101 Avatars

101 Avatars
45. Antara Judith dan Kaiser



Begitu aku genap berusia 6 tahun, aku menyusul Kak Kaiser sekolah ke Indonesia.  Di situ, kami tinggal di bekas salah satu rumah Kakek yang ada di Jakarta.


Tak kusangka, begitu kumendapati Kak Kaiser di sana, terlihat ekspresinya telah membaik dibandingkan dengan terakhir kali kumengingatnya di mana dia selalu saja murung mengingat kematian Kakek serta Ayah dan Ibu.  Namun, kini Kak Kaiser telah banyak tertawa dan kadang senyum-senyum sendiri.  Rupanya, semua itu berkat di sini, dia mengenal sosok Andina Roselia.


Awalnya, Kak Kaiser mendekati Kak Andina demi memperoleh akses hubungan dengan mantan dosen Ayah dan Ibu itu yang mereka kirimi surat tepat sebelum kematian mereka yang di mana Kak Kaiser curiga bahwa isi surat itu, ada kaitannya dengan kematian Ayah dan Ibu.


Mantan dosen sekaligus pembimbing skripsi dan tesis Ayah dan Ibu itu tidak lain adalah Prof. Indro Nuryono yang memiliki murid langsung yang juga sekaligus bertindak sebagai asistennya, Profesor Melisa, yang tidak lain adalah ibu kandung Kak Andina.


Tetapi seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta benar-benar tumbuh bersemi di antara kakakku itu dan Kak Andina.  Aku pun turut senang karena hal itu sebab tak lagi kusaksikan ekspresi menderita kakakku Kaiser.  Yah, walaupun aku tidak dapat memungkiri bahwa aku sedikit iri karena Kak Andina jadi lebih sering bersama kakakku itu ketimbang diriku.


Namun, Kak Andina adalah orang yang baik.  Dia selalu menemaniku bermain ketika berkunjung ke rumah.  Dia benar-benar tulus menyayangiku layaknya adiknya sendiri.  Dia juga adalah orang yang jenius, sama dengan kakakku Kaiser.  Bahkan mereka sama-sama melompat kelas dari kelas 1 ke kelas 3 SMP saking jeniusnya mereka.  Sayangnya, begitu mereka ditawari untuk loncat kelas di SMA, mereka menolak dengan alasan ingin menikmati masa-masa indah SMA bersama lebih lama.


Aku pun senantiasa merasa tak kesepian karena robot pemberian Kak Kaiser serasa hidup dan senantiasa menghiburku di kala aku kesepian.  Setidaknya, itu bertahan sampai setahun kemudian sejak aku datang di kota ini.


Semuannya berawal dari kemunculan game virtual reality yang pertama kali di dunia, Hero of Hope Game alias Hoho game.


Suatu hari, demi menyamakan hobi dengan Kak Andina, kakakku akhirnya mulai memainkan Hoho game.  Aku pun untuk lebih mendekatkan diri dengan kakakku, memilih untuk mulai mencoba pula game yang digandrungi segala usia itu.


Aku yang tidak peduli soal kekuatan, menang atau kalah dalam game, akhirnya hanya memilih asal-asalan avatar mana yang ingin kubesarkan.  Karena avatar itulah yang lebih tampak imut dibandingkan dengan yang lain, jadilah aku memilih Avatar Arjuna.


Namun, hal yang misterius pun terjadi.  Sejak aku memainkan Hoho game, robot pemberian Kak Kaiser sudah jadi terasa beda.


Tentu saja perihal robot yang terkesan hidup itu pastilah hanya khayalanku semata karena tak mungkin benda mati dapat berbicara dan mendengar.  Hanya saja, semuanya terasa sudah beda.  Robot pemberian Kak Kaiser itu, tidak lagi memberikanku kehangatan.


Namun, itu tidak masalah lagi, karena kini Kak Kaiser sudah berada di sisiku.  Setidaknya, itu yang kupikirkan sampai malam bencana Hoho game itu pun tiba.


Nyawa Kak Andina ikut terenggut dalam insiden tragis itu ketika malam itu, dia berkencan dengan Kak Kaiser.  Walaupun aku menyayangkan apa yang terjadi pada Kak Andina, setidaknya aku bersyukur  bahwa kakakku satu-satunya itu baik-baik saja.


Namun, sejak malam bencana itu, kakakku telah kehilangan kehangatannya.  Dia terlalu terfokus akan dendam masa lalu dan sampai detik ini belum dapat juga merelakan kepergian Kak Andina.


Terus terang, aku ingin sekali menghibur kakakku itu di masa-masa terpuruknya.  Namun, berapa kali pun kuajak bicara dirinya, dia hanya tersenyum padaku dengan tatapan mata kosongnya.  Yang ada di pikirannya, hanyalah menjadi Pahlawan Darah Merah untuk membalaskan kematian Kak Andina.


Hidupnya hampa dan dia terlihat tidak lagi memiliki ketertarikan dengan dunia.  Jika dibiarkan begini terus, suatu saat, kutakut kakakku akan turut pula menyusul Kak Andina.


