Memang butuh waktu yang lama, namun pada akhirnya aku berhasil mengalahkan para dummy di area yang ditugaskan padaku.
“Kira-kira, bagaimana dengan daerah yang lain ya? Mungkinkah aku yang pertama kali menyelesaikannya?” Gumamku dalam hati.
Aku pun segera bertanya kepada Mr. Aili tentang area lain yang belum tuntas dan membutuhkan supportku. Namun, jawaban yang dikeluarkannya justru di luar ekspektasiku.
“Sisa satu area saja yang belum beres, yakni area D.” Jawab Mr. Aili padaku.
Tapi apa-apaan ini? Bukankah itu adalah area yang ditugaskan kepada Kak Kaiser? Padahal orang terakhir yang ada di pikiranku yang akan paling terakhir menyelesaikan misi ini adalah dirinya, di luar dugaan, justru sisa area Kak Kaiser-lah yang belum selesai pembersihannya.
Karena penasaran bercampur khawatir, aku pun segera ke sana untuk memberikan bantuan.
***
“Slush! Trak!”
Para dummy yang telah berevolusi menjadi Para dengan kulit yang sangat keras itu, tidak henti-hentinya menyerang Kaiser dengan tumbukan yang bertubi-tubi. Tiap tumbukan para dummy, Kaiser dengan susah payah menghindarinya atau menangkisnya dengan pedang Enigma-nya.
Akan tetapi, para monster dummy itu sama sekali tak memberikan waktu kepada pemuda tersebut untuk beristirahat. Bagaikan susunan ombak di lautan, para dummy menyerang secara bergantian secara sistematis.
Tiap gelombang dummy yang satu menyelesaikan serangan tumbukannya, tidak sampai dua detik, gelombang tumbukan kumpulan dummy berikutnya telah kembali melancarkan serangannya, di mana gelombang yang selanjutnya pun telah bersiap di belakang.
Kaiser benar-benar kewalahan.
Namun di saat itulah, terdengar suara menggema.
“Hai, sepupu manisku. Kau belum selesai juga rupanya. Mau kubantu?”
“Ah, Kak Millie. Kalau mau bantu, mengapa Kakak masih berdiri di situ. Ayo cepat!” Dengan tanpa sungkan-sungkan, Kaiser pun menerima uluran tangan dari kakak sepupu dua kalinya itu.
Dialah Millie Dewantara, anak ketiga dari pasangan suami-istri Dewantara yang menjadi pahlawan dari insiden bersejarah 2031 yang mengorbankan diri mereka hingga terjerembab ke alam virtual.
Dengan kekuatan apinya, Millie membakar habis semua monster dummy di area Kaiser hingga tak bersisa.
“Hmmm. Kamu tampaknya masih harus belajar banyak, adik sepupu manisku. Si Healer itu masih lima kali jauh lebih baik dari kekuatan tempurmu saat ini.” Ujar Millie sembari memberikan senyum lebarnya yang tampak seakan merendahkan.
***
Aku berlari dengan khawatir terhadap kondisi Kak Kaiser di dalam pertempuran. Dia selama ini menunjukkan bakat yang prominen dalam segala latihan pertempurannya secara virtual. Namun, aku melupakan satu fakta penting. Pertandingan melawan musuh nyata dengan tubuh avatar dari gelang perubah, jelas sensasinya berbeda dengan pelatihan di ruang virtual.
Kak Kaiser yang baru pertama kali merasakannya pasti akan kewalahan. Karena tidak semudah itu menggunakan tubuh avatar gelang perubah. Tidak hanya faktor konsumsi HP dan MP yang harus dipertimbangkan di dalam pertarungan.
Ada faktor spiritual pencocokan pikiran terhadap refleks tubuh. Terkadang, kita ingin melakukan pergerakan tertentu, malah jadi bergerak yang lain karena tubuh kita salah mempersepsi gerakan yang diinginkan oleh pikiran kita. Nyatanya, tidak semudah itu untuk memperaktikkan agility di dalam kehidupan nyata. Hal yang sama berlaku pula untuk vitality, endurance, dan intelligence.
Namun sesampainya aku di sana, kekhawatiranku sebelumnya tampak sia-sia belaka, persoalan pertarungan telah selesai yang ditutup dengan indah oleh sebuah api yang megah nan membara. Para dummy telah gosong menjadi abu.
