101 Avatars

101 Avatars
145. Hari Pernikahan Adrian - TAMAT



Jumat, 2 mei 2064, sekitar setahun sudah sejak perjalanan menegangkan kami ke dunia virtual.  Pasca kejadian itu, kulihat Paman Dios beserta para kakek dan nenek yang lain, juga Kak Arskad sibuk dengan penelitian mereka.  Tidak lain adalah untuk menemukan kembali Paman Kaiser dan istrinya, Bibi Kaisha yang selama ini terjebak di dunia virtual.


Lebih dari 30 tahun mereka menghilang, tetapi tidak ditemukan pula petunjuk tentang keberadaan mereka.  Akan tetapi, sejak perjalanan terakhir kami ke dunia virtual, akhirnya mereka menemukan petunjuk keberadaan mereka.


Paman Kaiser dan Bibi Kaisha yang tengah hamil besar disaksikan dengan jelas oleh Paman Dios, Paman Arthur, dan Paman Shou dalam perjalanan pulang mereka kembali ke dunia nyata.  Aku berharap dengan betunjuk ini, keberadaan mereka berdua benar-benar akan ditemukan.  Walaupun aku belum pernah bertemu dengan mereka, tetapi mereka adalah sahabat baik Ayah dan Ibu.  Aku sangat menantikan untuk segera bertemu dengan mereka.


Sayangnya, masih banyak penelitian yang harus kami jalani sebelum hal itu dapat terwujud mengingat keterbatasan pengetahuan kami saat ini mengenai konsep dunia virtual.  Tetapi kemungkinan masa depan itu luas.  Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dua atau tiga tahun ke depan.


Melupakan sejenak soal itu, hari ini adalah hari bahagiaku.  Kalian bertanya mengapa?


“Nak, sudah siap?  Jangan lama-lama di toilet.  Jangan biarkan pengantin wanitamu menunggu.”  Teriak Ibu padaku.


Yah, hari ini aku akan segera resmi menjadi suami Nafisah.


Ijab qabul kujalankan dengan penuh khidmat.  Suasana meriah seakan mendukung suasana hatiku yang penuh dengan bunga hari ini.  Kulihatlah wajah penuh senyum Nafisah dari samping.


“Ah, mulai detik ini.  Wajah cantik itu akan setiap hari bersamaku.”  Betapa aku senang dengan hanya memikirkannya.


Satu-persatu tamu pun bersalaman denganku.  Tidak ada yang spesial.  Semuanya masih seperti yang dulu.  Bobi dengan istrinya, kemudian Zenri yang masih lajang, teman-teman sejurusanku yang lain, juga ada Kak Kaiser dan kakakku Syifa yang datang bersama sebagai pasangan dengan bayi mereka yang belum genap berumur dua bulan yang baru-baru ini dilahirkan.  Semuanya terlihat tulus dan bahagia menyelamati aku.


Kalau ada yang spesial, mungkin itu adalah Judith dan Zio.  Padahal begitu mereka dekat selama enam tahun ini.  Tetapi siapa yang menyangka, Judith justru menyatakan cintanya pada seniornya di klub baca.  Siapa lagi ya namanya?  Ah, kalau tidak salah Lowin?  Lowene?  Ah, aku lupa namanya.


Dia pemuda yang kelihatan pintar dengan kacamata khas nobitanya.  Kuharap dia mampu menjaga Judith dengan baik.  Kulihatlah pemandangan di mana dia akhirnya bertemu dengan calon kakak iparnya, Kak Kaiser.  Awalnya, kupikir dia adalah pemuda yang culun dari tampangnya.  Di luar dugaan, dia pemuda yang cukup berani.  Dengan tanpa gentar, berbicara dengan penuh percaya diri, namun tetap menjaga kesopanan di hadapan calon kakak iparnya itu.


Sebagai sambutan, ayahku-lah yang berbicara.  Awalnya, kupikir ayah dan ibuku membenciku karena meninggalkan aku bersama dengan Kak Faridh dan Kak Syifa sendirian di negeri ini.  Aku sama sekali tak menyangka bahwa ada alasan yang mendalam dari semua itu.


Kini, aku tak lagi membenci kedua orang tuaku.  Justru, aku sangat menyayangi keduanya.  Malah sebaliknya kalau boleh dibilang, aku sedikit iri dengan Ayah dan ingin memiliki badan atletis sepertinya.  Lihatlah usianya sudah hampir memasuki 60 tahun, tetapi massa ototnya tetap begitu baik dan penampilan fisiknya masih terlihat bugar.  Aku bertanya-tanya, apakah itu pengaruh karena ayahku memiliki kekuatan spiritual.


Tetapi ada satu hal yang membuatku sedih.  Ketiadaan Kak Faridh di sisiku.  Andaikan Kak Faridh masih hidup sampai saat ini, tentu kebahagiaanku hari ini akan lengkap.


Apapun itu, kita sebagai manusia hanya bisa melangkah maju, mengukir kisah hidup kita di dunia, lantas memberikan tongkat estafet kepada generasi selanjutnya.  Semoga dunia akan selalu damai seperti saat-saat ini.