101 Avatars

101 Avatars
106. Infiltrasi ke Daerah Musuh



Di dalam ruangan yang luas itu, sang pohon yang disebut sebagai Pohon Keabadian semakin tumbuh dan tumbuh hingga hampir memenuhi seisi ruangan dengan cabang-cabangnya.  Di tengah-tengah inti pohon terdapat sesosok makhluk yang terlihat meringis sangat kesakitan.  Namun, tampak bahwa orang yang duduk di atas singgasana itu hanya melihatnya dengan ekpresi datar seraya menyeringai puas.


“Bagaimana perkembangannya, Void?”  Tanya orang yang duduk di atas singgasananya itu yang tidak lain adalah orang yang mengaku sebagai Xavier kepada salah satu ajudan setianya, Void.


“Semuanya berjalan lancar, Tuan.  Sebentar lagi, Pohon Keabadian akan terbangkitkan seutuhnya, lantas Tuan bisa segera menyerapnya.”


Mulut Xavier menyeringai atas jawaban dari Void tersebut.  Dia pun turun dari atas singgasananya lantas berjalan perlahan ke pusat Pohon Keabadian di mana sesosok makhluk itu mengerang kesakitan.


“Bruak.”


Xavier menajamkan cakarnya lantas mengoyak perut sosok makhluk tersebut.  Suara erangan Raging Fire bertambah kencang seiring Xavier mengoyak perutnya lantas memainkan tangannya di dalam perut Raging Fire tersebut.


“Hahahahaha.  Beginilah akibatnya jika kalian tidak patuh padaku.  Padahal kalian semua tercipta dari bagian tubuhku, tetapi mengapa kamu melawan perintahku?  Rasakan kini akibatnya.”


“Sedari awal, kami tak pernah meminta untuk dibangkitkan.  Kami semua menikmati hari-hari kami di dalam game.  Kamulah yang mengacaukan semua itu dengan memberikan kami perasaan ini yang membuat kami memiliki keinginan, sumber kesengsaraan kami.”  Ujar Raging Fire marah membalas ucapan Xavier tersebut.


“Plash.”


Xavier menarik cakarnya itu dari dalam perut Raging Fire.  Raging Fire meringis berupaya menahan rasa sakit yang dideritanya baik dari koyakan perutnya, maupun dari jantungnya yang seakan meleleh oleh Pohon Keabadian.


“Puak.”  Xavier melanjutkan penyiksaannya dengan menampik pipi Raging Fire dengan marah.


“Dasar makhluk hina.”  Dia pun memaki Raging Fire dengan nada rendah dan berniat untuk melanjutkan siksaannya tersebut.


Jika bukan karena bujukan dari Void untuk mencegahnya melakukannya dengan alasan Raging Fire adalah tumbal yang berharga, mungkin Raging Fire masih akan dalam penindasan Xavier dalam jangka waktu yang lebih lama.


“Gawat, Tuan!  Salah satu anakku mendeteksi beberapa penyusup memasuki tempat ini.”  Ujar Sturdy memecah keheningan sesaat.


“Apa?  Bagaimana bisa ada yang menemukan tempat ini?  Sudahkah kamu mengonfirmasi identitas mereka?!”  Ujar Xavier dengan marah.


“Mereka ada berenam, Tuan.  Dipastikan dua di antara mereka adalah Pahlawan Darah Merah dan Blue Batboy.”  Namun, Sturdy tetap menjawabnya dengan tenang.


“Dasar kurang ajar!  Lagi-lagi mereka hendak menghalangi rencanaku.  Kalian bertiga yang ada di ruangan ini, cegat mereka agar tidak memasuki tempat ini dan mengganggu ritual pembangkitan Pohon Keabadian!”


“Baik, Tuan.”


“Baik, Tuan.”


“Baik, Tuan.”


Jawab Sturdy, Void, dan Sticky Girl secara bersamaan.


***


“Dios, kamu yakin di sini tempatnya?”  Tanya Andika penasaran kepada Dios.


“Ya, tidak diragukan lagi dari jalur buahnya.”  Jawab Dios pada pertanyaan Andika tersebut.


“Ngomong-ngomong, berapa lagi monster avatar yang belum dikalahkan, Adrian?”  Kali ini, Airi yang bertanya kepada anaknya, Adrian.


“Eh, itu ada Raging Fire, Time, Void, Sturdy, dan Sticky Girl, jadi totalnya masih ada lima, Bu.”  Jawab Adrian.


“Oh ho.  Itu berarti kalau kita berhasil mengalahkan kelimanya hari ini, bumi dipastikan bisa selamat dari bencana tolakan gaia.  Kita tidak perlu menunggu waktu lebih lama sampai 25 hari lagi untuk mengatasi masalah ini.”  Airi pun berujar dengan optimis.


Namun sesaat kemudian, tanah tiba-tiba bergetar hebat.  Dari dalam tanah keluarlah puluhan golem yang diiringi munculnya para dummy.


“Mereka bermaksud memperlambat kita, rupanya.”  Ujar Adrian seraya meningkatkan kewaspadaannya dari balik tubuh Avatar Arjuna-nya itu.


