101 Avatars

101 Avatars
55. Side Effect Gelang, Peningkatan Ketajaman Indera Adrian



Adrian kala itu hampir tertidur pulas.  Akan tetapi, indera penciumannya yang ketajamannya belakangan ini meningkat sejak dia terkoneksi dengan Arjuna, mulai mencium sesuatu yang aneh.  Bau pinus yang khas.  Dia ingat betul dengan bau itu karena bau tersebut adalah bau yang menandakan kemunculan Holy sebelumnya.


“Tetapi kenapa ada di markas?” Gumam Adrian mendadak panik.


Dia yang jadi was-was karena kecurigaannya bahwa markasnya telah diinfiltrasi oleh musuh, lantas mengadukan semuanya kepada AI5203.  Ditemukanlah keanehan di mana ada bagian dari ruangan yang tak dapat diakses oleh AI5203 tersebut.  Itulah ruangan di mana mereka berpikir bahwa Kaiser Dewantara sedang tertidur lelap.


“Gawat!  Jangan-jangan, Kak Kaiser sedang diserang musuh.”


Adrian yang panik lantas mencoba menggedor-gedor pintu kamar Kaiser, namun sayangnya, sama sekali tidak ada respon.  AI5203 pun mencoba segala cara untuk menginfiltrasi sistem pengamanan pada pintu tersebut, namun juga tidak berhasil.


Adrian lantas mencoba mendobrak pintu dengan segenap kekuatannya, tetapi tentu saja tidak bisa perihal kekuatan pintu yang sangat kokoh.  Adrian pun kalap.  Tanpa pikir panjang, dia berubah menjadi Arjuna di tempat tersebut.


Akan tetapi, sebelum Adrian sempat mengayunkan Crusader untuk membelah pintu itu, Kaiser pun keluar.


“Ada apa ribut-ribut begini?  Lho, Adrian?  Ada apa tiba-tiba kamu berubah jadi Arjuna?”  Kaiser yang keluar lantas terlihat kaget dengan suasana yang ganjil itu.


Adrian pun menjawab, “Kakak!  Kak Kaiser tidak apa-apa? Benaran tidak apa-apa?!  Ujar Adrian sembari memegang pundak Kaiser dengan kuat-kuat perihal kecemasannya.


“Memangnya, apa yang bisa terjadi padaku?”  Kaiser yang belum mengerti situasi, lantas balik bertanya kepada Adrian.


“Itu, anu, untuk sejenak, tadi aku merasakan keberadaan Holy dengan indera penciumanku di kamar Kakak.”


Adrian pun lantas menjelaskan situasi detailnya kepada Kaiser.  Mendengar penjelasan itu, Kaiser, tidak, Healer yang menyamar menjadi Kaiser seketika memelotot kaget akan perkembangan Adrian yang tidak diduga-duganya itu.


Itu adalah data yang baru bagi Healer bahwa seseorang yang sering bertukar tubuh dengan avatar melalui gelang mampu berevolusi mengikuti kemampuan avatarnya.  Dari situ, Kaiser juga mengetahui bahwa tidak hanya indera penciuman Adrian yang diperkuat, tetapi lebih daripada itu, penambahan ketajaman penglihatan Adrian jauh lebih signifikan akibat koneksinya pula dengan Avatar Arjuna.


Tidak hanya itu, berkat koneksinya dengan side avatarnya Sly Dark, indera pendengaran Adrian juga ditingkatkan di luar batas kemampuan manusia normal.


Secara tidak sadar, Adrian telah menjadi manusia super seutuhnya yang memiliki ketajaman indera penciuman, penglihatan, dan pendengaran.


“Aku harus meninjau ulang kembali rencana berdasarkan perkembangan situasi ini.” Server Healer pun beresonansi melakukan updating data.


Namun, bukan itu hal yang paling penting yang harus diolah oleh server Healer saat ini.  Healer harus segera menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari situasi saat ini di mana Adrian mampu menangkap keberadaan sejenak Holy melalui indera penciumannya yang tajam di dalam kamarnya tersebut.


Apakah dia harus berbohong dengan mengatakan bahwa penciuman Adrian salah menangkap bau sesuatu yang sebagai bau Holy?  Dia bisa saja menutup pintu kembali, menciptakan pohon pinus mini dengan bau yang menyengat melalui kekuatannya, lantas menunjukkannya kepada Adrian.


Tetapi itu resikonya besar jika Adrian sampai curiga dengan jeda di mana sebelumnya tidak ada bau pohon pinus tersebut perihal dia sudah terlanjur membukakan pintunya.  Dan bisa saja Adrian mampu menangkap perbedaan kecil antara bau portal hutan pinus Holy dengan bau pinus mini ciptaannya.  Bagaimana pun, Healer tidak mampu menciptakan pohon pinus yang memiliki bau yang benar-benar identik dengan bau portal hutan pinus Holy.


Satu-satunya pilihannya adalah mencampur fakta dengan sedikit kebohongan yang mampu membuatnya terelakkan dari kecurigaan Adrian.


