Ternyata, tidak butuh waktu lama bagi Kak Kaiser untuk pulih. Keesokan harinya setelah dia mengobrol berdua bersama Bomber, Kak Kaiser tampak memiliki ekspresi yang lebih baik dan kini dia memutuskan untuk siap melakukan pelatihannya.
Kali ini, akulah sebagai seorang yang lebih senior yang akan berperan sebagai mentornya. Cukup aneh juga melihat muridku itu memiliki wajah yang sama persis dengan mentorku.
“Pengaktifan gelang perubah cukup mudah. Kamu cukup memvisualisasikan di pikiranmu tentang apa yang kamu inginkan. Tanamkan baik-baik image Avatar Bomber di pikiranmu…”
Di ruang pelatihan virtual itu, Profesor Melisa yang tampak bersama Zio menjelaskan segala peraturan-peraturan dasar gelang perubah. Begitu Kak Kaiser paham, kami pun memulai sesi pelatihan kami.
Pelatihan itu sendiri cukup mudah. Kak Kaiser menghafalkan sebelumnya tentang jenis-jenis serangan Avatar Bomber lengkap dengan side avatarnya beserta contoh lengkap pertarungan Healer selama ini dalam wujud Avatar Bomber-nya tersebut yang sempat direkam oleh Mr. Aili sebelumnya.
Yang tersisa adalah pengalaman lapangan melalui pertarungan nyata. Di mana-mana, yang namanya pelajaran, akan lebih efektif jika langsung dipraktikkan. Dan di sinilah kami berdua saat ini, di ruang pelatihan virtual, untuk bersiap memulai latihan pertarungan kami.
Ruang pelatihan virtual, konsepnya cukup mirip dengan Hoho game. Hanya saja, avatar kami tidak disajikan di dalam layar komputer, tetapi disajikan dalam bentuk hologram di dunia nyata sehingga kami dapat pula turut merasakan sensasi yang diberikan oleh dunia luar. Rasanya benar-benar berbeda, tetapi konspenya hampir sama. Aku yakin Kak Kaiser sebagai mantan ranker terbaik Hoho game, dapat dengan cepat membiasakan diri dengan sensasi ini.
Dan jika dia sudah terbiasa, maka kami akan segera masuk ke tahap pertarungan nyata. Tentu saja berbeda dengan pertarungan virtual, pada pertarungan nyata, mental seseorang akan benar-benar diuji karena kita pada saat itu menggunakan tubuh asli kita.
Yah, walaupun juga agak sedikit berbeda sih jika dikatakan tubuh asli, persoalan selama kita mengaktifkan gelang perubah, tubuh asli kita akan disimpan oleh gelang perubah dan ditukar dengan tubuh avatar yang sebelumnya tersegel di dalam gelang.
Ronde pertama dimulai. Tampak Kak Kaiser masih kikuk menyesuaikan diri dalam mengendalikan Avatar Bomber-nya. Yah, itu dapat dimaklumi juga lantaran selama ini Kak Kaiser di Hoho game menggunakan Avatar Healer. Mungkin ini pertama kali baginya menggunakan Avatar Bomber.
Ada orang bijak yang bilang bahwa pengalaman kejam akan memberikan impak yang lebih dahsyat di ingatan seseorang. Oleh karena itulah, walau ini pertarungan pertamanya dengan Avatar Bomber, aku langsung mulai menghadapinya dengan serius.
Begitu muncul aba-aba yang menyatakan bahwa pertandingan telah dimulai, aku serta-merta terbang dengan menggunakan side avatar Sly Dark-ku lantas kupanah dia dengan menggunakan triple combo panah Arjuna yang terdiri atas elemen api, listrik, dan batu. Tubuh Avatar Kak Kaiser seketika hancur karenanya. Dua detik 9 milisekon, aku berhasil mengalahkan Avatar Bomber.
Ronde kedua dimulai. Tampak Kak Kaiser belajar dari kesalahannya yang pertama, dia serta-merta maju dengan side avatar Fast-nya lalu langsung meninjuku dengan tinju energi milik Bomber. Hal itu lantas mencegahku untuk terbang. Aku justru harus segera berposisi defensif dengan side avatar Hard untuk mengurangi impak serangannya.
Tapi dia segera bergerak mundur lantas mensummon Enigma-nya lalu menyerangku kembali. Aku pun segera menangkisnya dengan Crusader. Tetapi ini gawat, pedang itu menyerap HP Crusader lantas diubahnya ke dalam health yang menyembuhkan HP Kak Kaiser. Aku pun mengeluarkan jurus Scream of Confussion-ku yang membuat telinga Kak Kaiser pekak untuk sejenak.
Waktu itu pun aku gunakan untuk kembali menggunakan triple combo panah Arjuna. Kak Kaiser tampak telah berhasil menghindarinya. Tetapi…
“Hehehehehe” Tawaku penuh kemenangan.
Sebelumnya, aku telah mengaktifkan radar Sly Dark yang bisa memprediksi masa depan kemungkinan gerakan lawan serta panah tersebut telah kuatur untuk mendarat pada waktu yang berlainan.
“Sraaaaash!”
Panah ketiga pun yang berupa panah batu berhasil menghujam Kak Kaiser lantas membuatnya sekarat.
