101 Avatars

101 Avatars
86. Mengenang Perjuangannya



Beberapa hari setelah kejadian itu, situasi kembali menjadi tenang.  Aku pun kini mulai kembali ke aktivitas kehidupan kampusku seperti biasa.  Saat ini adalah masa-masa pengurusan KRS.  Aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah yang sesedikit mungkin agar dapat berfokus pada pencarian dan pembasmian sisa-sisa monster avatar.  Soalnya, tidak banyak waktu lagi yang tersisa menuju kehancuran dunia jika para monster avatar tidak segera dimusnahkan.


“Hai, Adrian.  Ada apa dengan muka yang terlihat suram itu?”  Tiba-tiba sebuah suara yang imut nan menggoda menyapaku sembari menyentuh pipiku dengan ujung jari telunjuknya.


Seketika mukaku memerah karena sosok itu tidak lain adalah Nafisah.


“Ah, Nafisah?”


“Hehehehehe.”  Kulihat wanita pujaanku itu tertawa riang begitu aku salah tingkah setelah menyadari keberadaannya.


Nafisah pun mendekat ke arahku seraya mengintip lembar KRS yang sedang kupegang.


“Eh, Adrian hanya mengambil 4 dari 6 mata kuliah wajib bagi anak tahun pertama?”  Ujar Nafisah padaku.


Posisi kepalanya tepat berada di bawah daguku, dekat dengan jantungku yang membuat aku tak dapat mengendalikan detak jantungku yang kian cepat.  Mungkin jika bukan logika menahan hasratku ini, aku sudah akan memeluk dan mencium wanita mempesona yang ada di hadapanku tersebut.


Gegara Freeze, pasti Nafisah sudah menyadari perasaanku padanya.  Tetapi mengapa dia masih dekat-dekat denganku?  Apakah aku bisa menganggapnya sebagai isyarat bahwa dia juga mencintaiku?  Ingin rasanya aku memeluk dan tak ingin melepaskan lagi wanita ini dari genggamanku.


Tapi yah, untuk sementara akan kutahan dulu.  Aku tak ingin ada pikiran lain saat ini yang mengganggu pelaksanaan tugasku membasmi para monster avatar.  Semuanya akan percuma soalnya jika dunia sampai hancur.


Nafisah pun serta-merta menatapku dengan wajah kecilnya ditambah lesung pipi dan lekuk bibirnya yang indah lantaran gigi gingsulnya itu begitu aku agak lama tak menjawab pertanyaannya tersebut.


Sekali lagi dadaku rasanya akan pecah.  Namun, aku tetap mencoba mempertahankan kewarasanku yang telah sampai di ubun-ubun itu.


“Yah, kamu tahu sendiri kan, Nafisah.  Untuk saat ini, aku harus memfokuskan pikiranku pada pekerjaan sampinganku sebagai Ksatria Panah Biru.”  Jawabku malu-malu pada wanita itu.


“Yah, kurasa itulah Adrian yang seperti biasanya.”  Ujar Nafisah padaku seraya tersenyum cerah yang entah aku kurang mengerti sendiri apa maksudnya.


“Syukurlah bahwa kamu tidak lagi merasa terpuruk.  Aku yakin Kak Kaiser, ah, tidak, Kak Healer kah, tidak ingin kamu terlarut dalam kesedihan.  Jika kamu butuh pertolongan, keluarga Wijayakusuma siap membantu kapan saja kok, Adrian.  Camkanlah itu baik-baik, terlebih, kamu sudah bukan orang lain di mata Ayah.”  Lanjut Nafisah dengan senyum khasnya yang menawan itu.


Yah, Nafisah benar.  Aku tetap harus melangkah maju melanjutkan perjuangan Healer yang dipercayakannya padaku itu.  Healer telah memberikan peluang kepada umat manusia untuk bertarung dengan semua rencananya.  Mana mungkin aku akan menyia-nyiakan tiap tetes keringat yang dia perjuangkan untuk semua ini yang bahkan membuatnya sampai mengorbankan nyawanya sendiri.


Walaupun aku masih marah dan takkan pernah melupakan terhadap perbuatan orang-orang yang sampai tega berbuat seperti itu padanya, tiada gunanya lagi memikirkan itu sekarang.  Namun jujur, setidaknya aku ingin mereka menyesali perbuatan mereka lantas meminta maaf kepada jasad Healer yang telah berubah menjadi butiran-butiran debu data tersebut.


Akan tetapi, seakan hanya bagian event dalam suatu peristiwa sejarah yang terlupakan, kini mereka semua hanya kembali ke kehidupan normal mereka seperti sedia kala, tertawa riang, beraktivitas kembali seakan tidak terjadi apa-apa.  Sementara, Healer kini telah tiada akibat perbuatan mereka.  Mereka semua sama sekali tidak merasa bersalah hanya lantaran Healer juga adalah seorang monster avatar.


