Kutatap amarah mendalam di balik ekspresi sedih Bobi. Ah, dia serius mengatakan hal tersebut. Karena tak paham terhadap apa yang telah terjadi, aku pun menanyakannya.
“Mengapa? Bukankah monster itu yang telah menculikmu dan hendak mencelakai kalian?”
“Kau salah! Justru gadis itulah yang telah menyelamatkan kami ketika kabut itu hendak menelan kami.” Jawab Bobi dengan lurus kepadaku.
“Gadis?” Aku yang keheranan dengan panggilan Bobi terhadap monster avatar barusan, lantas menoleh ke arah monster tersebut. Dalam sekejap, dia berubah menjadi sosok gadis di usia dua puluhan-nya.
“Kau bukan anak buah Fog rupanya. Justru kau datang hendak menyelamatkan mereka. Kalau begitu, kuserahkan mereka padamu. Kembalikan mereka ke keluarga mereka.” Dalam sekarat, gadis itu, tidak, monster avatar, Avatar Sena pun berujar.
Kulihat Bobi serta-merta berlari ke arahnya lantas memapahnya. Dalam keputusasaannya, dia pun berteriak.
“Tidak, tidak, Ningsih, bertahanlah!”
“Aku dulunya punya keluarga yang bahagia. Kedua orang tua yang menyayangiku sepenuh hati, serta ketiga kakak laki-laki yang walaupun terkadang usil kepadaku, tetapi senantiasa memperlakukanku dengan penuh kasih sayang. Ugggh…”
Darah merah pun mengucur lewat mulut Avatar Sena dalam wujud gadis itu. Namun, walaupun dalam kondisinya yang demikian, dia tetap melanjutkan ucapannya.
“Suatu hari, ayahku mendampingi sekelompok pendaki untuk mendaki gunung ini. Namun, dia tidak pernah kembali, bahkan setelah sepuluh hari. Karena khawatir, ketiga kakakku pun menyusulnya. Namun, ketiga kakakku pun akhirnya ikut menghilang bersama ayahku. Karena depresi kehilangan Ayah dan ketiga kakakku, ibuku pun akhirnya jatuh sakit dan akhirnya meninggal.”
Avatar Sena pun menggapai pipi Bobi lantas tersenyum sendu.
“Aku bodoh saat itu. Tidak, gadis inangku yang bodoh itu, hidup dalam penyesalannya. Penyesalan itulah yang kemudian diwariskan kepadaku. Oleh karena itu, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang. Jadi kumohon, kalian selamatlah!”
Dalam sendunya itu, Avatar Sena pun memalingkan wajahnya kepadaku.
“Hei, kau teman mereka dan hendak menyelamatkan mereka kan? Kalau begitu cepatlah sebelum…”
“Praaaak!”
Sebelum Avatar Sena dalam wujud gadis itu menyelesaikan ucapannya, kabut-kabut mendadak membentuk bilah-bilah runcing lantas menusuk dan menariknya ke dalam kabut. Aku tak sempat bereaksi menyelamatkannya. Aku tentu saja lebih memilih untuk segera menarik Bobi agar tak ikut menjadi mangsa kabut-kabut itu.
Aku pun baru mengingat sesuatu yang penting. Bagaimana dengan keadaan sandera-sandera yang lain? Ini bisa saja gawat jika mereka ikut tertelan oleh kabut-kabut itu. Namun rupanya, Avatar Sena telah mempersiapkan rencana pencegahannya. Dengan sarang yang dibuatnya, kabut tak dapat masuk melukai para sandera.
Aku pun mengeluarkan anak panahku. Tidak seperti biasa di mana aku menembakkan ketiga anak panah berbeda berelemen api, listrik dan batu, aku hanya meggunakan satu anak panah saja, yakni anak panah apiku untuk mengoptimalkan serangan elemen apiku karena seingatku kabut lemah terhadap api.
Setelah melakukan ancang-ancang dan mengumpulkan energi yang cukup, aku pun menembakkan anak panah itu dan,
“Puuush!”
Berawal dari titik tembakanku kemudian menjalar sejauh sepuluh meter, kabut itu hilang sementara. Namun, kulihat dalam waktu singkat, kabut mulai menjalar kembali ke arah kami. Aku pun lantas secepat mungkin mengangkat Bobi dengan tangan kiriku dan sarang berbentuk kubah berisikan orang-orang di tangan kananku lalu terbang keluar dari area kabut tersebut.
Kami pun selamat. Namun, begitu aku dan para sandera berhasil keluar dari kabut tersebut, kabut yang tadinya sangat tebal itu, secara misterius menipis dan menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada sebelumnya. Tidak salah lagi, ini pasti ulah seorang avatar, namun bukan Avatar Sena.
Seingatku, Avatar Sena sempat mengatakan Fog. Jika meninjau kembali kekuatan avatar bernomor seri 13, Avatar Fog tersebut, semuanya menjadi cocok. Keberadaan kabut-kabut tebal ini pasti semua karena ulahnya.
Aku pun kembali mendaratkan Bobi dan para sandera di daratan terdekat. Namun, tidak lama kami mendarat, Avatar Sena kembali muncul ke hadapan kami, tetapi dalam kondisi yang tampak aneh. Tubuhnya tampak dilapisi oleh ulir-ulir putih aneh semacam kabut, dan kondisi matanya pun yang awalnya merah, tampak putih serupa warna kabut.
