101 Avatars

101 Avatars
39. Kebaikan nan Menyayat



Tanpa pernah diduga-duganya, Thief dicegat oleh Crusader.


“Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?”  Ujar Thief kepada Crusader, namun tampaknya sedari awal, Crusader tak berniat lagi berbicara.  Dia pun serta-merta mengayunkan pedangnya kepada Thief.


Kita kembali ke beberapa hari yang lalu ketika Zenri mendapati Riri yang bertransformasi menjadi sosok monster.  Sedari awal, kejadian tersebut bukanlah hal yang kebetulan terjadi.  Thief-lah yang telah mengaktifkan kekuatan fault senses-nya kepada orang-orang di sekitar kala itu untuk menipu orang-orang bahwa telah terjadi gempa bumi.


Sejatinya sama sekali tidak terjadi gempa bumi saat itu.   Semuanya hanyalah tipuan Thief belaka.  Kemudian, Thief pulalah dengan kekuatan guide sense-nya yang membawa Zenri menyaksikan Riri berubah tanpa Zenri sendiri menyadari kalau pergerakannya itu telah dituntun oleh sesuatu.


Ya, Thief adalah avatar yang sangat ahli dalam memanipulasi indera yang membuatnya cukup berbahaya.  Akan tetapi, hal itu tentu bukan masalah bagi Crusader, sang ksatria cahaya yang kebal terhadap ilusi.  Namun mengapa dia meminta bantuan Kaiser dalam mengalahkan Thief?


Adu pedang dan rantai kunai pun terjadi antara Crusader dan Thief yang sama-sama merupakan avatar bernomor seri dua puluh-an yang bertipe weapon expert.


Thief melayang-layangkan rantai kunainya, tetapi dengan elegan ditangkis oleh pedang Crusader yang bercahaya.  Sampai pada akhirnya, ketika senjata Thief berhasil dijatuhkan oleh Crusader ke tanah, serta-merta Crusader maju dan menebas dada Thief.


Thief yang merasa tidak bisa memenangkan pertarungan terhadap Crusader, lantas mencoba kabur dengan kekuatan thousand steps-nya, kekuatan yang mampu membuatnya berada pada kejauhan 1000 langkah dari tempatnya berdiri sekarang dari suatu garis lurus dalam sekejap.


Kekuatan inilah yang diantisipasi oleh Crusader sehingga dia meminta tolong kepada Kaiser.


Kaiser yang mengaktifkan side avatar Fast-nya pun serta-merta berada di depan Thief, lalu kemudian,


“Slash!”


Senjata rantai kunai milik Thief sekali lagi berhasil dijatuhkan ke tanah.  Tetapi kali ini, kekuatan Enigma aktif, menyerap energi rantai kunai lalu ditransfer ke dalam bentuk HP untuk meningkatkan durabilitas pedang tersebut.  Dalam sekejap mata, rantai kunai pun menghilang menjadi butiran-butiran data.


Melihat kebengisan orang yang berdiri di hadapannya kala itu, seluruh badan Thief gemetaran.  Dari balik helmetnya, Kaiser memberikan pandangan menghina kepada Thief seraya mengatakan,


“Sungguh menyedihkan!  Tanpa senjata, monster avatar tipe kalian tidaklah lebih kuat dari avatar bernomor lima puluh-an.”


Kemudian, Thief pun menyaksikan arah pandangan Kaiser meninggi seolah sedang melihat sesuatu di belakangnya.  Kaiser lanjut berucap,


“Lakukanlah, Crusader!”


Thief yang gemetaran itu pun akhirnya merasakan kebengisan sang pedang cahaya Crusader.  Lalu dalam sekejap, wujudnya pun ikut hilang menjadi butiran-butiran data.


***


Di saat bersamaan, Adrian yang tak memiliki mata kuliah pagi, lantas menghabiskan waktunya di ruang latihan.  Kali ini, dia bertarung melawan simulasi pemain Ranker Freeze, yang tidak lain adalah sisa-sisa data pertarungan yang ditinggalkan oleh kakaknya sendiri di main server Hoho game.


AI5203 akhirnya turut memutuskan untuk tak memperlakukan Adrian lagi sebagai anak-anak dan benar-benar melatihnya dengan sungguh-sungguh setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Kaiser padanya.


