101 Avatars

101 Avatars
7. Ternyata Identitas di Balik Avatar Bomber adalah Orang Itu?



“Baik, Kak Bomber.  Apa yang harus kulakukan?”


Aku pun menunggu instruksi dari Kak Bomber sembari tak luput memantau keselamatan dewi pujaanku, Nafisah, yang sedang dalam genggaman monster tersebut.


“Pertama-tama, apakah kamu paham benar karakteristik Avatar Nomor 70 itu, Dik Adrian?”  Tanya Kak Bomber padaku.


“Serangannya yang paling fatal adalah serangan cakar di kakinya.  Namun, karena saat ini dia sedang menggunakan kedua cakar di kakinya untuk menggenggam Nafisah, oh, maksudku gadis yang sedang dibawanya itu, Kak, yang kebetulan adalah teman sefakultasku, maka monster itu takkan dapat menggunakannya, kecuali dia menjatuhkan Nafisah.”


“Ada lagi?”  Tanya Kak Bomber padaku sekali lagi.


“Serangannya yang lain adalah bom suara ultrasonik-nya yang mampu menulikan telinga selama 5 menit.  Oh iya, dan satu lagi, Avatar Sly Dark juga sering mengubah benda-benda kecil di daratan sekelilingnya menjadi bom suara.  Dampaknya tidak fatal, tetapi dapat merusak keseimbangan tubuh beberapa saat yang sering dimanfaatkan oleh avatar tersebut untuk menghabisi musuhnya dengan serangan kombinasi cakarnya.”


“Bagus, tampaknya kamu telah paham betul karakteristiknya.  Sekarang, aktifkan ketiga panahmu untuk siap menyerang sembari tetap mengamati pergerakan Avatar Sly Dark tersebut dari bawah dengan menghindari benda-benda kecil yang mencurigakan yang kemungkinan adalah bom dari Sly Dark tersebut.”


Kak Bomber pun memberikan instruksinya kepadaku.  Aku sebenarnya tak paham maksud dan tujuan dari instruksi Kak Bmber tersebut.  Namun, karena ini dari Kak Bomber, maka aku hanya harus mempercayainya.


“Baik Kak, aku paham.”  Jawabku kepada Kak Bomber.


“Bagus,”  dan Kak Bomber pun memujiku.


Aku pun berlari mengitari area di bawah Sly Dark sambil tetap mengawasi pergerakannya yang berputar-putar dari atas.  Kuaktifkan-lah serangan panahku dengan menggunakan tiga buah anak panah sambil terus mengunci pergerakan Sly Dark lewat fungsi helmet-ku.


Kak Bomber pun mengirimkan suatu koordinat kepadaku dan aku pun menandai koordinat tersebut di sistem helmetku sembari bersiap menembak.


“Dik Adrian, kamu sudah menerima koordinat yang kukirimkan?”


“Sudah, Kak.”  Jawabku cepat.


“Dengan instruksi dariku…Serang sekarang, Dik Adrian!”


“Slash!”


Berdasarkan aba-aba Kak Bomber tersebut, aku pun melepaskan ketiga anak panahku dari busurnya.  Dalam sekejap, panah-panah tersebut menerjang tepat di samping Sly Dark dan menggores kulitnya.  Avatar Sly Dark yang kaget itu pun lantas melepaskan Nafisah dari genggamannya.


“Tidak, Nafisah!”


Aku sejenak terkaget melihat hasil dari instruksi tersebut.


Apakah instruksi Kak Bomber keliru?  Ataukah sejak awal dia tidak pernah berniat untuk menyelamatkan korban?  Kalau dipikir-pikir lagi, aku baru saja kenal dengannya.  Bisa saja sebenarnya dia adalah orang yang berhati dingin yang lebih mengutamakan kepentingan misi daripada keselamatan korban.


Jika begitu halnya, aku telah membuat Nafisah...


“Tidak, kumohon agar semua itu tidak benar.”  Pintaku dalam hati.


Dalam kekalutanku yang sempat meragukan Kak Bomber tersebut, tiba-tiba sesosok dengan kecepatan yang sangat cepat melompat dan menyelamatkan Nafisah.  Pergerakannya saking cepatnya, sampai-sampai indera penglihatanku dalam tubuh avatar yang seharusnya diperkuat beberapa kali dari tubuh normal, tetap tak mampu dengan jelas melihatnya.


Sosok itu pun melambat dan ternyata, dia adalah sosok yang aku kenal dengan baik.  Dialah Kak Bomber.


“Sekarang, Avatar Arjuna, serang lagi Sly Dark di koordinat baru itu!”  Teriak Kak Bomber padaku.


