Di ruangan tersebut, tampak seorang pria berusia di akhir dua puluhan-nya dengan setelan pakaian kantor sedang duduk di sofa dengan pembawaan yang sangat anggun dan berkelas.
Di hadapannya, sesosok wanita yang tampak berusia di awal dua puluhan-nya dengan mengenakan pakaian serbahitam yang menampakkan dengan jelas bagian selangka dan betisnya dibalut dengan sanggul menawan pada untaian rambutnya, menuangkan teh ke dalam gelas pria itu, juga dengan pembawaan yang sangat anggun.
Sang pria pun mengesap teh yang disajikan oleh wanita itu dengan penuh penghayatan. Sesaat kemudian, pria itupun bertanya kepada sang wanita.
“Holy, mengapa belakangan ini aku tidak melihat keberadaan Volt dan Metalia di mana-mana?”
Wanita yang dipanggil pria itu sebagai Holy lantas memperbaiki posisinya terlebih dahulu yang sementara sibuk menyiapkan kudapan di atas meja dengan berdiri tegak sembari memegang nampan yang dibawanya dengan elegan.
Holy lantas menjawab, “Saat ini mereka berdua sedang menjalankan proyek bersama Fog. Tetapi Tuan Raging Fire tidak usah khawatir karena aku telah meminta Magneton untuk mengawasi mereka.”
Dialah Holy, avatar bernomor seri 9, Avatar Holy yang saat ini sedang dalam wujud manusianya berupa wanita cantik dengan tubuh langsing tersebut.
“Ah, aku tidak suka jika orang-orangku kebanyakan bergaul dengan mereka. Jika membicarakan Fog, palingan orang yang di belakang semua itu adalah si Freeze sialan itu.” Umpat Raging Fire.
Dialah Raging Fire, avatar bernomor seri 2, Avatar Raging Fire yang juga sedang dalam wujud manusianya dengan image seorang ayah yang flamboyan.
“Tuan Raging Fire, harap jaga ucapan Anda. Anda yang menawan sama sekali tak pantas dengan kata-kata tak berkelas itu.” Ucap Holy menegur ucapan kasar yang dilontarkan Raging Fire.
“Kamu selalu keras pada Tuan Raging Fire, ya, Holy. Tetapi aku berharap jika kamu juga dapat sedikit menerapkan ucapanmu itu pada dirimu sendiri. Padahal tampangmu begitu imut, tetapi bagaimana mengungkapkannya ya? Tatapan matamu agak sedikit menakutkan yang membuat yang lain sulit mendekatimu.”
Dari belakang, tampak seorang pria yang juga terlihat dalam usia akhir dua puluhan-nya, turut bergabung bersama mereka. Pria itu sekilas juga terlihat anggun dan berkelas, namun jika diperhatikan lebih dekat, perangainya lebih bebas dan tak terlalu memperhatikan adat sopan santun berkelas.
“Hal itu bukan urusanmu, Poison Merchant. Lagipula ini hanya tubuh samaran untuk memudahkan kita berbaur di antara manusia. Senyum ramah seperti itu tak diperlukan untuk misi kita.” Jawab Holy tegas atas perkataan pria bebas itu.
Dialah Poison Merchant, avatar bernomor seri 3, Avatar Poison Merchant yang juga dalam wujud manusianya.
***
Siang itu, akupun memulai uji coba side avatar Sly Dark-ku melalui ruang virtual yang disediakan oleh AI5203 tersebut.
Pertama-tama, aku mulai dengan fungsi penerbangannya.
“Wah, oh, wah!”
Aku yang baru pertama kali terbang merasakan oleng dan keseimbangan yang buruk. Namun, aku terus berupaya untuk menyeimbangkan kedua sisi sayapku sehingga lambat laun, akhirnya aku terbiasa untuk terbang. Aku memang jenius. Aku bisa langsung menggunakannya dalam kurun waktu 40 menit latihan.
Setidaknya itu yang kupikirkan sampai aku melihat gunung virtual di hadapanku. Kemudian aku baru tersadar, aku belum memahami benar cara untuk untuk berbelok dan mendarat, tetapi aku telah nekat untuk terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hingga sesaat kemudian,
“Paaaak!”
Wajahku pun tepat menabrak sisi gunung.
Sekitar tiga jam lewat pun berlalu. Setelah kumerasa cukup mahir berlatih terbang, aku pun mempelajari fungsi kedua dari side avatar pertamaku ini, yakni fungsi gelombang ultrasoniknya. Selain sebagai senjata, fungsi ini mampu untuk mencari benda apapun dalam ranah gelombang ultrasonik dengan memanfaatkan kespesifikan rapat jenis dan struktur molekul yang khas dari masing-masing benda.
Aku pun akan beranjak pulang hari itu. Namun, masih ada satu hal yang mengganggu pikiranku, yakni tentang Andina barusan.
Aku pun dengan takut-takut, mencoba untuk menanyakan perihal Andina kepada Kak Kaiser. Aku berbisik-bisik pada Kak Kaiser dengan maksud agar Avatar Bomber tidak ikut mendengarkan percakapan kami. Walaupun hanya klon, tetapi wajahnya sangat mirip dengan aslinya sehingga seolah aku menggunjing seseorang tepat di hadapan orang tersebut.
