101 Avatars

101 Avatars
92. Kegeniusan Kaiser dan Rasa Inferior Adrian



Di ruangan itu, Kaiser menunjukkan raut wajah yang rumit.  Dia memikirkan baik-baik apa yang telah dikatakan Healer padanya lewat video wasiatnya itu.


“Tolong gantikan dirinya melindungi keluarganya kah?  Sungguh permintaan yang egois!  Aku tidak mengerti bagaimana bisa monster yang tak memiliki perasaan seperti itu sampai bisa mengorbankan diri untuk orang lain.”  Di dalam ruangan itu, Kaiser bergumam dengan tetap mempertahankan ekspresi rumit tersebut yang seperti habis dipaksa menghadiri banyak acara yang tak disukainya seharian.


“Memangnya kamu sendiri mengerti apa yang dimaksud keluarga?  Seenaknya saja memberikan beban kepada orang lain setelah memanfaatkan kesadaranku seenaknya selama lima tahun.  Jika mereka memang sangat berarti, seharusnya dia bertahan hidup, dasar bodoh!”  Kaiser tidak henti-hentinya bergumam, mengenang setiap kata yang diucapkan oleh Healer tersebut.


“Tanpa kamu bilang pun, mereka kini juga adalah keluargaku.  Aku pasti akan melindungi mereka.  Dan juga, mengapa kamu selalu memanggilku dengan teman berharga?  Apa aku kenal kamu sebelumnya?  Ah, apa karena aku rankernya kali ya selama masa-masa Hoho game?  Dasar, Healer itu!”


Kaiser pun merebahkan badannya di pembaringan dan beranjak akan tidur.  Namun, dia tidak bisa tidur.


“Wah, ini seru juga.  Apa ini?”


“Hahahaha.  Ini game jadul yang sering dimainkan oleh Healer.”


“Paman Silent, ayo ikut main!  Tidak seru kalau hanya kita berempat.  Ayo ikut gabung, Paman!”


“Betul, betul, jangan hanya di kamarmu saja.”


Kloning dirinya yang ditinggalkan oleh Healer kepada Kaiser beserta para avatar dan side avatarnya, sedang ribut-ribut bermain suatu game jadul lewat komputer tua Kaiser di kamarnya.


“Berisik!  Bisa diam tidak, kalian?!  Hah?!”  Kaiser yang naik pitam pun, akhirnya memarahi mereka sebagai sumber keributan yang mengganggu tidurnya tersebut.


***


Hari esok pun tiba.  Kaiser kembali memasuki kampus.  Tidak, tepatnya dia menggantikan identitas Healer yang selama lima tahun ini telah menggunakan identitasnya dan berperan sebagai dirinya tanpa izin.  Beruntung, layar virtual drone yang menangkap gambar Healer berubah wujud menjadi Kaiser lantas berubah lagi menjadi Avatar Bomber, tidak terlalu jelas, dan jeda dia berubah wujud dalam sosok Kaiser juga sangat singkat.


Tiada pula rekaman video itu yang tersebar di internet.  Semuanya hanya mengaitkan antara sosok Pahlawan Darah Merah dan Healer.  Alhasil, identitas Kaiser pun aman sehingga dapat digunakannya untuk menjalani kehidupan biasa yang berbeda dengan Adrian.  Ini mungkin saja dapat dimanfaatkannya sebagai keuntungan kelak dalam pertarungan mereka.


Tentu saja, tetap ada beberapa orang yang mengetahui identitas Kaiser yang menggantikan Healer kembali ke identitas awalnya, semisal Bobi dan Nafisah.  Tetapi mereka adalah orang-orang baik yang merupakan teman Adrian yang terpercaya.


Akan tetapi, kehidupan Kaiser yang biasa di fakultasnya itu, justru membuat Adrian semakin terganggu.  Adrian kini memiliki banyak penggemar yang selalu saja ingin dekat dengannya, sementara Kaiser sama sekali tidak mengalami hal tersebut.


Hal ini lantas semakin mengguncang rasa inferior Adrian di mana dia harus disaksikan dalam keadaan dipuja-puja sebagai sosok pahlawan tersebut oleh orang yang sebenarnya jauh di atasnya yang menjalani hidup dalam kebiasaan.


“Adrian, bisa bicara sebentar?  Ada yang ingin kusampaikan.”  Sapa Kaiser ketika balik melihat Adrian.


Padahal Adrian sudah berusaha keras menghindari sosok sumber rasa inferiornya itu, tetapi justru orang itu sendirilah yang mendatanginya.  Dia tidak mungkin lagi dapat menghindar padanya perihal pandangan mata mereka terlanjur telah bertemu.


“Ya, Kak Kaiser, ada apa?”  Jawab Adrian dengan senyum yang betul-betul tampak dipaksakan.


“Maaf, kemarin aku kelewatan.”  Hanya kalimat singkat itulah yang diucapkan oleh Kaiser kepada Adrian.  Dia lantas segera pergi meninggalkan pemuda itu begitu menyadari bahwa pemuda itu sangat menghindarinya.