Beberapa saat kemudian, Profesor Melisa turut masuk ke ruang latihan virtual tersebut.  Setelah ronde pertarungan terakhirnya berakhir, Adrian pun akhirnya mendapati sosok Profesor Melisa di tempat itu.  Adrian lantas menghentikan sesi latihannya untuk menyapa Profesor Melisa.


***


Dengan pandangan yang lembut, kulihat Profesor Melisa menatapku.  Di situlah Profesor Melisa berkata,


“Kudengar, kamu kemarin malam bertengkar dengan Kaiser, Adrian?”


“Itu…Bukan begitu.  Aku hanya kesal dengan sikapnya yang memperlakukanku seperti anak-anak.  Padahal aku serius ingin berlatih agar menjadi rekannya yang setara.  Tapi orang itu malah menghina upaya yang telah aku lakukan selama ini.”  Aku berusaha menjawab pertanyaannya itu sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang aku rasakan.


Profesor Melisa lantas tersenyum lembut padaku seraya balik berkata,


“Aku paham bahwa terkadang Kaiser terlihat dingin, tetapi sebenarnya, dia melakukan semua itu untukmu.  Dia yang telah membawamu ke dalam pertarungan, padahal kamu adalah satu-satunya kerabat Syifa yang tersisa.  Oleh karena itulah dia sungguh-sungguh ingin melindungimu sebagai bentuk tanggung jawabnya.  Jadi Adrian, jangan terlalu menyalahkan Nak Kaiser.”


“Tetapi orang itu sama sekali tidak menghargai usahaku…”


“Itu…”


“Mengapa tidak mencoba membicarakannya baik-baik sekali lagi dengan kepala dingin pada Nak Kaiser?”


Aku pun tertunduk.  Benar kata Profesor Melisa.  Hal ini bisa saja karena kesalahpahamanku belaka akibat tanpa sadar aku memiliki rasa inferioritas ini pada Kak Kaiser.  Aku harus membicarakan sekali lagi hal ini baik-baik kepadanya.


Malam pun tiba dan akhirnya Kak Kaiser kembali ke markas.  Di kala itulah, aku mendekatinya seraya mencoba meminta maaf dan membicarakan penyebab pertengkaran kami kemarin secara baik-baik.


Kulihat, Kak Kaiser tersenyum seraya berkata,


“Maafkan aku juga, Adrian.  Aku sama sekali tak memahami perasaanmu sebelumnya.  Tapi ya, asal kamu tahu, bukan maksudku seperti yang kamu pikirkan.  Aku hanya ingin mengatakan bahwa ketimbang Freeze, avatar seperti Void lebih harus menjadi perhatianmu karena avatar jenis itu lebih cocok dikalahkan oleh jenis avatarmu ketimbang Bomber milikku.  Tetapi aku salah karena bukan berarti waktumu sia-sia dengan berlatih melawan Freeze.”


Kak Kaiser terdiam sejenak kemudian kulihat dia menggaruk-garuk pelipisnya.  Sesaat kemudian, Kak Kaiser pun lanjut berkata,


“Bagaimana kalau kau melihatku bertarung dengan Freeze, Adrian?  Akan kutunjukkan bagaimana cara terbaik mengalahkan Freeze dengan Avatar Arjuna.”


“Emang Freeze bisa kalah dari Arjuna, Kak?”  Aku pun berujar tanpa sadar karena heran dengan pernyataan Kak Kaiser yang tampak tak masuk akal itu.


Itu mungkin saja mengalahkan Freeze dengan Avatar Arjuna-ku yang telah dilengkapi side avatar Sly Dark dan Hard.  Namun, bisakah Avatar Arjuna sendiri saja yang merupakan terlemah ketiga mengalahkan Freeze, avatar terkuat di Hoho game itu?


Lalu Kak Kaiser memasuki ruang pelatihan virtual.  Dia memilih menggunakan Avatar Arjuna dan sebagai lawan adalah Freeze dengan data permainan Ranker-nya yang tidak lain adalah kakakku Faridh.