Padahal aku juga tahu itu, bahwa suatu saat Healer tetap harus mengalaminya karena kita juga tak dapat menghindari tolakan gaia oleh keberadaannya, namun setidaknya kuingin mentorku itu memperoleh penghargaan dan pengakuan terhadap jasa-jasanya, bukannya tatapan dingin pada sosoknya yang berjuang, yang bahkan kini hanya hasil perjuangannya yang diingat, sementara sosok yang berjuang mewujudkannya, mereka sengaja hapus dalam ingatan mereka sendiri.


Sungguh-sungguh sangatlah tidak adil bagi Healer.


“Ah, Adrian ketemu.”


“Oh, Adrian, Nona Nafisah, apa kami tidak mengganggu kalian berdua mesra-mesraan?”


Namun, sebelum aku sempat mengobrol lebih jauh mengenai Nafisah persoalan ucapan terakhirnya itu, Zenri dan Bobi keburu datang, terlebih Bobi benar-benar memecahkan timing yang pas yang membuat akan canggung jika aku membahasnya lagi.


“Mesra-mesraan ndasmu.  Kami hanya bercakap-cakap biasa saja.  Tapi yah, itu tidak salah juga.”  Ujarku malu-malu mengomentari pernyataan Bobi sembari melirik Nafisah.


Kulihat Nafisah tersenyum lembut padaku.  Sesaat kemudian, dia pun berujar, “Aku akan selalu menunggu kamu, Adrian.”  Ujarnya dengan muka yang tampak memerah lalu segera berlari dari hadapanku.


Tapi apa maksudnya dengan selalu menungguku?  Apa itu berarti Nafisah juga menunggu pernyataan cintaku untuknya?  Tentu saja tidak.  Pasti yang dimaksudnya adalah menungguku meminta pertolongan keluarganya dalam menghadapi para monster avatar.


“Ada apa, Adrian?  Apa sesuatu sedang mengkhawatirkanmu?”  Ucapan Bobi lantas mengagetkanku dan segera menyeret aku kembali ke dunia nyata dari lamunanku yang tidak-tidak itu.


“Tidak ada kok.”  Jawabku singkat.


Bobi sejenak memperhatikanku dengan seksama, membolak-balikkan pandangannya antara wajahku dan lantai, tampak sedang mempertimbangkan sesuatu apakah layak atau tidak layak untuk diucapkan.


Namun akhirnya, sebuah suara pun keluar dari tenggorokannya itu, “Para netizen itu, padahal tidak tahu apa-apa, tapi mereka malah sembarangan berkomentar tentang Pahlawan Darah Merah.  Tetapi apapun ucapan mereka, aku dan tentu saja orang-orang yang pernah diselamatkannya, berterima kasih melalui lubuk hati kami yang paling dalam terhadap tindakan heroik dari sang pahlawan di luar siapa di balik identitas topeng tersebut.”


Aku menunduk frustasi terhadap pernyataan Bobi tersebut.  Kugeletupkan gigi-gigiku menahan marah.  Melihat reaksiku itu, Bobi lantas menepuk pundakku.


“Adrian?”  Lirih Bobi.


Karena dirongrong oleh amarah, tanpa sadar, aku pun berujar,


“Lantas, bagaimana dengan mereka yang bersama-sama dengan kejamnya membunuh sang pahlawan yang telah tak berdaya akibat kehabisan tenaga setelah menyelamatkan mereka hanya karena ancaman monster?  Lantas bagaimana dengan mereka yang berpikir itu tidak apa-apa hanya karena identitas sang pahlawan yang juga monster?!”


Aku sekali lagi tertunduk frustasi setelah mengungkapkan isi hatiku itu kepada Bobi.  Aku sadar bahwa aku seharusnya tidak melampiaskannya pada Bobi yang saat itu berupaya untuk menghiburku.  Namun, tetap saja logikaku dikalahkan oleh amarah yang memuncak ini.


Namun kulihat Bobi hanya tersenyum padaku.  Dia seraya berkata, “Begitulah kejamnya dunia.  Bahkan perbedaan di antara yang sama spesies saja membuat mereka tega untuk saling hina dan rundung satu sama lain.  Apalagi jika itu mencakup perbedaan race.  Aku yang identitasku sebagai mutan telah diketahui, paling mengerti akan hal tersebut.  Akan tetapi, teman-teman di sekelilingku yang mencoba memahami aku-lah yang membuat aku tetap kuat.”


Bobi lantas terdiam sejenak sebelum lanjut berucap.


“Tidak ada yang dapat kita lakukan terhadap prejudge umat manusia yang kuat akan keberadaan asing bagi mereka.  Tetapi, Adrian, sang pahlawan tentunya sudah tahu hal itu, tetapi tetap memilih untuk berjuang karena bagaimana pun tujuan yang diyakininya itu jauh lebih penting baginya.  Maka sudah jelas apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang menghargai perjuangannya itu, terutama kamu sebagai muridnya.”


Ucapan Bobi itu seketika menyadarkanku kembali tentang apa yang terpenting dari perjuangan ini.  Perjuangan berat di mana kami harus selalu siap untuk mengorbankan nyawa, demi tujuan yang lebih besar, yakni demi kelangsungan hidup spesies kami.