Seluruh kerajaan menjadi gempar akibat bencana sihir hitam yang melanda ketiga kerajaan tersebut. Keluarga kerajaan, para bangsawan, serta seluruh rakyat kerajaan tewas satu-persatu dengan kematian yang kejam di mana kulit mereka melepuh perlahan-lahan.
Mereka juga bukannya bisa melarikan diri ke tempat lain sebab orang-orang dari kerajaan lain tengah bersiap menghabisi nyawa mereka ketiba mereka tiba di negara mereka tersebut. Memang belum ada bukti bahwa penyakit yang disebabkan oleh sihir hitam bisa menular, orang-orang pastinya akan ketakutan dengan kemungkinan itu karena dilihat dari luka mereka saja yang sangat mirip dengan penyakit kusta.
Dalam waktu dua hari, sekitar tujuh puluh persen penduduk di ketiga kerajaan tersebut telah tewas. Sisa menunggu waktu sampai mereka semua benar-benar ditiadakan dari dunia. Yang lebih buruknya lagi, sebagian besar kerajaan di sekitar mereka, alih-alih memberikan bantuan, malah tengah bersiap-siap untuk mencaplok wilayah ketiga kerajaan tersebut di kala seluruh penduduknya telah sirna dan bencana kutukan mereda.
Kerajaan Amora dengan Raja Buldoph sebagai rajanya adalah salah satu dari tiga kerajaan yang masih punya hati nurani untuk tergerak dalam memberikan bantuan dengan memberikan dana serta penyihir suci mereka untuk mengobati warga ketiga kerajaan yang mengidap kutukan sihir hitam.
Dua kerajaan lainnya adalah Kekaisaran tetangga di utara, Kekaisaran Ageng, serta satu lagi lainnya adalah Kerajaan Silya yang terletak jauh di sana di ujung barat daya benua. Para penyihir suci dengan dukungan dana masing-masing kerajaan mereka bergerak bersama yakni menuju ke salah satu wilayah pinggiran paling utara Kerajaan Onyx, salah satu kerajaan yang terkena kutukan sihir hitam tersebut yang letaknya paling di utara.
Kedatangan para penyihir suci itu terbukti berhasil menyelamatkan beberapa nyawa bagi orang-orang yang terkena dampak kutukan itu yang tinggal cukup jauh dari pusat kutukannya di ibukota kerajaan. Sayangnya, jumlah yang mereka dapat selamatkan tidaklah banyak, mengingat keterbatasan jumlah mereka.
Walaupun begitu, sebanyak 132 jiwa dari dua desa di sana berhasil mereka selamatkan.
Bencana itu pun dengan cepat berakhir. Hanya dalam waktu lima hari, ketiga wilayah kerajaan dibabat habis oleh energi kutukan di mana dari total lebih dari 3 milyar nyawa, hanya 132 nyawa saja yang berhasil terselamatkan berkat pertolongan para penyihir suci dari ketiga kerajaan dermawan itu.
Walaupun untuk menyebut Kerajaan Amora sebagai penyelamat agak dilema juga perihal semua bencana ini disebabkan oleh mantan putra mahkota kerajaan tersebut. Aku sendiri tidak peduli dengan semua itu, perihal nyawa-nyawa yang melayang itu hanyalah NPC belaka.
Oh iya, mengapa saya sebut mantan putra mahkota, karena kini Pangeran Kedua telah resmi diangkat sebagai putra mahkota sehari yang lalu demi kestabilan kerajaan karena terlalu lamanya mantan putra mahkota menghilang.
“Pengawal Adrian, cepat buka pintunya. Panas tahu!” Yah, walaupun sifat pemarah dan kenak-kanakannya itu yang selalu saja menyuruhku serampangan tidaklah berubah.
Hari-hari berlalu damai setelah itu. Mungkin karena terpengaruh oleh ucapan mantan putra mahkota sebelumnya atau itu memang adalah bersumber dari kebaikan hatinya sendiri, sejak diangkat menjadi putra mahkota, Pangeran Kedua lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk membantu para warga kerajaan yang kesusahan.
Dengan statusnya yang naik itu, insentif yang diberikan oleh kerajaan pun kian membesar sehingga lebih banyak hal yang dapat dilakukan oleh pangeran kedua itu untuk rakyat.
Di satu kasus, ada anak perempuan yang masih kecil kedapatan mencuri roti di pasar karena mengaku dirinya dan adiknya kelaparan di mana tak ada lagi sanak-saudaranya yang tersisa selain mereka berdua.
