101 Avatars

101 Avatars
51. Adrian vs Chainsaw



“Dari suaramu, kamu nampaknya masih sangat muda, wahai anak muda.  Kalau begitu, wahai anak muda, ayo kita mulai saja pertarungan ini demi melindungi masing-masing apa yang menurut kita berharga.”  Ujar Chainsaw padaku.


Sayangnya ini bukan suara asliku.  Tetapi yah, aku memang masih sangat muda.  Kesampingkan hal itu, aku terima tantanganmu, Chainsaw.”  Balasku berujar kepada Chainsaw.


Kami pun memulai pertarungan.  Crusader-ku dan senjata gergaji berputar milik Chainsaw mulai saling beradu.  Sayangnya, Chainsaw bukanlah monster avatar bertipe kegelapan sehingga efek Crusader, tidaklah bekerja padanya.  Kami murni bertarung dengan kekuatan senjata.


Tetapi tentu saja Crusader yang berspek lebih tinggi yang berasal dari senjata monster avatar bernomor dua puluh-an jauh lebih kuat dibandingkan dengan senjata milik Chainsaw yang hanya berasal dari monster avatar bernomor empat puluh-an .  Hal itu memberikanku kemenangan yang mudah.


Dalam benturan beberapa kali, terlihat gigi-gigi gergaji berputar milik Chainsaw mulai terkoyak dan akhirnya berhenti berfungsi.


“Slash!”


Pada tebasan selanjutnya, senjata milik Chainsaw itupun berubah menjadi butiran-butiran data dan lenyap menyatu bersama tubuhnya.


“Hebat sekali, anak muda.  Aku mengakui kehebatanmu.  Nah, sekarang, berikan serangan terakhirmu padaku sebagai penutup kekalahanku ini.”  Ujar Chainsaw lagi padaku.


Aku diam sejenak, lalu kutanyalah dia, “Apa kau tak takut mati?


Tetapi pada akhirnya, aku sendirilah yang menjawab sendiri pertanyaanku itu.  “Hah, itu tentu saja.  Bagaimana bisa makhluk yang dilahirkan tanpa perasaan yang hanya mencoba memimik perasaan manusia, memiliki perasaan yang seperti itu.”


Lalu kudengar Chainsaw membalas ucapanku, “Itu benar, anak muda.  Demi memperoleh kesempurnaan sebagai makhluk hidup dengan memperoleh emosi, kami telah mengorbankan manusia yang menjadi inang kami dengan membunuh mereka.  Walau demikian, kami tetap hidup dengan berpura-pura melupakan hal itu, melimpahkan segala kesalahan itu pada Pahlawan Darah Merah yang mencoba menumpas kami.”


Chainsaw terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


“Tetapi lucunya, aku baru merasakan indahnya kehidupan itu setelah memiliki tubuh yang lengkap dengan emosi ini.  Tetapi pada akhirnya, aku sadar bahwa suatu mimpi yang dibangun dengan mengorbankan orang lain tak akan bertahan lama.  Dan untuk kali ini, giliranku yang memperoleh akhirnya.  Nah, sekarang anak muda, berikan serangan terakhirmu padaku untuk mengakhiri panggung kehidupan sang kakek yang telah puas oleh kenangan yang indah ini.”


Lalu sesuai permintaan Chainsaw, aku pun melayangkan Crusader-ku padanya, membelah-belah tubuhnya hingga menjadi beberapa bagian, hingga hancurlah dia menjadi berkeping-keping.  Dalam sekejap, tubuh Chainsaw pun menghilang menjadi butiran-butiran data.


Aku sama sekali tidak bersimpati padanya.  Aku akan selalu mengingat ucapan Kak Kaiser bahwa semua perasaan milik monster avatar adalah kepalsuan.


Aku pun akhirnya memenangkan pertarungan melawan monster avatar bernomor seri 46 tersebut.


Setelah kumenangkan pertarungan tersebut, barulah kuperhatikan di depanku, rupanya Kak Kaiser tengah menyaksikan pertarunganku itu.


“Bagaimana sekarang, Kak Kaiser?  Apakah aku sudah dapat menjadi rekan yang pantas untukmu?”  Gumamku dalam hati yang tampak sebentar lagi akan kehilangan kesadaran.


