101 Avatars

101 Avatars
31. Dendam Saber



“Tidak akan kumaafkan!  Aku takkan pernah memaafkannya!  Akan kubalaskan kematian Riri pada Pahlawan Darah Merah sialan itu!”


Di bangunan bekas yang tampak akan segera dirobohkan itu, Rara, yang tertua di antara the flower sisters dari Toko Kue Bernard, tidak, tepatnya dia adalah monster avatar yang memimik penampilan Rara, sedang mengumpat penuh amarah dan dendam terhadap sang Pahlawan Darah Merah.


“Tenanglah, Kak.  Jangan gegabah!  Ingat tujuan kita setelah memperoleh kesadaran kita dan memiliki jiwa kemanusiaan ini di dalam diri kita!”


Rina, tertua kedua dari the flower sisters, mencoba untuk menasihati kakaknya itu.


“Apa yang kamu katakan, Rina?!  Lihatlah, bahkan setelah kita mencoba untuk hidup tenang dan tidak menyakiti siapapun, para manusia-manusia itu tetap memburu kita dan memperlakukan kita layaknya monster!”


Rara pun berteriak marah setelah mendengar ucapan adiknya itu, tidak, mereka pada dasarnya adalah makhluk dunia virtual yang diciptakan dari sekumpulan butiran-butiran data subvasial, sehingga mungkin kurang tepat untuk mengatakan mereka bersaudara.  Lagipula sejak awal, tak ada konsep bersaudara untuk sesuatu yang tergolong bukan makhluk hidup.


Rina terdiam untuk sesaat.  Kemudian dengan lirih, dia berujar,


“Lagipula memang benar kita yang telah membunuh Rara, Rina, dan Riri yang asli dengan brutal sehingga mungkin tepat jika kita dikatakan monster.”


“Apa lagi yang kamu katakan itu, Rina?!  Bagaimana bisa itu salah kita, di saat kita saat itu belum mendapatkan kesadaran kita!”


Rina termenung sedih.  Matanya tampak berkaca-kaca.  Dia tidak setuju dengan pendapat saudarinya itu, tetapi dia sudah merasa enggan untuk berdebat dengannya.


Di saat itulah, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar.


“Oh ho…!  Masih berpura-pura jadi manusia kalian rupanya, Saber, Crusader.”


Mendengar suara pria muda itu, Rara dan Rina segera berdiri dalam posisi siaga sembari meningkatkan kewaspadaan mereka.


“Apa tujuanmu ke mari, Thief?”  Rina dengan tetap menjaga kewaspadaannya, bertanya kepada pria muda yang dipanggilnya sebagai Thief itu.


“Kebetulan, aku punya hadiah untukmu, Saber, dari tuanku, ******.”  Ujar Thief sembari mengeluarkan sebuah botol kaca berisikan cairan semerah darah di dalamnya.


“Kekuatanmu akan meningkat seketika berpuluh-puluh kali lipat setelah meminum ramuan ini.  Ramuan ini mirip semacam steroid bagi kita para avatar.  Tentu saja, ada efek sampingnya layaknya seorang manusia jika menggunakan steroid.  Tapi yakin kamu akan melewatkan kesempatan ini di kala kamu bisa membalaskan dendammu pada Pahlawan Darah Merah sialan itu?”


Tampak wajah penuh intrik dan kelicikan dari Thief sengaja dipampangkan dengan jelas di wajahnya.


Saber tergoda tawaran itu.  Akan tetapi, Crusader alias Rina, segera mencegahnya.


“Jangan Kak!  Jelas-jelas dia mencurigakan!”


Namun Thief segera berganti wujud dari sang pria muda tampan menjadi monster buruk rupa lantas menyerang Rina dengan rantai kunai-nya.  Untunglah, Saber dengan gesit ikut berubah wujud dan menghalangi serangan Thief tersebut.


“Jangan coba-coba sakiti adikku atau aku takkan segan-segan membunuhmu!”  Ujar Saber dengan marah.


“Hahahahaha.  Begitulah seharusnya cara monster avatar seperti kita dalam bersikap.  Kekerasan dan penuh amarah adalah sesuatu tak boleh hilang di diri kita.  Namun, aku sedikit kecewa sih karena kamu melakukannya untuk melindungi Crusader.  Ingat ini, Saber, kasih sayang dan nilai-nilai moral, sangat tidak cocok untuk kita.”


Thief justru tertawa terbahak-bahak setelah melihat kembali keganasan wajah Saber dalam mode siap bertarung yang selama ini diredamnya atas nama jiwa kemanusiaan yang diperoleh para avatar sejak memimik para manusia.  Namun, raut muka itu seketika berubah sedikit kecewa begitu menyadari bahwa Saber melakukannya lantaran demi melindungi Crusader di sisinya.


“Bagus.  Itu keputusan yang bijak.”  Balas Thief sembari tersenyum kegirangan.


