101 Avatars

101 Avatars
18. Dialah Bobi, Seorang Pencari Informasi Berbakat yang Berinsting Tajam



Aku yang hanyut dalam keraguan, lantas pulang ke rumah dengan perasaan yang hampa.  Begitu kuhendak memasuki kamar untuk merebahkan badan yang terasa sangat penat ini, aku pun berpapasan dengan Kak Syifa.


Kak Syifa menatapku.  Aku pun tak bisa lagi membendung kesedihanku.  Mendadak, mataku berkaca-kaca.  Mungkin karena menangkap kesedihanku itu, Kak Syifa memelukku erat-erat, lantas berujar, “Ada masalah apa, adikku Adrian?”


Mendengar suara lembut nan tulus dari Kak Syifa kala itu yang biasanya tegas dan bersemangat, tanpa terasa, air mataku terjatuh membasahi pipiku.


“Hiks…hiks…”  Aku pun menangis dalam pelukannya.


Aku kemudian menceritakan kepada Kak Syifa segala apa yang terjadi mengenai Avatar Sena.  Tentang kebaikan hatinya, tentang ketulusannya yang tak ingin menyakiti siapa pun, serta bagaimana dia menyelamatkan para pendaki yang tersesat di Gunung Suzana dari ancaman Avatar Fog.  Namun, aku tetap harus menghabisinya demi mencegah penghancuran massal alam semesta dari tolakan gaia karena keberadaan para avatar.


“Yosh…yosh…adikku Adrian sudah berjuang dengan baik.”  Ujar Kak Syifa seraya membelai rambutku.


“Adakalanya kita dihadapi oleh suatu pilihan yang sulit.  Namun adikku, apa yang terpenting adalah…ikuti kata hatimu.  Di saat kamu menghadapi sesuatu seperti itu, jangan tempatkan penilaian orang lain di dalamnya, tetapi ikuti kata hatimu.  Lakukan apa yang terpenting bagimu, buat apa kamu berjuang, mana yang akan membuatmu bahagia.  Sekali-kali, tidak ada salahnya bagi seseorang untuk egois.”


Kata-kata Kak Syifa itu lantas sedikit menenangkan hatiku.  Aku sekilas terlupakan terhadap tujuan awalku berjuang.  Ya, benar.  Aku berjuang demi melindungi satu-satunya keluargaku yang tersisa, orang yang saat ini sedang memelukku itu, kakakku satu-satunya yang tersisa, Kak Syifa.  Apa yang kulakukan,


tidaklah salah!


Pagi harinya, aku pun berangkat kuliah seperti biasa.  Tak kusangka, di tempat kuliahku itu, masalah lain telah menungguku.


Belum sempat aku memasuki pintu masuk gedung fakultas, Bobi tiba-tiba mencegatku di sana seraya berkata, “Hai Adrian, kamu avatar berkostum biru kemarin kan?”


Glek.  Seketika keringat dingin mengucur dari keningku.  Bagaimana orang ini sampai berpikir seperti itu?  Apa kemarin aku tak sadar melakukan hal yang mencurigakan atau tak sengaja keceplosan bicara?  Tapi rasanya tidak ada satu pun hal aneh baik yang aku lakukan maupun yang aku ucapkan kemarin.


“Apa yang kamu katakan, Bobi?”  Aku pun mencoba mengelak seraya tersenyum berpura-pura heran.


“Hah, ekspresimu itu mudah dibaca, Adrian.  Sebaiknya kamu lebih berhati-hati lagi.  Tiap orang memiliki cara bicara dan kebiasaan gerak tertentu.  Jika kamu bermaksud menyembunyikan identitasmu kemarin, seharusnya kamu lebih belajar dalam mengontrol kedua hal tersebut.”


Glek.  Apa aku sudah ketahuan?  Itu tidak mungkin, pasti aku masih punya sesuatu untuk mengelak.


Namun, Bobi pun memberikan sebuah makalah kepadaku yang berisikan hasil investigasi lengkapnya tentangku, maksudku tentang Arjuna.  Aku tertangkap basah.


“Bobi, ini…”  Dengan keringat dingin mengucur membasahi wajahku, aku pun berucap dengan kegagapan.


“Tenang saja. Tidak ada yang tahu hasil investigasiku itu selain aku.  Bahkan, aku justru membantumu menyamarkan segala bukti yang ada dari pihak kepolisian.  Soal itu, aku juga tahu bahwa ada avatar yang telah menyusup ke sana dan memanipulasi polisi untuk menangkap kalian berdua.”


Bobi lantas menatap tajam ke arahku.  Dia diam dalam tatapan tajamnya itu.  Hal itu sekilas membuat hatiku merasakan intimidasi mengancam dari anak yang terlihat kutu buku ini.  Sesaat kemudian, dia kembali berucap,


“Aku sebenarnya masih marah terhadap tindakanmu yang membunuh Ningsih, tetapi aku telah mengenalmu selama 3 bulan ini dan aku tahu bahwa kamu bukan orang yang kejam yang dapat melakukan semua itu tanpa alasan yang kuat.  Di samping dari dulu, aku mengagumi Pahlawan Darah Merah, tidak, maksudku Senior Kaiser.  Jadi, tergantung dari jawabanmu, aku bisa membantumu atau malah melaporkan kalian berdua ke polisi.”


Tunggu.  Apa ini?  Bobi tidak hanya mengetahui identitasku, tetapi juga berhasil mengungkap identitas Kak Kaiser?  Mengapa?


Aku pun menceritakan segala hal yang kuketahui dari AI5203 tentang para avatar dan bahaya mereka, termasuk bencana yang akan terjadi jika mereka tidak dimusnahkan dalam waku 2000 hari sejak kedatangan mereka ke dunia nyata.  Seketika Bobi terkesiap.


