Tepat pukul 17.50, kami menyudahi kesenangan kami di wahana roller coaster tersebut. Sebelum meninggalkan wahana, aku dan Kak Selantri mengucapkan rasa terima kasih tulus kami kepada mbak-mbaknya yang telah memberikan kami kesempatan memainkan wahananya walau di luar jam operasionalnya.
Sehabis itu, aku pun mengajak Kak Selantri makan malam di salah satu toko pizza di dekat situ. Kudengarlah Kak Selantri berujar, “Dik Adrian hebat ya tadi balapnya. Kamu bahkan lebih cepat dari pembalap tercepat di Indonesia. Mata dan telingamu benar-benar tajam di luar kemampuan orang normal sampai bisa mengikuti laju kendaraan secepat itu.”
Kak Selantri lantas tiba-tiba menatapku sembari tersenyum, tetapi entah mengapa aku merasakan bulu kudukku merinding. Kak Selantri lantas lanjut berucap, “Tadi juga di wahana, mata Dik Adrian tampaknya bisa mengikuti kecepatan laju roller coaster-nya sehingga Dik Adrian tampak tidak bergeming sedikit pun.”
“Hahaha.” Tawaku singkat sebagai balasan pujianku dari wanita di hadapanku itu.
Terus terang, aku kebingungan bagaimana cara menanggapi ucapan yang diucapkan oleh Kak Selantri itu dengan nada ucapan serta mimik wajahnya yang polos. Aku pun lantas hanya tertawa kecil untuk menanggapinya tanpa berupaya menambahkan sepatah-kata pun.
“Dik Adrian, sebenarnya masih ada sesuatu dari Kang Mas Faridh yang ingin aku berikan padamu, tetapi bendanya sulit untuk dipindahkan. Sekalian juga ada hal penting dari situ yang ingin aku sampaikan. Bisakah kamu ikut malam ini denganku untuk mengambilnya?” Tanya sekali lagi Kak Selantri padaku.
“Memangnya bendanya ada di mana Kak?” Tanyaku balik padanya.
“Itu, tempatnya cukup terpencil dan cukup jauh dari sini.” Jawab Kak Selantri akan pertanyaanku itu.
Aku pun merespon bahwa sebaiknya kami berdua ke sana besok pagi-pagi saja, kebetulan besok juga hari libur. Tetapi dengan tegas, Kak Selantri menjawab, “Tidak! Kalau bukan malam hari, itu tidak ada gunanya.”
Aku pun sejenak berpikir sambil mempertimbangkan keadaan labil wanita yang ada di hadapanku ini. Lalu aku pun memutuskan untuk mengikuti kemauannya. Jadilah kami berangkat ke luar kota di suatu daerah terpencil di Jawa Barat yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Jakarta.
Pukul 8.05 malam, kami pun tiba di lokasi. Lokasinya betul-betul sepi. Terlihat seperti rumah kuno yang angker, tetapi uniknya tampak dirawat dengan baik. Banyak tumbuh-tumbuhan menjalar di bawah atap yang didesain sedemikian rupa sehingga membawa kesan retro yang angker.
Kemudian, Kak Selantri pun membawaku ke bagian taman belakang yang luas di balik rumah bernuansa angker tersebut. Entah mengapa, tempat tersebut dipenuhi oleh kabut menyeramkan.
“Kak Selantri, benar di sini tempatnya, Kak?” Tanyaku kepada Kak Selantri was-was setelah melihat ke sana-sini dan tak menemukan apa-apa selain kabut.
“Fluuuuush.”
Namun, bukannya jawaban yang datang, melainkan rimbunan kabut tiba-tiba tersembur ke arahku. Dengan gesit, aku pun segera menghindar.
“Kak Selantri?” Ujarku keheranan setelah menyadari bahwa asal semburan kabut itu adalah dari tempat Kak Selantri berdiri.
Tetapi kulihatlah di tempat itu, bukan lagi sosok Kak Selantri yang kulihat, melainkan sosok monster avatar bernomor seri 13, Fog.
“Hmmm. Kamu gesit juga ya, Dik Adrian. Untuk ukuran manusia biasa, inderamu terlalu tajam dan gerak refleksmu terlalu luar biasa. Siapa kamu sebenarnya? Tidak, aku tidak perlu tanya lagi. Semuanya sudah jelas, pemuda yang waktu itu muncul dan membunuh Mantis dengan berubah menjadi Blue Batboy, itu kamu kan, Dik Adrian?” Ujar monster avatar itu padaku.
