101 Avatars

101 Avatars
128. Quest Selamatkan Pangeran Kedua



SELAMAT DATANG DI QUEST ‘SELAMATKAN PANGERAN KEDUA’


UNTUK MENYELESAIKAN QUEST INI, ANDA HANYA DIMINTA UNTUK MELINDUNGINYA SAMPAI HARI PENOBATANNYA MENJADI RAJA BERKAHIR


Pemberitahuan yang secara tiba-tiba muncul di hadapan Adrian dalam bentuk papan hologram yang aneh, lantas mengagetkannya.


“Dengan kata lain, untuk keluar dari tempat ini, aku hanya perlu menjaga Pangeran Kedua hingga hari penobatannya jadi raja ya. Tetapi mengapa bukan Pangeran Mahkota. Trus, tidak adakah Putra Mahkota di dunia ini?” Gumam Adrian dalam hati sembari terus menatap pemuda yang tiada henti-hentinya berceloteh memarahinya di hadapannya.


“Praak.” Karena mungkin tak tahan lagi karena menganggap Adrian mengabaikannya di mana sedari tadi Adrian menatapnya, tetapi tampak pikirannya terbang ke arah lain, pemuda itu pun memukul meja dengan keras.


“Hei, Pengawal Adrian! Kamu dengar nggak sih apa yang sudah aku omongkan?!” Ujar pemuda itu dengan marah.


“Hmmm, maaf aku bertanya, anak muda. Apa mungkin kamu itu Pangeran Kedua?”


Tampak urat-urat saraf keluar dari pelipis pemuda itu. Dia menggenggam jari-jemarinya dengan marah begitu mendengar ucapan Adrian tersebut.


“Kalian berdua, keluarlah!” Ujar Pemuda itu sembari mengusir keluar para dayang penyaji buah yang ada di hadapannya itu.


“Hei, Adrian, apa otakmu itu sudah konslet? Bercanda juga ada batasnya. Ucapanmu barusan itu, bisa saja membuatmu masuk ke tiang gantungan karena dianggap menghina keluarga kerajaan. Hah.” Ujar pemuda itu sambil menghela nafasnya.


“Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu identitasmu…”


“Mana bisa kamu tidak tahu identitasku sebagai Pangeran Kedua padahal kamu sudah menjadi pengawalku sejak 15 tahun lalu sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Jangan-jangan kamu mau bilang kalau kamu juga lupa kalau namaku Ivan. Hah.” Ujar pemuda itu sekali lagi seraya menghela nafasnya.


Adrian memang tidak tahu itu, tetapi dia kali ini hanya memilih untuk diam saja. Yang jelas dia telah mengonfirmasi bahwa orang yang harus dilindunginya itu adalah pemuda bernama Ivan, pengeran kedua, yang ada di hadapannya tersebut.


Waktu makan siang berlalu dan sang pangeran kedua kembali ke pekerjaan administratifnya yang menumpuk. Di situlah Adrian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksa bagian dalam tubuhnya tentang apakah dia benar-benar tidak mengenakan underwear.


“Hah, syukurlah. Ternyata aku memakai satu. Tetapi underwear apa ini? Mengapa longgar sekali? Pantas saja sedari tadi aku rasanya tidak memakai satu pun.” Ujar Adrian dengan puas.


Adrian tidak sadar bahwa sedari tadi, Ivan, sang pangeran kedua, telah mengamatinya dari jauh lantas mendekatinya. Begitu Adrian mengintip ke dalam underwear itu, di saat itu pulalah sang pangeran kedua kebetulan mengintip apa yang sebenarnya diamati oleh Adrian secara sembunyi-sembunyi. Dan betapa kagetnya sang pangeran kedua begitu dia mendapati sesuatu yang kecil dari tubuh Adrian itu sengaja ditampakkannya.


“Hei, kamu, apa yang kamu lakukan?! Tidakkah kamu punya rasa malu mempertontonkan itu-mu?!” sang pangeran kedua pun lantas memarahi Adrian.


“Eh, kamu melihatnya?” Ujar Adrian datar, tapi tampak jelas rasa malu dari wajahnya.


“Kamu, keluar!” pangeran kedua pun mengusir Adrian dari dalam ruang kerjanya.


Sementara itu, Adrian yang telah berada di luar,


“Hmm. Tampaknya untuk sementara waktu, takkan ada apa-apa yang akan terjadi pada pangeran kedua. Mungkin saatnya aku keliling istana ini dulu untuk mengumpulkan informasi.


Di situlah, Adrian akhirnya ke perpustakaan istana dan akhirnya menemukan sedikit petunjuk tentang suatu kerajaan di dunia itu.


