan,
“Duaaaar!” Sang monster pun meledak dengan meriah.
Misi terselesaikan.
Aku pun bergegas ke sana. Walaupun Kak Kaiser bilang akan menyelesaikannya seorang diri, tetapi tidak ada salahnya kalau aku turut ke sana pastinya. Siapa tahu saja akan ada hal yang bisa kubantu.
Aku berlari dan terus berlari dengan terus menambah pace-ku hingga sampailah aku di sana. Kulihat aku sampai duluan sebelum Kak Kaiser di sana.
Kulihatlah suatu pemandangan di mana seorang ibu-ibu memeluk seorang anak untuk melindunginya dari serangan para preman. Kulihat para preman terus menghajar sang ibu-ibu tersebut. Tetapi sang ibu tetap kekeh tak melepaskan anak itu.
“Bos, kita sudah berkali-kali menghajar wanita ini. Tetapi dia tetap seperti itu. Kita harus bagaimana, Bos?” Kata seorang pria di antara para preman.
“Hmmm. Kita diminta oleh Tuan Muda untuk menghabisi anak yang dipeluknya itu karena tampaknya anak gadis yang disukai Tuan Muda menaruh rasa suka pada anak yatim yang telah kehilangan ayahnya itu. Aku kasihan pada mereka, tetapi kita hanya dapat menuruti perintah sang majikan. Jadi, ayo lakukan.”
“Baik bos.” Para preman pun tampak segera mengiyakan perkataan pemimpinnya itu.
“Kumohon, jangan sakiti anakku.” Lirih sang ibu kepada para preman.
“Ibu. Hiks, hiks, aku takut.” Sang anak pun menangis ketakutan dalam pelukan sang ibu.
“Anakku hanya terlalu baik sehingga tidak tahu hal-hal seperti itu. Lagipula anakku bahkan belum sama sekali paham tentang rasa suka terhadap lawan jenis. Bukankah ini aneh jika kalian membunuhnya karena sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu? Ayahnya telah tiada sejak malam bencana lima tahun lalu sehingga hanya anak inilah yang aku punya. Kumohon, lepaskan kami.”
Pinta sang ibu kepada para preman. Namun dengan dingin, para preman pun menjawab.
“Nyonya, itu bukan urusan kami. Urusan kami di sini hanya untuk menjalankan perintah majikan kami.”
“Aku mohon. Aku mohon lepaskan kami. Kami akan pergi jauh-jauh dari kota ini, jadi kumohon biarkan kami selamat. Atau paling tidak, ambil saja nyawaku menggantikan anak ini.” Sang ibu tampak tidak menyerah dan semakin memohon-mohon merendahkan dirinya.
“Maafkan kami, Nyonya. Anggaplah ini kesialan kalian bertemu dengan Tuan Muda kami. Tapi tenang saja. Aku akan menghabisi kalian berdua sehingga kalian berdua dapat bereuni bersama dengan suami Anda di akhirat.”
Begitulah ucap sang bos preman sembari mengacungkan pistolnya ke arah sang ibu. Kali ini, sang ibu pasti tidak akan selamat jika terkena serangan tersebut. Aku pun segera ingin menolong mereka berdua, tetapi ini akan menjadi masalah yang rumit dan akan semakin memperburuk citra kami jika kami terlibat dalam konflik warga sipil.
Bisa-bisa kepercayaan masyarakat yang satu-satunya andalan kami yang membuat polisi waspada menyentuh kami, akan hilang.
“Duarrrr!” Rupanya terlambat, suara pistol telah berbunyi dan itu berarti sang ibu telah…
Namun, pemandangan yang kulihat justru berbeda dari yang kubayangkan. Sang ibu menangkap peluru pistol dengan tangan kosong. Ah, rupanya sang ibu itulah Avatar Autumn Lily.
Sang ibu pun menutup mata sang anak lantas dalam sekejap, menghabisi para preman-preman itu.
Kak Kaiser pun datang ke tempat kejadian. Kudengar dengan jelas, Kak Kaiser berkata, “Bawalah anak itu ke tempat aman agar tak terlibat pertarungan kita.”
Kemudian dengan senyum tulusnya, sang ibu pun berkata kepada anaknya, “Didi, pergilah ke rumah duluan. Ibu masih ada perlu dengan Om yang ada di sana. Ingat langsung pulang ke rumah ya dan jangan singgah ke mana-mana.”
“Baik Bu.” Sang anak yang tampak tak mengerti apa-apa itu pun menjawab lantas segera pergi, menuruti perintah ibunya.
“Satu hal, Bomber. Setelah aku pergi, anak itu takkan punya siapa-siapa lagi. Jadi kumohon, rawatlah dia.” Begitulah ucap sang ibu lantas berubah bentuk kembali ke wujud aslinya.
Suatu wujud monster berwarna hitam dengan kepala kuning dengan hiasan kelopak putih berpadu kuning serta dengan pandangan yang sayu di mata putih kosongnya dilengkapi ulir-ulir batang seakan mirip urat nadi mengitari seluruh tubuhnya. Dialah avatar bernomor seri 67, Avatar Autumn Lily.
Tampak awan kuning keluar dari tubuhnya, bergerak menuju ke langit, dan menghilang di ufuk timur. Entah apa maksud serangan itu karena kulihat Kak Kaiser baik-baik saja.
“Baik.” Kak Kaiser pun menjawab lantas dalam sekejap menusuk Avatar Autumn Lily dengan pedangnya.
Autumn Lily rupanya tampak telah pasrah menerima serangan itu. Dia hanya menerimanya tanpa perlawanan hingga pada akhirnya, dia pun tewas. Dengan demikian, Kak Kaiser pun berhasil mengalahkan Avatar Autumn Lily.
Tetapi apa ini? Mengapa air mataku keluar? Dia adalah monster avatar, jadi tentu saja harus dibasmi. Karena dia memimik ibu anak itu, maka dialah pasti yang telah membunuh ibu anak itu. Dia juga bilang bahwa ayahnya meninggal pada malam bencana 5 tahun silam. Kemungkinan, dia pulalah yang membunuh ayah anak itu. Lantas, buat apa aku menangisi kematiannya? Ada yang salah dengan diriku.
“Ah, Avatar Arjuna? Kok kamu di sini?” Kak Kaiser pun tampak heran melihat keberadaanku di situ.
Untunglah ada helmetku sehingga Kak Kaiser takkan melihat mukaku saat ini yang berlinangan air mata. Selama aku bisa menahan isak-tangisku dan berbicara dengan normal, Kak Kaiser takkan menyadari bahwa aku sedang menangis, terlebih sampai menyadari bahwa perihal aku menangis karena rasa simpatiku pada monster tersebut.
“Kita harus segera pergi dari sini. Polisi telah mengepung kita.”
Ah, aku pun tersadar. Para polisi rupanya telah mengepung, berniat untuk menangkap kami.