101 Avatars

101 Avatars
47. Suasana Tegang di Kantor Syifa



“Tak, tak, tak.”  Terdengar suara langkah sepatu bergema di ruangan gelap tersebut.  Rupanya, itu adalah suara langkah sepatu Fog yang sedang mengenakan pantofel.


“Salam hormat saya untuk Tuan Freeze.”  Ucapnya sembari membungkukkan badannya.


Seorang kakek tua yang awalnya tersembunyi dari balik kursi putar yang dihadapkannya ke arah belakang, kemudian memutar kursinya 180 derajat, lantas membalas salam Fog tersebut.


“Oh, kamu sudah datang rupanya, Fog.  Bagaimana dengan hasil penyelidikan polisi wanita yang sempat berinteraksi dengan Pahlawan Darah Merah itu?”


Fog pun menyerahkan lembaran-lembaran yang ada di tangannya tersebut kepada sang kakek tua, kemudian dengan pembawaan yang tenang, dia menjelaskan hasil penyelidikannya.


“Sampai saat ini, identitas polisi wanita yang dimaksud masih belum ditemukan.  Tetapi kita telah memperoleh beberapa petunjuk yang berarti.  Pertama, ada seorang remaja yang memanggilnya dengan sebutan Kakak di tempat kejadian tersebut.  Namun, kita belum dapat mengasumsikan apakah panggilan Kakak itu mengacu pada saudara kandung atau hanya sekadar sapaan hormat untuk seseorang yang lebih tua.”


Terlihat sang kakek tua membolak-balikkan lembaran sembari Fog melanjutkan penjelasannya.


“Berdasarkan laporan, besar dugaan bahwa remaja yang datang saat itu adalah apa yang kita kenal sekarang dengan Blue Batboy, rekan Pahlawan Darah Merah yang cukup menjengkelkan.  Tetapi sayangnya, lantaran tempat kejadian dipenuhi dengan asap kala itu, tidak ada saksi yang dapat mengingat wajah remaja itu dengan baik, tetapi menurut mereka, usianya berkisar 15 – 22 tahun.”


“Huh, sungguh keterangan yang tidak berguna.  Jadi, kamu sudah memperoleh tersangkanya?”  Tanya sang kakek tua lagi kepada Fog.


“Sayangnya, ada 951 polisi wanita di kota ini.  Tanpa adanya keterangan mengenai usia atau ciri-ciri spesifik lainnya, sulit untuk mengidentifikasinya.  Apalagi, catatan mengenai tugas patroli mereka di hari kejadian, telah lenyap karena virus.  Aku yakin ini semua juga ulah Pahlawan Darah Merah itu.”  Jawab Fog.


“Praaak!”  Sang kakek tua terlihat makin tidak sabaran lantas membanting meja.


“Kalau begitu, lebih berusaha lagi dan segera temukan identitas polisi wanita sialan itu!”  Ucap sang kakek tua marah, tidak, perihal sang kakek tua hanyalah sekadar boneka yang dikendalikan oleh Freeze, jadi sejatinya Freeze-lah yang sedang marah.


Sementara itu, di kantor Syifa.  Syifa semakin harus ekstra hati-hati lantaran pencarian polisi terkait dirinya semakin intens dari hari ke hari.


“Syifa, mau ikut makan siang dengan kami?”  Tanya salah seorang rekan polwan Syifa padanya.  Namun, tampak bahwa Syifa sedang melamun sehingga tak memberikan tanggapan apapun pada rekannya tersebut sampai-sampai sang rekan harus mengagetkan Syifa barulah Syifa tersadar dari lamunannya.


“Eh?”


“Sudah kubilang, mau ikut makan siang, nggak, dengan kami?  Duh, Syifa, belakangan ini kamu banyak melamun.”


“Ah, maaf.  Pikiranku ke mana-mana.  Tapi tampaknya aku tidak bisa gabung dengan kalian hari ini.  Aku harus segera pergi menyelidiki sebuah kasus.”


“Duh, kamu ini terlalu pekerja keras.”


“Ah, maaf.”  Dengan senyuman yang terlihat anggun itu, Syifa meminta maaf lantas segera pergi meninggalkan kantornya.


Memang benar bahwa saat itu Syifa sedang memiliki sebuah kasus mendesak untuk diselidiki.  Tetapi sedari awal, dia hendak makan siang dulu sebelum lanjut menyelidiki kasus tersebut.  Akan tetapi, suasana tegang di kantornya memberikannya tekanan batin dan tak bisa lebih lama lagi berada di kantornya itu.


