Dari jauh, Dios dan Arskad menyaksikan pertempuran Adrian.
“Anak itu tumbuh menjadi petarung yang kuat.” Komentar Dios melihat pertarungan Adrian tersebut.
“Ya, seperti yang diharapkan dari keponakan Anda, Profesor Dios. Dia tidak hanya tahu kemampuannya sendiri dan bagaimana mengoptimalkannya, kini dia juga tahu bagaimana memanfaatkan kelemahan musuh.”
“Yah, awalnya kupikir dia adalah anak keras kepala yang mudah murung. Pertemuannya dengan Healer benar-benar membuatnya berkembang.”
“Gelang perubah Healer telah menstimulus perkembangan kekuatan supranatural Adrian yang sebelumnya tertidur. Mungkin, tidak lama lagi, dia akan menjadi aset berharga bagi kita dalam pertarungan.”
Komentar dari Arskad tersebut seketika membuat sedikit bagian mulut Profesor Dios tersungging. Dia benar-benar menantikan untuk dapat menyaksikan hari itu.
***
“Cih, dia berhasil lolos dari getahku.” Umpat Sticky Girl ketika serangannya gagal.
Adrian tidak menyerah, dia kembali menerjang ke arah Void yang dilindungi oleh Sturdy. Akan tetapi, tubuh kokoh Sturdy membuat Adrian kewalahan. Pedang Crusadernya tak mampu untuk menggoresnya sedikit pun. Dia lantas meng-unsummon Crusader agar mampu memaksimalkan penggunaan kekuatan side avatar Hard di tinjunya.
“Pruak.” Serangan kali ini berhasil memecahkan sedikit kekokohan tubuh Sturdy.
“Flash.”
Akan tetapi justru sekarang, dia jadi kesulitan untuk menghindari serangan Void akibat remahan cahaya dari momentum serangan Void yang bertipe kegelapan tersebut tak dapat lagi ditangkisnya dengan perlindungan cahaya Crusader. Hal ini lantas membuat tubuh Adrian sedikit terluka oleh remahan-remahan cahaya hitam tersebut yang dapat menelan apapun menjadi ketiadaan.
“Sluuuurp, srut, srut.”
Hal itu diperburuk dengan serangan tiba-tiba dari Sticky Girl yang bisa datang kapan saja sehingga dia tidak dapat menurunkan pula kewaspadaannya sedikit pun dengan sekelilingnya.
“Blue Batboy, tampaknya tenagamu sudah cukup terporsir.” Ujar Sturdy seraya menyeringai kecut, menertawakan kemalangan pemuda di hadapannya itu akibat kekeraskepalaannya sendiri.
“Wah, tidak kusangka. Di balik tubuhmu yang macho itu, ternyata suaramu feminim juga ya, Sturdy.” Adrian mengejek monster berpenampilan macho namun ternyata bersuara wanita tersebut.
“Itu karena aku memang perempuan!” Balas Sturdy marah.
“Oh ho, maaf, aku sama sekali tidak menyadarinya.” Adrian dengan cepat berujar lantas balik menyeringai kecut.
Seringai kecut itu justru membuat Sturdy sadar bahwa dirinya sedang diejek. Dia pun naik pitam seraya berkata, “Kamu, dasar manusia kurang ajar!” Dan Sturdy pun akhirnya ikut terprovokasi oleh mulut tajam Adrian menyusul Void.
Jauh di belakang pertarungan, Arskad mengemukakan pertanyaannya, “Anak itu, sejak kapan dia jadi bermulut pedas seperti itu?”
“Hmmm, tidakkah kamu lihat dia mirip dengan seseorang? Tidak, maksudku… sesuatu?” Balas umpan balik Dios atas pertanyaan Arskad tersebut.
“Ah, maksud Anda Healer, mentornya. Entah ini pengaruh baik atau buruk buat Adrian.”
“Yah, kita lihat saja.”
Mengabaikan komentar dua penonton di belakang, Adrian beradu tinju dengan Sturdy dengan intens. Armor keras yang ditingkatkan oleh side avatar Hard Adrian di bagian sarung tinjunya bertumbukan dengan pertahanan kokoh Sturdy. Tampak tak ada satupun yang mau mengalah.
“Pak. Pak. Pak. Pak. Pak. Pak.”
Terdengar adu tumbukan yang cukup statis untuk sesaat. Sticky Girl dari jauh juga tak dapat sembarangan menyerang karena takut akan mengenai rekannya sendiri. Suasana statis tersebut, rupanya Void-lah yang pertama memecahnya.
“Sturdy, menghindar!” Teriak Void.