Tetapi setelah itu, sang pangeran kedua membawa anak itu beserta adiknya ke sekolah untuk belajar dengan berjanji akan memenuhi kebutuhan hidup mereka sampai sang adik genap berusia 15 tahun. Setelah itu, mereka harus bisa mencari nafkah sendiri. Tentunya, dana diambil dari uang saku Pangeran Kedua sendiri yang bertambah berkat jabatannya sebagai putra mahkota.
Di satu kasus pula, ada banyak pembeli di pasar yang mengeluhkan harga ikan laut yang melonjak tinggi karena langkanya barang tersebut perihal bencana sihir hitam yang baru saja menimpa kerajaan di barat yang menyebabkan masih banyaknya mayat liar berserakan di sekitar selatan wilayah kerajaan yang berbatasan langsung dengan salah satu kerajaan yang terkena kutukan.
Bencana kutukan telah resmi dinyatakan berakhir, akan tetapi hal itu belum juga meredakan ketakutan para nelayan untuk mencari ikan dengan harus menyeberangi wilayah darat yang penuh dengan mayat tersebut. Di samping takut akan tertular kutukan, walaupun tentu saja itu tidak benar karena pada dasarnya belum terbukti bahwa kutukan bisa menular, mereka juga terganggu oleh bau menyengat mayat-mayat itu.
Mengetahui hal itu, Pangeran Kedua segera menghimpun masalah ini melalui mengumpulkan keluhan warga yang dirugikan secara tertulis lalu diajukannya kepada Raja. Sayangnya kali ini, dana yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut lebihlah dari apa yang bisa disanggupi oleh Pangeran Kedua sehingga harus meminta bantuan langsung dari dana kerajaan.
Aku berani menjamin, jika dana di kantongnya itu mencukupi, pasti akan sudah dikeluarkannya tanpa berpikir dua kali. Begitulah adanya sifat pengeran kedua selama aku mengenalnya ketika tiba di dunia ini.
Kerajaan yang pada dasarnya adalah kerajaan yang makmur terima kasih berkat impor sutra dan madunya, bukanlah masalah yang besar dalam memberikan bantuan dana pada masalah yang diajukan Pangeran Kedua itu. Yang jadi masalah adalah sumber daya manusia yang bisa terjun ke sana langsung.
Saat ini, kerajaan masih sibuk mengawal kasus menghilangnya mantan putra mahkota. Tanpa ragu, Pangeran Kedua mengajukan dirinya sendiri untuk mengambil alih masalah itu dengan membopong seluruh pasukannya untuk ikut bersamanya. Tentu saja aku sebagai pengawal setianya juga mau tidak mau harus ikut bersamanya.
Butuh waktu sekitar sepuluh hari bagi kami untuk sampai ke wilayah paling selatan kerajaan, satu-satunya wilayah yang berbatasan dengan laut di mana warga kerajaan bisa menangkap ikan tersebut. Begitu kami sampai di sana, dapat kami cium bau mayat yang terasa sangat menyengat. Apa yang dimulai oleh mantan putra mahkota itu benar-benar mendatangkan bencana yang teramat sangat yang tak bisa dimaafkan oleh rasa kemanusiaan.
Begitu kami sampai di tempat itu, kami segera memulai pekerjaan kami membersihkan mayat-mayat pengungsi yang mencoba menyelamatkan diri dari bencana kutukan sihir hitam itu dengan melintas ke wilayah perbatasan kerajaan kami.
Kami segera memulai pekerjaan tanpa beristirahat terlebih dahulu karena untuk beristirahat, kami tidak bisa perihal sangat terganggu oleh bau busuk mayat-mayat itu.
Memakan waktu sekitar sepuluh hari bagi kami membersihkan seluruh wilayah itu dari mayat. Kemudian, memakan waktu sepuluh hari pula bagi kami untuk kembali ke wilayah kerajaan. Dengan demikian, kami tepat menggunakan total waktu satu bulan untuk tugas tersebut.
Walau membuat kami kewalahan, hasilnya tidaklah sia-sia. Dengan cepat, harga ikan berhasil stabil kembali dan para warga pun banyak memuji kebaikan hati dari putra mahkota mereka yang baru itu.
Kupikir setelah itu, hal yang baik-baik saja yang akan terjadi di kerajaan dan sang pengeran kedua pun dapat segera naik tahta dua bulan kemudian dengan mundurnya raja yang lama dari jabatannya perihal uzur. Tetapi musibah itu pun terjadi. Sang raja tewas dibunuh di kamarnya sendiri lalu sang pangeran kedua pun dituduh sebagai dalang pembunuhan itu.