“Arjuna, dengarkan baik-baik instruksiku untuk mengalahkan Saber.” Ucap Kak Kaiser sembari mengetuk-ngetuk bagian samping helmetnya sebagai isyarat bahwa kami akan menggunakan alat komunikasi di helmet kami.
“Baik Kak, siap!” Aku pun menyanggupi perintah Kak Kaiser tersebut.
“Kalau begitu, pertama-tama turunkan aku dulu. Aku akan mengalihkan perhatian monster tersebut. Kita tak dapat memberikannya kesempatan untuk mengaktifkan jurus pamungkasnya. Tetapi sebelum itu, bisakah aku menyerap manamu sedikit? Tampaknya aku hampir kehabisan mana karena pertarungan tadi.”
“Tentu saja Kak, silakan.” Dengan senang hati, aku menyanggupi untuk membagi mana-ku dengan Kak Kaiser. Namun tiba-tiba, mana-ku dalam sekejap turun drastis dari 75 persen menjadi tersisa 32 persen saja.
Tunggu Kak, ini kebanyakan. Aku bisa pingsan lagi…setidaknya itu yang ingin kuteriakkan pada Kak Kaiser. Namun tak kukatakan, melihat Kak Kaiser begitu fokus pada Saber saat ini.
Sesuai perintah Kak Kaiser, aku menurunkannya. Kak Kaiser lantas serta-merta menerjang Saber dengan pedang Enigma-nya itu. Terjadilah adu pedang untuk sesaat.
“Arjuna, gunakan gelombang suara ultrasonik-mu pada Saber!”
Perintah pertama dari Kak Kaiser pun tiba dan aku segera mengeksekusinya.
“Apa yang kamu lihat?” Tanya Kak Kaiser padaku.
“Hmmm. Tampak ada enam titik aneh di tubuhnya yang …hmmm…retak dari dalam?”
“Bagus, Arjuna. Sekarang, tanamkan bom suara-mu pada titik-titik tersebut.”
Aku sempat tidak mengerti kegunaan menanamkan bom-bom suara itu. Itu memang efektif untuk membuat musuh terkejut, namun sama sekali tak efektif dalam serangan. Tetapi karena itu instruksi dari Kak Kaiser, pasti semua ada maksudnya. Aku lantas hanya mengeksekusinya sesuai yang diperintahkan tanpa bertanya apa-apa.
“Tunggu aba-aba dariku untuk kamu mengaktifkan Scream of Confussion-mu pada Saber, Arjuna.” Lalu perintah selanjutnya dari Kak Kaiser itu tiba.
Dengan tetap menjaga jarak pada ketinggian tertentu, aku bersiap-siap mengaktifkan kekuatanku menunggu aba-aba dari Kak Kaiser.
Kulihat Kak Kaiser menebas-nebas bagian di mana kutunjukkan keenam titik retak pada tubuh Saber dalam kecepatan yang dipercepat oleh Fast-nya. Lalu kemudian,
“Sekarang, Arjuna!”
Aba-aba yang kutunggu pun tiba.
“Scream of Confusion!” Aku serta-merta berteriak sembari mengeluarkan jurus sesuai dengan aba-aba itu.
Dengan kecepatan yang bertambah cepat lagi, Kak Kaiser lantas memberikan tebasan yang lebih dalam ke tempat enam titik retak tersebut. Dalam sekejap, tubuh Saber tak lagi mampu mempertahankan wujud fisiknya lalu berhamburan layaknya debu. Pertarungan pun dimenangkan oleh Kak Kaiser atas Saber.
Setelah itu, aku kembali turun ke daratan menghampiri Kak Kaiser.
Setelah mendarat, aku berlari padanya sembari berucap, “Kerja bagus, Kak Bomber.”
Namun, kulihat Kak Kaiser tidak menanggapi omonganku itu. Kak Kaiser justru malah memposisikan dirinya lebih siaga sembari berujar,
“Mengintip orang yang sedang bertarung untuk menunggu kesempatan memberikan serangan dadakan, sungguh hobi yang benar-benar buruk!”
Lalu tiba-tiba, sosok itupun muncul di hadapan kami, tidak, tepatnya dia muncul dari arah belakang kami. Sosok yang kukenal dengan baik. Sosok yang selalu mendampingi Riri menjaga di toko tiap kali selesai memanggang roti dan kue bersama kakak tertuanya Rara di dapur. Sosok vokal yang menutupi kekurangan Riri yang ramah namun pendiam. Dialah tertua kedua dari the flower sisters dari Toko Kue Bernard, Rina.
Rina berujar,
“Bukan begitu, Pahlawan Darah Merah. Aku sama sekali tak punya niatan bertarung denganmu. Justru, aku sadar bahwa keberadaan kami selama ini salah. Kami terlahir dengan mengambil nyawa tubuh inang kami. Tapi dengan santainya, kami berpura-pura hidup menggantikan mereka. Aku sadar bahwa suatu hari, kami akan dihukum. Oleh karena itu, Pahlawan Darah Merah, silakan ambil nyawaku di tempat ini agar aku dapat segera menyusul kakak dan adikku."
Terlihat Rina terdiam untuk sesaat sembari menampakkan ekspresi yang penuh kesedihan.
“Namun sebelum itu, bisakah kamu mengabulkan satu permintaanku?” Pinta Rina dengan tulus.