Lalu kubacalah suatu buku best seller mengenai cara-cara efektif untuk menghilangkan trauma seseorang yang telah kehilangan harapan hidupnya.  Cara yang paling efektif adalah dengan menarik emosinya.  Emosinya itu harus dikeluarkan agar perasaannya kembali lega dan dapat memulai hidup baru.


Aku pun menerapkan cara-cara itu, tetapi seberapa kali pun aku berkata kasar pada Kak Kaiser, emosinya tak kunjung pula meluap.  Aku begitu merindukan sosok kakakku Kaiser yang dulu sebelum kematian Kak Andina.  Padahal setelah akhirnya Kak Kaiser kembali memperoleh kebahagiaan-nya setelah terlepas dari jeratan kematian Kakek serta Ayah dan Ibu, Kak Kaiser harus menghadapi trauma yang sama lagi karena kematian Kak Andina.


***


Sabtu, 15 Desember 2057, kami pun memulai penyelidikan dengan aku dan Kak Kaiser mengawasi Pak Bosman, sementara Kak Syifa dan Bu Melisa mengawasi Bu Jeni.  AI5203 berperan sebagai support untuk mengawasi keadaan sekitar sekaligus sebagai perantara komunikasi kami.


Sesuai dengan hasil penyelidikan rutinitasnya, Pak Bosman meninggalkan lokasi rumahnya tepat pada pukul 8.  Dia tiba di perkumpulan golfnya sekitar pukul 8.40 dan beraktivitas di sana seharian sampai sore.  Sorenya, sesuai pula dengan kebiasaannya yang sudah-sudah, dia mengunjungi warnet yang terletak di dalam kafe favoritnya.  Malam pun sekitar pukul 9, dia kembali ke rumahnya.  Tidak ada satu pun tingkahnya yang mencurigakan.


Kami turut pula mengawasinya seharian di hari munggu, namun tetap tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.  Hingga tibalah di hari senin itu.  Kebetulan, paginya aku yang kebagian jadwal untuk mengawasi Pak Bosman.  Pada saat itu, dia menuju ke pabrik rahasianya yang tidak diketahui isinya itu oleh siapa pun.  Siapa yang sangka bahwa dia akan dicegat oleh salah seorang avatar di sana.


Sosok avatar yang baru pertama kali kulihat di dunia nyata, namun merupakan sosok avatar yang tidak asing lagi bagiku.  Karena dialah avatar milik Kak Kaiser di Hoho game, Avatar Healer.


Kulihat, Avatar Healer menyerang Pak Bosman.  Sejenak, aku bingung apakah aku harus ke sana dan melindunginya dari monster avatar itu atau apakah aku harus menunggu di sini untuk lanjut mengawasinya.


Tetapi kupikir sudah aneh jika Pak Bosman dicegat oleh Healer jika dia tidak memiliki koneksi dengannya.  Jika demikian, besar kemungkinan bahwa dia juga memang adalah seorang monster avatar.  Kalau itu Kak Kaiser, apa yang akan dia lakukan?  Benar, aku harus menghubungi Kak Kaiser untuk memutuskannya.


Pada akhirnya, panggilan pun tersambung dan aku terkoneksi dengan Kak Kaiser.  Aku pun memberitahukan dengan singkat situasi yang terjadi tentang kemunculan tiba-tiba avatar berperingkat tinggi, Avatar Healer, itu yang menyerang Pak Bosman.  Dan Kak Kaiser pun menjawab,


“Tetaplah di posisi sampai aku ke sana, Adrian.”


Akan tetapi, jika dibiarkan begini terus, Pak Bosman akan cedera dan bahkan tewas di tangan Healer seandainya saja dugaan kami salah bahwa dia juga monster avatar.  Walaupun peluangnya sangat kecil, tetapi tetap ada peluang bahwa dia adalah manusia biasa.  Jika dia memang monster avatar, mengapa sampai sekarang, dia tidak berubah dan hanya terus menghindari serangan Healer.


Akhirnya, kuputuskan untuk ke sana, dengan mengabaikan nasihat Kak Kaiser.  Setidaknya, satu nyawa dapat kuselamatkan.  Begitu serangan daun-daun yang lebih besar dari sebelumnya tiba, aku dengan sigap berlari ke sana lalu menangkisnya dengan Crusader-ku.


Akan tetapi,


“Praaaak.”


“Aaaaakh!”


Monster itu seketika menghempaskanku dengan ulir-ulir akarnya ke pojokan hingga aku pun terluka akibat benturan dinding.


Tetapi seketika,


“Baaaam!”


Rudal berukuran mini tiba-tiba mendarat tepat di tempat di mana sebelumnya aku berpijak.  Aku beruntung karena serangan kedua monster avatar itu tidak sinkron.  Salah sedikit saja, pasti aku telah tewas di tempat itu.  Dan kulihatlah baik-baik di depanku, Pak Bosman telah dalam wujud Mecha.