Ah, Kak Bomber tiba-tiba memanggilku menjadi Avatar Arjuna pasti karena ada Nafisah di dekatnya.  Padahal kami berjuang sekuat tenaga begini, tapi tidak ada yang tahu.  Entah mengapa, rasanya sedikit sedih.


Kulihat di helmetku, Kak Bomber telah mengirimkan koordinat baru sebagai patokan penyeranganku.  Tapi kalau begini… Tidak, aku tak boleh meragukan instruksi Kak Bomber.  Pasti Kak Bomber juga telah memikirkan rencananya matang-matang.


Aku pun mempercayakan masalah koordinat serangan kepada Kak Bomber untuk aku eksekusi dan,


“Slash!”


Dengan serangan kedua tersebut yang mengenai Sly Dark tepat di bagian sayapnya, monster itupun terjatuh ke tanah.  Namun, tidak sampai tewas karena tidak mengenai bagian vital tubuhnya.


Karena itu, aku pun maju sekali lagi, hendak memberikan serangan terakhir.  Tetapi belum sempat aku melepaskan anak panahku untuk yang ketiga kalinya, Kak Bomber menepuk pundakku.


“Tidak, Avatar Arjuna.  Sisanya serahkan padaku.”


Begitulah ucapan Kak Bomber padaku sembari kulihat dia mengeluarkan suatu alat aneh lagi yang mirip dengan sangkar burung yang terbuat dari logam aneh.


“Avatar Nomor 70 itu pasti akan sangat berguna untukmu.”


Ucap sekali lagi Kak Bomber padaku.  Namun, aku tidak paham betul tentang apa yang dimaksudkannya.  Aku pun melihatnya membuka pintu sangkar dari alat aneh itu.


Sesuatu yang luar biasa pun terjadi.


Makhluk besar seukuran manusia itu, terhisap dan terkurung ke dalam sangkar tersebut.


“Emangnya ini dongeng jin dalam botol apa?”  Bisikku dalam hati.


Bagaimana mungkin eksistensi fisik seukuran manusia itu bisa muat masuk ke dalam pintu sangkar setinggi 10 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter?  Tidak, tidak, lagipula sangkar yang dipegang Kak Bomber sekarang tingginya tak lebih dari 50 sentimeter dengan diameter berkisar 30 sentimeter.  Sejak awal, sangkar itu tidak mungkin muat untuk menampung tubuh seukuran manusia.


“Kerja bagus, Avatar Arjuna.”


Kak Bomber pun datang menghampiriku sembari mengangkat tangannya sebagai isyarat ingin melakukan tos denganku.  Kulihat eksistensi sangkar tersebut telah tiada dari tangannya.  Mungkin dia telah menyimpannya pada suatu jenis ruangan penyimpanan virtual tertentu.


Kalau dipikir-pikir lagi, gelang ini membuatku menggunakan tubuh Avatar Arjuna.  Lantas, di mana tubuhku yang asli berada?  Apakah itu juga tersimpan di semacam ruang penyimpanan virtual tertentu?  Semakin digali, dunia fisika virtual memang masih penuh dengan banyak misteri.


Aku pun ikut mengangkat tanganku, dan,


“Toss.”  Aku pun ber-tos dengan Kak Bomber.


Kak Bomber pun mengusap helmet-ku lantas aku pun memuji keheroikan Kak Bomber tersebut dalam menyelamatkan Nafisah yang jatuh dari langit dengan pergerakannya yang secepat kilat.


“Ah, itu.  Ini berkat kekuatan Avatar Nomor 19, Avatar Fast, yang berhasil kufusikan dengan avatar intiku.  Oleh karena itulah, aku melarangmu untuk membunuh Avatar Sly Dark agar dia juga bisa difusikan ke avatar intimu agar kekuatanmu bisa level-up.”


Ah, ternyata itu sebabnya mengapa Kak Bomber hanya menginstruksikan kepadaku untuk membuat monster itu tidak bisa bergerak.  Ternyata fusi kekuatan seperti itu bisa dilakukan antaravatar.  Aku pun jadi tidak sabar menantikannya.


“Hai, Pahlawan Darah Merah!  Tunggu!  Jangan pergi dulu!  Hosh, hosh, hosh.”  Tiba-tiba Nafisah berlari ke arah kami dari arah belakang dengan tampak ngos-ngosan.


Pahlawan Darah Merah?  Oh iya, aku baru ingat kalau ada fansite tertentu milik Kak Bomber pasca dia menyematkan Kota Jakarta pada malam bencana Hoho game lima tahun lalu.  Dan di fansite itu, Kak Bomber dijuluki sebagai Pahlawan Darah Merah.  Aku sebenarnya juga fans Kak Bomber, tetapi tidak sampai ikut bergabung dengan fansite.  Apa mungkin Nafisah adalah salah satu anggota fansite tersebut?