Aku pun dengan sigap menahan Bobi. Tidak hanya kali ini karena dia seorang monster avatar yang bisa mengamuk kapan saja, tetapi ditambah kini dia juga dalam kondisi yang aneh. Mana mungkin aku membiarkannya ke sana.
Namun, kudengarlah Avatar Sena berujar.
“Fog, aku takkan memaafkanmu! Sampai kapan pun, aku takkan pernah menyerang manusia. Lebih baik aku mati daripada melakukannya!” Seraya mengucapkan hal tersebut, kulihat dia menikam dirinya sendiri dengan cakarnya yang tajam itu. Dia pun akhirnya hancur-lebur tak bersisa.
“Tidak, Ningsih!” Bobi pun meneriaki kepergian Avatar Sena itu dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tiada lagi yang bisa kulakukan untuk menenangkan hati sahabatku yang hancur ini. Aku pun hanya menekan-nekan pundak Bobi untuk menenangkannya. Lagipula apa yang dilakukan monster itu hanyalah sekadar rangsangan dari ingatan seorang gadis yang bernama Ningsih itu. Tiada perasaan sedikit pun dari monster itu karena mereka memang dirancang tak memiliki perasaan. Semuanya hanyalah kepalsuan.
Lagipula jika Avatar Sena memimik seorang gadis yang bernama Ningsih itu, pastinya dia juga telah membunuh gadis itu. Setidaknya, itu yang kupikirkan sampai aku membawa para korban ke pemukiman penduduk terdekat. Di sana, aku bertemu dengan gadis yang dimimik oleh Avatar Sena tersebut dan dia masih hidup dalam keadaan segar-bugar.
“Ningsih?” Bobi yang kaget bercampur bahagia nan penuh sentimental itu, serta-merta menghampiri dan meraih tangan gadis tersebut.
“Ah, apa ini? Tidak sopan!”
“Praaak.”
Sang gadis pun melayangkan tamparannya ke pipi Bobi, tidak, kurang tepat jika dikatakan gadis karena tampak Ningsih saat ini telah mulai menua menjadi gadis dewasa di akhir duapuluhan-nya.
“Ah, maaf, tampaknya aku salah. Setelah kuperhatikan, ternyata Anda bukan dia. Anda sangat mirip dengannya, tetapi dia sedikit lebih muda.”
Setelah mendengar ucapan Bobi barusan, tiba-tiba Ningsih di hadapanku itu pun berekspresi kaget. Sesaat kemudian, dia berujar.
“Setelah kehilangan keluargaku, terkadang aku mengitari Gunung Suzana untk mencari keberadaan Ayah dan kakak-kakakku yang menghilang di sana, berharap untuk menemukan mereka kembali, walau itu hanya sekadar mayat mereka. Namun suatu hari, aku menemukan seekor elang seukuran manusia, sekarat di tempat itu. Saat itu, aku terkaget karena rupanya sang elang dapat berbicara layaknya manusia.”
Ekspresi Ningsih tampak melembut seolah merasa nostalgia terhadap apa yang dikatakannya.
“Dia berucap, ‘Jangan dekat-dekat, atau aku bisa membunuhmu, Manusia.’ Lantas aku bertanya mengapa dia hendak membunuhku. Sang elang pun menjawab, ‘Itu bukan keinginanku. Itu sesuatu yang tertanam di programku untuk segera membunuh seorang manusia yang paling cocok lalu mengambil darah mereka sebagai data untuk memimiknya.’ Itulah jawaban sang elang.”
Kulihat, Ningsih terdiam sejenak seakan mengingat-ingat nostalgia itu kembali. Tatapan matanya mengarah ke arah langit-langit lalu dengan cepat fokus ke arah kami lagi. Dia kemudian melanjutkan.
“Kulihat dia sekarat sehingga tanpa pikir panjang, aku pun melukai tanganku dan membasahi mulutnya dengan darah di tanganku. Awalnya, kupikir dia sejenis vampir yang butuh darah. Namun, keajaiban itu pun terjadi. Dia justru berubah wujud menjadi manusia dengan wajah yang sama persis denganku. Aku pun lantas menamainya Ningsih. Sebagai balas budi menyelamatkannya, dia kemudian berjanji membantuku mencari keluargaku di gunung itu.”
Ucapannya itu lantas membuatku terkaget. Jadi nama Ningsih itu diberikan dan bukan dari warisan ingatannya? Aku lantas bertanya.
“Lalu siapa nama Anda, Mbak?” Tanyaku kepada wanita yang berada pada usia hampir paruh bayanya itu.
“Oh, namaku Ningrum. Tapi Mas, apa kamu tidak kepanasan dalam kostum itu? Apa itu semacam cosplay menirukan Pahlawan Darah Merah? Oh iya, kalau dipikir-pikir, Ningsih sudah cukup lama tidak menemuiku.”
Apa-apaan ini? Jadi sejak awal, Avatar Sena tidak pernah melukai siapa pun. Di gunung itu, dia justru hendak menyelamatkan para korban. Aku yang tidak tahu apa-apa, lantas menjadi perihal penyebab kematiannya? Lantas, siapa yang jahat di sini?
Namun, demi menyelamatkan bumi dari bencana pemusnahan massal, bukankah seluruh avatar tetap harus dibasmi? Lantas, apakah ini sudah tindakan yang tepat? Apakah perasaan para avatar itu sebenarnya nyata atau tidak, aku pun mulai meragukannya.