Di jalan raya yang lebar itu, terlihat sebuah mobil bergerak dengan kecepatan yang sangat di luar batas. Belasan mobil polisi terlihat mengejar mobil tersebut dari arah belakang.
“Profesor Melisa, Profesor Melisa! Aaaakh!”
Adrian yang panik dengan laju cepat mobil Profesor Melisa itu walaupun dia telah terbiasa dengan kecepatan berkat evolusi matanya, tidak dapat mengendalikan teriakan paniknya. Ini pertanda bahwa mobil Profesor Melisa saat itu sedang bergerak di luar kecepatan yang dapat ditolerir oleh mata Adrian walaupun telah berevolusi itu.
“Profesor Melisa! Kiri. Kanaaaaan!”
Meninggalkan kepanikan Adrian sejenak, mobil yang dikendarai oleh Profesor Melisa benar-benar melaju dengan kecepatan yang sangat luar biasa yang menyebabkan mobil-mobil patroli polisi sama sekali tak mampu mengejarnya.
Begitu ada hambatan di kiri, Profesor Melisa segera barmanuver ke kanan, dan sebaliknya, ketika ada hambatan di kanan, profesor pembalap itu segera bermanuver ke kiri. Sungguh-sungguh suatu pemandangan balap yang sangat spektakuler.
“Profesor Melisa, Profesor Melisa, berhenti!” Teriak Adrian panik.
“Tenanglah, Adrian. Kecepatan segini saja tidak ada apa-apanya bagiku. Kencangkan saja sabuk pengamanmu dan jangan sampai jatuh.” Balas Profesor Melisa seraya tersenyum nakal.
“Lagian kenapa kita harus lari dengan cara seperti ini?! Aku kan bisa berubah menjadi Arjuna lantas kabur sendiri dengan terbang lebih cepat dari pesawat jet melalui Sly Dark!” Bantah Adrian pada pernyataan Profesor Melisa itu.
Tetapi dengan senyum yang tersungging licik, Profesor Melisa balik berkata, “Bukankah itu sudah jelas? Karena akan lebih menegangkan dengan cara yang seperti ini.”
Seketika, di hadapan mereka terdapat jalan buntu karena kepungan puluhan mobil polisi.
“Profesor Melisa! Awaaaaas!” Teriak Adrian panik
Akan tetapi,
“Fuuuush!”
“Shaaaaash!”
Bagian dasar mobil aneh Profesor Melisa berubah bentuk dan bagaikan landasan pacu pesawat, meluncur melompati puluhan mobil polisi itu. Dalam sekejap, sosok mobil aneh itu tak lagi terlihat di tempat tersebut. Profesor Melisa dan Adrian telah berhasil kabur dari kejaran polisi.
***
Sementara itu di tempat lain, Syifa telah ditawan oleh rekan-rekan sekantornya sendiri untuk bersiap diserahkan kepada kantor kepolisian pusat yang mencarinya.
Akan tetapi, begitu perwakilan kantor kepolisian pusat datang untuk membawa Syifa, tiba-tiba,
“Baam! Baam! Baam!” Hujanan peluru karet membuat para polisi itu kalang-kabut. Ada yang pingsan, dan ada yang pula meringis kesakitan.
Di tengah kekacauan itu, Kaiser dalam wujud Avatar Bomber-nya datang untuk menyelamatkan Syifa.
“Mr. Aili, tembak mereka sekali lagi!” Perintah Kaiser kepada AI berhati manusia itu.
“Duh, sebenarnya aku tidak tega menyakiti manusia. Tetapi karena mereka duluan yang menyakiti anggota timku, maka bersiap-siaplah balasannya!” Ujar Mr. Aili yang suaranya diperdengarkan oleh salah satu drone-nya, sementara puluhan drone yang lainnya mulai menembak.
Walau Mr. Aili tampak mengucapkannya dengan kejam, peluru yang ditembakkannya hanyalah peluru karet yang dapat menghambat musuh saja.
“Syifa, kamu tidak apa-apa? Maaf, aku terlambat.” Ujar Kaiser sembari berlari membawa Syifa dengan kecepatan side avatar fast yang minimal agar menyesuaikan tekanan yang bisa ditolerir oleh tubuh manusia.
“Ummm.” Syifa menggeleng.
Dia lantas berujar, “Justru aku harusnya berterima kasih kepada Kakak karena telah menyelamatkanku. Terima kasih Kak Kaiser.” Ujar Syifa dengan senyum tulusnya. Tanpa diketahui siapapun, hati Syifa berdegup kencang. Dia telah jatuh cinta pada sosok yang sedang menggendongnya ala putri itu.