Kak Kaiser lantas berujar, “Baiklah, aku mengerti. Tetapi bisakah kamu menjauh terlebih dahulu dari kami? Kami tidak akan bisa berkonstrasi dalam pertarungan jika ada makhluk tidak jelas apa tujuannya berdiri di belakang kami.”
Sesuai permintaan Kak Kaiser, Rina segera menjauh dari tempat itu. Namun, aku masih kebingungan dengan apa yang dimaksud Kak Kaiser tentang tidak bisa berkonsentrasi dalam pertarungan. Memangnya, siapa yang sedang kami lawan?
Akan tetapi, pertanyaan di hatiku itu segera terjawab dengan sendirinya begitu Kak Kaiser kembali berujar, “Keluar dari sana, pengecut sialan!”
Setelah Kak Kaiser mengucapkan kalimat tersebut, sesosok pemuda keluar dari balik salah satu pohon di sudut taman. Tetapi apa ini? Wajah itu?
“Hoh, sesuai dugaan, Pahlawan Darah Merah memang jeli. Kamu menyadari keberadaanku rupanya.” Ujar sosok itu.
“Omong kosong! Mana mungkin keberadaanmu tidak kuketahui setelah serangan dadakan yang kamu berikan pada rekanku sebelumnya.” Bantah Kak Kaiser terhadap ucapan sosok itu.
Seharusnya sedari tadi aku sadar kalau sosok itu berada di sini ketika aku menerima serangan dadakan darinya. Siapa lagi monster avatar tersisa yang mampu memberikan serangan es ke udara selain monster avatar tersebut.
Sosok yang dengan tidak tahu malunya menggunakan wajah kakakku yang telah dibunuhnya sebagai samarannya. Dialah Freeze.
“Kak Fa…”
“Arjuna!”
Aku tanpa sadar hampir menggumamkan nama Kak Faridh yang bisa saja mengancam identitas kami ketahuan. Tapi tetap saja, aku tidak dapat mengendalikan perasaan tidak enak di hatiku ini.
Aku tahu betul bahwa sosok di depanku itu bukanlah Kak Faridh. Karena Kak Faridh yang asli sudah meninggal lima tahun silam. Justru, sosok di hadapanku itulah yang telah membunuh Kak Faridh lantas memimik wajahnya.
Aku menggetarkan gigiku dengan marah. Pikiranku tidak bisa memikirkan hal lain selain keinginan kuatku untuk membalaskan dendam akan kematian kakakku Faridh pada monster sialan itu.
Tetapi apa ini? Kenapa badanku begitu gemetaran?
Apa traumaku di saat aku menyaksikan kakakku Faridh dibunuh oleh monster sialan itu di kala aku hanya mampu bersembunyi di bawah kolong kapsul berharap monster itu tidak menemukanku, belum reda?
Bahkan setelah aku berhasil mengalahkan Mantis, Sly Dark, Nyaa dan Sena, aku masih takut terhadap monster sialan itu?
“Arjuna, tenanglah. Kamu tidak perlu ikut menghadapinya. Kali ini serahkan semuanya padaku. Kamu bisa kembali duluan ke markas.” Ujar Kak Kaiser tiba-tiba.
Tanpa sadar, aku tampaknya terlalu menampakkan perasaan marah dan tertekanku itu sehingga membuat mentorku mengkhawatirkan keadaanku.
Aku terpaku sesaat. Namun, kubulatkan tekadku seraya berkata, “Tidak Kak. Izinkan aku ikut bertarung. Sudah saatnya aku harus melepaskan diri dari trauma yang membelenggu hidupku selama lima tahun ini.”
Akan tetapi, tiba-tiba terasa sesuatu menjalar merasuk ke tubuhku. Lalu aku pun kehilangan kesadaran.
***
Kaiser, tidak, tepatnya Avatar Healer, secara tiba-tiba menyuntikkan sesuatu ke tubuh Adrian yang memberikan efek kehilangan kesadaran. Dalam sekejap, Adrian jatuh tersungkur ke tanah.
“Arjuna! Kamu di situ kan?! Cepat larilah dan bawa pergi anak itu dari tempat ini!” Teriak tiba-tiba Healer dalam wujud Kaiser itu setelah membuat Adrian pingsan.
“Duh, merepotkan! Lagian kenapa Kakak ini tiba-tiba pingsan? Apa Kakak melakukan sesuatu padanya?”
Arjuna kembali bangkit setelah menerima obat tidur dari Kaiser. Tetapi ada yang salah dengan tingkahnya? Adrian pada dasarnya memang memiliki sifat kekanak-kanakan, tetapi hal itu sama sekali tidak pernah ditampakkannya dalam tingkah laku kesehariannya. Tetapi berbeda saat ini, dia jelas-jelas bertingkah sangat kanak-kanak.
“Sudah jangan banyak bicara, Avatar Nomor 97 Arjuna. Keadaan kita sekarang terdesak. Kita sama-sama hampir kehabisan mana, tetapi kita justru harus menghadapi monster avatar yang dirancang terkuat di game itu. Pokoknya, larilah! Aku akan berusaha sebisa mungkin menghambatnya. Pastikan agar tidak terjadi apa-apa pada anak itu.”
Kaiser sekali lagi memerintah sosok kanak-kanak yang tampak merasuki tubuh Adrian itu. Tidak, itu salah karena selama ini, justru Adrian-lah yang selalu meminjam tubuhnya ketika akan menghadapi para monster avatar. Dialah avatar bernomor seri 97 yang telah berfusi bersama gelang perubah. Dialah Avatar Arjuna.