Apa ini? Apa identitasku sudah ketahuan? Tetapi mengapa bisa? Selama ini aku sudah sangat berhati-hati. Aku juga memastikan bahwa di tempat kejadian itu, tidak ada jejak kami yang tertinggal yang dapat membuat kami dicurigai. Ketiga polisi yang berbadan kekar yang sempat berinteraksi denganku itu pula tidak dapat melihat mukaku dengan jelas lantaran asap tebal.
Kecuali, atasan yang membagikan jadwal piket kakakku di hari itu, benar-benar mampu mengingat setiap jadwal piket anak buahnya yang ada hampir seratusan itu. Atau ada orang lain di tempat kejadian yang mengingat wajah kakakku di sana sebelum kejadian lantas melapor ke kepolisian.
Tetapi siapa yang akan melakukan hal repot-repot seperti itu di kala dukungan masyarakat ada di pihak kami dan mengutuk pihak kepolisian yang melakukan tindakan immoral itu pada kami?
Apapun itu, sekarang yang terpenting adalah mengalahkan Fog yang ada di hadapanku ini. Tetapi sayangnya, itu bukanlah bagianku karena rencana telah disusun sebelumnya. Dan yang akan mengalahkannya adalah bagian dari tugas Kak Kaiser.
“Kamu tampaknya terlalu tenang pada keadaanmu yang sekarang, Dik Adrian. Tidakkah kamu paham situasimu? Mengapa tidak berubah saja menjadi Blue Batboy sekarang juga.” Ujar Fog mencoba memprovokasiku.
“Aku juga sangat ingin melakukannya.” Umpatku dalam hati.
Akan tetapi, apa yang paling penting aku lakukan saat ini adalah melindungi identitasku. Jika sebelum menyerangku, dia membawaku ke sini, itu berarti bahwa dia belum yakin akan deduksinya bahwa aku adalah Blue Bat…hmmm, maksudku Ksatria Panah Biru.
Dia pasti berpikiran entah aku benaran atau bukan Ksatria Panah Biru, tidak apa-apa untuk menyerangku, asal tidak ada saksi mata yang melihat yang bisa memicu kembali opini publik memuncak terhadap pentingnya keberadaan Pahlawan Darah Merah. Karena jika bukan, aku palingan hanya akan mati oleh serangannya. Dia sama sekali tidak peduli terhadap nyawa manusia.
“Kau tidak mau berubah juga ya. Kalau begitu, matilah!” Begitulah teriak Fog padaku.
Semaksimal mungkin, aku pun membalasnya dengan aktingku yang meyakinkan. Aku pun berpura-pura jatuh duduk tersungkur dengan badan yang gemetaran sembari dengan lirih kuucapkan, “Tolong, jangan bunuh aku, monster!”
Aku mengucapkannya sembari menangis sekeras-kerasnya. Tetapi bercanda, karena Kak Kaiser telah menyiapkan serangannya di belakang dan bersiap menghabisimu, wahai monster.
Lalu ketika monster itu hendak menyerangku dengan kabutnya, di kala itulah,
“Baaaam.” Satu rudal tepat mengenainya dan seketika membuatnya terluka cukup parah.
Tetapi karena momentum serangan itu, aku ikut pula terlempar dan berhasil membuatku membenturkan kepalaku sehingga aku pun ikut terluka.
“Apa ini? Pahlawan Darah Merah? Mengapa kamu tahu keberadaanku di sini? Apa jangan-jangan bocah itu yang memberitahumu? Apa sedari awal rencanaku telah ketahuan oleh bocah itu?” Kulihat Fog berdiri sempoyongan sembari mengungkapkan berbagai pertanyaan dengan keheranan.
“Hah, apa kamu bilang? Tentu saja kamu akan ketahuan. Tidakkah kamu menyadari robot-robot kecil seukuran lalat di sekitarmu itu? Kebetulan yang luar biasa, kami menemukanmu mengamuk di tempat ini, terima kasih atas robot-robot itu.” Ujar Kak Kaiser dengan akting yang meyakinkan.
“Apa?” Ujar Fog sekali lagi keheranan. Tampaknya, dia termakan oleh kebohongan Kak Kaiser itu.
Syukurlah. Dengan demikian, identitasku sebagai Ksatria Panah Biru dapat kulindungi, setidaknya untuk sekarang. Di masa depan, aku harus lebih berhati-hati karena jika sekali lagi mereka curiga, entah bagaimana lagi kami akan menyusun alasannya.