“Kaiser, Adrian, kalian pergilah lebih dulu.  Kami yang akan menangani para golem dan dummy di sini.  Kami akan secepatnya menyusul jika sudah selesai menangani semuanya.”  Ujar Dios kepada mereka berdua.


“Baik.”


“Baik.”


“Apa maksudmu, Dios?  Kita kan bisa masuk secara bersama-sama setelah mengalahkan semua golem dan dummy ini.  Dengan kemampuan kita, pasti tidak akan memakan waktu terlalu lama bagi kita mengalahkan semuanya.”  Airi lantas memprotes keputusan Dios tersebut.


“Tampaknya Kakak sangat menyayangi Adrian ya.  Tetapi terkadang, kita harus melepas anak-anak kita agar mereka dapat berkembang.  Ini kesempatan yang baik buat Adrian dan Kaiser untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam bertarung.  Mereka terlanjur terlibat dengan semua ini, setidaknya mereka memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri.”


“Yah, kamu ada benarnya juga.”  Airi dengan cepat menyetujui pendapat adiknya tersebut.


“Tetapi bukan berarti kita dapat seratus persen melepaskan pengawasan kita begitu saja pada mereka.  Kakak, Andika, apa kalian sanggup menghadapi semuanya hanya dengan berdua?”


“Tentu saja bisa.”


“Iya, hal itu tidak masalah.”


Baik Andika maupun Airi menyanggupi perkataan Dios tersebut.


“Kalau begitu, para monster di sini akan kuserahkan pada kalian.  Arskad, ikut aku untuk mengawasi mereka berdua.”


“Baik, Profesor.”


Dengan demikian, Profesor Dios dan Arskad pun turut berpisah dengan Andika dan Airi demi mengawasi Kaiser dan Adrian.


***


“Tak tak tak tak tak tak.”


Terdengar gemuruh suara kaki tampak berlari sejumlah dua orang.


“Sruuut srut srut srut.”


Namun tiba-tiba, di hadapan mereka bertebaran getah-getah lengket yang mengandung asam yang sangat berbahaya.


“Adrian, waspada.  Ada sergapan.”  Kaiser pun memperingatkan Adrian untuk waspada.


“Iya, aku paham, Kak.”  Jawab Adrian dalam kewaspadaan.


Kemudian perlahan, ketiga sosok monster itu pun keluar dari balik tebalnya kabut.  Mereka adalah Void, Sturdy dan Sticky Girl.


“Ini gawat, berdasarkan informasi Profesor Dios, Pohon Keabadian sebentar lagi akan bangkit.  Kita tidak boleh membuang-buang waktu terlalu lama.  Kak Kaiser, majulah lebih dahulu.  Aku yang akan menahan mereka bertiga di sini.  Kak Kaiser yang memegang kunci penghancuran Pohon Keabadian kan?”


“Tapi apakah kamu baik-baik saja dengan itu?  Dua dari mereka adalah avatar bernomor belasan, sementara satunya lagi adalah tipe penjebak yang sangat licik.  Kamu akan kesulitan mengalahkan mereka bertiga.”


“Tenang saja, Kak Kaiser.  Pertarungan para orang tua di belakang akan selesai lebih cepat, lantas akan membantu aku di sini.  Lagipula, aku sudah bertambah kuat sehingga tiga ekor monster avatar saja mana mungkin bisa mengalahkanku.  Nah, pergilah sekarang, Kak Kaiser!  Aku akan membukakan jalannya untuk Kakak.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Adrian pun menerjang maju ke arah tiga monster avatar.  Wlaaupun awalnya ragu, tetapi pada akhirnya kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Kaiser untuk bergerak maju sesuai permintaan Adrian.


***


“Tak tak tak tak tak tak.”  Suara langkah kaki berlari terdengar bergema di ruangan yang penuh dengan cabang-cabang dan ranting-ranting pohon.  Di ruangan yang terasa sesak itu, Kaiser pun melangkah memasukinya.


“Dasar anak buah tidak becus!  Bagaimana bisa ada seekor tikus yang berhasil masuk?!  Tapi tidak apa-apa.  Sebagai pengisi waktu sembari menunggu Pohon Keabadian selesai bangkit yang tinggal sebenar lagi, aku sendiri yang akan membasmimu, wahai tikus pengganggu!”


Xavier muncul lantas berujar dengan ekspresi bengis di hadapan Kaiser.  Kaiser yang awalnya fokus pada Raging Fire di inti pohon yang mengerang begitu kesakitan, kini balik meningkatkan kewaspadaannya pada sosok makhluk berbahaya di hadapannya itu.


“Mengalahkanku?”  Kaiser balik tersenyum bengis.  Sayangnya senyum itu tak dapat dilihat oleh Xavier karena tersembunyi di balik helmetnya.


“Kaulah yang akan mati di tanganku, wahai monster hina!”  Lanjut provokasi Kaiser.


Tidak, dia memang Kaiser, tetapi di satu sisi juga bukan Kaiser.  Sisa-sisa kesadaran Healer merasuk ke dirinya, lantas mengubah temperamen anak yang senantiasa berpikir logis tersebut menjadi lebih agresif.