101 Avatars

101 Avatars
78. Ingatan



“Kalau kau terus-terusan seperti itu, aku bisa saja membunuhmu.”  Ujar Healer dengan marah kepada Adrian.


“Kalau itu yang Kakak mau, maka coba saja, Kak.  Tapi bukankah aku adalah alat berharga bagi Kakak dalam mencapai tujuan Kakak?  Bukankah akan jadi masalah buat Kakak jika aku sampai mati?”  Namun Adrian tidak mau kalah lantas turut membalas perkataan Healer dengan lantang.


Sejenak, terjadi adu tatap di antara mereka berdua.  Dalam waktu beberapa lama, tampak belum ada yang akan melakukan pergerakan.


“Haaaah.”  Sesaat kemudian, Healer-lah yang pertama kali menghela nafasnya.


“Baiklah, aku kalah, Adrian.  Akan kuceritakan semuanya padamu.”  Lanjut Healer berujar.


Mendengar hal itu, Adrian tak dapat mengalihkan perhatiannya lagi, penasaran terhadap apa yang akan dikatakan oleh Healer.


“Kamu tahu, kami makhluk abadi.  Walaupun kami telah mati di dunia ini, selama ada serpihan-serpihan data kami yang tersisa, kami dapat dibangkitkan kembali.”


Healer berhenti sejenak berucap sembari perlahan mendekat ke arah Adrian.


“Oleh karena itulah, aku bertujuan membasmi semua monster avatar demi mengumpulkan tiap serpihan-serpihan mereka untuk dibawa kembali ke dunia virtual lantas dipulihkan oleh sistem untuk dihidupkan kembali.  Dengan semuanya kembali ke tempat yang seharusnya berada, bukankah tolakan gaia tidak akan terjadi dan kita semua bisa hidup kembali ke kehidupan kita masing-masing tanpa saling membahayakan satu sama lain?”


“Jadi, Kakak sudah punya cara untuk pulang ke dunia virtual?”  Tanya Adrian penasaran terhadap pernyataan Healer.


“Ya, itu semua mungkin karena avatar sistem juga turut berada di dunia ini.  Mereka bisa menjadi kunci penghubung yang menghubungkan antara dua dunia.”


Avatar sistem, Dream dan Carnaval.  Dalam hati, Adrian lega karena telah membuat keputusan yang tepat dengan tidak membunuh Dream, salah satu kunci yang dapat menyukseskan rencana Healer tersebut.


“Kalau seperti itu, bukankah lebih baik jika jujur saja pada kami sedari awal, Kak?  Aku saja bisa menerima, aku yakin Kak Syifa, Profesor Melisa, dan Mr. Aili akan juga turut menerimanya karena rencana Kakak adalah hal yang baik.”  Mendengar jawaban tulus Healer itu, Adrian tidak dapat menahan perkataannya untuk memberikan saran yang lebih baik.


Healer terdiam sejenak.  Diapun kembali ke wujud Kaiser Dewantara-nya.  Ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah manusia itu tampak begitu sendu.


Sesaat kemudian, keluarlah ucapan dari mulutnya,


“Profesor Melisa sudah tahu.  Untuk Syifa, yah, dia gadis yang polos dan baik.  Dia kurang lebih mirip denganmu, Adrian.  Kurasa dia juga dengan cepat akan menyetujuinya.  Tetapi entahlah untuk Mr. Aili.  Bagaimana pun, dia adalah kecerdasan buatan yang bergerak bergerak berdasarkan pertimbangan logika dan bukan perasaan.  Aku sangsi dia akan menyetujuinya.”


Sekali lagi, Healer dalam wujud Kaiser Dewantara itu terdiam lama.  Dia mnitihkan air mata.


“Terlebih dari itu, Judith pasti akan merasa marah dan sedih jika mengetahui kakaknya yang sebenarnya terbaring koma karena keberadaanku.”  Ujarnya dalam kesenduan.


“Oh iya, tentang Kak Kaiser Dewantara yang asli, di mana dia sekarang, Kak?  Mendengar nama Kaiser Dewantara disebutkan, Adrian tidak dapat menahan rasa penasarannya untuk menanyakan di mana keberadaan sang asli tersebut.


“Tenang saja.  Dia aman berada di tempatku.  Aku tidak bisa turut membawanya ke RS Dewantara Group.  Akan jadi masalah jika mereka mengetahui bahwa aku adalah monster sehingga tidak bisa menggunakan fasilitas mereka.”


“Lantas, mengapa Kakak tidak sembuhkan saja dia dengan kekuatan penyembuhan overpower Kakak?”


“Sudah kucoba.  Bagaimana pun, semua luka fisiknya sudah tersembuhkan.  Namun, dia tetap juga belum sadar.  Sama halnya seperti kasus Zio, jalan satu-satunya Kaiser Dewantara dibangkitkan adalah dengan membunuhku.”


“Kak Kaiser…”  Adrian menghentikan ucapannya di tengah-tengah.  Dia bingung harus berkomentar seperti apa.  Dan sekarang pun, dia juga jadi bingung harus dipanggil siapa sosok yang berada di hadapannya itu karena sejatinya dia bukanlah Kaiser Dewantara.


Di tengah kekalutan Adrian itu, Kaiser palsu pun menepuk pundak Adrian untuk menyemangatinya.


“Sudah kukatakan, kamu tidak perlu mengasihani aku, Adrian.  Makanya, aku awalnya ingin merahasiakan semua ini darimu karena hatimu yang terlalu baik itu.”


“Tetapi…”  Tampak ekspresi Adrian bertambah kusut setelah mendengarkan ucapan dari mentornya tersebut.


