101 Avatars

101 Avatars
97. Serangan Para Dummy 1



Raging Fire pun dibawa ke tempat pengorbanan.  Seketika sebuah pohon yang disebut sebagai Pohon Keabadian tiba-tiba menggeliat liar.  Akar-akarnya menjulur sejadi-jadinya dengan menjijikkan dan serta-merta menusuk jantung Raging Fire sambil bagian akarnya yang lain meliliti monster avatar dalam keadaan lemahnya itu dalam wujud manusianya.


Api pun mulai menjalar dari jantung Raging Fire menuju kepada inti Pohon Keabadian.  Api yang selama ini menggerogoti jantung Raging Fire yang membuatnya dapat meledak kapan saja sehingga dia harus senantiasa mengontrol amarahnya agar tidak melewati batas, digunakan begitu saja sebagai pasokan energi bagi Pohon Keabadian.


Dengan cepat Pohon Keabadian bertambah liar.  Bunga-bunga hitam pun mulai tumbuh di setiap cabangnya lalu dengan cepat pula bermekaran lantas menghasilkan buah yang tidak kalah menjijikkannya.  Dari setiap buah dari Pohon Keabadian pun, lahir-lah sosok monster dengan rupa yang akan membuat trauma bagi siapapun yang melihatnya saking menjijikkannya tampang mereka itu.


Tiada yang menduga bahwa hari yang diawali dengan ketenangan itu, akan dengan cepat berubah menjadi mencekam untuk yang ketiga kalinya di waktu yang berdekatan.  Setelah bencana kurungan listrik dan zombie, kini Kota Jakarta sekali lagi harus menghadapi bencana yang disebabkan oleh para dummy yang lahir dari Pohon Keabadian.


“Apa yang sebenarnya telah terjadi?  Makhluk-makhluk menjijikkan apa itu yang sedang tersebar di kota kita?”  Dengan panik, Profesor Melisa menuju ke panel komputer yang terhubung dengan Mr. Aili.


“Ini gawat.  Aku telah mengecek pada databaseku.  Tidak salah lagi, itu adalah monster-monster yang disebut domion yang ada catatan kemunculannya pada tahun 2000 dan 2002 silam di Kota Makaz.  Kalau sampai monster itu muncul, bisa dipastikan kalau ada lagi orang bodoh yang mencoba untuk membangkitkan Pohon Keabadian.  Jika ini dibiarkan, maka bencana tahun 2002 itu bisa saja terulang.”


Jawab Mr. Aili turut pula panik menyadari situasi tersebut.


“Pohon Keabadian?”  Tanya Syifa kebingungan.


“Yah, pohon yang sempat pula muncul pada Game Devil Inside You yang hampir saja mengulangi bencana Kota Makaz di kota kita pada tahun 2022 silam, tetapi berhasil dicegah oleh sekelompok pemuda.  Pohon yang dikatakan sebagai jembatan yang menghubungkan antara dunia manusia terhadap dunia iblis.  Pohon yang mengawali bencana Sindrom Pelangi 1998.”


Di kala Mr. Aili, Profesor Melisa, dan Syifa terlarut dalam obrolan mereka yang tampak menegangkan tersebut, terdengarlah suara pintu markas terbuka.  Rupanya mereka adalah Kaiser dan Adrian yang tampak masuk berbarengan.


“Mr. Aili, bagaimana dengan keadaan ibukota?”  Adrian serta-merta berlari mendekat dan bertanya dengan panik kepada makhluk virtual tersebut.


“Saat ini, telah ada 7 shelter yang berhasil kami bangun selama waktu satu bulan ini dengan memanfatkan kumpulan daya spiritual yang lemah dari para warga kota berkat kerjasama pihak kepolisian.  Para warga juga tengah diarahkan ke shelter terdekat oleh para pihak kepolisian.  Kalian juga segera bantu evakuasi warga.”


Terlihat Kaiser sedang berpikir rumit di kala Adrian menyuruhnya untuk bergegas.  Sesaat kemudian, Kaiser pun berujar,


“Kalau ada 7 shelter, ke mana sebaiknya kami harus bergerak?  Kami tak dapat melindungi ketujuh shelter secara bersamaan.”


Di kala mereka semua terdiam mempertimbangkan ucapan masuk akal dari Kaiser itu, suatu panggilan telepon tiba-tiba terdengar dari smartphone Adrian.  Adrian pun meraih smartphonenya itu.  Rupanya panggilan telepon itu datang dari Nafisah.  Tanpa pikir panjang, Adrian refleks mengangkatnya.


“Halo, Nafisah.”


“Adrian, apa kamu baik-baik saja?”


“Ya, keadaan di sini baik-baik saja walaupun kami agak kesulitan karena ada 7 shelter yang harus kami lindungi sementara kami hanya ada berdua.  Hahahahaha.”


“Kalau begitu, serahkan sisa shelter pada Keluarga Wijayakusuma, Adrian.  Kebetulan kami baru saja kedatangan tamu yang luar biasa hebat yang sangat bisa membantu.”


