101 Avatars

101 Avatars
134. Pangeran Ketiga yang Kejam



“Bagaimana rencananya? Apakah semua berjalan lancar?” Pangeran Adoles menatap ke belakang jauh dari balik bayang-bayang sambil berucap.


“Tidak ada masalah, tuanku. Semuanya berjalan lancar. Para senat korup mendukung Anda seratus persen. Yang jadi masalah, hanyalah Pangeran Qodis, paman Anda, yang selalu berusaha menghalangi rencana.”


Rupanya, dari balik bayang-bayang tersebut, telah bersembunyi seorang prajurit wanita, tidak, tepatnya yang kita istilahkan dengan istilah witch, yakni seorang wanita dengan bakat sihir yang tinggi yang terjatuh dalam kegelapan sehingga mana di tubuh mereka terkorupsi menjadi hitam legam.


Prajurit witch inilah yang selama ini mendukung rencana pangeran ketiga, Pangeran Adoles, dari balik bayang-bayang, termasuk menjerumuskan mantan putra mahkota ke dalam sihir hitam.


“Tentu saja para tikus yang hanya peduli dengan uang itu akan mendukung rencanaku seratus persen setelah apa yang kujanjikan pada mereka jikalau aku naik tahta, maka mereka akan bebas menyelundupkan uang negara sesuka mereka, menumpuk kekayaan mereka sepuasnya.”


“Apakah ini tidak mengapa, tuanku? Jikalau begini, rakyat akan menderita. Reputasi Kerajaan Amora sebagai negeri yang makmur akan sirna seketika.”


“Mana aku peduli semua itu?!” Pangeran Adoleh secara tiba-tiba saja meninggikan suaranya. Sang witch hanya terus mendengarkan ucapannya.


“Hanya karena aku terlahir dengan menyebabkan ibuku meninggal, aku diperlakukan layaknya pengganggu di keluarga kerajaan. Bahkan walaupun Kak Bistan dan Kak Ivan terlihat baik di hadapanku, palingan itu semua cuma pura-pura. Mereka semua hanya peduli dengan citra mereka sendiri. Tapi di dalam hati mereka, mereka pasti juga marah dan jijik padaku sebagai penyebab ibu tercinta mereka meninggal. Keluarga yang seperti itu, lebih baik mati saja.”


“Juga pandangan menjijikkan rakyat-rakyat jelata itu yang senantiasa menggunjing aku di belakangku. Rakyat seperti itu tidak patut untuk diselamatkan. Biarkan saja mereka hidup dalam penderitaan. Hei, witch, bukankah itu juga kan yang aku harapkan? Dengan semakin banyaknya kelaparan, kemiskinan, dan penderitaan, semakin banyak energi yang bisa kamu kumpulkan.”


Pada perkataan Pangeran Adoles itu, mulut sang witch tersungging. Dia menjawab, “Memang tuanlah yang paling memahamiku. Rupanya, aku tak salah memilih tuan untuk dilayani.”


“Tapi, gerakan Paman Qodis mulai mengganggu ya. Apa sekalian kubunuh saja dia?”


“Jika itu yang Tuan perintahkan, maka aku akan melaksanakannya. Tetapi mempertimbangkan situasi politik di kerajaan saat ini, belumlah saatnya untuk menyingkirkannya.”


“Ya, kamu benar witch. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kakak keduaku sekarang ya? Apakah sang chopper sudah mengeksekusinya hingga menjadi tidak bersisa?” Pangeran Adoles tampak begitu antusias membayangkan bagaimana Pangeran Ivan akan tewas di tangan sang chopper.


“Ah, apakah Anda mengacu pada rumor yang belakangan ini terdengar di dalam penjara bawah tanah ya, tuanku? Tentang banyak tahanan yang tiba-tiba menghilang di situ. Lantas rumor tentang adanya chopper ikut berbaur di antara para tahanan pun semakin tersebar luas.”


“Ya, ya, itu. Tampaknya aku harus mengunjungi kakak keduaku sekali. Jika dia beruntung masih hidup, mungkin itu akan menjadi pertemuan terakhir kami.” Dengan percaya diri, Pangeran Adoles berucap.


Dia pun bergegas menuju ke penjara bawah tanah.


“Kak Shou, ah! Sedikit lagi. Sedikit ke bawah. Ah, nikmatnya! Genggaman tangan Kak Shou memang yang paling nikmat.”


“Begitukah? Haruskah aku meremasnya sekali lagi?”


“Iya, tolong Kak. Tolong digoyang-goyankan juga.”


“Siap.”


“Ah, nikmatnya!”


Tetapi pemandangan apa yang justru disaksikan oleh Pangeran Adoles adalah suasana akrab antara sang chopper yang dirumorkan dengan Pangeran Ivan tersebut. Pangeran Ivan tampak sangat menimati punggungnya dipijat oleh Shou.


Pangeran Kedua yang menyadari ada suara langkah kaki datang lantas menoleh. Begitu dia melihat bahwa itu adiknya, dia pun segera menyapanya.