Begitu game dimulai, Kak Kaiser serta-merta menggunakan hampir setengah MP-nya untuk menembakkan hujan panah api ke atas.  Hal itu lantas membuat Freeze tak mampu mengaktifkan castle of ice-nya dan memilih berlindung menggunakan perisai es.


Setelah itu, Kak Kaiser berlari menerjang ke arah Freeze.  Hal itu membuat Freeze kaget lantas mengeluarkan jurus needle of ice.


“Heh.  Sesuai dugaan, cara bermain kakakmu Faridh, sangat mudah ditebak ya, Adrian.”  Ujar Kak Kaiser yang membuat keningku mengerut kesal.


Lalu dalam jarak dekat itu, tepat ketika Freeze menembakkan needle of ice, Kak Kaiser turut menembakkan panah listrik menembus celah sempit yang tak terlindungi es ketika Freeze dalam posisi menembakkan senjatanya.


“Bzzzzzzzzt.”  Freeze tersetrum lalu berada pada keadaan di mana dia tidak bisa bergerak untuk sementara.


Di saat itulah, Kak Kaiser mengganti senjatanya ke mode tombak lalu dengan sigap menebas-nebas Freeze yang sudah dalam kondisi tidak berdaya itu.  Pertandingan pun berakhir secara luar biasa di mana avatar terlemah ketiga, Avatar Arjuna, berhasil mengalahkan avatar terkuat, Avatar Freeze.


Sesuai dugaan, Kak Kaiser memang bisa segalanya.  Hal itulah yang mungkin menimbulkan rasa inferioritas di hatiku ini.  Aku tahu itu salah.  Seharusnya aku lega karena punya rekan yang kuat di sampingku.  Tetapi mengapa aku justru merasa dadaku sakit?


Kak Kaiser pun keluar dari ruang latihan virtual seraya berkata, “Kurang lebih begitu, Adrian, dasar-dasar mengalahkan Freeze dengan Arjuna.  Tentu saja kamu bebas mengembangkan metodenya sesuai style bertarung kamu sendiri dan juga harus diingat bahwa Avatar Freeze telah berevolusi bertambah kuat dari apa yang ada di dalam game.”


“Iya Kak.”  Jawabku singkat dengan tersenyum, mencoba menyembunyikan kebusukan hatiku ini yang termakan rasa inferioritas terhadap mentorku sendiri.


“Oh iya, Adrian, sebagai permintamaafanku atas kesalahpahaman kita sebelumnya, aku hendak menghadiahimu ini sebagai side avatar ketigamu.”  Ucap Kak Kaiser seraya mengeluarkan sangkar aneh itu yang kali ini telah berisi seorang wanita cantik di usia dua puluhan-nya di dalamnya.  Dia adalah sosok yang kukenal karena wanita itu adalah Rina, tidak, maksudku Crusader.


Tapi apa-apaan ini?  Ketimbang senang, aku malah merasakan hatiku bertambah perih.  Oh, aku baru sadar perasaan ini.  Mengapa aku merasakan perih adalah karena Kak Kaiser selalu saja menyuapiku untuk berkembang.  Jika dipikir-pikir, hanya side avatar Sly Dark yang kuperoleh dengan tanganku sendiri.


Kak Kaiser pulalah yang menyediakan side avatar Hard untukku dan kali ini, dia turut pula menyediakan Crusader.  Bahkan, Kak Kaiser pulalah yang memberikan gelang perubah Arjuna ini padaku.


Tidak, aku tidak boleh marah karena rasa inferioritas ini karena aku tahu semua itu dilakukan oleh Kak Kaiser dengan maksud baik.  Dia terlalu payah dalam mengerti perasaan orang lain sehingga dia sendiri tidak menyadari perbuatannya akan melukai harga diri seseorang.


Aku harus sadar bahwa sosok di hadapanku ini tidaklah sama dengan Kak Faridh.  Kak Kaiser adalah Kak Kaiser dengan caranya sendiri.  Sebagai rekan, aku harus mengerti sifatnya itu.


Oleh karena itulah, aku pun hanya menanggapi kebaikan hati menyayat Kak Kaiser itu dengan ucapan,


“Terima kasih, Kak Kaiser.”  Ucapku sembari berusaha tersenyum.