Kulihat Nafisah kemudian menundukkan sedikit kepalanya seraya mengucapkan terima kasih pada Kak Bomber dan diriku.  Melihat sumber kecantikan, keindahan, dan keanggunan itu menundukkan kepalanya padaku, aku pun jadi salah tingkah, hingga tanpa sadar, aku pun khilaf berucap,


“Tidak, tidak perlu kamu sampai menundukkan kepala begitu, Nafisah.”


“Eh?  Kak Pahlawan Biru tahu namaku?”  Nafisah pun berujar dengan curiga.


Glek.


Sial!  Aku lupa kalau saat ini aku sedang dalam wujud avatarku sehingga tidak seharusnya aku kenal dengan Nafisah.  Apa yang harus kukatakan untuk beralasan sekarang?


Namun, di tengah kepanikan itu, untunglah Kak Bomber dengan sigap memfollow-up kesalahanku itu.


“Oh, kami tadi mendengarnya dari pemuda yang katanya baru saja bersamamu di toko kue.  Dia sempat meminta tolong kepada kami agar bersedia menyelamatkanmu.  Padahal tanpa diminta pun, kami tidak akan mungkin membiarkan warga sipil dalam bahaya.”


“Siapa?  Kak Kaiser?  Atau Adrian?  Ke mana dia sekarang?”


“Entahlah.”  Jawab Kak Bomber singkat pada pertanyaan Nafisah tersebut.


Syukurlah, akting Kak Bomber terlihat alami!  Dengan begini, Nafisah tidak akan curiga lagi.


Tapi tunggu, darimana Kak Bomber tahu tentang pertemuanku dan Nafisah di toko kue Bernard itu?


Ah, mungkin pernyataan Kak Bomber barusan adalah jujur dan pasti si pengecut Kaiser Dewantara itu-lah yang telah memelas-melas kepada Kak Bomber sebelum dia lari pontang-panting karena ketakutan.


Paling tidak kupuji dia karena walaupun dia lari, dia masih sempat mencari bantuan.  Lagipula melawan monster avatar, bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh orang biasa sepertinya.


Tampak Nafisah masih punya banyak pertanyaan untuk kami, tetapi Kak Bomber hanya meminta maaf dan segera bergegas hendak pergi dengan menarikku ikut bersamanya.


“Kalau begitu, paling tidak sekali saja, bolehkah aku berfoto bersama kalian?”  Namun, Nafisah segera menghentikan kami seraya menunjukkan ekspresi memelas.


Dengan keimutannya itu, kalau itu aku, mana sanggup aku menolak permintaannya tersebut.  Tetapi karena kita bicara soal Kak Bomber di sini yang telah berpengalaman selama lima tahun, tak aneh jika dia menolaknya.


Sesuai dugaan, Kak Bomber menolak permintaan Nafisah tersebut.  Akan tetapi, melihat ekspresi sedihnya akibat tolakan itu, hatiku terasa sedikit tergelitik untuk menunjukkan perhatianku padanya.


“Tidak apa-apa kan, Kak Bomber, kalau sekali saja.”  Aku pun membujuk Kak Bomber agar menuruti permintaan Nafisah tersebut dan pada akhirnya, Kak Bomber pun mengiyakan.


“Klik.”


Kami bertiga pun ber-selfie bersama di mana Nafisah di tengah, Kak Bomber di kanan, serta aku di kiri Nafisah.


Singkat cerita, setelah ber-selfie bersama, aku dan Kak Bomber pun berpisah dengan Nafisah.  Kak Bomber menahanku bersamanya agar kami bisa sama-sama menjemput Kak Syifa lantas mengunjungi lab bareng.  Tentu itu akan lebih efisien untuk menghindari kami dalam tersesat.  Akan tetapi dari jauh, aku pun mendengarkan gumaman Nafisah itu.


“Padahal aku mau menanyakan mengapa sang pahlawan darah merah sampai dijadikan tersangka Malam Bencana Hoho Game oleh pihak polisi.  Tidak, ini pasti kesalahan dari pihak polisi.”


Mengetahui bahwa masih ada yang mendukung kami dari jauh, entah mengapa membuat hatiku terasa senang.  Atau apakah itu karena dukungan tersebut datang dari orang yang kutaksir?


Tanpa sadar, aku dan Kak Bomber telah berada di semak-semak dan kulihat Kak Bomber pun kembali ke wujud manusianya.


Tetapi apa ini?


“Ehhhhhhh!  Kenapa itu kamu?”  Ujarku kaget begitu mengetahui identitas di balik sosok Avatar Bomber tersebut.


Rupanya, sosok di balik avatar bernomor seri 7 itu adalah orang yang selama ini telah kuperlakukan tidak sopan.  Dialah Kaiser Dewantara.