101 Avatars

101 Avatars
12. Perasaan yang Tak Nyata



“Kak Kaiser.  Apa yang akan terjadi dengan nasib anak itu?  Apakah Kak Kaiser benar-benar akan merawatnya?”  Tanyaku kepada Kak Kaiser setelah kembali ke markas.


Setelah kehilangan ibunya, tidak akan ada lagi siapa-siapa yang dapat merawat anak itu.  Ya walaupun sejak awal, sang ibu itu hanyalah Avatar Autumn Lily yang menyamar saja.  Orang tua anak itu yang sebenarnya telah lama meninggal.


Kak Kaiser lantas tersenyum kepadaku lantas mengusap rambutku.  Orang ini, entah mengapa benar-benar memiliki pembawaan yang sama dengan Kak Faridh.  Aku pun jadi tidak membencinya jika sekali-kali diperlakukan seperti anak kecil olehnya.


“Itu tampaknya sangat bagus, tetapi sayangnya kita harus tetap menjaga identitas kita sebagai rahasia.  Jadi, itu hal yang tak mungkin dilakukan.”  Kak Kaiser pun menjawab pertanyaanku.


“Lantas, apakah kita akan menelantarkan anak itu?”  Aku pun sekali lagi bertanya padanya.


Kulihat, Kak Kaiser sekali lagi tersenyum lantas berkata, “Serahkan semuanya ke ahlinya.”


“Ahlinya?”  Ujarku dengan keheranan.


“Profesor Melisa yang terhubung dengan para anggota fansite-ku yang akan mengurus semuanya.  Tentu saja Profesor Melisa juga merahasiakan identitasnya di dalam fansite itu.  Kemungkinan terburuknya sih, dia akan dirawat di panti asuhan dengan bantuan dana para anggota fansite sampai anak itu dapat berdiri dengan kedua kakinya sendiri.”


Dengan jawaban Kak Kaiser itu, paling tidak hatiku telah merasa sedikit lega, walaupun masih saja ada perasaan mengganjal yang mengganggu.  Aku sejenak meragukan keputusan untuk menghabisi sang ibu itu.  Pada dasarnya, tindakan Autumn Lily dalam samaran sang ibu itu hanya perlindungan diri saja demi melindungi anak itu yang hendak dibunuh oleh para preman.


Dia tidak salah apa-apa saat itu.  Bagiku, para preman itu memang layak mati setelah tanpa ragu mereka berniat membunuh pasangan ibu-anak yang tak memiliki salah apa-apa itu.


“Kaiser, tampaknya kamu benar.  Serangan terakhir yang dilakukan oleh Autumn Lily adalah untuk mengincar keluarga yang menyewa para preman yang berniat membunuh anak itu.”  Tiba-tiba, ucapan Profesor Melisa membuyarkan lamunanku.


Aku pun turut melihat ke panel komputer yang sedang diperhatikan oleh Kak Kaiser dan Profesor Melisa tersebut.  Kusaksikan di layar, suatu berita tentang dentuman suara yang sangat besar tiba-tiba terdengar di suatu rumah di malam hari ini yang terletak pada suatu kompleks perumahan elit.  Setelah diperiksa, satu keluarga yang merupakan keluarga mafia terkenal di Kota Jakarta tewas di dalamnya akibat keracunan.


Setelah Profesor Melisa menyelidikinya lebih dalam lewat rekaman video drone kecil seukuran lalat milik lab yang tersebar di seluruh penjuru kota, tidak salah lagi, keluarga itulah, tepatnya sang anak, yang telah menyewa para preman sebelumnya.


Beritanya memang agak samar-samar, tetapi dilaporkan bahwa dugaan racunnya berupa serbuk kuning yang sangat mematikan jika terhisap.  Tidak salah lagi itu adalah racun milik Autumn Lily.


Mungkin karena rasa galauku terpampang jelas di wajahku, Kak Kaiser pun membekap pundakku untuk menyemangatiku.  Dia pun berkata,


“Adrian, kamu tahu, adalah sikap yang salah jika kamu terlalu membenci para avatar yang berbuat kerusakan tersebut?”


Namun, apa yang dikatakan oleh Kak Kaiser, justru suatu perkataan yang sangat menyulut emosi di hatiku.


Namun, Kak Kaiser hanya tersenyum menghadapi sikap tidak dewasaku itu seraya menggenggam erat pundakku.