Aku pun tersungkur ke tanah setelah kehilangan tenagaku perihal kehilangan HP terlalu banyak akibat serangan dadakan Chainsaw sebelumnya.  Namun, sebelum tubuhku mendarat di tanah, kulihat Kak Kaiser segera menggapaiku.  Dalam sekejap, HP-ku pulih kembali setelah Kak Kaiser menyentuhku.  Kemungkinan dia mengaktifkan side avatar Spring Rosella-nya.


Hari itu pun berakhir yang bisa dikatakan kemenangan kami karena kami berhasil mengalahkan dua monster avatar sekaligus.  Hal itu sejenak membuatku lupa akan tujuan awalku kemari yakni untuk mengerjakan proyek kuliah.


Tetapi sudahlah, pastinya proyek kuliah itu juga akan diundur setelah apa yang terjadi di taman ini.  Aku jadi berharap seandainya saja jadwal UAS yang seharusnya minggu depan itu akan turut diundur.  Aku belakangan terlalu sibuk dengan urusan monster avatar sehingga sampai melupakan belajar.


***


Sore itu, aku dan Kak Kaiser langsung balik ke markas.  Bobi sebelumnya telah menginformasikan padaku bahwa tugas praktik kuliah kami diundur besok.  Hal itu lantas memberikanku dampak stres dalam artian yang berbeda.


Dalam perjalanan, aku tiba-tiba teringat sesuatu.  Aku jadi ingat perihal Crusader yang mampu berkomunikasi lewat telepati denganku.  Aku jadi penasaran apakah itu bakat evolusi dari Crusader ataukah semua avatar gelang bisa melakukannya.  aku yang penasaran pun bertanya kepada Kak Kaiser.


“Itu bakat semua avatar gelang lho.  Aku sering melakukannya bersama Bomber, Fast, dan juga Enigma.”  Begitulah jawaban yang diberikan oleh Kak Kaiser padaku.


Lantas mengapa selama ini, aku tak pernah memperolehnya baik dari Arjuna, Sly Dark, maupun Hard?


“Maaf, Kak Adrian.  Aku bukannya tidak bisa melakukannya.  Aku hanya tidak pandai soal mengarahkan.  Aku takut jika aku justru hanya mengganggu konsentrasimu yang akan merugikanmu dalam pertarungan.”  Jawab Arjuna padaku.


“Aku tidak pandai berbahasa Indonesia.”  Lanjut Hard menjawab singkat padaku.


“Aku hanya tertarik membicarakan soal rock dan wanita.”  Kemudian Sly Dark sebagai yang terakhir menjawab.


Bagaimana ya menggambarkannya?  Rasanya para avatar gelang berwujud laki-laki milikku ini agak sedikit di luar dari biasa.  Aku sempat iri pada Kak Kaiser yang memiliki para avatar gelang yang kooperatif di luar dari sikapnya yang dingin terhadap para avatarnya.


Sangat beruntung, aku memiliki side avatar terakhir seperti Crusader.  Setidaknya pada akhirnya, ada satu avatar gelangku yang terlihat normal dan dapat kuajak bertukar pendapat pada saat yang dibutuhkan.


Beberapa saat kemudian, kami pun tiba di markas.  Namun, apa yang aku saksikan justru markas yang sepi yang hanya terdapat AI5203 di dalamnya.  Aku merasakan sejenak keanehan karena biasanya di hari dan jam segini, Profesor Melisa seharusnya sudah ada di markas.  Aku yang penasaran, lantas bertanya kepada AI5203.


“Mr. Aili, Profesor Melisa ke mana?”  Mr. Aili, itulah nama panggilan yang akhirnya kuputuskan buat AI5203 yang berasal dari singkatan namanya karena agak ribet kalau harus terus-menerus menyebutkan nama itu secara lengkap.


“Hmmm.”  Tampak AI5203 sedikit mendesahkan nafasnya bahagia.  Dia tidak berkata apa-apa, namun terlihat jelas ekspresi bahagianya itu dari perubahan nada bicaranya.