“Ah, rupanya itu kamu ya, adikku Adoles.” Ujar Pangeran Kedua dengan senyum cerahnya.


“Kenapa kamu bisa baik-baik saja di dalam penjara?!”


“Adoles? Bukankah seharusnya kamu harus senang Kakak di sini baik-baik saja, terima kasih berkat Kak Shou yang selalu menjaga Kakak.”


“Hah, omong kosong. Kamu belum sadar juga rupanya. Tidakkah kamu lihat siapa yang menandatangani surat penangkapanmu, yaitu aku! Sebesar itulah aku membencimu Kakak sialan.”


“Hei, Adoles, mengapa kamu seperti ini? Apa salah Kakak padamu?”


“Apa salah kalian? Kalianlah yang telah membuat aku menderita selama ini!”


“Menderita apanya? Bukankah kami selalu menyayangimu bahkan setelah Ibu meninggal?”


“Yah, seperti itu lagi. Setiap teringat Ibu meninggal, kalian pasti selalu teringat kebencian kalian padaku kan sebagai penyebab Ibu meninggal! Aku tidak butuh keluarga munafik seperti kalian!”


“Hei, Adoles, apa yang kamu katakan? Kami tidak pernah berpikir seperti itu. Aku sendiri tulus menyayangimu sebagai adikku.”


“Puih.” Pangeran Adoles seketika meludah begitu mendengar kata-kata manis dari Pengeran kedua tersebut.


“Aku tidak butuh semua itu. Sekarang, cepat mati saja membusuk dalam tahanan karena kamu akan aku pastikan mendekam dalam penjara ini selamanya.”


Pangeran Kedua hanya bisa ternganga begitu secara tiba-tiba, adiknya, sang Pangeran Ketiga, menunjukkan kebenciannya secara jelas padanya. Selama ini, Pangeran Ivan hanya berpikir bahwa sebagai saingan politik yang bersaing tahta, wajar jika mereka menjaga jarak satu sama lain demi kepentingan politik. Tetapi di dalam hatinya, Pangeran Ivan begitu yakin bahwa mereka bertiga adalah saudara yang saling mencintai satu sama lain.


Tetapi keyakinan itu seketika runtuh begitu sang adik menunjukkan taringnya ketika dirinya berada pada posisi terlemahnya. Terbersitlah pikiran kotor di kepala Pangeran Kedua bahwa sang dalang yang selama ini secara rapi menyusun rencana menghancurkan kerajaannya, adalah datang dari dalam keluarganya sendiri, yakni adik yang begitu disayanginya.


“Jangan-jangan, kamulah yang telah membunuh Ayah kita, lantas menjebak aku sebagai pelakunya!” Pangeran Ivan tak dapat menahan amarahnya.


“Kamu pikir keterlibatanku sampai di situ saja? Kamu benar-benar naif, Kak Ivan.”


“Jangan bilang, kamu juga yang membuat Kak Bistan menjadi seperti itu.”


“Ya, tepat sekali. Semuanya demi mewujudkan rencana yang telah lama kususun untuk menghancurkan keluarga kerajaan yang telah menyisihkan aku selama ini dan juga untuk membuat kerajaan ini berada dalam kekacauan agar setiap warga di negeri ini dapat pula merasakan penderitaanku.”


“Adoles, mengapa? Mengapa kamu salah mengartikan kebaikan kami selama ini?! Kenapa kamu bisa jadi sepert ini? Adoles!” Pangeran Kedua berteriak marah. Namun kali ini, Pangeran Adoles memilih untuk tidak menanggapinya lagi.


“Hei, penjaga penjara! Kemari!” Dia lantas memanggil penjaga penjara.


“Cepat siksa orang rendahan yang tidak tahu diri ini!” Perintahnya kepada setiap penjaga penjara untuk memberikan siksaan fisik kepada Pangeran Ivan.


Namun, walau bagaimana pun juga, Pangeran Ivan tetaplah keluarga kerajaan. Tiada yang dapat menyentuh badannya secara bebas walaupun itu atas suruhan keluarga kerajaan yang lain. Harus ada izin tertulis yang harus dikeluarkan senat terlebih dahulu yang ditandatangani oleh raja atau putra mahkota sebelum seseorang bisa menyentuh badan keluarga kerajaan.


Salah bergerak, maka leher merekalah yang melayang. Oleh karena itulah, para penjaga penjara itupun hanya terdiam semuanya gemetaran tanpa bisa mengambil keputusan.


Namun karena sikap mereka itu, amarah Pangeran Adoles pun memuncak dan malah memerintahkan setiap prajuritnya untuk menghabisi setiap nyawa penjaga penjara yang ada di situ. Jadilah tempat itu menjadi pembantaian berdarah.


Pangeran Ivan yang terkunci dalam penjara tak dapat berbuat banyak dan hanya bisa menyaksikan dengan hati yang meringis pembantaian berdarah yang terjadi dengan sangat cepat itu.