101 Avatars

101 Avatars
139. Legenda Naga Hijau dan Seni Pengobatan Herbal



Begitu aku tersadar, kami sudah berada di suatu tempat yang penuh dengan kabut hijau. Aku sekilas teringat tentang apa yang baru saja kami alami. Kami diperlihatkan masa lalu suram di ingatan kami dan bahkan sampai muncul dalam wujud nyatanya.


Sama persis dengan yang di labirin cermin, hanya saja di situ, daripada menyerang lewat ilusi, para bayangan menginfiltrasi hati kami untuk melihat rasa bersalah terbesar di hati kami lalu menguatkannya. Untunglah, tak ada satupun dari kami yang goyah akan hal tersebut. Semua dari kami bertujuh berhasil keluar dari tempat itu.


Namun ini buruk, ini sudah tempat kelima kami tertransfer, tetapi tetap saja kami belum menemukan petunjuk apapun tentang penyebab terbukanya portal dunia virtual secara liar di bumi saat ini. Entah sampai kapan ini akan berlangsung. Terlebih, kami terlalu menghabiskan banyak waktu di ujian ketiganya. Kami semua berharap bahwa kami dapat segera keluar dari sini secepatnya.


Kami pun memperhatikan sekeliling. Di sekeliling kami hanya ada hutan yang dipenuhi oleh kabut hijau. Seketika Tante Sandra muntah darah. Di situlah kami baru menyadari bahwa kabutnya mungkin beracun dan memilih segera keluar dari tempat itu untuk menghindari kontaminasi racun yang lebih parah lagi.


Kabut pun tak terlihat lagi ketika kami keluar dari hutan. Di situ, kulihat ada penjaga yang berpakaian kasual yang sedang menjaga jalan masuk hutan.


“Kalian siapa?” Tanya salah satu dari para penjaga tersebut.


Kami pun menceritakan secara detail apa yang telah kami alami bahwa kami kehilangan kesadaran dan tiba-tiba kami sadar, kami sudah berada di dalam hutan. Tentu saja hal terkait bahwa kami berasa dari dunia nyata yang menginfiltrasi dunia virtual tetap kami rahasiakan.


“Oh, kalian para wanderer rupanya. Memang begitu, belakangan ini banyak yang disesatkan oleh siluman. Ditipu untuk diambil energi esensialnya kemudian dibuang di hutan. Beruntung kalian masih bisa selamat karena tidak bertemu beast berbahaya dari dalam hutan atau terkontaminasi oleh racun di sana.”


Penjaga itupun menceritakan dengan kami kejadian yang selama ini terjad di desanya yang ternyata keberadaan para wanderer bagi mereka itu sudah biasa.


Dengan ramah, kami pun diajak mengunjungi kepala desa di sana untuk menjelaskan situasinya. Terlihat bahwa sang kepala desa sangatlah ramah. Dia bahkan menyediakan kami tempat tinggal untuk bermalam di sana selama kami tidak menemukan tempat untuk didatangi.


Hari itu pun berlalu dengan tenang. Karena peringatan keras dari kepala desa yang melarang kami keluar malam karena sewaktu di malam hari, kabut hijau beracun akan sampai merembes ke wilayah dalam desa sehingga pintu dan jendela-jendela harus ditutup rapat-rapat, kami pun melewati malam itu dengan tenang.


Pagi pun tiba dan kami mulai berkeliling desa. Tetapi ini agak aneh, sama sekali tidak ada pemberitahuan sistem tentang apa yang harus kami lakukan. Namun jelas, bahwa titik pada peta penunjuk jalan sekali lagi berhenti yang berarti ada satu hal yang harus kami lakukan di sini sebelum kami melanjutkan perjalanan mencari penjahat yang telah menyebabkan kekacauan di dunia kami dengan menyebabkan portal terbuka secara liar.


Namun kami tidak apa itu. Tentang apa yang harus kami lakukan di dunia ini untuk menyelesaikan misinya. Apakah itu sama dengan dunia pertama yang kami datangi di mana ini adalah dunia ilusi di mana kami harus membunuh slime ilusi untuk keluar dari dunia ini?


Tetapi Paman Dios telah mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada hal seperti itu di sini. Jelas-jelas dunia ini lebih mirip dengan dunia tempat Pangeran, tidak, maksudku Raja Amora kedelapan belas, Ivan, tinggal. Karena tidak tahu apapun, kami pun berkeliling saat ini untuk memperoleh petunjuk.


Kami membentuk tim yang hampir sama seperti sebelumnya di mana Tante Sandra dan Paman Arthur satu tim, kemudian Profesor Dios setim dengan Kak Arskad dan Kak Kaiser, kemudian kali ini aku dibiarkan berdua bersama Paman Shou yang liar, yang tidak jelas bahwa apa yang akan dilakukannya selanjutnya.


Bahkan setelah umurnya mencapai 63 tahun, ketika dia memperoleh tubuh mudanya kembali, dia jadi bertingkah seolah anak remaja yang baru mengenal dunia yang dipenuhi oleh rasa penasaran.