“Tidak usah khawatir.  Aku juga tidak berniat untuk mati sekarang.  Pertama-tama, akan kusingkirkan seluruh monster avatar yang tersisa.  Dan walaupun nantinya tubuh fisik ini akan hancur, seperti yang kukatakan barusan, sejatinya aku tidak akan mati karena kami identik dengan virus yang tidak bisa mati, hanya berada dalam fase non-aktif saja.  Kami dengan mudah dapat dibangkitkan kembali melalui sistem.”


[Tapi yah, ingatanku juga akan ikut hilang bersamaan dengan itu.  Aku tak dapat lagi mengingat kenangan indah bersama kita.  Jujur, hal itu terasa membuat hatiku sangat sakit, tapi itu tidak mungkin ya karena aku tak memiliki hati.  Lantas, darimana rasa sakit tidak nyaman ini berasal?]


Healer tak mengungkapkan pernyataannya di akhir itu.  Dia hanya memendamnya dalam hati.


“Ayo, sudah waktunya kita pergi sebelum para polisi itu kembali tersadar.”


“Baik, Kak.”


Healer dan Adrian pun menyudahi obrolan mereka, lantas Healer kembali ke dalam wujud Avatar Bomber-nya lalu dengan sigap bersama Adrian dalam wujud Avatar Arjuna-nya meninggalkan lokasi kejadian di mana Bomber menggunakan Fast untuk pergi secepat kilat dan Adrian menggunakan Sly Dark untuk terbang secepat kecepatan suara.


Mereka bergegas pergi sebelum para polisi yang dibuat tidak sadar oleh Carnaval, kembali ke kesadaran mereka.


Namun, tanpa Healer maupun Adrian sadari, sedari tadi di ruangan itu, Fog telah bersembunyi, atau lebih tepatnya dipaksa bersembunyi.  Dia begitu pilu ketika melihat Freeze meregang nyawa dan ingin rasanya meluapkan dendam itu secara langsung kepada Healer yang telah membunuhnya begitu dia menyaksikan sendiri di depan matanya bagaimana Healer menikam Freeze tepat di jantungnya.


Hanya saja, Fog tidak bisa bergerak.  Dia dibekap oleh sosok lain.  Sosok yang mampu menyembunyikan keberadaannya dengan sempurna sehingga tak ada satupun orang yang akan menyadari keberadaannya ketika dia memutuskan untuk bersembunyi.  Dialah salah satu sosok avatar yang selama ini belum pernah muncul ke permukaan.  Dialah avatar bernomor seri 4, Avatar Time.


***


Satu minggu sejak kejadian itu.  Kepolisian telah kembali normal setelah lepas dari cuci otak Freeze.  Pihak kepolisian pun segera mengeluarkan pernyataan resmi tentang dukungan mereka terhadap Pahlawan Darah Merah.  Berkat itu, aku tidak lagi dipandang sebagai kriminal di kampus dan akhirnya bisa kembali menjalani kehidupan kampus dengan normal.


Yah, walaupun tidak senormal sebelumnya juga sih.  Sejak mereka tahu bahwa aku adalah Ksatria Panah Biru, banyak teman-taman kampus yang tiba-tiba ingin mendekatiku untuk berteman denganku.  Yah, itu wajar berhubung aku adalah sosok rekan pahlawan yang telah menyelamatkan Kota Jakarta lima tahun silam.


Hanya saja, banyak kaum wanita yang secara tidak terduga jadi turut sering memegang-megangku secara tidak senonoh sehingga aku justru takut kalau Nafisah akan salah paham terhadapku.


Oh iya, terkait dengan jadwal UAS-ku yang tidak sempat aku ikuti itu, pihak kampus telah memberikan aku keringanan dengan mengikuti ujian pengganti yang mulai bisa aku ikuti minggu depan.


Belakangan pula aku mengetahui bahwa Holy rupanya juga bekerjasama dengan Kak Kaiser, ah, maksudku Healer.  Agak sedikit membingungkan juga harus kupanggil apa mentorku itu sekarang kalau aku hanya berbicara berdua dengannya.  Secara usia, dia juga jauh lebih muda dariku karena baru diciptakan tahun 2050 yang berarti usianya baru menginjak 7 tahun, sama dengan usia milik anak kecil.


Dengan demikian, jika kita mengurangkan Healer, Holy, Dream, dan Carnaval ke dalam list, maka tersisa 11 monster avatar yang harus kita tangani.  Namun, Healer mengatakan bahwa untuk sementara, kami harus menghindari bertarung dengan Raging Fire dan anak buahnya perihal bahaya ledakan jantung Raging Fire yang dapat memusnahkan seperenam wilayah Kota Jakarta dalam sekejap jika kita tidak hati-hati dalam menanganinya.


Namun, berdasarkan keterangan Healer, jantung Raging Fire yang tidak stabil karena kekuatan apinya yang meluap-luap itu perlahan akan menstabil sendiri seiring semakin dekatnya waktu tolakan gaia terjadi.  Jadi sebaiknya, untuk kelompok Raging Fire, kita urus belakangan.  Yang berarti, menyisakan 5 monster avatar yang harus menjadi fokus utama kami saat ini.


Tiga di antara mereka adalah Void, Fog, dan Sturdy yang ada pada kubu Mr. X, sementara dua lainnya yang tersisa, sampai saat ini, belum menunjukkan pergerakan juga, yakni Avatar Time dan Avatar Remote.


Sisa 78 hari waktu yang tersisa sebelum tolakan gaia terjadi.  Semoga sebelum itu, kami benar-benar dapat memusnahkan seluruh monster avatar di muka bumi ini demi menghindari terjadinya tolakan gaia yang memicu pemusnahan massal seluruh kehidupan di jagad raya ini.