Ya, seluruh anggota kepolisian telah ditanamkan alat pengendali pikiran oleh Freeze tanpa terkecuali.  Jika berada dalam jarak tertentu, Freeze dapat mengorek keterangan dari sang target yang telah dipasangi alat berupa es di bagian tengkuk mereka itu tanpa orang tersebut dapat melawan ataupun membantah.  Jika ada orang yang membantah, hanya satu artinya, yakni orang tersebut telah berhasil lepas dari alat pengendali pikiran Freeze.


Kita kembali ke masa-masa pertama kali Syifa datang ke markas rahasia tim Pahlawan Darah Merah sekitar 2 bulan lalu.  Kala itu, Kaiser segera menyadari bahwa Syifa sedang dalam kendali sesuatu dan segera menyuruh AI5203 untuk menyelidikinya.  Sesuai dugaan Kaiser, alat pun ditemukan di bagian tengkuk Syifa lantas segera dimusnahkan oleh AI5203.


Namun, hal ini tentunya akan menjadi masalah.  Identitasnya sebagai rekan Pahlawan Darah Merah dipastikan akan terungkap di kala Freeze mengetahui bahwa dirinya tak lagi memiliki alat pengendali pikiran tersebut di dalam tubuhnya.  Oleh karena itu, Syifa harus selalu berhati-hati agar tidak berada pada jarak di mana Freeze dapat menyadari hilangnya alat di tubuh Syifa tersebut.


Tentu saja semuanya aman selama Syifa mampu mengenali siapa wajah yang dimimik Freeze yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri yang telah wafat, Faridh.  Sayangnya, AI5203 telah memberinya informasi bahwa Freeze memiliki kemampuan bersembunyi di balik bayangan seseorang yang untuk sekarang adalah Direktur Kepala Pusat di lembaga kepolisian tersebut.  Tidak akan ada yang tahu kalau dia suatu saat akan berpindah ke bayangan milik orang lain.


Oleh karena itu, Syifa harus selalu merasa was-was ketika berpapasan dengan para koleganya.


***


Di tengah-tengah ruangan besar itu, seisi ruangan dimeriahkan oleh suara lantunan musik ala dangdut.  Jessica, tidak, Holy yang mewarisi ingatan dari sang penyanyi dangdut legenda Jessica sedang dengan asyiknya menari-menari ala tarian dangdut menikmati nuansa musik yang menggelegar tersebut.


“Tik.”  Seketika suara lantunan musik berhenti di saat Poison Merchant menekan tombol off dari alat pemutar musiknya.


“Duh, pagi-pagi sudah dengar suara berisik tidak elegan begini.  Apa-apaan sih yang kamu lakukan pagi-pagi buta begini, Holy?”  Begitu tiba, Poison Merchant serta-merta memprotes kepada Holy atas suara berisik yang dinilainya tidak elegan tersebut.


“Suara berisik tidak elegan?!  Ini musik dangdut, lho, warisan budaya Indonesia, Tuan Poison Merchant.  Anda memang benar-benar tidak mengerti yang namanya keindahan seni budaya, rupanya.”  Protes Holy kepada Poison Merchant.


“Maaf soal itu.  Aku hanya suka musik barat.”  Jawab Poison Merchant tegas.


Tampak pada ekspresi datar Holy yang selalu ditunjukkannya ketika bersama dengan Raging Fire dan kawan-kawan suatu kedutan seakan sifat aslinya hendak keluar.  Namun sebelum itu terjadi,


“Tenang.  Tenang.  Semua orang punya selera masing-masing.  Tidak pantas kalian saling mengejek karena perbedaan selera.”  Raging Fire telah duluan ambil bicara di tengah-tengah adu mulut mereka itu.


“Ah, Tuan Raging Fire.”  Poison Merchant pun segera menunduk dan memberi hormat kepada Raging Fire.


“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keadaan Anda pagi ini, Tuan?  Kalau boleh, bisakah aku melakukan check-up sekilas pada kondisi Anda?”  Lanjut Poison Merchant yang dengan sigap menjiwai pekerjaannya sebagai seorang dokter tersebut.


“Tentu saja.  Lakukanlah seperti biasa.  Aku benar-benar bangga punya pengikut yang setia seperti kalian, Poison Merchant, dan juga Holy.”  Jawab Raging Fire disertai dengan senyum cerah di wajahnya.


“Semoga Anda selalu diberkati dengan kesehatan, tuan kami Raging Fire.”


“Semoga Anda selalu diberkati dengan kesehatan, tuan kami Raging Fire.”


Ujar Holy dan Posion Merchant secara bersamaan sembari menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada Raging Fire.