Karena sikap naifnya tersebut, Adrian merasa tidak enak menuju ke markas sore itu sepulang kuliah.  Dia pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi salah satu tempat samping mall di mana biasanya para artis jalanan sering melakukan busking.


Betapa kagetnya Adrian begitu menyadari dari suaranya bahwa yang melakukan busking kala itu adalah tidak lain Priscilia, sang penyanyi lagu klasik ternama di eranya, serta Robert, sang violinist yang juga ternama di eranya, yang sekitar tujuh sampai lima tahun silam memang sempat kembali terkenal setelah memutuskan untuk membuat grup duet bersama.


Tetapi apa yang membuat Adrian shok adalah baik Priscilia maupun Robert sebenarnya telah tewas pada malam bencana Hoho Game lima tahun silam setelah dibunuh dengan kejam lantas dimimik tubuhnya oleh Singer Nana dan Violar yang bahkan sempat menggemparkan dunia permusikan klasik lima tahun silam itu.


Hanya satu kesimpulan jika seperti itu.  Kedua sosok di hadapannya itu adalah monster avatar Singer Nana dan Violar yang sedang menyamar sebagai manusia.


Namun, mereka berdua hanya sedang busking di mana Singer Nana menyanyi dengan indah diiringi oleh sentuhan lembut suara musik violin dari Violar.  Tiada yang mengenal mereka lantaran mereka berdua mengenakan topeng, serta penikmat musik klasik di negara ini tidaklah banyak karena sebagian besar dunia permusikan tanah air didominasi oleh musik dangdut, pop, rock, serta keroncong.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?”  Adrian menghela nafas dalam kebingungannya.


Dia pun segera menghubungi markasnya untuk meminta pendapat.  Mr. Aili lantas meminta Adrian untuk mengawasi saja dulu sembari Kaiser turut menuju ke sana lantaran jangan sampai ada statement negatif kembali dari warga masyarakat yang menyudutkan tim mereka setelah merebaknya kasus Healer yang menyelinap sebagai Pahlawan Darah Merah sebelumnya.


Untunglah, para polisi kala itu yang tak lagi di bawah kendali Freeze mendukung mereka sepenuhnya lantas mengembalikan citra positif masyarakat bagi tim mereka.


Satu lagu busking selesai dan melangkah ke laju yang selanjutnya.  Namun, tetap tidak ada tanda-tanda baik dari Singer Nana maupun dari Violar akan berbuat sesuatu pada kerumunan.  Adrian pun hanya menonton busking mereka yang justru tanpa sadar membuat Adrian menilai busking mereka sangat bagus sampai-sampai layak masuk penghargaan musik terbaik.  Seperti yang diharapkan dari salah seorang penggemar musik klasik.


Hingga tibalah mereka mengakhiri lagu yang kelima di mana sudah banyak penonton yang berkumpul menonton penampilan busking mereka karena lantunan suara emas Singer Nana dipadukan oleh musik violin Violar yang sangat merdu hingga menggugah jiwa tersebut, Singer Nana dan Violar lantas membuka topeng mereka secara bersamaan.


“Eh, bukankah mereka Duet Priscilia dan Robert yang dulu sempat terkenal?”


“Tapi bukankah mereka sudah meninggal lima tahun silam karena bencana Hoho game.  Bukankah itu sempat ramai di berita?”


“Atau jangan-jangan mereka adalah…”


Seketika, kerumunan pun mulai menyadari bahwa mereka bukanlah manusia, melainkan sosok monster avatar yang sedang menyamar.  Hal tersebut lantas memicu kerumunan untuk segera berhamburan secara tidak teratur demi menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.


Belum cukup sebulan yang lalu, Kota Jakarta ditimpa musibah akibat ulah monster avatar dengan virus zombienya yang menewaskan sekitar sepuluh persen populasi kota tersebut. Mereka tidak ingin lagi mengalami hal yang serupa.  Mereka telah mengingat kembali fobia mereka lima tahun silam tentang betapa berbahayanya para monster avatar tersebut.


Yah, walaupun seluruh manusia yang meninggal selama bencana zombie tersebut adalah disebabkan oleh serangan fisik warga yang ketakutan pada mereka.  Tidak ada yang meninggal akibat racun Fog maupun boneka nano Remote hari itu karena semuanya berhasil diselamatkan oleh Healer.


Di kala Adrian telah mengaktifkan gelang perubahnya dan mentransfer wujudnya ke dalam bentuk Avatar Arjuna, Singer Nana dan Violar pun mendekati Adrian tetap dalam wujud manusia mereka.


Tanpa diduga oleh Adrian, kedua monster dalam wujud manusia itu malah menundukkan kepala mereka, merendahkan diri mereka sendiri di hadapan Adrian.


“Konser itu telah menjadi penutup yang sempurna sebagai kenangan berharga kami di hati orang-orang.  Walaupun tidak semegah di ingatan Priscilia dan Robert yang asli, kami sudah puas dengan semua itu.  Nah, sekarang, Nak Pahlawan, kami sudah siap tanpa penyesalan sedikit pun.  Kirimlah kami ke tempat di mana kami seharusnya berada.”  Ujar Singer Nana dengan penuh keyakinan, sementara Violar turut pula tampak sangat mendukung keputusan tersebut.