Seketika AI5203 tersadar kembali dari rasa senangnya itu seraya menjawab, “Ah, soal itu.  Kaiser, ada kabar mengejutkan sekaligus membahagiakan.”


“Apa itu?”  Kak Kaiser pun seketika merespon.


“Anak Profesor Melisa, Zio, telah siuman!”  Jawab AI5203.


“Begitu rupanya.  Jadi ternyata benar hipotesisku.”  Respon Kak Kaiser terhadap jawaban AI5203 itu dengan nada suara rendah, tampak sudah menduga hal itu akan terjadi.


Aku tentu saja langsung turut bahagia begitu mendengar berita bahwa akhirnya anak kedua Profesor Melisa itu tersadar juga.  Tetapi kok tiba-tiba?  Terus, pernyataan Kak Kaiser yang bilang bahwa hipotesisnya itu benar juga agak sedikit mencurigakan.  Aku yang penasaran pun, bertanya pada Kak Kaiser.


“Hipotesis apa Kak?”


Lalu Kak Kaiser pun menjawab dengan tiba-tiba balik bertanya padaku, “Kamu tahu tentang avatar tipe jebakan nomor 80, Avatar Seal?”


“Ya, aku tahu Kak.  Avatar itu sangat hebat terutama pada arena pertarungan tipe 8, yang bertempat di labirin dengan banyak ruangan-ruangan sempit di dalamnya.  Tetapi kenapa membahas itu tiba-tiba?”  Aku yang keheranan mengapa Kak Kaiser tiba-tiba membahas topik yang tampak tidak berhubungan itu, lantas balik bertanya.


“Kamu tahu kan, kalau dia punya senjata penyegel yang spesial?”


“Ya, sekali kita menginjak segel itu di dalam game, seketika kita akan kalah.  Namun, selama kita menjaga langkah dan menghindari segel yang tak tampak itu, sangat mudah memenangkan pertarungan melawannya, terutama di area pertarungan selain tipe 8.”


“Itu benar, Adrian.  Tetapi kali ini aku sedang tidak membahas soal gamenya.  Namun, lebih ke arah segel spesial itu sendiri.  Suatu ketika, aku menghadapi monster avatar itu lima tahun silam.  Ketika aku hendak memberikan serangan terakhirku padanya, dia tiba-tiba mengeluarkan segel spesial itu.  Coba tebak apa yang kira-kira terjadi?  Rupanya, dia telah menggunakan segel spesial itu untuk menyimpan tubuh inang yang dimimiknya yang masih hidup.”


“Apa?  Manusia bisa disimpan di dalam ruang virtual dan masih hidup?”  Aku pun tak dapat menahan rasa penasaranku atas informasi tiba-tiba yang diungkapkan Kak Kaiser itu padaku.


“Ya, Adrian, itu benar.  Tapi bukan itu poin pentingnya.  Monster itu hendak menggunakan tubuh inangnya sebagai sandera, lantas ikut menarikku ke dalam segelnya pada saat aku lengah.  Tetapi di luar dugaan monster itu, aku justru merebut tubuh inangnya itu.  Aku pada akhirnya berhasil mengalahkan Seal.  Dan coba tebak apa yang terjadi?”


Kak Kaiser diam sejenak sebelum melanjutkan.


“Inangnya yang semula pingsan tampak koma, tiba-tiba saja terbangun sadarkan diri.  Sejak saat itu, aku berhipotesis mungkin saja pingsannya tubuh manusia inang setelah dimimik disebabkan oleh para monster avatar itu sendiri yang ketika mereka berhasil dikalahkan, penyebab itu akan teratasi dan tubuh manusia inang akan kembali memperoleh kesadarannya.


Sekali lagi, Kak Kaiser terdiam sejenak sebelum melanjutkan.  Sisi jari jempol dan telunjuk kanannya, menyentuh ujung dagunya dengan lembut.  Matanya disipitkan.  Tampak bahwa Kak Kaiser sedang berpikir serius.


“Sayangnya, sulit menemukan bukti yang akurat perihal rata-rata korban yang dimimik oleh para monster avatar serta-merta dibunuh dengan kejam oleh mereka.”