Kerajaan tempat Adrian berada sekarang disebut sebagai Kerajaan Amora. Raja yang memerintah saat ini adalah raja ke-17 sejak kerajaan didirikan yang bernama Raja Buldoph. Sang raja hanya memiliki satu istri walaupun hukum kerajaan sebenarnya memperbolehkan poligami. Namun, sang istri, Permaisuri Gana, meninggal pada saat melahirkan pangeran ketiga.


Sang raja memiliki 3 orang anak yang semuanya adalah laki-laki, yakni Bistan, pangeran pertama sekaligus putra mahkota, Ivan, pangeran kedua, serta Adoles, pangeran ketiga.


“Yah, setidaknya hanya inilah informasi yang bisa kudapatkan dari perpustakaan istana. Hasilnya belum tentu juga akurat karena dibuat berdasarkan pengaruh sang raja. Tapi tampaknya, waktu telah cukup lama berlalu. Aku harus segera kembali ke sisi pangeran kedua. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya.” Ujar Adrian sembari kembali menuju ke tempat pangeran kedua.


Di sana, tampak pangeran kedua telah menunggunya dengan tampang yang tidak mengenakkan.


“Kamu ya, disuruh pergi, benar-benar pergi rupanya.”


“Yah, permintaan Pangeran Kedua adalah amanat.”


“Setidaknya tunjukkan i’tikad baikmu dong dengan merasa bersalah sambil menunggu di luar pintu. Atau jangan-jangan, kamu sudah beralih pihak dan kini mendukung kakak atau adikku?”


“Tidak, itu tidak mungkin, Yang Mulia.”


“Sudahlah, tak usah bahas lagi. Sekarang ikut aku untuk inspeksi keadaan penduduk.”


Sesi marah-marah pangeran kedua pun usai dan kini dia bersama dengan Adrian berjalan-jalan menyusuri pemukiman warga. Tampak kehidupan warga yang amat sejahtera. Di mana-mana banyak penjual buah-buahan, segala jenis rempah-rempah, gandum, pakaian-pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya. Adrian terlihat antusias dalam menikmati pemandangan abad pertengahan yang tidak biasa baginya itu.


“Tumben kamu menikmati pemandangannya dengan antusias, Adrian?”


“Yah, tentu saja, Yang Mulia. Pemandangan sebagus ini sangat sayang untuk dilewatkan. Memang aku menurut Yang Mulia seperti apa biasanya?”


“Yah, perhatianmu hanya terfokus kepadaku. Menjalankan tugasmu sebagai pengawal dengan baik.”


“Geh. Apa itu berarti sekarang aku tidak menjalankan tugasku dengan baik sebagai pengawal?” Ucap Adrian tersentak dengan pernyataan pangeran kedua sebelumnya.


“Hehehehehe. Aku justru lebih suka dengan Adrian yang sekarang. Kini kamu benar-benar menikmati hidupmu. Seharusnya memang begini daripada kamu terus saja memfokuskan pandanganmu pada pangeran tidak becus ini.” Sang pangeran kedua sejenak tertawa, namun kemudian ekspresinya berubah menjadi sendu dengan cepat.


“Apa yang Anda katakan Yang Mulia. Siapa yang berani mengatai Anda pangeran yang tidak becus, sini, aku pasti akan babat dia sampai habis.” Ujar Adrian dengan senyum ramahnya. Senyum itu lantas menyemangatai sang pangeran kedua kembali.


Sampailah mereka pada suatu gang. Pemandangan di situ tiba-tiba saja berubah dari penduduk yang makmur berubah menjadi mengenaskan. Rupanya, di balik kemakmuran negeri yang tampak dari luar itu, tersembunyi keadaan menyedihkan seperti ini di celah-celah sempit pemukiman yang tak terjangkau oleh kerajaan.


“Yang Mulia, ini?”


“Apalagi yang kamu tanyakan? Ini juga bukan kali pertamanya kamu menyaksikan pemandangan seperti ini. Memang benar bahwa Ayah telah memerintah kerajaan ini sebaik yang dia bisa. Namun tetap saja, ada celah-celah tempat berkumpulnya para penjahat, gelandangan, rumah ena-ena’ yang tidak bisa dia atasi. Karena ini otomatis terbentuk dari celah seiring dengan perkembangan masyarakat.”


“Di manapun pasti akan ada yang namanya penjahat, gelandangan, serta orang yang rela menjual tubuhnya demi kesenangan ya?”


“Ya. Kejahatan, kemiskinan, serta dorongan birahi yang salah pada dasarnya tidak bisa dihapuskan, hanya bisa ditekan agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat di permukaan. Tapi bukan itu sebabnya aku membawamu ke tempat ini sekarang, Adrian. Kali ini, kita akan menyelidiki tentang banyaknya kasus orang dunia bawah yang hilang dan banyaknya penemuan mayat yang gosong di selokan di mana energi kehidupan mereka disedot sampai habis.”


Ujar sang pangeran kedua dengan tampang yang sangat serius di mana Adrian tampak sangat shok saat mendengarkannya.