101 Avatars

101 Avatars
44. Suara Hati Judith



“Jadi, Kak Kaiser percaya bahwa Mecha, Sturdy, dan Thief ini masing-masing telah memimik wajah Pak Bosman beserta istri dan anaknya?”  Aku pun bertanya dengan penasaran.


“Ya, begitulah.”  Jawab Kak Kaiser dengan singkat.


Namun, setelah itu, kulihat wajah Kak Kaiser kembali berekspresi rumit, seolah masih ada yang ingin dikatakannya.  Aku pun menunggu dengan sabar sambil penuh antisipasi terhadap apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Kak Kaiser.


Kak Kaiser pun kembali angkat bicara, “Sekitar pukul 10.30 pagi tadi, aku berhasil mengalahkan Thief.  Bersamaan dengan itu, bisa terlihat dari hasil pemantauan AI5203 bahwa anak laki-laki Pak Bosman meninggalkan rumahnya sekitar pukul 7 pagi lewat dan tak pulang-pulang sampai sekarang, padahal dia biasanya selalu pulang ke rumah ketika malam, tipikal siswa teladan.  Bukankah ini agak kebetulan?”


“Tapi bisa saja dia hanya kumpul-kumpul bareng sama teman-teman kuliahnya.”


Terhadap komentar Kak Syifa itu, Kak Kaiser menggelengkan kepalanya.


“AI5203 sama sekali tak menemukan satu teman dekat pun dari anak itu.  Dia betul-betul menggambarkan tipe anak introvert.  Dan cobalah sekali lagi perhatikan wajah anak itu.  Apa itu benar-benar wajah seorang anak yang berusia 21 tahun?”


Benar kata Kak Kaiser, wajah anak itu tidak hanya kelihatan awet muda karena kulitnya yang putih dan rupawan.  Dia benar-benar muda dalam artian harfiah.  Salah satu ciri monster avatar adalah tubuhnya yang tak bisa menua.  Usianya akan terus tertinggal di waktu ketika dia memimik inangnya tersebut.


Seketika itu Crusader keluar dari gelang perubahku dalam wujud hologram mininya.


“Coba perlihatkan padaku, perlihatkan padaku.  Aku kebetulan sempat melihat wajah manusia Thief.”  Ujar Crusader sembari menengok ke arah layar.


“Klik.”


Kak Kaiser pun mengembalikan layar ke posisi slide ketiga yang mempertunjukkan foto Pak Bosman beserta istri dan anaknya.


“Hmmm.  Apa ini dia ya?  Kayaknya memang dia.  Tapi dandanannya kala itu agak beda, tipe-tipe badboy, sementara yang di sini berkacamata dan tampak seperti anak baik-baik.  Jadi aku kurang yakin.  Aku jadi bingung, apa ini memang dia atau cuma mirip ya?”  Ujar Crusader sembari menampakkan ekspresi kebingungan.


Namun tanpa terlalu menggubris pendapat Crusader, Kak Kaiser melanjutkan ucapannya.


“Jika dugaanku benar, maka kemungkinan Pak Bosman adalah Mecha yang menyamar, sementara istrinya adalah Sturdy, atau bisa saja sebaliknya.  Oleh karena itu, besok sabtu, tanggal 15 Desember 2057, kita akan menyelidiki bersama pasangan suami-istri itu.  Aku juga menyiagakan AI5203 untuk support di samping mengawasi perkembangan berita Jangky, anak Pak Bosman itu, sebagai jaga-jaga bahwa asumsi kita salah jika ternyata dia baik-baik saja.”


Sebelum lanjut berucap, Kak Kaiser terlebih dahulu menelisir pandangannya ke arah kami, mengamati kami satu-persatu.


Kak Kaiser lantas menepuk pundakku.


“Dan untuk penyelidikan Pak Bosman, serahkan kepadaku dan Adrian.  Berdasarkan rutinitasnya, Pak Bosman akan menghabiskan waktu paginya dengan bersepeda di sekitar taman dekat rumahnya, lalu meninggalkan rumah sekitar pukul 8 pagi untuk menghadiri acara perkumpulan golf-nya, kemudian di sore hari, dia akan singgah di café favoritnya yang juga menyediakan layanan warnet untuk bermain virtual game.”