“Dengar, seorang novelis yang dikejar deadline sampai begadang mengerjakan novelnya di malam hari tapi tiba-tiba mati lampu dan begitu komputernya kembali hidup kemudian dia mengecek hasil ketikannya, ternyata beberapa hasil ketikannya tidak tersimpan oleh program autosave Microsoft Wordnya.  Menurutmu, apa yang akan terjadi jika dia memaki-maki aplikasi Microsoft Wordnya?”  Tanya Kak Kaiser padaku yang aku sendiri tidak paham apa maksudnya.


“Orang itu pastinya gila.  Apa gunanya memaki-maki benda mati yang tak punya perasaan?  Seharusnya dia memarahi provider atau pencipta MS Word-nya kan?”  Aku pun menjawab pertanyaan tersebut.  Di akhir kalimatku, akhirnya aku pun tersadar.  Kak Kaiser sedang menganalogikan keadaan diriku saat ini dengan keadaan novelis itu.


Aku pun tertunduk diam malu.  Namun, sekali lagi Kak Kaiser menggenggam erat pundakku seraya berkata,


“Tentu saja hal yang sama untuk sebaliknya.  Jangan pula bersimpati pada para avatar jika mereka terlihat melakukan hal baik karena semua itu hanyalah sesuatu yang tersusun di program mereka.  Pada akhirnya, mereka tidak ada bedanya dengan aplikasi-aplikasi di komputer atau smartphone.  Tidak ada gunanya menempatkan perasaan kepada sesuatu yang tidak berpikir.”


Kata-kata dari Kak Kaiser itu benar-benar menusuk ke dalam kalbuku.  Rupanya, aku tak mampu menyembunyikan apa-apa dari Kak Kaiser.  Dalam sekejap, Kak Kaiser mampu merasakan kegalauanku setelah melihat langsung apa yang terjadi terhadap Autumn Lily.  Benar kata Kaiser, Autumn Lily hanya bersikap demikian karena terpengaruh ingatan inangnya, ibu asli dari anak itu.


Kembali lagi, para avatar hanyalah suatu bagian dari karakter game, salah satu dari sekian program komputer di mana perasaan yang mereka seolah-olah tunjukkan hanyalah bagian dari mimikan perasaan terdalam dari manusia yang mereka mimik.


Semuanya, adalah tak nyata.


“Adrian, sudah malam.  Besok kamu juga ada kuliah kan?  Kita pulang dulu.”  Kata-kata Kak Syifa lantas menyadarkanku tentang waktu yang telah begitu lama terlewat.


Profesor Melisa pun meminta kepadaku untuk mengembalikan gelang sementara untuk diinstalkan side avatar, Sly Dark, demi semakin meng-up-grade kekuatan dari Avatar Arjuna.


Aku sempat menanyakan bahwa mengapa mereka tidak melakukan instalasi side avatar dari dulu-dulu.  Rupanya, instalasi side avatar baru bisa dijalankan ketika avatar utama teraktifkan dan avatar utama baru bisa aktif ketika berhasil menemukan masternya, yakni aku untuk Avatar Arjuna.


Lantas, aku menanyakan, mengapa mereka tidak menggunakan peralatan sangkar burung seperti apa yang Kak Kaiser gunakan sewaktu menangkap Sly Dark untuk mengurung 3 side avatar potensial untuk Avatar Arjuna jauh-jauh hari sebelumnya.  Mengapa mereka justru memusnahkan semua avatar yang mereka tangkap.


Ah, tiga itu adalah jumlah side avatar maksimal yang dapat dimiliki oleh suatu avatar.


Dan untuk pertanyaan yang ini, rupanya alat itu dikembangkan berdasakan kerangka alat penjebak energi sinar gamma yang dikembangkan oleh Tim Profesor Melisa di mana Nafisah ada di dalamnya itu.  Profesor Melisa dan Kak Kaiser pun mengembangkannya sebagai alat pengurung avatar.


Namun, karena ketidakstabilan alat, alat itu hanya mampu mengurung avatar selama kurang lebih 12 jam saja.  Oleh karena itu, Profesor Melisa pun harus buru-buru untuk memulai proses penginstalannya malam ini.  Tampaknya malam ini, baik Profesor Melisa, maupun Kak Kaiser, harus begadang di lab.  Disamping itu, ada juga faktor besarnya energi listrik yang diperlukan sehingga ujung-ujungnya kembali kepada masalah budget.


Di waktu yang hampir menunjukkan tengah malam itu, di pukul 23.36, hari pertama kunjunganku ke markas lab rahasia kami itu pun berakhir.  Saat ini, tidak ada yang lain lagi yang kupikirkan selain bantal empukku di rumah.