“Ummm.” Sekali lagi Syifa menggeleng.
Dia kemudian meraih helmet Kaiser di bagian pipinya lantas mengusapnya dengan lembut.
“Aku paham, Kakak pun melakukan semua ini demi keselamatan umat manusia. Jadi, aku sama sekali tidak menyesal telah mengalami semua ini karena mendukung Kakak.” Ujar Syifa kembali dengan senyum yang diiringi oleh mata yang berkaca-kaca.
Kaiser diam setelah itu, tetapi dari balik helmetnya, terlihat dia tampak memikirkan sesuatu dengan serius.
“Apapun yang terjadi, takkan kubiarkan kalian berdua terluka.” Gumam Kaiser dalam hati.
***
Suara langkah sepatu pantofel terdengar menggaung di suatu ruangan nan gelap. Seorang kakek-kakek yang tampak idiot dengan pandangan mata yang kosong sedang duduk di atas kursi di balik meja. Di belakangnya, telah berdiri seorang pemuda yang tampak tengah asyik menikmati riuhnya pusat Kota Jakarta akibat sirene polisi dari balik kaca jendela besar di belakang meja di mana sang kakek tersebut berada.
“Tuan Freeze, sayang sekali, kita tak berhasil menangkap baik Adrian di kampusnya, maupun Syifa di kantornya.” Sambil membungkuk pelan memberi hormat, Fog dalam wujud Selantri itu memberikan laporannya.
“Ah, sudah kuduga seperti itu. Lagipula kita tak dapat mengandalkan polisi-polisi idiot itu yang hanya akan bergerak serius jika ada uang. Tampaknya aku harus terjun sendiri memancing Adrian.” Jawab Freeze dengan nada suara yang elegan seperti biasanya dalam wujudnya sebagai Faridh.
“Bagaimana caranya, tuanku?” Tanya Fog penasaran.
“Bukankah kamu sendiri yang memberikan laporan bahwa Adrian saat ini sedang mencintai seorang wanita? Kita sandera saja wanita yang ditaksirnya itu. Aku yakin, Adrian akan datang dengan sendirinya kepada kita.” Jawab Freeze sembari menunjukkan senyum penuh kelicikan.
***
Pagi itu, Nafisah terlihat sedang menyirami tanaman herbal di lantai paling atas gedung fakultasnya yang tak beratap dengan cerianya.
“Hmmm… hmmm… hmmm…” Dia bersenandung dengan asyiknya sembari menikmati udara pagi kala itu.
“Apa yang Anda lakukan pagi-pagi sendirian di lantai atap gedung fakultas ini di hari libur begini, Nona Nafisah? Tidakkah Anda sebagai seorang wanita memiliki rasa takut jikalau sampai ada yang berniat jahat pada Anda? Bukankah Anda baru-baru ini diserang oleh kelelawar tidak jelas? Beruntung waktu itu Anda diselamatkan oleh sang pahlawan dan sang ksatria.”
Tiba-tiba dari belakang, Bobi muncul dengan kusut sembari menegur kecerobohan Nafisah.
“Apa boleh buat soalnya teman aku dari Jurusan Biologi Atomisasi telah meminta tolong padaku soalnya dia ada ibadah di gerejanya pagi ini. Lagipula, sendirian di rumah juga bosan. Apalagi harus melihat bodi-bodi berotot para murid yang bau keringat itu.”
Begitulah jawaban yang diberikan oleh Nafisah. Namun, sesaat kemudian, pandangannya berubah sendu. Dia secara mendadak mengeluarkan air mata.
“Kalau di rumah terus, aku jadi tak dapat melepaskan kegelisahanku karena mengkhawatirkan Adrian. Bagaimana ya dengan keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” Ujar Nafisah sendu.
“Nona Nafisah…” Lirih Bobi sembari ingin menyentuh punggung Nafisah, tetapi dihentikannya.
“Benar juga. Aku juga khawatir padanya. Dia menon-aktifkan smartphonenya untuk mencegah polisi mentracking jejaknya. Tapi karena itu Adrian, kurasa dia akan baik-baik saja.” Bobi pun berujar sembari menatap Nafisah dengan senyum positifnya.
Bibir Nafisah pun tersungging sendu. Dalam hatinya, dia juga berharap seperti apa yang dikatakan Bobi.
“Kuharap juga begitu. Semoga Adrian baik-baik saja.” Lirih wanita yang menggunakan jilbab papaya itu.
“Ya, Adrian baik-baik saja. Tetapi tampaknya kamu yang tidak akan baik-baik saja, wahai wanita.” Tiba-tiba sesosok makhluk berteriak dengan keras dari arah belakang mereka berdua.
Dialah Freeze.