101 Avatars

101 Avatars
114. Reuni Arjuna dan Tio



Semua pandangan serentak tertuju kepada Adrian yang jauh di sana ketika kilauan cahaya aneh mengurai tubuh pemuda tersebut.


“Adrian!”  Teriak Profesor Dios panik menyaksikan kejadian tersebut.


Kepanikan juga dirasakan oleh Kaiser, Arskad, serta ayah dan ibu Adrian yang juga berada di sana.  Begitu kilauan usai, Adrian terpental dalam jarak 1 meter, namun pemuda itu rupanya baik-baik saja.  Tampak di sampingnya, avatar bernomor seri 97 itu, Avatar Arjuna, kembali ke dalam wujud aslinya disertai tiga jiwa-jiwa side avatar yang terlepas dari tampuknya.


Dream segera menangkap jiwa-jiwa tersebut sebelum berkeliaran lebih jauh.  Dengan ini, Sly Dark, Hard, dan Crusader pun ikut tertangkap pistol aneh Dream yang membuat koleksinya menggenapi 97.


“Arjuna, ada yang aneh dengan tubuhmu.”  Ujar Dream kepada Arjuna yang tampak kembali ke dalam wujud aslinya dan bukan lagi wujud penyatuannya dengan gelang perubah.


“Ada apa ini, Dream?  Aku merasakan suatu sensasi aneh.  Seperti…”  Tanya balik Arjuna kepada Dream.


“Ya, tubuhmu baru saja mengalami pelepasan penanda dari tolakan gaia.”  Jawab Dream akan rasa penasaran Arjuna tersebut.


“Itu berarti?”


“Ya, keberadaanmu tidak lagi mengancam planet ini.  Kamu bisa tetap berada di sini tanpa mengundang butterfly efek akibat tolakan gaia.”


Seketika wajah Avatar Arjuna semringah, namun sesaat kemudian dia kembali murung.


“Mengapa?  Mengapa tiba-tiba bisa seperti itu?”  Arjuna pun bertanya penasaran.


“Sejak kamu menyatu dengan gelang perubah, bukankah tanda tolakan gaia di jiwamu memang telah menghilang?”


“Tetapi itu karena aku tidak memiliki wujud.”


“Hmmm.”  Arjuna menggelengkan kepalanya.


“Bukan begitu.  Mengapa aku bisa kembali memiliki wujud bahkan setelah hukum gaia menetapkanku sebagai eksistensi tak berwujud lagi.”


“Aku juga tak dapat menjawabnya dengan baik.  Lagipula, masih banyak misteri pula yang tak bisa kupahami dari sistem.  Namun jika dilihat, mungkin ada pengaruhnya dengan Pohon Keabadian yang diteliti oleh Mr. X itu?”


Mendengar jawaban dari Dream, Arjuna kembali murung.


“Ada apa Arjuna?”  Adrian pun menanyakan hal tersebut.


Arjuna menggelengkan kepalanya sekali lagi.


“Terus terang, aku senang karena bisa tinggal di bumi ini tanpa mengundang bencana bagi planet ini.  Namun, tetap saja aku seorang monster.  Tidak ada yang akan menyukai keberadaanku di sini.  Mungkin sebaiknya, aku juga kembali ke dunia virtual saja.”


Mendengar keluh-kesah dari Arjuna tersebut, Adrian pun menepuk pundak dari Arjuna itu untuk menyemangatinya.


Tak diduga, Dream mengeluarkan peryataan yang semakin membuat Arjuna shok.


“Itu akan jadi masalah jika kau ikut dengan kami pulang, Arjuna.  Justru kali ini tanda hukum gaia melekat padamu ke dunia virtual.  Dunia virtual tidak menerima keberadaanmu lagi.”


“Eh, kok bisa?  Manusia dari dunia nyata saja bisa dengan bebas ke sana.”


“Aku tidak enaklah sama Tio jika terus-terusan memakai wajahnya.  Bagaimana pun, aku hanyalah seorang peniru.  Tetapi tak kusangka, dunia tempatku dilahirkan kini juga menolak keberadaanku.  Lantas aku harus apa?”  Ujar Arjuna.  Seketika frustasi datang melandanya.


Di kala itulah, Adrian berucap,


“Tenang saja, Arjuna.  Bagaimana kalau ikut denganku?  Sekarang sudah era robotisasi.  Tidak akan mengherankan jika aku punya robot seperti kamu di sampingku sebagai asistenku.  Tidakkah kamu mau tinggal bersama Kakak ini?”


Adrian mencoba untuk membujuk sang avatar agar dia tak bersedih hati lagi.