Kulihatlah sosok wanita yang membantu Kak Kaiser dalam pertempurannya. Eh? Bukankah itu Dokter Millie yang merawat luka-lukaku sebelumnya? Apa yang dilakukannya di sini? Bukan itu, jadi dia bisa bertarung? Dokter yang tampak lemah lembut itu?
Aku tak dapat menahan keherananku begitu melihat dokter yang selama ini tampak lembut di luar, ternyata bisa memiliki kepribadian yang liar seperti yang kusaksikan barusan.
Karena sudah terlanjur berada di sini, walaupun pertarungan telah selesai, aku menghampiri untuk menyapa mereka berdua sekaligus mengobati rasa penasaranku dengan melihat Dokter Millie dari dekat yang baru saja habis mengamuk itu.
“Kak Kaiser, Dokter Millie, kalian telah bekerja keras.” Sapaku sembari sedikit menundukkan kepalaku untuk penghormatan.
“Ah, Adrian. Tampaknya pertarunganmu juga telah selesai.” Ujar Dokter Millie yang dalam sekejap, ekspresi bengisnya itu berubah menjadi ekspresi ramah dan tak berbahaya seperti yang sebelumnya ditunjukkannya padaku sewaktu merawatku di rumah sakit bersama Dokter Damian.
Aku benar-benar tak menduga adanya sosok lain seperti ini dari sang dokter wanita yang cantik di hadapanku ini.
Kuperhatikanlah raut wajah Kak Kaiser yang tampak tadi mengabaikan sapaanku. Kulihat dia menghindari tatapan mataku seraya menunduk. Ah, tampaknya dia malu karena tak dapat mengatasi masalah dummy di area ini seorang diri sehingga harus memperoleh bantuan dari pihak lain.
Melupakan perasaan kompleks dari Kak Kaiser tersebut, pertarungan di hari itu pun berakhir dengan semua dummy berhasil dikalahkan.
Kami berdua pun, aku dan Kak Kaiser lantas segera kembali ke markas, sementara Dokter Millie meminta izin untuk kembali ke rumah sakitnya, lalu kami pun berpisah. Secara tiba-tiba setelah itu, Mr. Aili menghampiriku lantas menyuruh kami untuk bergegas ke markas persoalan telah ada orang lain yang berkunjung ke markas yang hendak bertemu dengan kami.
Kami berdua yang penasaran pun, tanpa membuang-buang waktu lagi segera bergerak menuju ke markas. Tidak butuh waktu lama, sekitar 20 menit dengan kemampuan balap Kak Kaiser, bagi kami untuk tiba di markas. Sesampainya di depan markas, kami pun membuka pintu markas. Rupanya, dari arah meja yang menghadap ke kami, Profesor Melisa dan Syifa juga telah berada di sana menunggu kami.
Tetapi ada apa dengan ekspresi Kak Syifa yang terlihat rumit itu? Namun, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan jawabannya, persoalan jawaban itu telah ada di depan mataku sendiri. Dari balik meja yang mengarah membelakangi kami, kulihat dua punggung pasangan orang tua.
Kedua pasangan laki-laki dan perempuan yang telah hampir berada di usia senjanya itu lantas berbalik, menghadap ke arahku. Betapa kagetnya aku, persoalan wajah itu yang walaupun telah bertambah tua, tetapi takkan mungkin pernah kulupakan. Walau wajah itu tidak lagi pernah kulihat selama lima belas tahun terakhir ini, tetapi tetap saja takkan mungkin kulupakan. Perihal, mereka berdualah ayah dan ibu kandungku.
“Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?” Ujarku dengan marah menahan air mataku.
“Ah, Adrian. Rupanya, kamu juga sudah besar, Nak.” Ujar ibu kandungku itu kepadaku.
“Syukurlah, kamu tumbuh menjadi pemuda yang baik, anakku.” Lantas dilanjutkan oleh ucapan dari ayah kandungku.
Tampak baik ayah maupun ibu kandungku, tersenyum begitu tulusnya di hadapanku.
Tetapi perasaan amarah ini, perasaan sakit hati karena telah ditinggalkan selama bertahun-tahun, yang bahkan pada saat kematian Kak Faridh, mereka berdua tidak turut hadir melayat, begitu menggebu-gebu sehingga mana mungkin aku akan memaafkan pengkhianatan mereka meninggalkan kami sendirian di ibukota yang kejam ini hanya untuk keegoisan mereka sendiri meraih cita-cita mereka di luar negeri.
Aku benci mereka.