“Kak Kaiser, mengenai orang yang dimimik oleh Avatar Bomber itu, Andina…”
“Wah, rupanya Kak Adrian sangat penasaran dengan Kak Andina ya.”
Tetapi malah Avatar Arjuna dalam bentuk remaja SMA yang idiot ini malah mengucapkannya keras-keras yang membuat Avatar Bomber akhirnya menotice-nya.
“Eh, Adrian penasaran tentang Andina?” Ucap Avatar Bomber.
Namun kulihat, ekspresi Kak Kaiser memburuk. Wajahnya terlihat penuh kesedihan yang mendalam. Sudah kuduga Judith salah. Kak Kaiser juga pasti sangat terpukul akan kepergian Kak Andina dalam musibah malam bencana Hoho game itu.
Akan tetapi, Kak Kaiser ternyata tetap menjawab pertanyaanku tersebut.
“Andina adalah sosok wanita yang sangat keren. Dia sangat menyukai Hoho game, tetapi karena takut diremehkan karena dia seorang wanita, selama ini dia menyembunyikan identitasnya sebagai wanita dalam game. Walau demikian, dia mampu menempati puncak dan berhasil memegang gelar ranker untuk avatar nomor 7, Avatar Bomber.”
Aku baru tahu, ternyata pemegang ranker avatar nomor 7 adalah seorang wanita. Kalau dipikir-pikir, ada 2 orang single ranker yang merahasiakan identitasnya, pertama adalah avatar nomor 4, Avatar Time, Mr. X, dan satunya lagi adalah avatar nomor 7, Avatar Bomber, AR. Kalau dipikir-pikir, AR rupanya inisial dari namanya sendiri Andina Roselia.
“Ah, kalau tidak salah dulu, Kakak pernah mengajukan surat tantangan kepada 7 ranker bernomor seri lebih kecil dari Kakak kan? Waktu itu, kalau tidak salah, ranker Avatar Bomber termasuk salah satu dari ranker yang tidak memenuhi surat tantangan Kakak kan? Apa di saat itu Kak Kaiser jadi penasaran kepada Kak Andina ini lantas mencari tahu tentang identitasnya dan akhirnya jatuh cinta padanya?”
Mendengar kata jatuh cinta di mulutku, tampak pipi Kak Kaiser memerah. Namun, dengan tegas, Kak Kaiser menjawab,
“Itu terbalik, Dik Adrian. Aku sudah lama sejak SMP mengenal sosoknya yang kuat dan energik itu. Sejak pertemuan pertama kami, kami pun berteman dan entah sejak kapan jadi dekat. Kami memasuki SMA dan perguruan tinggi yang sama pula. Suatu hari, Hoho game pun menjadi populer di Indonesia dan kulihat dia selalu begitu riang memainkannya.”
Kulihat, Kak Kaiser termenung sejenak kemudian mengambil dompetnya yang rupanya berisi foto Kak Andina di dalamnya.
“Aku pun jadi iri karena dia kebanyakan main dengan teman-teman cowok gamernya ketimbang aku. Akupun memutuskan untuk berpartisipasi dalam Hoho game tersebut untuk kembali menarik perhatian Andina ke sisiku. Oleh karena itu, aku pun memilih Avatar Healer sebagai avatarku yang banyak dijuluki orang sebagai avatar lemah walau bernomor seri kecil.
Senyum simpul pun terlihat di dalam wajah penuh nostalgia itu.
“Dengan aku bisa mengalahkan gamer-gamer lain dengan avatar seperti itu, kuharap Andina melihat ke sisiku. Singkat cerita, dalam sebulan, aku berhasil menggeser pemegang ranker Avatar Healer sebelumnya lantas terus mengukir namaku dengan mengalahkan para ranker lain. Sayangnya, di hari aku mengajukan surat tantangan itu, dia jatuh sakit sehingga tak dapat ikut berpartisipasi.”
Kak Kaiser pun kulihat mengusap foto Kak Andina dengan mata yang sangat berkaca-kaca. Kematian Kak Andina tentunya menjadi pukulan yang berat baginya.
“Namun, setelah pertandingan itu, aku segera menuju ke rumahnya. Di situlah aku baru tahu kalau dia tidak ikut lantaran sakit. Aku sempat menduga yang tidak-tidak karena aku sempat bilang padanya jika aku berhasil mengalahkan semua ranker yang menerima tantanganku, maka tolong menikahlah denganku. Hehehehe. Bahkan belum sempat mengajaknya pacaran, aku sudah melamarnya duluan.”
Dan akhirnya air mata itu pun jatuh ke lantai tetes demi tetes yang kian bertambah deras.
“Padahal saat itu dia sedang sakit, tetapi dia berusaha mempertahankan kesadarannya yang saat itu sedang lemah demi mengatakan bahwa dia bersedia menikahiku dan juga telah lama mencintaiku. Seharusnya, setelah itu, kami dapat hidup bahagia. Tetapi mengapa, tetapi mengapa, Andina harus mengalami semua ini?”
Air mata pun bercucuran membasahi pipi Kak Kaiser. Rasa perih kehilangan orang yang kita cintai, tiada satu pun yang dapat mengerti perasaan itu selain jika orang tersebut telah mengalaminya sendiri. Sama seperti aku terhadap Kak Faridh, kematian Andina pun pastinya membuat lubang trauma yang besar di hati Kak Kaiser.