“Bagaimana aku disamakan dengan robot, Kak Adrian?!  Tidakkah kamu lihat wajahku ini sangat seram jika dibandingkan dengan robot?!  orang-orang hanya akan ketakutan!  Dengan tubuh jelek ini, aku bernafas, menggerakkan bibirku, berkedip, dan lain sebagainya.  Dari jauh, mungkin aku tampak seperti robot.  Tetapi dari dekat, mereka akan segera ketakutan setelah dengan mudah menyadari bahwa aku bukanlah robot, melainkan monster yang menjijikkan.”


Arjuna tampak sangat sedih terhadap jati dirinya itu.  Tetapi Adrian hanya bisa memeluk sang avatar berhati lembut itu untuk menenangkannya.


“Semangatlah, wahai temanku!  Setidaknya, aku tahu kamu adalah sosok yang baik hati.”


Kata-kata Adrian itu, lantas menjadi penyemangat bagi Arjuna dalam melangkah maju menyongsong hidupnya di dunia yang asing baginya tersebut.


Sesaat kemudian, suara telepon terdengar berdering.  Rupanya, itu adalah suara telepon dari Arskad Dewantara.


“Oh.  Ya, baik.  Aku paham, Millie.  Aku akan segera menyampaikannya kepada yang lain.”  Ujar Arskad dalam panggilan telepon tersebut.


Dia pun tersenyum cerah sembari menatap Arjuna.


“Kata Millie, Tio sudah siuman dan tampak baik-baik saja.  Keluarganya pun sudah dalam perjalanan untuk menjemputnya.”  Arskad pun mengumumkan informasi yang penuh bahagia itu.


Seketika raut wajah Arjuna menjadi cerah dan dia jadi ingin segera menemui teman lamanya itu beserta keluarganya.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di RS Dewantara Group.  Tanpa berbasa-basi lagi, para rombongan itu, bersama dengan Millie dan Damian segera menuju ke ruang VIP rahasia yang jauh tersembunyi yang terhubung dari lantai delapan rumah sakit.


Setibanya di sana, rombongan segera disambut oleh Pak Saharuddin selaku dokter yang selama ini merawat Tio.  Di dalam ruangan, rupanya juga telah berkumpul Profesor Melisa, Syifa, Judith, Zio, serta keluarga dari Tio.


Di kala itulah, Arjuna masuk dalam wujud Tio muda.  Serta-merta kakak, ayah, dan ibu Tio berlarian menghampiri lantas memeluk Arjuna dengan perasaan hangat dan bahagia seakan akhirnya bertemu dengan keluarga jauh yang telah lama mereka tak temui.


“Kenapa?  Kenapa kalian memperlakukanku sebaik ini, Kak Tifani, Ayah, Ibu?  Bukankah karena aku yang memimik tubuh Tio, Tio jadi koma sampai sekarang?”  Dalam sedihnya, Arjuna pun berujar.


Ibu Tio lantas berujar, “Nak, tampaknya kamu sudah lupa dengan kejadian hari itu.  Jika bukan karena kamu yang telah menyelamatkan kami dari monster yang masuk menerobos rumah kami waktu itu, sudah dari dulu kami sekeluarga tidak akan lagi berada di dunia ini.  Justru suatu keberuntungan bagi kami pada malam itu kamu datang duluan ke rumah kami sebelum monster itu.”


Ibu Tio mengusap pipi Arjuna dengan lembut.  Air mata pun tanpa sengaja terjatuh di pipi sang monster yang seharusnya tak memiliki perasaan tersebut.


Arjuna lantas mengarahkan perhatiannya kepada sosok pemuda yang sedari tadi terbaring di tempat tidur.  Dialah Tio dalam sosok pemuda dewasa yang telah mencapai usia dua puluh tahun-nya itu.


Dia tersenyum ke arah Arjuna lantas memanggilnya untuk mendekat.  Dia tidak bisa berjalan sendiri mendekati Arjuna walau kondisi tubuhnya tidak ada masalah.   Kondisi tubuhnya setelah terbangun tetap baik-baik saja karena selama Healer hidup, dia selalu merawat tubuh Tio tersebut.  Namun, Tio tetap tak dapat untuk sementara waktu bergerak banyak karena staminanya yang kurang perihal nutrisi yang diperolehnya selama ini hanyalah berasal dari cairan infus.


Arjuna mendekat lantas Tio memeluk versi dirinya yang lebih muda itu dalam dekapan yang hangat.


“Terima kasih telah melindungi keluargaku kala itu.”  Ucap Tio kepada Arjuna dengan tulus.