“Tidak Kak, jangan!  Jika Kakak melakukannya, kita takkan dapat hidup seperti dulu lagi!”  Rina yang masih dalam wujud manusianya tampak belum menyerah untuk mencegah sosok yang dianggapnya kakak itu yang telah dalam wujud Saber-nya, melangkah ke jalan yang menurutnya salah.


“Diamlah, Rina!  Seharusnya kamu sendiri sudah sadar bahwa tempat kita itu sudah lama hilang sejak identitas kita diketahui!  Tapi tenang saja, akan kusediakan kembali tempat buat kita itu meski harus mengorbankan nyawa banyak manusia.”


Dengan mata avatar yang terlihat membara itu, Saber membulatkan tekadnya.


***


Aku sama sekali tak paham apa yang dipikirkan oleh Bobi.  Padahal selama ini kulihat dia sangat tulus berteman dengan Zenri.  Tetapi, dia justru dengan dinginnya mengkhianati kepercayaan sahabatnya itu.


Memang benar sih, selama aku dan dia tidak mengatakan apa-apa, tidak akan ada yang tahu bahwa dialah yang telah membocorkan identitas Riri kepada tim Pahlawan Darah Merah.  Kami bisa saja beralasan bahwa ada orang lain di tempat kejadian itu yang turut menyaksikan Riri berubah menjadi monster tanpa sepengetahuan Zenri.


Tetapi lihatlah, walau Zenri mempercayai ucapan kita itu karena kita adalah orang yang paling dianggapnya sebagai sahabat terbaiknya, traumanya tetap kambuh di luar keinginannya.


Secara tiba-tiba, asmanya kumat di kampus sehingga harus dilarikan ke rumah sakit setelah melihat Toko Kue Bernard porak-poranda dengan banyaknya pembicaraan soal pemusnahan Riri oleh Pahlawan Darah Merah yang tidak lain merupakan salah satu monster avatar yang menyamar.


Apakah memang tindakan mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan semua nyawa yang lain adalah prinsip yang tepat di hidup ini?  Lantas jika demikian, apa tidak kasihan bagi orang yang dikorbankan tersebut?  Lantas bagaimana dengan filosofi bahwa tiap manusia tanpa terkecuali berhak untuk memperoleh kebahagiaan?


Yah, walau dalam kasus ini, Zenri bukannya meninggal atau bagaimana, tetapi mungkin yang lain tidak paham, trauma masa lalu itu bisa lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.  Walaupun aku sendiri juga belum terlalu paham cerita lengkapnya sih tentang Zenri, perihal mereka berdua masih merahasiakannya padaku.


Namun, aku juga tidak dapat memungkiri ucapan Bobi.  Benar bahwa cepat atau lambat, monster avatar yang menyamar sebagai Riri itu tetap harus dimusnahkan.


Kini, monster avatar yang menyamar sebagai Riri itu telah dimusnahkan, namun ternyata dua the flower sisters lainnya telah terkonfirmasi oleh AI5203 juga merupakan sosok monster avatar.  Kami masih belum dapat menurunkan kewaspadaan.  Para monster tersebut bisa kapan saja nekat menyerang perihal dendam yang mereka bawa akibat kematian Riri alias Silver Knight itu.


Aku baru tahu bahwa monster pun bisa merasakan kehilangan akibat kematian sesamanya.  Namun ini bukan pertama kalinya aku melihat kejadian di mana monster menunjukkan ciri-ciri berempati.  Hal yang sama pernah kusaksikan lewat Autumn Lily dan Sena.


Tetapi aku harus selalu ingat kata-kata Kak Kaiser.  Perasaan yang mereka tunjukkan itu, tidak lain adalah program yang terpatri di memori data mereka.  Pada akhirnya, mereka bukanlah makhluk hidup yang layak menerima rasa simpati dari kita para manusia.


***


Tanpa diduga-duga oleh Adrian, apa yang sebelumnya dikhawatirkannya itu, menjadi kenyataan lebih cepat dari yang diperkirakannya.


Secara tiba-tiba, Rara, yang tertua dari the flower sisters, menampakkan dirinya kembali di depan Toko Kue Bernard yang telah menjadi puing-puing itu.


“Keluarlah, Pahlawan Darah Merah sialan!  Jika tidak, aku akan membunuh kerumunan sampah yang ada di sini tanpa bersisa satupun!”  Teriak Rara dengan lantang.


Sesaat kemudian, dia pun berubah menjadi sosok monster avatar, avatar bernomor seri 21, Avatar Saber.


Beruntungnya, Adrian kebetulan ada di dekat lokasi kejadian.  Adrian lantas segera berubah menjadi Avatar Arjuna kemudian bergegas menghalangi Saber dalam amukannya di tempat yang saat ini dipenuhi oleh kerumunan mahasiswa Universitas Global Indonesia tersebut.