Dengan demikian, pembagian tugas untuk seluruh anggota tim Pahlawan Darah Merah telah selesai digelar dan kami pun bersiap untuk mengeksekusinya keesokan harinya.


***


Malam yang indah.  Sayangnya, malam di kota ini penuh kabut sehingga bintang-bintangnya selalu nampak tidak jelas.  Aku masih ingat ketika aku terakhir berada di rumah nenek sewaktu usiaku masih 6 tahun, bintang-bintang di sana terlihat lebih indah.  Ah, aku merindukan nenekku.


Aku hanya memiliki dua orang keluarga yang tersisa, yakni Kak Kaiser dan nenekku yang saat ini tinggal bersama paman dan bibiku di Jerman.


Aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita apapun soal kedua orang tua ayahku.  Adapun kakek dari pihak ibuku, meninggal dalam musibah tragis kecelakaan di labnya 16 tahun lalu.  Setidaknya, itu yang Kak Kaiser sampaikan padaku.  Namun, aku tidak bodoh.  Aku sudah mencari tahu dan berhasil menemukan fakta bahwa kecelakaan itu sebenarnya direkayasa.


Hal yang sama menimpa ayah dan ibuku dengan alasan yang sama tiga tahun kemudian.  Agak berbeda dari kakekku yang seorang peneliti arkeolog yang tertimbun reruntuhan di lab bawah tanahnya ketika menyelidiki suatu situs arkeolog, kecelakaan ayah dan ibuku benar-benar sangat jelas disengaja.  Namun, Kak Kaiser dengan polosnya masih berupaya meyakinkan aku bahwa itu semua juga hanya kecelakaan.


Mana mungkin lab yang bertujuan untuk pengembangan game virtual bisa kebakaran lantaran konsleting listrik, padahal bangunan didukung oleh banyak sekali peralatan-peralatan canggih demi mencegah hal tersebut terjadi.  Dan mana mungkin pula terjadi kebetulan di mana semua pintu keluar yang ada saat kebakaran itu macet sehingga membuat seluruh peneliti di dalamnya tewas yang dominan karena kehabisan nafas akibat terperangkap dalam asap kebakaran.


Jelas-jelas itu adalah pembunuhan.  Berbeda dari aku yang waktu kematian Kakek, belum terlahir di dunia, dan juga waktu kematian Ayah dan Ibu yang masih berusia sekitar setahunan, Kak Kaiser telah mampu mengingat, tetapi masih dalam tubuh bocah.  Hal itu pastilah lebih berat baginya.


Tetapi dia selalu saja menyembunyikan hal-hal yang buruk dariku dan senantiasa hanya menginginkan aku tertawa bahagia.  Bukankah itu tidak adil?  Aku juga ingin berbagi rasa sakit dengan kakak yang paling aku sayangi di dunia.


Waktu aku kecil, Kak Kaiser meninggalkanku dengan Nenek dan keluarga Paman demi menimba ilmu di Indonesia di kala usiaku baru menginjak 3 tahun.  Belakangan aku tahu bahwa semua itu bohong.  Belajar ilmu fisika virtual hanyalah alasan semata.  Apa yang menjadi tujuan utama kakakku adalah menyelidiki soal kematian Kakek yang semuanya berawal dari artifak yang dibawa dari Candi Primbonan tersebut.


Tidak hanya itu, belakangan kuketahui bahwa Kak Kaiser sengaja berinteraksi dengan mantan dosen Ayah dan Ibu demi menyelidiki soal kematian kedua orang tuaku itu bertepatan setelah mereka mengirimkan sepucuk surat kepada mantan dosen mereka itu.  Padahal usia kakakku saat itu, barulah 12 tahun.  Aku sangat sedih sekaligus simpatik akan keputusannya.


Sebelum pergi, kakakku Kaiser meninggalkanku sebuah robot kesayangannya yang katanya dibelikan oleh Kakek di hari ulang tahunnya yang keenam sebagai hadiah untukku agar aku tak kesepian selama kepergiannya.


Aku kala itu masih sangat kecil sehingga belum terlalu memiliki ingatan yang baik.  Tetapi aku ingat dengan jelas di hari itu aku berjanji padanya bahwa ketika aku berusia 6 tahun, aku akan menyusulnya bersekolah di Indonesia lalu tinggal bersamanya.  Dan kuingat pula dengan jelas bahwa kakakku Kaiser menyetujui janji itu.