“Tapi tidak mungkin aku membiarkanmu ikut terlibat dalam masalah ini.”


Adrian tidak dapat lagi menyangkal kebulatan tekad dari Nafisah itu.  Ditambah benar adanya bahwa timnya sangat kekurangan orang saat ini dan benar-benar membutuhkan bantuan.  Tetapi tetap saja, Adrian tak ingin gadis yang dicintainya itu sampai terluka atau merasa terluka karena kehilangan salah seorang dari keluarganya karena pertempuran berdarah ini.


“Tenang saja, Adrian, bukan berarti bahwa aku yang akan terjun langsung dalam pertarungan sehingga akan terluka.  Murid-murid kami yang mumpuni serta ayahku-lah yang akan terjun langsung ke pertempuran.  Dan kekuatan mereka sangatlah hebat sehingga membuatku tak perlu lagi khawatir pada mereka.  Percayalah kami, Adrian.”  Ujar Nafisah lembut kepada Adrian.


Di kala itulah, percakapan telepon segera diambil alih oleh Mr. Aili.  Dengan memasukkan bantuan dari keluarga Nafisah, mereka pun mulai membagi daerah mana yang akan mereka tangani masing-masing.


Sebagai jaga-jaga, Mr. Aili pun turut menghubungi Dream dan Carnaval untuk membantu mereka.  Syukurlah bahwa menurut mereka berdua, penalti sistem pada host hanya akan bekerja jika mereka terlibat pertarungan dengan sesama avatar, yang mutlak jika lawan mereka adalah monster di luar avatar, penalti sistem tidak akan bekerja yang berarti mereka dapat membantu mengamankan salah satu shelter.


Sebagai tempat yang terparah serangannya, Kaiser diarahkan ke area D, sementara Adrian diarahkan ke area E.  Adapun Dream dan Carnaval yang berwujud monster yang mungkin akan menakuti warga dengan penampilan mereka itu diarahkan ke tempat yang sepi, yakni area A-B.  keempat area sisanya, yakni area F, G-H, C-I-J, K-L-M, diserahkan kepada keluarga Wijayakusuma untuk mengatasinya.


Begitu pembagian tugas selesai, Adrian pun segera menuju ke area E yang menjadi tanggung jawab pengawasannya.


***


Aku berlari secepat mungkin ke area E yang menjadi tugas penjagaanku.  Sesampainya di sana, kusaksikanlah sekumpulan monster-monster menjijikkan dengan warna hitam bergaris-garis putih di sekujur tubuh mereka.  Warna mereka seragam, tetapi bentuk mereka berbeda-beda satu sama lain.


Ada yang hampir menyerupai bentuk tubuh manusia, namun ada pula yang merangkak dengan empat kaki mirip dengan serangga.  Bahkan di antara mereka, ada yang hampir-hampir tidak berbentuk bagai sekumpulan lumpur yang bergerak.


Kulihat drone Mr. Aili yang selama ini mensupport pengungsian telah mencapai batasnya.  Maka mau tidak mau aku pun tanpa mengulur-ulur waktu lagi segera memberikan supportku, menghadapi monster-monster menjijikkan itu.


“Holy light!”  Teriakku sembari mengaktifkan jurus pedang Crusader-ku.


Sesuai dugaanku sebelumnya, jurus tersebut sangat efektif pada para monster dummy.  Tidak salah lagi bahwa makhluk-makhluk menjijikkan itu adalah makhluk bertipe kegelapan sehingga efektif dimusnahkan oleh holy light Crusader.


Holy light Crusader sangat efektif menghabisi makhluk-makhluk menjijikkan itu, tetapi mutlak tidak berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya karena pada prinsipnya itu sama saja dengan cahaya yang sangat terang.  Serangan area holy light adalah pilihan serangan terbaik untuk menghadapi makhluk-makhluk ini yang tengah mengamuk di antara kerumunan manusia.


Setidaknya, itu pikirku beberapa saat yang lalu.


“Holy light!  Holy light!  Holy light!  Holy light!  Holy light!”


Namun, jurus tersebut sangat menguras mana sehingga baru enam kali kumenggunakannya, MP-ku telah turun drastis ke nilai kurang dari 30 persen, sementara jumlah para monster dummy menjijikkan itu masihlah sangat banyak.


Sungguh, ini akan menjadi pertarungan yang amat sangat melelahkan.  Mereka lemah, tetapi jumlah mereka sangatlah banyak.  Bagiku tidak masalah menghadapi makhluk bertipe kegelapan seperti ini dengan keberadaan Crusader di tanganku.  Tetapi bagaimana kiranya Kak Kaiser dan yang lainnya akan menghadapi makhluk-makhluk menjijikkan ini di kala mereka tidak punya jurus cahaya?


Hal itu lantas membuatku tergelitik untuk segera menyelesaikan pertarungan di area ini agar dapat segera memberikan supportku ke daerah lain yang membutuhkan bantuan.