Dan ronde ketiga dimulai. Pertandingan kali ini berjalan lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. Lalu, Kak Kaiser Dewantara pun mulai mengeluarkan gerakan-gerakan yang di luar dugaan.
Dia maju sembari menghempaskan tinju energinya ke wajahku yang tak terlindungi oleh Hard sehingga aku menangkisnya dengan pedang Crusader. Kemudian dia tiba-tiba saja mengaktifkan side avatar Silent yang belum pernah selama ini kusaksikan Healer menggunakannya demi menutupi identitas jurus yang sebenarnya adalah dari kemampuannya langsung sewaktu menyembuhkan Kak Syifa.
Aku sempat diserang bertubi-tubi dengan pedang Enigma pencuri HP-nya sehingga HP-ku pun turun hingga kurang dari sepuluh persen. Di saat itulah, aku tanpa sadar menggunakan jurus yang bermaksud aku sembunyikan dan akan kuperlihatkan pada waktunya nanti di pertarungan nyata. Penggunaan side avatar di luar pada pengaturan normalnya dengan mengonsentrasikan energi spiritual pada titik tertentu di tubuh atau di sekitarnya.
Aku mengaktifkan holy light untuk menghilangkan debuff pedang enigma untuk sementara. Lalu, akupun menyerang Kak Kaiser dengan spike-spike Hard yang menyelip di antara cahaya holy light. Spike-spike itu pun mengembang begitu telah menyelip di antara tubuh avatar Kak Kaiser. Alhasil, Kak Kaiser pun terhancurkan dari dalam dan kalah.
Pertarungan ketiga itu tetap kumenangkan walau kali ini memakan waktu yang agak lama, 18 menit 3 detik 99 milisekon.
Sampai pada akhirnya, tibalah ronde keempat itu. Aku sama sekali tak menduga bahwa dia adalah sosok pembelajar yang sangat cepat bahkan melebihi orang-orang jenius yang selama ini pernah aku kenal. Walau aku agak kesal untuk mengakuinya, kemampuan yang Kak Kaiser tunjukkan jelas melebihi Kak Faridh.
Terilhami pada gerakanku pada pertarungan ketiga, setelah dia mengaktifkan tinju energinya, Kak Kaiser mensummon Enigma-nya, tetapi bukan sebagai senjata pedang, melainkan sebagai substitusi di kaki kirinya. Lalu dengan sigap, dia memutuskan kaki kananku dengan pedang yang terpasang di kakinya itu.
Aku yang telah kehilangan keseimbangan akibat kehilangan satu kaki lantas terpedaya pula oleh side avatar Silent-nya yang membuat indera-ku tak mampu menyadari pergerakannya. Hingga pada akhirnya,
“Sraaaak!” Aku pun berhasil ditusuk olehnya di bagian dada lantas kehabisan HP dan kalah dalam pertarungan di waktu 15 menit 15 detik 16 milisekon.
Sungguh yang diharapkan dari seorang mantan ranker game virtual reality pertama yang sangat terkenal pada zamannya itu.
Namun, aku kira itu hanya keberuntungannya sesaat di saat aku lengah, tetapi di pertandingan kelima kami, dia kembali mengalahkanku. Begitu aku berpikir telah mempelajari gerakannya dengan baik, aku tetap kalah dengan memalukan di pertandingan keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, bahkan sampai pertandingan kesepuluh dengannya.
Tidak hanya itu saja, semakin jauh aku bertarung melawannya jeda waktu yang dibutuhkannya untuk mengalahkanku semakin menciut, hingga pada pertarungan kesepuluh kami, dia hanya mengalahkanku dalam jeda waktu 2 menit 55 detik 70 milisekon.
Apa yang membuat aku bertambah kesal terhadap orang itu, dia dengan sombongnya berkata ingin melawanku masing-masing dengan wujud asli Avatar Bomber, lantas Avatar Enigma, Fast, dan Silent dengan alasan ingin mengenal kemampuan dasar dari masing-masing avatar yang nantinya akan semakin meningkatkan kemampuan bertarungnya melalui tubuh avatar gelang perubah Bomber.
Dia beralasan akan menggunakan data-data yang berhasil dikumpulkannya itu sebagai bahan simulasi di alam pikirannya untuk menyusun strategi penggunaan avatar beserta side-side avatarnya yang paling terbaik dalam setiap keadaan pertempuran.
Dia dengan sombongnya beranggapan akan tetap menang melawanku walau dengan hanya menggunakan model avatar standar tanpa modifikasi itu yang persis sama ketika di game. Aku jadi marah akannya.
Tetapi apa yang membuat aku bertambah kesal adalah dia benar-benar mampu mengalahkanku dalam sekali pertarungan dengan menggunakan avatar-avatar bermodel standar tersebut.
Apa ini? Bukankah aku seharusnya menjadi mentornya yang nantinya akan mengarahkannya untuk siap menjadi petarung melawan monster avatar? Kalau begini, aku tak ubahnya seperti karung tinju baginya. Apakah ini perbedaan antara orang yang hebat karena jenius dengan yang hanya bermodalkan ketekunan dan semangat pantang menyerah sepertiku?
Sulit kuakui, tetapi aku iri sekaligus frustasi oleh kemampuannya. Namun di lain sisi, aku mengaguminya. Yah, itu wajar saja soalnya dia adalah base data yang menciptakan pribadi Healer, mentor berhargaku.