Rupanya, Adrian telah siap menerima serangan tersebut. Dia pun dengan gesit mengaktifkan side avatar Sly Dark-nya lantas terbang ke udara. Dia meng-unsummon side avatar Hard-nya untuk diganti kembali dengan Crusader demi menghindari percikan-percikan sinar hitam yang mampu mengerosi segalanya itu.
Akan sulit menghindari serangan berbahaya Void itu di udara ketika Adrian tidak dapat menapak tanah. Tetapi masih ada jeda lima menit sebelum jurus itu aktif kembali. Dia pun segera meng-unsummon side avatar Sly Dark-nya lantas menerjang kembali ke arah Void.
“Sluuuurp, srut, srut.”
Akan tetapi, kali ini Sticky Girl yang pertama kali menghentikan langkahnya dengan serangan getah asam itu. Namun Adrian telah terbiasa dengan pola serangannya sehingga dengan mudah Adrian mampu menghindarinya.
Tanpa diduga-duga, Adrian telah sampai di depan Sturdy yang melindungi Void.
Adrian menukar kembali pedang Crusader-nya dengan tinju Hard lantas meninju pelipis Sturdy yang gagal dijaganya dengan telak. Terdengar suara retakan dari armor batu yang melingkupi seluruh tubuh Sturdy tersebut.
Tetapi seakan tidak peduli dengan rasa sakit tinju itu, Sturdy justru memanfaatkan kesempatan itu untuk hendak menyerang ulu hati Adrian yang terlihat tanpa pengawasan.
Adrian berhasil menghindarinya. Namun tampak kekusutan ekspresi dari balik helmet Adrian tersebut.
“Tampaknya, monster itu telah menyadarinya ya.” Gumam Adrian.
Ya, ada kelemahan fatal di kala Adrian hendak menggunakan side avatar Hard-nya sebagai avatar penyerang. Adrian hanya dapat mengaktifkan tinju Hard di kala dia sedang tidak mengaktifkan armor Hard. Akan mencurigakan di hadapan musuh jika dia harus berkali-kali mengganti armornya di hadapan musuh tersebut.
Terlebih, waktu yang lebih lama dibutuhkan untuk mengganti armor ketimbang senjata, bukan merupakan pilihan yang tepat untuk dilakukan di dalam pertarungan yang sengit. Musuh bisa saja memanfaatkan celah waktunya untuk menyerang tiba-tiba di saat lengah.
Adrian pun meng-unsummon tinju Hard dan segera mengaktifkan kembali armor Hard. Dia lantas mensummon kembali pedang Crusadernya lantas berlari menerjang Sturdy.
“Clang. Clang. Clang.”
Berkali-kali serangan dilancarkan, namun Sturdy baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun.
Sesuai dugaan, pedang Crusader tidak efektif melawan Sturdy, namun efektif menangkis remahan sinar hitam yang terpancar dari momentum serangan Void. Di samping, ketika dirinya tetap menjaga jarak yang dekat dengan Sturdy, Sticky Girl yang jauh di belakang tak akan dengan ceroboh menyerangnya.
“Hmmm. Apa yang direncanakan oleh Adrian? Gerakannya sudah mulai monoton.” Dari jauh, Profesor Dios pun memberikan tanggapan atas pertarungan Adrian.
Sekali lagi serangan Void siap diaktifkan. Sturdy pun segera menjauhkan diri dari Adrian. Namun seakan telah menunggu saat ini, Adrian mengamati serangan itu baik-baik. Dan begitu dilepaskan lantas mendekat, Adrian segera menghindarinya kemudian dengan sigap menangkis remahan-remahan sinar hitam sisa yang terpancar dari momentum bulatan sinar hitam dengan pedang Crusader.
Kala itu, Adrian-lah yang berdiri di area yang berkabut. Bisa dibilang, posisi Adrian kali ini yang lebih dekat ke markas daripada ketiga monster yang bertarung menghadapinya tersebut.
Begitu para monster memfokuskan pandangannya, rupanya Adrian telah berganti senjata lagi dari pedang Crusader ke panah Arjunanya. Di luar daripada itu, Adrian telah bersiap menembakkan ketiga panah api.
“Flash. Flash. Flash.”
“Void, waspada!”
Teriak Sturdy tepat ketika Adrian melepaskan ketiga anak panah api dari tangannya tersebut.
Tetapi Sturdy telah salah sangka. Sedari awal, sasaran panah-panah api yang ditembakkan oleh Adrian itu bukanlah Void.
“Prak, prak, prak.”
Ketiga anak panah api berhasil mengenai Sticky Girl dengan indah tanpa ada satupun yang terlewat. Seketika, tubuh Sticky Girl yang dipenuhi getah menjijikkan itu terbakar, lantas diapun berubah menjadi butiran-butiran debu data.