“Apa?  Bumi, tidak, alam semesta akan hancur?!  Itu tidak bedanya dengan kiamat!  Kalau begitu, tidak ada jalan lain selain menyingkirkan para avatar.”  Ujar Bobi dalam keterkejutannya.


“Jadi karena itulah, Bobi, tidak ada jalan lain selain aku melakukan itu.  Aku minta maaf soal kejadian Avatar Sena sebelumnya.”  Ujarku dengan tulus.


Padahal, berkat keberadaan Avatar Sena di tempat kejadian, 27 dari 32 pendaki gunung yang terjebak kabut milik Fog dapat terselamatkan.  Namun, penyelamat itu justru harus mati di tanganku demi kepentingan umat manusia.


Ya, dalam insiden kemarin, tidak semua pendaki gunung dapat terselamatkan oleh Avatar Sena.  Pada regu pertama yang terdiri dari lima orang yang mengalami insiden itu di mana Avatar Sena belum tahu jebakan kabut, dia hanya dapat menyelamatkan seorang dari mereka.


Adapun pada regu kedua yang terdiri dari delapan pendaki, Avatar Sena masih kehilangan seorang pendaki lagi karena lengah perihal belum terbiasa dengan jebakan kabut.  Akan tetapi pada regu ketiga yang terdiri dari 7 orang dan regu keempat yang terdiri dari 12 orang, termasuk Bobi, Avatar Sena yang telah melihat berkali-kali jebakan kabut tersebut dan menyadari titik lemahnya, akhirnya mampu menyelamatkan semuanya.


Sayangnya, keberadaan kelima pendaki yang hilang sampai saat ini masih belum diketahui, walaupun dengan upaya sekuat tenaga drone-drone milik AI5203 yang mencarinya ke seluruh pelosok lokasi.


Setelah kami membawa para korban ke pemukiman terdekat dan menginformasikan kepada warga di sana tentang apa yang tengah terjadi di Gunung Suzana, wilayah tersebut akhirnya terlarang sementara untuk pendakian.  Walaupun tampak kabut sudah menghilang, masih ada kemungkinan kalau semua itu hanyalah jebakan.


Kedua puluh tujuh pendaki yang selamat itu pastinya akan menganggap Avatar Sena sebagai pahlawan mereka dan aku sebagai orang yang telah membunuhnya adalah orang jahatnya.  Itu wajar saja.


“Avatar Sena…oh, maksudmu Ningsih.  Memaafkan atau tidak, kamu hanya melakukan tugasmu saja.  Sedari awal, aku tidak punya hak untuk marah padamu, malahan, sebagai salah satu makhluk bumi, aku justru harus berterima kasih karena telah bersedia berjuang demi keselamatan kami.”


Berbeda dari ucapannya, mata Bobi seraya berkaca-kaca.  Ucapannya tiba-tiba berubah tersendat.  Dia terisak-isak lantaran tak mampu menahan perasaan sedihnya.


“Namun, walaupun mungkin benar yang kamu katakan, bahwa dia tiada bedanya dengan program yang berjalan berdasarkan perintah di memori datanya, tetap saja dia telah menyelamatkanku.  Interaksi kami nyata, dan aku dari lubuk hatiku yang terdalam, sangat berterima kasih kepadanya sebagai penyelamatku.”  Ujar Bobi dalam kesedihannya.


Bobi tidaklah salah.  Mungkin akan aneh jika seseorang yang tiba-tiba terkena serangan jantung di mobilnya lantas bisa selamat karena chip program asistensi yang tertanam di mobilnya tersebut yang segera memanggil dokter lantas memarkirkan mobil tersebut secara auto ke tempat yang aman, akan berterima kasih kepada program tersebut.  Namun, para avatar berbeda.


Walaupun mereka sama-sama bergerak berdasarkan memori data mereka, tetapi para avatar dapat berbicara dan berinteraksi dengan manusia.  Maka hal yang wajar jika dari jalinan interaksi itu, akan timbul kesan yang menumbuhkan rasa simpati atau empati karena begitulah fitrah manusia diciptakan sebagai makhluk sosial.


Setelah itu, aku melakukan bincang-bincang rahasia terkait para avatar dengan Bobi beberapa saat.  Setelah selesai, aku pun beranjak duluan untuk memasuki ruang perkuliahan.  Akan tetapi, Bobi sekali lagi mencegatku seraya berkata,


“Oh iya, Adrian.  Sebaiknya hal mengenai aku tahu masalah ini, kamu rahasiakan dari yang lain, termasuk Senior Kaiser.  Itu pasti akan membantumu suatu saat.”


Glek.  Apa anak ini esper?  Darimana dia tahu bahwa orang yang pertama kali akan kukonsultasikan terkait masalah ini adalah Kak Kaiser melebihi Kak Syifa?  Yah, karena kulihat tatapan Bobi benar-benar seserius itu, aku pun jadi menyanggupinya.


Rasanya tidak buruk juga memiliki seorang rekan rahasia di kampus yang mengetahui identitasku.  Di saat aku tidak bisa masuk kuliah karena berbenturan terhadap pertarungan para avatar, dia bisa mencarikanku alasan.  Di saat intensitas kejenuhanku di markas memuncak karena faktor lelah, aku pun jadi bisa punya tempat curhat.


Untuk yang kedua ini, ada Kak Syifa sebagai support utamaku, tetapi tentu saja ada hal yang tetap tidak bisa diungkapkan kepada seorang kakak yang tidak ingin kita lihat tersakiti.


Yang jelas hari ini, satu rekan yang sangat berbakat telah kudapatkan yang jelas akan sangat membantu dalam perjuanganku itu.