Kaiser, tidak, Healer dalam wujud Kaiser itu pun mulai berucap, “Maaf, Adrian.  Sebenarnya, aku cukup ceroboh pada pertarungan terakhir.  Aku lengah sehingga Holy berhasil menyelipkan penanda di tubuhku.  Holy sempat datang ke kamarku melaui penanda itu, tetapi aku segera berubah dan menendangnya masuk kembali ke portal sebelum dia sempat memarking lokasi kita saat ini.  Lain kali, aku akan lebih hati-hati.”


Dengan pura-pura tertunduk malu, Kaiser lantas menjawab, “Itu, sebenarnya, aku sedikit malu melakukan kesalahan novice padahal aku adalah mentormu, Adrian.  Jadi aku bermaksud merahasiakannya dari kalian.  Tapi yah, akhirnya ketahuan juga rupanya.”


“Hahahahahaha.”  Adrian lantas tertawa terbahak-bahak.


“Jadi, Kak Kaiser pun punya sisi yang seperti ini.  Ya, wajar kali, Kak, jika seseorang kadang lengah.  Tetapi Kak Kaiser, walau bagaimana pun, Kakak adalah panutan ideal bagiku.”  Dengan lembut, Adrian berucap lantas menatap wajah Kaiser dengan senyuman.


Hari itu, Healer mampu menutupi hubungan kerjasamanya dengan Holy melalui bakat aktingnya yang cemerlang.


***


Pagi itu, Adrian menerima telepon dari Syifa yang menyatakan bahwa pagi tadi sekitar pukul 7 sebelum dia berangkat ke kantornya, ada seorang tamu wanita yang katanya hendak memberikan sesuatu kepada keluarga mereka sekaligus mengatakan sesuatu yang penting.  Namun, karena Syifa terburu-buru, jadilah dirinya hanya memberi nomor telepon-nya dan Adrian kepada wanita itu untuk berbicara lain waktu.


Pagi itu, perihal tugas praktik lapangannya yang ditunda ke hari ini, satu-satunya mata kuliah Adrian hari ini yang seharusnya dimulai pukul 4 sore, terpaksa dipindahkan ke pukul 10 pagi karena bertabrakan dengan jadwal praktiknya itu.  Adrian pun terpaksa harus berangkat ke kampus pagi-pagi di hari itu.


Namun tanpa diduganya, itu adalah suatu keberuntungan baginya.  Dia bertemu dengan pujaan hatinya, Nafisah, di perjalanannya menuju ruang kuliahnya.


Adrian yang berjalan di koridor lantai satu fakultasnya lantas berpapasan dengan Nafisah yang tengah kesusahan dengan serangkaian spesimen yang memenuhi tangannya untuk dibawanya ke lantai 4 di jurusannya.


Tanpa pikir panjang, Adrian memberikan bantuannya kepada Nafisah.  Dia menggantikan wanita jelita itu membawa spesimen dari lantai satu ke lantai 4 tersebut.  Terdapat dua buah lift yang menghubungkan antarlantai di fakultas Adrian.  Akan tetapi, ada aturan tegas yang menyatakan bahwa mahasiswa dilarang menggunakan lift jika membawa spesimen yang masuk ke dalam sembilan kriteria.


Salah satu kriteria itu masuk dalam spesimen yang dibawa oleh Nafisah saat ini.  Jadilah mereka harus berjalan naik dari lantai satu ke lantai 4 fakultas di mana jurusan Nafisah berada dengan menggunakan tangga manual.


Tetapi itu justru adalah keberuntungan untuk Adrian.  Dia dapat mengobrol lebih lama dengan Nafisah sembari menunjukkan pesonanya pada pujaan hatinya itu.


“Adrian, tampaknya itu berat.  Sudah kuduga, sebaiknya aku yang membawanya sendiri.”  Nafisah membuka suasana sepi itu dengan perkataan merasa tidak enaknya.


“Apa yang kamu katakan, Nafisah.  Hal segini tuh, tidak ada apa-apanya bagi seorang pria.”  Ujar Adrian seraya menunjukkan ekspresi kebanggaannya sambil berusaha melirik Nafisah.  Akan tetapi, pas mata mereka bertemu, nyali Adrian malah menciut dan mukanya malah sangat memerah.


Akan tetapi, justru dengan melihat Adrian salah tingkah begitu, nilai Adrian di mata Nafisah meningkat karena wanita jelita itu menilai imut tingkah pria tampan yang tampak polos itu yang terlihat sama sekali tidak punya pengalaman menggaet para wanita dengan suatu gombalan maut.


“Hehehe.”  Nafisah tanpa sadar tertawa kecil karena membayangkan keimutan Adrian.


“Hmmm?  Ada apa Nafisah?”  Tanya Adrian keheranan.


“Tidak.  Maaf Adrian, aku tidak sedang menertawaimu.  Aku hanya berpikir, kamu imut juga dengan kepolosanmu itu.”  Ujar Nafisah seraya tersenyum nakal sembari mengambil kembali spesimennya yang ada di tangan Adrian lantas berlari kecil memasuki laboratoriumnya.


Untuk sesaat, Adrian membeku di sana dengan muka yang memerah.