Setiap tempat, tidak ada yang terlewat baginya untuk dikunjungi dan dia selalu penasaran akan hal-hal yang menurutku sama sekali tidak penting seperti mengapa aksesorinya dibuat mika dan bukannya dari logam, ataukah mengapa mie-nya dibuat asam ketimbang manis, dan lain sebagainya pertanyaan-pertanyaan tidak penting baginya selalu dilontarkan kepada penduduk di desa yang sedang berjualan di pasar.


Aku sendiri, ada dua hal yang menarik perhatianku. Pertama, cara pengobatan di dunia ini yang tergolong langka yang memanfaatkan bahan-bahan herbal untuk menyimpan mana kemudian digabungkan dengan teknik farmasi dan teknik suci untuk membuat ramuan sejenis potion. Lucunya, beberapa herbal itu seperti yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti kunyit, kencur, cocor bebek, dan lain sebagainya.


Tanpa sengaja aku berpapasan dengan seorang wanita yang tampak berpakaian seperti seorang apoteker lengkap dengan obat-obatan herbal di tangannya.


“Ah, maafkan aku. Aku telah menabrak Mbak tanpa sengaja. Duh, tanamannya gimana ini?” Ujarku dengan panik. Kalau disuruh ganti, aku bisa jadi bingung karena ketika kami tersummon di dunia ini, ternyata kami tidak dilengkapi dengan persediaan uang.


“Ah, tidak apa-apa kok, Mas. Aku juga yang salah karena bergerak terlalu terburu-buru sehingga tidak melihat ada orang di depanku.” Jawab wanita itu.


Syukurlah dia orang yang baik.


“Ah, aku Adrian. Jika nanti ada apa-apa sama atasan Mbak karena kesalahan saya ini, Mbak bisa mencari saya di rumah kepala desa.” Ujarku yang sebenarnya hanya bermaksud berbasa-basi saja.


Wanita itupun menjawab, “Ah, namaku Silvia. Aku apoteker yang ditugaskan di desa ini. Kebetulan aku tinggal di dekat rumah kepala desa. Kapan-kapan aku bisa berkunjung ke rumah Kepala Desa.”


Silvia pun menjawab dengan senyumnya yang sangat ramah.


“Kalau berbicara dengan orang yang saat ini tinggal di rumah kepala desa, itu berarti kamu adalah wanderer yang saat ini sedang dirumorkan warga desa ya. Ah, gawat. Aku telat. Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Adrian.”


Silvia tampak terburu-buru meninggalkan tempat itu. Palingan tuntutan pekerjaan akibat bosnya yang galak. Yah, hal itu dapat terjadi di mana pun, entah itu di dunia nyata, maupun di dunia fantasi.


Padahal aku belum menanyakan rumor seperti apa tentang kami yang saat ini menyebar di warg desa. Patut kuakui kehebatan jaringan informasi warga di desa ini. Kami baru tinggal semalam di rumah kepala desa, tetapi berita tentang keberadaan kami, para wanderer, rupanya telah menyebar ke seluruh isi desa.


Kemudian, satu hal lagi yang menarik perhatianku, yakni tentang legenda naga hijau yang dirasuki oleh iblis jahat. Iblis jahat-lah yang mengorupsi sedikit demi sedikit tubuh naga hijau hingga menghasilkan kabut hijau yang beracun itu.


Sang naga hijau yang tubuhnya terkorupsi, menetap di bagian terdalam hutan, menghindarkan dirinya dari orang-orang agar tidak terkena dampak dari racun yang dihasilkan oleh penyakitnya sambil tetap mempertahankan kesadarannya yang sedikit demi sedikit terkorupsi oleh iblis jahat itu.


Aku berfirasat bahwa inilah misi yang harus kami cari tahu dengan menghilangkan penyakit yang mengorupsi tubuh sang naga hijau. Tentu saja, ini baru sekadar dugaan, jadi aku harus bertanya kepada yang lain dulu tentang bagaimana tanggapan mereka.


Namun jikalau ini sampai benar, maka berarti kami harus memikirkan cara tentang bagaimana dapat survive dari kabut hijau beracun selama perjalanan kami ke tengah hutan tersebut. Tidak ada dari kami bertujuh yang ahli pengobatan dan penyembuhan seperti mendiang sahabat ayahku dan Paman Dios yang menghilang ke dunia virtual, Kaiser Dewantara.


Tentu Paman Kaiser Dewantara yang kumaksud di sini bukanlah Kak Kaiser Dewantara yang ada bersama kami sekarang. Mereka hanya kebetulan bernama sama. Tidak, mereka ditakdirkan bernama sama karena kudengar ayah Kak Kaiser sangatlah mengagumi adik sepupunya itu sehingga menamai anaknya dengan nama yang sama dengannya yang mungkin sebagai upaya dia untuk tetap mengingat nama itu yang telah menghilang tertelan ke dalam dunia virtual.


Kembali ke persoalan, karena tidak ada satu pun dari kami yang mampu ilmu pengobatan dan penyembuhan, mau tidak mau kami harus belajar seni pengobatan dan penyembuhan dari dunia ini. Dan tampaknya, wanita yang bernama Silvia tadi yang sempat kutemui cukup berbakat di bidang tersebut.


Aku harus segera kembali menemui wanita itu dan membujuknya untuk mengajari kami seni pengobatan dan penyembuhan demi keberhasilan misi kami di dunia ini.