101 Avatars

101 Avatars
52. Pulihnya Zio



Aku loading sejenak mencoba mencerna informasi yang Kak Kaiser berusaha sampaikan padaku.  Lalu aku pun teringat salah satu ucapannya di pertarungan sebelum dia menebas Thorny Boy dalam wujud anak kecil laki-laki tersebut.


“Hanya kamu, hanya kamu yang tidak boleh selamat!”


“Maksud Kakak, wujud yang dimimik oleh Thorny Boy itu adalah Zio, anak kedua Profesor Melisa, lantas Kakak bersikeras memprioritaskan untuk mengalahkannya di tempat itu ketimbang para monster avatar lainnya karena tahu Zio akan sadar ketika Thorny Boy terkalahkan?”  Tanyaku dengan penasaran kepada Kak Kaiser.


“Awalnya, itu hanya sebagai hipotesis sih pasca aku mengalahkan Seal.  Tetapi kurang lebih seperti itu.”


Aku paham sekarang darimana sumber kebengisan Kak Kaiser yang tak biasa itu barusan.  Aku hampir saja salah paham lagi dan menduga kalau itu semua adalah sifat asli Kak Kaiser yang berusaha disembunyikannya selama ini.  Tentu saja mana mungkin itu benar karena Kak Kaiser adalah sosok yang baik dengan jiwa keadilan yang tinggi.  Semuanya hanya karena rasa amarahnya yang tak tertahankan perihal koma-nya Zio.


Aku pun mencerna teori Kak Kaiser baik-baik kembali.  Aku seketika teringat pada kejadian Avatar Sena dan Ningrum.


“Jika teori Kakak benar, lantas bagaimana dengan Ningrum?”  Tanyaku pada Kak Kaiser.


“Siapa Ningrum?”  Tanya balik Kak Kaiser polos.


Benar juga.  Pada saat kejadian, Kak Kaiser sedang berada di luar negeri sehingga tidak tahu permasalahannya.


Waktu itu, Sena memimik Ningrum dengan meminum darah yang disodorkan oleh Ningrum sendiri.  Ah, seketika aku sadar sendiri atas jawaban pertanyaanku sendiri.


“Ah, dia manusia yang dimimik oleh Avatar Sena, tetapi tetap sadarkan diri dan tidak terbaring koma setelahnya.  Tetapi aku kurang lebih sudah tahu jawabannya, Kak.  Karena berbeda dengan yang lain, Sena tidak menyentuh Ningrum sedikit pun.  Hanya Ningrum sendirilah yang memberikan darahnya untuk diminum Sena.”  Jawabku pada Kak Kaiser.


“Begitu rupanya.  Artinya kita bisa menghipotesiskan bahwa darah atau air liur manusia yang berisi kode genetik adalah faktor utama yang dibutuhkan oleh para monster avatar dalam memimik manusia.  Sementara, di dalam cairan tubuh avatar yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri, ada semacam senyawa yang merangsang para avatar mengganas dan menyerang manusia yang jika terkena manusia, akan menyebabkan manusia itu mengalami koma.”


Kak Kaiser terdiam sejenak, sebelum melanjutkan.


“Tetapi senyawa ini menghilang ketika para monster avatar memperoleh kesadarannya setelah memimik manusia.”


“Hmmmm.”  Terlihat Kak Kaiser tiba-tiba berpikir keras.


Akhirnya, Kak Kaiser pun kembali berucap, “Tidak, mungkin tepatnya terdekomposisi menjadi dua senyawa berbeda.  Satunya tetap di tubuh mereka, satunya lagi ke tubuh inangnya, dan saling berinteraksi dengan cara yang unik menyebabkan kesadaran inangnya menghilang.  Akan tetapi ketika monster avatar ini dikalahkan, interaksi antarsenyawa pun menghilang dan inang akan segera memperoleh kembali kesadarannya.


Sekali lagi Kak Kaiser terdiam sebelum melanjutkan ucapannya.


“Apa yang akan terjadi jika kita menemukan senyawa itu lebih dahulu di dalam tubuh inang lalu menetralkannya sebelum mengalahkan monster avatar yang memimik inang tersebut?  Mungkin saja sang inang bisa siuman sebelum monster avatarnya dikalahkan.”  Ujar Kak Kaiser kembali beranalisis dengan yakin.


Kami mengobrol bersama sepanjang perjalanan kami menuju ruang medis rahasia di mana Zio dirawat.  Di akhir, tampak Kak Kaiser juga mengobrolkan sesuatu yang serius, tetapi karena sudah terlalu mengantuk, aku tak dapat lagi menangkap arah pembicaraan tersebut.


Tanpa sadar, kami akhirnya tiba di tempat di mana ruang medis rahasia tempat perawatan Zio berada yang rupanya terletak di dalam kawasan Rumah Sakit Dewantara Group, milik perusahaan paman Kak Kaiser.  Kami pun bergegas menuju ruang medis rahasia milik Pahlawan Darah Merah tersebut yang juga merupakan tempat di mana Tio, tubuh yang dimimik oleh Arjuna, dirawat.


Tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk membahas perihal itu dulu sebab begitu pentingnya keberadaan Arjuna bagiku saat ini.  Tanpa Arjuna, aku tidak akan dapat menjadi Ksatria Panah Biru yang menyelamatkan orang-orang dari bahaya para monster avatar.


Yah, walaupun aku tentunya merasa bersalah kepada Tio.  Tetapi ini untuk yang terbaik saat ini.  Setelah semuanya selesai, pada akhirnya, gelang juga akan dihancurkan dan Tio akan memperoleh kesadarannya kembali.


Ruang medis rahasia tersebut, ternyata benar-benar tersembunyi di balik lantai teratas  RS Dewantara Group.  Kami pun masuk ke sana.  Di sana, telah menanti kami seorang dokter kakek-kakek yang bertugas menjaga ruang medis rahasia selama ini.  Dialah Pak Saharuddin, ayah dari Pak Sabaruddin, suami Profesor Melisa.  Dengan kata lain, mertua Profesor Melisa.


Di dalam ruangan itu, turut menanti kita pula Profesor Melisa bersama anak keduanya, Zio.  Tetapi berbeda dengan wujud Zio yang aku lihat sebelumnya melalui tampilan mimikan Thorny Boy yang berupa bocah berusia 9 tahun, Zio yang ada di hadapan kami saat ini, telah menginjak usia remaja seusia dengan Judith.


Tetapi ada yang aneh dengan penampilannya.  Aneh bukan dalam artian negatif, tetapi malah sebaliknya.  Untuk dibilang telah koma selama 5 tahun, kondisinya terlalu segar-bugar dan dia dapat memfungsikan seluruh alat geraknya dengan baik tanpa masalah, termasuk untuk berjalan atau mengangkat benda-benda yang cukup berat.


Biasanya, orang yang baru tersadar dari komanya, akan terlihat lunglai dengan badan yang kurus perihal selama ini dia hanya bertahan hidup dari makanan dan minuman lewat infus.


Juga seharusnya, orang yang baru terbangun dari komanya tidak akan dapat berjalan dan mengangkat benda-benda yang berat untuk sementara waktu, perihal otot-otot tubuhnya yang belum terbiasa sehingga membutuhkan terapi terlebih dahulu sebelum mampu kembali menggerakkan otot-otot tubuhnya seperti sedia kala.


Namun, Zio di hadapanku ini, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda demikian, malahan sebaliknya, kondisinya betul-betul sangat vit.


Apakah ini semua berkat kecanggihan fasilitas rumah sakit ini?  Aku sebenarnya sangat penasaran ingin bertanya kala itu, tetapi kutahan karena bukan waktu yang tepat sekarang, melihat Zio begitu senangnya bisa kembali menghirup udara secara bebas dan kembali mengobrol ceria dalam pelukan ibunya.


“Oh iya, Ayah dan Kak Andina mana, Bu?”  Ujar Zio kepada Profesor Melisa.


Namun, kesenangan Zio itu tampaknya takkan bisa berlangsung lama.


***


Malam itu, Profesor Melisa memutuskan untuk bermalam di rumahnya bersama Zio demi melepaskan kerinduan kepada satu-satunya anaknya yang tersisa itu sembari menenangkan Zio yang terpukul karena baru saja menerima kabar kematian ayah dan kakak satu-satunya setelah terbangun dari koma-nya itu.


Adapun Kak Syifa, dia sempat kemari, namun segera pulang kembali ke rumah karena sesuatu yang mendesak tentang pekerjaannya.


Jadilah hanya ada kami bertiga di markas saat ini, yakni aku, Kak Kaiser, dan Judith.  Jika AI5203 masuk hitungan, maka totalnya jadi empat orang.  Karena ada tiga kamar, sedangkan kami ada bertiga, jadilah Kak Kaiser memutuskan untuk tidur terpisah malam itu.


Dan di dalam pembaringan di kala aku bersiap untuk tidur itulah, aku teringat kembali dengan analisis Kak Kaiser di rumah sakit barusan.  Tentang cara menyadarkan inang manusia yang terbaring dari komanya pasca dimimik oleh sesosok avatar, sebelum avatar yang bersangkutan berhasil dikalahkan.


Semula aku tidak menyadari, tetapi ketika kucerna baik-baik kembali kata-kata Kak Kaiser itu, aku akhirnya dapat memahaminya.  Kak Kaiser mencoba untuk menemukan cara menyembuhkan Tio, inang manusia dari Arjuna, tanpa harus mengeliminasi Arjuna yang berakibat rusaknya gelang.


Tidak, pastinya itu bukan semata perihal gelang, tetapi karena kepeduliannya terhadap rekan-rekannya, termasuk kepada para rekan avatar gelangnya.


Benar kata Arjuna, walau Kak Kaiser sering bilang bahwa dia sangat membenci para monster avatar, di lubuk hatinya yang terdalam, justru Kak Kaiser-lah yang paling bersimpati kepada mereka, perihal Kak Kaiser-lah yang paling berjiwa lembut di antara kami, tanpa disadari oleh orangnya sendiri.